
Dan benar saja, keesokan harinya, Nando datang ke rumah kayu itu.
Usai mencuci tangannya, Nando antusias menggendong Aileen, bayi itu tersenyum saat Lelaki itu mengajaknya bicara.
"Wah, Aileen sampai tersenyum sama kamu loh Do, jarang-jarang loh dia mau senyum, padahal terakhir ketemu kan pas ada selamatan di rumah, itupun Aileen masih umur tujuh hari,"ucap Anna yang sedang menggendong Ainsley, sedangkan Ayudia membuatkan minum untuk Nando di dapur.
"Jelas lah Tan, waktu diperut kan, yang nemenin ibunya jalan-jalan setiap pagi kan aku,"ujar Nando bangga,
"Hitung-hitung latihan ya Do kalau suatu saat punya istri dan anak, tapi kok Tante belum dikenalin sama calon kamu?"
"Belum ketemu yang pas Tan,"
"Jangan lama-lama, keburu tua nanti, tapi tunggu deh, kayaknya Ainsley pup, Tante gantiin popoknya dulu ya!"
Nando hanya mengangguk, lelaki itu masih terus mengajak Aileen berbicara, seolah mengerti bayi yang umurnya hampir tiga bulan itu, menyahutinya dengan gumaman sambil tertawa.
"Kayaknya Aileen ramah ya sama Aa, padahal dia termasuk bayi yang susah akrab sama orang baru loh,"ujar Ayudia sambil meletakan kopi juga camilan di meja ruang tamu.
"Kan gue yang selalu ada buat Lo, pas Lo hamil, lagian gue heran, yang bapaknya siapa? yang repot gue, untung sayang,"
Ayudia tertawa mendengar ucapan Nando, "abisnya Aa, kalau ngobrol asik, Ayu seneng aja,"
"Oh ya, gue kesini mau bahas soal laki Lo,"
"Kenapa emang a?"
"Sejak gue balik, gue belum ketemu Ben lagi sih, cuman gue dengar dari yang lain, katanya laki Lo lagi kacau banget di rumah, dia nyariin elo sama anak-anak, sebenarnya kenapa lagi sih?"
"Jadi A, beberapa Minggu lalu, Aku pulang dari rumah sakit buat ketemu Asha, pas di jalan pulang, aku ketemu sama ibu dari teman SMA aku, karena udah lama nggak ketemu, akhirnya aku disuruh mampir, dulu aku dekat sama beliau, jadi kami ngobrol hingga lupa waktu, pas malam, mas Ben nanya, apa yang aku lakuin hingga terlambat pulang, aku jelasin semua, tapi mas Ben nggak percaya, lalu melakukan perbuatan yang menyakiti aku,"
Nando mendengar penjelasan dari istri sahabatnya, lalu bertanya,"apa teman Lo itu laki-laki?"
"Dia cinta pertama aku,"
Nando menghela nafas, "ya pantes dia begitu, dia kan paling nggak seneng miliknya diambil,"
__ADS_1
"Tapi aku bukan barang a, dan tidak ada apapun yang terjadi diantara aku dan dia,"
"Apa Ben tau, kalau temen Lo itu, cinta pertama Lo? Apa saat Lo udah bersama Ben, Lo masih ada rasa sama dia?"tanya Nando menyelidik.
"Itu dulu sebelum, Ayu pergi ke Amerika, sekarang Ayu udah mulai sayang sama mas Ben kok,"
"Apa Lo pernah bilang, kalau Lo udah mulai sayang sama Ben?"
Ayudia menggeleng, "Ayu, wajar kalau Ben sampai hilang kendali, dia itu beneran cinta dan takut banget kehilangan Lo, bukannya gue membenarkan tindakan Ben, yang udah nyakitin Lo, tapi disini Lo juga salah, harusnya Lo bilang kalau Lo udah mulai sayang sama dia, dia itu berfikir kalau Lo mau balikan lagi sama cinta pertama Lo,"
"Terus gue denger Lo mau ngajuin gugatan cerai buat Ben? Apa Lo nggak berfikir apa yang akan terjadi kalau Lo ngelakuin itu? Kayaknya Lo belum mengenal laki Lo sesungguhnya ya!"
"Nggak jadi kok A, makanya Ayu kesini buat nenangin diri, introspeksi juga,"
"Udah cukup kan introspeksinya, mending sekarang Lo balik deh, Lo omongin baik-baik, berdua sama Ben, sebagai temen, gue nggak mau sahabat gue menghancurkan dirinya sendiri, Lo tau kan, biarpun Ben bilang udah mengundurkan diri dari jabatannya, tapi itu nggak sepenuhnya, karena setau gue sepupunya belum sepenuhnya bisa mengelola perusahaan, seandainya keadaan Ben begini terus, perusahannya bisa kacau, ada banyak keluarga yang bergantung sama Ben, tolonglah setidaknya ini buat kebaikan semua,"
Ayudia hanya diam mendengarkan ucapan lelaki itu, sepertinya perempuan itu sedang mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Nando.
