
Seperti biasa Ayudia berangkat menaiki angkutan umum dari rumahnya, ia tiba di cafe pukul empat belas kurang lima belas menit.
Ia berusaha tak memikirkan apa yang terjadi dengannya tadi pagi, ketiga adiknya adalah penguatnya ketika ia menghadapi masalah apapun.
Seolah kejadian tadi pagi tak berarti apapun untuknya, ia bekerja seperti biasa penuh semangat dan selalu tersenyum melayani pengunjung cafe dan berinteraksi dengan rekan-rekan kerjanya.
Selepas magrib, jatahnya beristirahat, karena tadi tidak sempat memasak di rumah, ia memilih membeli roti seharga dua ribu rupiah yang dibelinya disalah satu pedagang kaki lima.
Lumayan untuk mengganjal perutnya sementara, tak lupa ia membawa botol untuk minum yang tadi diisinya menggunakan air galon yang disediakan untuk crew cafe.
Ayudia sudah terbiasa dengan hidup yang seperti ini, ia berusaha hidup sehemat mungkin, ia tak mempedulikan dirinya sendiri, baginya perut adik-adiknya lebih utama.
Dari kejauhan Benedict memperhatikan apa yang gadisnya lakukan, ia tersenyum miris melihatnya, tadi pagi saat dirinya menawarkan kehidupan yang mewah untuk gadisnya, dengan tegas gadisnya menolak, bahkan ia dianggap merendahkan gadis itu, ia sempat mendapatkan tamparan dari gadisnya, ya meskipun tamparan itu tak terasa untuk dirinya.
Benedict menghubungi Rama untuk memesankan sate ayam yang dijual pedagang kaki lima yang biasa berjualan tak jauh dari cafe untuk para crew cafe yang bertugas malam itu.
Pengunjung cafe malam itu cukup ramai, setelah istirahatnya yang hanya memakan waktu tiga puluh menit itu, Ayudia kembali melayani pengunjung cafe.
Salah satu rekannya membisikan jika mas Rama akan mentraktir sate untuk semua crew yang bertugas.
Tentu hal itu membuat Ayudia tersenyum lebar, artinya ia akan membawakan kembali makan enak untuk adik-adiknya seperti pagi tadi.
Pukul setengah sebelas Ayudia keluar dari cafe setelah menerima jatah satenya sebanyak tiga porsi, tadi mas Rama dan salah satu barista cafe yang bernama Bang Satria memberikan jatahnya, tentu gadis itu sangat senang menerimanya tak lupa ia berterima kasih pada mereka.
Seperti biasa Ayudia menunggu angkutan umum yang lewat di halte tak jauh dari cafe, dari kejauhan Benedict mengawasinya, bahkan saat gadisnya menaiki angkot itu, ia mengikutinya dari belakang.
Hal itu terjadi hingga seminggu lamanya, Ayudia selalu membawa berbagai makanan enak untuk adik-adiknya sepulangnya bekerja, tanpa ia sadari ia juga selalu di awasi saat ia pulang malam.
Sebenarnya ia merasa aneh, seumur-umur selama bekerja di cafe baru kali ini, mas Rama setiap hari mentraktir para pekerjanya makanan dari luar cafe, dan Ayudia selalu membawa pulang tiga porsi.
Kecurigaannya terjawab sudah saat tak sengaja ia mendengar percakapan Mas Rama dan Bang Satria di ruangan kerja milik bosnya itu saat dia hendak mengantarkan minuman dan kue menggantikan Nia salah satu rekan kerjanya, karena wanita itu mendadak mulas.
"Pokoknya seperti biasa ya, Lo kasih jatah makanan Lo buat Ayu,"perintah Rama pada Satria.
"Kenapa nggak bos aja gitu yang ngasih langsung?" Tanya satria heran.
"Udah Lo nurut aja, oh ya cafe Mau libur dua pekan lagi, si bos nyuruh para crew buat family gathering di Villa yang di Lembang," ucap Rama sambil bersandar di kursinya.
"Serius nih? Asik bini sama anak gue pasti seneng banget nih, udah lama gue nggak ngajak jalan-jalan," ujar Satria senang.
__ADS_1
"Ya udah Lo kasih tau yang lain, biar mereka siap-siap,"
"Tapi Ram, bukannya tanggal itu kita belum gajian ya?"
"Tenang bos bakal kasih uang saku sejuta buat kalian, Lo tinggal bawa diri beserta bini sama anak Lo,"
"Yes, big bos emang yang terbaik ya!"
Entah apalagi yang kedua laki-laki itu bicarakan, Ayudia turun meninggalkan lantai atas, saat baru menuruni tangga, ia bertemu Nia yang baru saja kembali dari toilet, "loh Yu, kok dibawa turun lagi sih minumannya?"Tanyanya bingung.
