
Ayudia baru kembali ke rumah pukul delapan pagi, tadi ia dan mertuanya sempat mampir ke taman.
Anna bersama maid beranjak ke lantai dua untuk memandikan Ainsley dan Aileen.
Sedangkan Ayudia Untuk pertama kalinya memasuki dapur, hal itu membuat maid yang sedang bekerja terkejut.
Kepala maid menghampiri Ayudia, "selamat pagi nyonya, ada yang bisa saya bantu?"tanya wanita yang mungkin seumuran dengan mertuanya.
"Pagi, apa boleh saya memakai dapur ini? Saya ingin memasak,"ucap Ayudia.
Ada dua maid yang sedang bertugas di sana ditambah kepala maid terkejut dengan permintaan nyonya rumah mereka.
"Jangan Nyonya, nanti kami bisa dimarahi tuan, apa yang ingin nyonya masak, biar kami yang memasak,"ujar kepala maid.
Ayudia menghela nafas, sudah ia duga, ia tidak akan bebas di rumah suaminya.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin memasak sendiri, boleh saya pakai dapur ini,"ujar wanita dua anak itu.
Para maid saling pandang, mereka bingung harus bagaimana, karena waktu awal mereka mulai bekerja, tuannya berpesan bahwa mereka harus melayani nyonyanya dan tidak memperbolehkan nyonyanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
"Maaf nyonya, kami tidak berani, tuan bisa marah kepada kami,"tutur kepala maid lagi.
Lagi-lagi Ayudia menghela nafas, rasanya ia ingin kembali ke rumah rahasia ibunya, kesal sekali rasanya.
"Oke, saya tadi berbelanja dan ingin memasak ini," ucap Ayudia menyodorkan bungkusan plastik putih berisi cumi basah, kerang dan udang segar, "tolong dimasak saus Padang yang pedas,"lanjutnya sambil berlalu dari dapur itu.
Ayudia menaiki tangga dengan menghentakkan kakinya, rasanya kesal sekali.
Saat hendak membuka pintu kamar anak-anaknya, Benedict baru keluar dari ruang kerjanya, lelaki itu memanggil istrinya juga menghampirinya.
Benedict memeluk erat istrinya, "aku pikir, aku mimpi bisa lihat kamu lagi Ay,"ujarnya.
Ayudia melepas paksa pelukan itu, ia menatap suaminya kesal, lalu meninggalkan lelaki itu menuju kamar anak-anaknya.
__ADS_1
"Loh Nduk, nggak jadi masak?"tanya Anna melihat menantunya baru saja masuk ke kamar si kembar.
Ayudia memanyunkan bibirnya, "Ayu nggak boleh masak Bu, Ayu kesal Bu, maid nya melarang Ayu buat masak,"gerutunya.
Anna melihat kedatangan putranya mengikuti menantunya, "Ben, apa kamu bilang ke maid kalau istri kamu tidak boleh memasak sendiri?"tanyanya.
"Ya kan emang biar Ayu nggak capek Bu, biar Ayu cuman urus aku sama anak-anak,"jawab Benedict santai.
"Tuh kan bu, nggak di penthouse nggak disini, mas Ben itu membatasi Ayu, mending kita pergi lagi yuk bu,"keluhnya pada mertuanya.
"Kok pergi lagi sih Ay, jangan dong,"ujar lelaki itu memeluk istrinya dari belakang.
Anna memutar bola matanya malas, "gimana istri kamu nggak ninggalin kamu Ben? Kamu tuh ya, udah kasar, posesif banget, ini istri mau masak aja dilarang, pantesan Ayu nggak betah di rumah kamu,"
Benedict yang masih memeluk istrinya hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya, lelaki itu berbisik pada istrinya, "Ay, aku mau ngomong sama kamu berdua di kamar sekarang,"
Ayudia menggeleng dan melepas paksa pelukan itu, namun sepertinya suaminya tak berniat melepasnya.
Akhirnya Ayudia menuruti kemauan mertuanya, ia berjalan menuju pintu penghubung kamarnya dan kamar anak-anaknya.
Benedict mengikuti istrinya, lalu menutup dan mengunci pintu itu.
"Jadi apa yang mau omongin, aku sibuk mau mandiin anak-anak,"ucap Ayudia kesal.
