
Keesokan paginya, Ayudia mengajak anak-anak mengunjungi salah satu tempat wisata di bagian timur ibukota, dengan banyak kebudayaan dari berbagai daerah di negara ini.
Anak-anak antusias berkeliling dari satu rumah adat ke rumah adat yang lain,
Aileen meminta pada bundanya untuk mengunjungi istana boneka yang ada di sana, tentu saja Aileen dan teman-temannya sangat senang.
Seperti tak ada lelahnya, anak-anak itu juga meminta untuk berkunjung ke Aquarium air tawar yang masih berada diarea tempat wisata itu.
Usai dari Aquarium, mereka makan siang dengan bekal buatan maid yang ada di rumah besar itu.
Sambil makan siang mereka menceritakan kembali pengalamannya tadi, terlihat tawa mengembang dari wajah-wajah polos itu.
Belum selesai makan siang, ponsel Ayudia berbunyi, tertera nama Rama di sana,
"Halo mas Rama,"sapa Ayudia ramah.
"Ayu, kata maid, Lo lagi di Jakarta ya?"ujar Rama diseberang sana.
"Iya nih mas, lagi ngajak anak-anak jalan-jalan,"
"Lo balik jam berapa?"
"Kayaknya dari sini, Ayu langsung balik ke rumah ibu deh mas,"
"Kok cepat amat,"
"Kan besok anak-anak sekolah,"
"Nando udah ngomong soal nikahannya George kan?"
"Udah mas,"
"Terus gimana keputusan Lo?"
"Aku, sama ibu juga anak-anak mau ke sana, tiga hari sebelum hari H,"
"Ya udah kita berangkat bareng-bareng aja ya, entar gue telpon Troy suruh kirim pesawat kesini, ingat yu, nggak usah bawa barang banyak-banyak, di sana pasti Troy udah siapin semua, Lo cukup bawa diri, entar gue kabari lagi kapan siapnya ya!"
"Iya mas, Ayu tutup ya!" Wanita itu mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Ayudia kembali mengawasi anak-anak yang belum menyelesaikan makan siang mereka.
Usai makan siang, anak-anak memintanya untuk menaiki kereta gantung, tentu saja wanita itu menurutinya.
Ayudia benar-benar kelelahan mengikuti anak-anak yang sedang aktif-aktifnya, tapi tawa dan bahagia mereka menjadi obat dari rasa lelahnya.
Setelah turun dari kereta gantung, Ayudia mengajak anak-anak untuk pulang,
Tak sampai sepuluh menit di mobil, anak-anak itu tertidur karena kelelahan, sedangkan Ayudia tetap konsentrasi menyetir.
Sesampainya di rumah Anna, anak-anak telah bangun, mereka antusias menceritakannya pada Anna dan mang kos yang kebetulan sedang mengecat pagar rumah.
Sedangkan Ayudia lebih memilih masuk ke dalam rumah, ia mengantuk sekali, setelah menitipkan anak-anaknya pada mertuanya, ia tertidur di kamarnya, sepertinya ibu dua anak itu lelah sekali.
Keesokan paginya, usai mengantarkan sekolah anak-anaknya, Ayudia kembali ke rumah, ibu dua anak itu akan mencuci baju, sedangkan Anna pergi ke kota untuk menemui temannya tadi pagi.
Saat hendak ke belakang, ponselnya berbunyi, tertera nama Alex di layar ponselnya,
"Halo Ayu, sibuk nggak?"sapa Alex di seberang sana.
"Halo bang, Ayu mau nyuci," sahutnya jujur.
"Ayu, gue masih nanyain soal tanda tangan surat cerai itu, sorry bukannya gue ingin, masalahnya ini udah lebih dari tiga tahun, Lo tau kan secara agama, Lo udah jadi mantan istrinya Ben, dan kemungkinan besar, Lo bakal ketemu Ben di nikahannya George, jadi bisa Lo setujui saja surat ini, sisanya biar semua gue yang urus, gue takut Lo sakit hati saat tau, Ben bawa perempuan lain ke sana,"
Ayudia memutar bola matanya malas, selalu membahas hal yang sama dengan Alex, ia sampai bosan mendengarnya.