"Nggak apa-apa kok, nih Lo aja yang nganter, dan jangan bilang ke mereka gue sempet ke atas, ingat ya!" Ayudia memperingati rekannya.
Nia hanya mengiyakan tak membantah.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian, Satria mengumumkan tentang Family gathering yang akan di adakan dua pekan lagi.
Hal itu di sambut baik oleh semua rekan kerjanya, apalagi semuanya akan mendapatkan uang saku yang lumayan.
Tentu Ayudia berpura-pura tidak tau apapun, ia bersama rekan-rekannya bergembira mendengar rencana itu.
Hari-hari selanjutnya selalu sama, ia membawa tiga porsi makanan ketika pulang bekerja, ia juga sadar selama dia pulang menaiki angkutan umum, akan ada mobil atau motor yang mengikutinya.
Tiga hari sebelum acara family gathering dilakukan, Rama dan sahabat-sahabatnya berkumpul di ruangan kerja miliknya di lantai atas cafe, mereka membicarakan tentang kegiatan yang akan dilakukan tiga hari lagi.
Lagi-lagi Ayudia menggantikan rekan kerjanya untuk mengantarkan minuman dan kue untuk sahabat-sahabat Rama.
Gadis itu mengetuk terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan berkumpulnya para lelaki tampan itu.
"Hai Ayu yang semakin hari semakin Ayu, apa kabar?" Goda Alex saat gadis itu meletakan minuman di meja kaca itu.
Ayudia hanya menjawab dengan senyum khasnya.
"Neng Ayu, nggak kangen sama Aa nih?" Giliran Nando menggodanya.
Lagi-lagi Ayudia hanya tersenyum, tak menanggapi apapun.
Saat Oscar hendak buka suara, Benedict menatapnya tajam, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk ikut-ikutan menggoda gadis itu.
Ayudia berlalu setelah mengantarkan minuman dan makanan untuk sahabat Rama.
__ADS_1
"Terus apa yang bakal Lo lakuin bro sama cewek Lo? Masa kalian bakal begini terus," Tanya Nando pada Benedict.
"Gue nggak tau, pikiran gue buntu, dia bukan tipe cewek yang matre, dia malah ninggalin gue, setelah tau gue kaya,"jawabnya memegangi kepalanya.
"Lo hamilin aja bro, entar juga dia bakal minta pertanggung jawaban elo," saran Nando.
"Ogeb, ngasih saran yang bener Lo do, gitu-gitu disini dia karyawan teladan, dia juga punya tanggungan tiga adik yang harus dia nafkahi," Rama melempar kulit kacang pada sahabatnya yang berotak ************.
"Saran gue sih Ben mending Lo yakinin dia kalau Lo beneran tulus sama dia, Lo lamar dia misalnya,"ucap Oscar.
"Gue heran masih ada cewek yang nggak doyan hidup mewah tinggal ongkang-ongkang kaki, bisa-bisanya dia nolak elo Ben? Nggak beres itu cewek," ungkap Alex.
"Dia itu tipe wanita mandiri yang pekerja keras, sehingga dia nggak butuh laki-laki kayak kita-kita," ucap Rama.
Mereka terus membahas tentang hubungan Benedict dan Ayudia hingga jam pulang kerja malam itu.
Ayudia yang jatah piket dengan Nia sedang sibuk membersihkan meja ketika cafe sudah tutup.
Saat kedua perempuan itu telah menyelesaikan tugasnya, mereka berjalan beriringan keluar dari cafe, di parkiran masih ada mobil sahabat-sahabat Rama.
"Ayu, temen-temennya mas Rama ganteng-ganteng ya!" Ungkap Nia.
"Kenapa emang? Lo naksir?" Tanyanya sengaja menggoda rekannya.
"Hanya orang ogeb yang nggak naksir sama kelima cowok ganteng itu Ayu,"
"Ya naksir atau ngefans sih sah-sah aja Nia, tapi perbedaan kasta kita sama mereka itu bagai bumi dan langit, menurut Lo nih, misal tiba-tiba Lo di taksir salah satu dari mereka, apa yang bakal Lo lakuin?"
"Gue jelas terima lah, ya kali gue nolak di taksir sultan,"
"Yakin Lo yang orang biasa ini bisa menyesuaikan dengan cara hidup Hedon mereka?"
"Ya belajar lah Ayu, toh mereka punya duit buat memenuhi kebutuhan hedon gue, gue nggak perlu kerja keras kan?"
"Kalau misal nyawa Lo terancam gara-gara Lo menjalin hubungan sama orang kaya gimana tuh,"
"Kebanyakan nonton Drakor Lo, nggak gitu juga kali di dunia nyata,"
"Serah Lo deh Nia, balik nyok,"
__ADS_1