"Kan ada ibu sama maid yang urus mereka,"
"Tapi aku ibunya, yang juga ingin mengurus anak-anak aku sendiri,"kilahnya.
Benedict mendekatinya lalu memeluk wanita dengan rambut sebahu itu, "suami kamu juga butuh di urus kamu Ay,"bisiknya tepat ditelinga wanita itu.
Ayudia berusaha melepaskan pelukan itu, namun sepertinya suaminya tak akan melepaskannya, akhirnya ia hanya bisa pasrah.
"Ay, aku minta maaf karena kasar sama kamu, aku tau kamu marah sama aku, aku hilang kendali Ay, aku cemburu, aku takut kamu kembali sama dia, aku nggak mau kamu ninggalin aku,"ungkap Benedict.
__ADS_1
Ayudia membalas pelukan suaminya, walau bagaimanapun ia juga salah karena tak bisa menolak permintaan Tante Arini.
"Alasan aku pergi dari kamu, karena aku tak berani berhadapan sama kamu setelah perlakuan kasar aku, aku nggak mau kamu trauma saat kamu bangun ada lelaki yang udah sakiti kamu, tapi nyatanya setelah seminggu aku pergi, aku tersiksa sendiri, rasa bersalah aku semakin besar, lalu aku dengar dari Troy, ibu menghubunginya dan bilang kalau kamu mau pisah sama aku,"
Benedict mengendurkan pelukannya, ia menyentuh kedua rahang istrinya lalu menatap mata itu, "Ay, kamu tau kan aku cinta banget sama kamu, kamu tau kan hingga saat ini, dada aku selalu berdebar ketika berdekatan dengan kamu, aku nggak mau kehilangan kamu Ay, jangan menghilang lagi Ay,"
Ayudia mengalihkan tatapannya, ia melepaskan tangan yang menyentuh dagunya, lalu beranjak menuju sofa panjang tak jauh dari ranjangnya.
"Kamu mau aku maafin kamu kan?"tanya Ayudia sambil menyandarkan tubuhnya di sofa itu.
Benedict menghampiri istrinya dan duduk disebelahnya, ia menggenggam tangan wanitanya lalu menciumnya lembut, "apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau maafin aku?"
"Aku mau bebas di rumah ini, aku mau melakukan apapun yang aku mau, aku mau memasak, mau berkebun, pokoknya aku nggak mau dibatasi,"ungkap Ayudia.
Benedict menghela nafas, "nanti kamu capek Ay, kamu cukup urus aku sama anak-anak aja, biar itu semua maid yang urus,"
Ayudia bangkit berdiri dan berkacak pinggang, sembari menatap suaminya, "Mas, dua bulan kemarin aku diam aja, kamu batasi, karena aku sadar diri, aku masih dalam masa pemulihan dan mengurus bayi, tapi sekarang, anak-anak sudah makin besar, masa aku mau masak aja nggak boleh, kamu keterlaluan tau nggak, aku juga tau kewajiban aku, aku mau jadi ibu rumah tangga seutuhnya, bukan hanya mengurus kamu, tapi juga memasak untuk suami aku,"
Benedict berdiri menghampiri istrinya, ia memeluknya lagi, "baiklah, apapun yang kamu inginkan lakukanlah, yang penting kamu nggak pergi dari aku,"
Ayudia balas memeluk suaminya namun tak berkata apapun.
"Ay tapi khusus hari ini, kamu sama aku terus seharian,"ucap lelaki itu ditelinga istrinya.
Ibu dua anak itu melepas pelukan itu dan sedikit mendorong suaminya, "ya nggak bisa gitu mas, aku kan juga harus ngurusin anak-anak,"
"Hanya untuk menyusui, itupun disini, dikamar kita,"
Ayudia memutar bola matanya malas, ia menghela nafas, "baru dimaafin, bikin ulah lagi,"gumamnya pelan.
"Hari ini aja Ay, aku pengen peluk kamu terus, aku kangen sama kamu,"
"Ya udah tapi aku bilang ibu dulu, aku ijin mau urusin bayi besar,"ucapnya berlalu menuju pintu penghubung kamar anak-anaknya.
__ADS_1