Anna datang memecah keheningan yang melanda di ruang tamu itu, ia menatap Nando seolah bertanya apa yang terjadi, dan Nando hanya menaikan bahunya.
"Bu, kita balik ke Jakarta ya! Sekarang,"ucap Ayudia tiba-tiba.
"Ya udah kita beres-beres dulu, Do bisa bantu Tante, jaga Ainsley juga,"
Nando mengangguk, Anna meletakan cucunya ke dalam stroller bersebelahan dengan Aileen.
Satu jam kemudian mereka telah bersiap, Anna meminta mang kos mengemudikan mobilnya ke Jakarta, sedangkan dirinya dan Ayudia serta si kembar, menumpang mobil Nando.
Setelah berpamitan dengan istri mang kos dan Mirna, mereka berangkat menuju ibu kota.
Hampir dua jam mereka menempuh perjalanan menuju rumah Benedict.
Kedua mobil itu memasuki gerbang rumah mewah itu, sekuriti yang berjaga menyambut dengan gembira kedatangan nyonya rumah mereka.
Anna menanyakan kepada sekuriti keberadaan Benedict, namun lelaki itu menjawab, jika Tuannya baru saja keluar.
__ADS_1
Anna mendorong stroller memasuki rumah diikuti oleh Ayudia dan Nando yang membawa barang-barang mereka.
Maid yang melihat kedatangan mereka, terlihat senang, nyonya rumah mereka telah kembali.
"Do, makasih banyak loh, berkat bujukan kamu, menantu Tante, mau kembali ke rumah ini,"bisik Anna saat memasuki kamar si kembar, sedangkan Ayudia menaruh barang-barangnya ke kamar utamanya.
"Kan kalo Ben kenapa-kenapa, ujung-ujungnya kita yang repot Tan, tau sendiri watak anak Tante kayak apa? Ayu nya yang nggak sadar-sadar,"ujar Nando kesal, dua kali ia mengambil resiko berdekatan dengan istri sahabatnya.
"Oh ya Tan, aku langsung pamit ya! Jangan sampai Ben tau, aku yang antar kalian, nanti bisa babak belur aku,"ujar lelaki berusia tiga puluhan.
"Iya do, mudah-mudahan Ben, nggak ngecek CCTV,"ucap perempuan paruh baya itu tertawa.
"Ada apa Bu? Kayaknya seru ngobrolnya, sampai ibu ketawa,"tanya Ayudia yang baru saja memasuki kamar anak-anaknya.
"Ini Nando mau pamit, katanya dia nggak mau ketemu Ben, takut dihajar lagi,"jawab Anna menahan tawa.
"Ya udah, AA pulang deh, makasih banyak ya, udah mau antar Ayu,"
"Ngusir nih,"
"Nggak A, biar nggak babak belur lagi, aku kan nggak mungkin bisa pisahkan kalian,"
"Iya deh, pokoknya jangan kabur lagi Ayu, soalnya dua kali Lo kabur, gue terus yang nemuin, antara beruntung dan apes jadi samsak," sahut Nando tertawa.
Setelahnya Nando benar-benar pamit, lelaki itu keluar dari kamar si kembar, menuju lantai satu.
"Bu, kira-kira reaksinya mas Ben, saat Ayu dan anak-anak kembali ke rumah kayak apa ya? Ayu kok rada takut ya, takut mas Ben hilang kendali,"ujar Ayudia khawatir sepeninggal Rama.
"Kalau ibu jadi kamu, sih pasrah aja, Ben kalau udah ngamuk itu seram, dari dulu entah kenapa ibu paling nggak bisa menghadapi amukan Ben, kalau cuman merengek nggak masalah, tapi kalau ngamuk, ibu cari aman,"
"Ibu kan ibunya yang sudah melahirkan mas Ben, masa mas Ben berani sama ibunya?"
"Ben emang nggak pernah menyakiti ibu secara langsung, tapi barang-barang yang ada di rumah, pasti akan jadi sasarannya, dan nggak ada siapapun hingga saat ini, yang berhasil mengendalikan Putra ibu pas ngamuk,"
"Jangan-jangan selama Ayu nggak ada, mas Ben ngamuk juga, soalnya cermin yang di walk in closet kayak ganti gitu, Ayu sih belum cek yang lain sih,"
__ADS_1
"Udah nggak usah dipikirin, mumpung anak-anak lagi pada tidur mending kamu beres-beres barang-barang tadi kita bawa, minta maid bantu-bantu, kalau bisa pas Ben pulang, semua udah beres,"
Ayudia menuruti saran mertuanya, ia segera menghubungi salah satu maid untuk membantunya.