"Ayu Lo masih denger gue kan?"tanya Alex
"Jawaban Ayu masih tetap sama, jadi jangan paksa Ayu,"
"Tapi Ayu, gue nggak mau Lo sakit hati,"
"Bang Alex nggak usah khawatir soal perasaan Ayu, kalau memang mas Ben sudah ada wanita lain, silahkan itu haknya, Ayu cuman minta, ucapkan kata talak itu tepat didepan Ayu dalam keadaan Ayu sadar sepenuhnya,"tegasnya.
"Ayu kenapa keras kepala sih, gue begini, karena udah anggap Lo sebagai adik gue sendiri,"
"Makasih bang Alex khawatirkan Ayu, tapi Ayu juga punya pendapat sendiri, jadi tolong hargai keputusan Ayu, udah ya bang, Ayu mau nyuci, selamat pagi," wanita itu mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Ibu dua anak itu melanjutkan pekerjaannya, di sela-selanya mencuci, ia menghapus air mata yang terus keluar dari matanya.
__ADS_1
Dalam hati ia bertanya, apa memang ini semua harus berakhir? Apa ia juga harus menyerah sama seperti lelaki itu?
Apa benar lelaki itu dengan mudah berpaling darinya? Setelah kata-kata cinta yang selalu ia dengar dari mulut manis lelaki itu.
Rasanya sesak sekali, tak ada yang tau betapa wanita itu sangat patah hati setelah tau, suaminya menceraikannya dalam keadaan dirinya belum sadar sepenuhnya.
Ayudia tau saat ia menyetujui untuk menghadiri pernikahan dari sepupu laki-laki itu, ia harus menyiapkan mentalnya untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Ia hanya berharap, ia tidak menangis di depan semua orang, ia berharap ia ikhlas melepas semuanya.
Berkali-kali ia menghela nafas dan mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap kuat menghadapi kemungkinan terburuk.
Berkali-kali ia juga mengatakan pada dirinya, untuk ikhlas menerima takdir ini.
Ia harus lebih kuat untuk anak-anaknya.
Ia sadar betul, semua salahnya, sehingga lelaki itu sampai menyerah terhadap dirinya,
Lelaki mana yang bisa tahan memiliki pasangan yang di hati wanitanya terukir nama pria lain.
Andai bisa ia ingin menghilangkan rasa itu dengan mudah, tentu tidak akan serumit ini,
Tapi wanita itu berfikir, walau hatinya masih ada nama yang lain, toh fisik dan sebagian jiwanya hanya untuk suaminya, kenapa itu jadi masalah, dan walau bertemu lagi dengan cinta pertamanya, tidak terjadi apapun diantara mereka.
Ayudia tau betul batasannya sebagai istri orang, ia tak ada pikiran untuk berpaling dengan cinta pertamanya, meskipun lelaki itu dengan tangan terbuka akan menerimanya juga anak-anaknya.
Harusnya suaminya itu sadar, meskipun tidak cinta, rasa sayangnya pada suaminya itu begitu besar, melebihi rasa cintanya pada cinta pertamanya.
Memang saat ia berdekatan dengan suaminya belum ada debaran apapun, namun itu tidak masalah untuknya, karena ia benar-benar menyayangi suaminya.
Ia nyaman, ia merasa aman saat bersama suaminya meskipun tau lelaki itu pernah menyakitinya.
Ada banyak kata yang ingin wanita itu sampaikan, jika bertemu dengan ayah dari anak-anaknya.
Bukan cacian yang akan ia sampaikan, ia akan meminta maaf juga berterima kasih.
Jika memang harus berakhir, ia hanya ingin mengatakan kalau ia akan menyayangi lelaki itu apapun keadaannya.
Jika memang tidak bisa bersama lagi, ia hanya bisa mendoakan, agar lelaki itu bahagia dengan kehidupan barunya.
__ADS_1
Ayudia meyakinkan pada dirinya sendiri, untuk menjadi wanita yang lebih kuat demi dirinya sendiri juga kedua buah hatinya.