
Dan benar saja, keesokan harinya saat Natasha baru saja tiba di rumah sakit tempatnya bekerja, sudah ada Karen dan Papanya tengah menunggunya di lobby.
Natasha menghampirinya, dan menyapanya dengan ramah, namun, hal itu dimanfaatkan oleh pasangan ayah dan anak itu.
"dokter Natasha, apa tidak cukup anda merebut calon menantu saya dan sekarang anda membuat bangkrut perusahaan saya? Apa anda tidak lihat putri saya satu-satunya sangat menderita?"ucap papa Karen.
Natasha yang awalnya ramah menjadi kesal, namun ia hanya diam tak menanggapi laki-laki paruh baya itu.
Melihat reaksi yang dingin dari dokter kandungan itu, Karen semakin bersemangat untuk berakting, "apa dokter tidak tau, kalau Kama dan aku saling mencintai sejak SMA, tapi dokter dengan sengaja merebut calon suami aku? Apa dokter tidak bisa mencari pasangan yang umurnya sebaya dengan dokter?"teriaknya menarik perhatian orang-orang disekitar.
Dan banyak lagi ocehan-ocehan kosong di lontarkan oleh Karen juga papanya.
Setelah beberapa menit, Natasha melihat jam tangan mahal di pergelangan tangannya, "sudah selesai berbicaranya? Kalau begitu saya permisi, ada pasien yang menunggu saya untuk di operasi,"ujarnya berlalu meninggalkan mereka.
Tak terima ditinggalkan begitu saja, Karen mengejar Natasha, dan menarik hijab yang dikenakan dokter kandungan itu, hingga hampir saja hijab itu terlepas.
Natasha berusaha mempertahankan hijabnya, meskipun ditarik sangat kuat oleh Karen sambil mencaci maki dokter itu.
Hingga Oscar yang baru saja datang juga sekuriti yang bertugas melerai pertikaian itu.
Oscar melepaskan cengkraman tangan Karen di hijab milik Natasha, sedangkan sekuriti memegangi Karen agar menghentikan serangannya.
Meski sedikit sulit, akhirnya tangan Karen terlepas dari hijab milik Natasha,
Melihat hijab milik sahabatnya yang berantakan dan memperlihatkan sebagian rambutnya, membuat Oscar melepas jasnya, lalu menaruhnya di kepala dokter kandungan itu.
"Apa anda sudah gila? Anda sudah melecehkan dokter Natasha,"ucap Oscar marah.
"Dia sudah merebut calon suami aku dan membuat perusahaan papa aku bangkrut, bagaimana saya tidak marah,"teriak Karen tak terima.
Oscar mengambil ponsel di saku celananya, ia menghubungi salah satu sahabatnya, "halo pengacara Alex, tolong buat laporan kepada pihak kepolisian atas nama Karen Soesetyo dengan tuduhan pencemaran nama baik, penyerangan, dan fitnah pada dokter Natasha, saya mau hari ini juga Karen Soesetyo dijebloskan ke penjara,"tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, Oscar mengakhiri panggilannya.
"Pak Supri, tolong minta salinan rekaman CCTV untuk dijadikan bukti kasus ini, dan tolong ingat wajah dua orang ini, blacklist dari rumah sakit ini,"ucap Oscar penuh ketegasan pada sekuriti yang memegangi wanita yang masih emosi.
Lelaki itu menuntun sahabatnya untuk pergi dari sana, masih terdengar cacian dari mulut Karen.
Sesampainya di ruangan Presdir rumah sakit, Oscar memberikan botol air mineral kepada sahabatnya,
"Masih ribet aja Lo sama cewek gila itu, gue pikir urusannya udah selesai, terus Kama tau nggak soal ini?"ujar Presdir sekaligus dokter bedah itu.
"Kasihan Kama Os, dia udah pusing juga menghadapi cewek gila itu,"jelas Natasha.
__ADS_1
"Gue bingung deh nggak Ben atau elo berurusan sama cewek-cewek gila, haduh... Emang bener, mendingan Lo pindah ikutin Ayu deh ke Amerika, toh kata Ben, Kama mau di jadiin Asistennya kan? Seenggaknya rumah tangga Lo bisa tenang kalau di sana,"
"Iya, Ben udah ngomong ke gue, abis kita Umroh, kita langsung ke Amerika, kalau disini, Kama kayak tertekan banget apalagi kalau ketemu cewek sedeng itu,"
"Pokoknya apapun itu gue sebagai sahabat cuman bisa dukung yang terbaik buat Lo,"
Setelahnya mereka membicarakan pekerjaan, sebelum kepindahannya ke Amerika mengikuti istri big bos mereka yang tengah mengandung.
Disisi lain, di sekolah Ainsley dan Aileen, sedang di bagikan Raport semester satu, Benedict hadir di sana, ia melarang istrinya untuk hadir, ia menyuruh wanita hamil itu untuk beristirahat di rumah saja.
Wali kelas mengatakan, jika Ainsley dan Aileen mendapatkan peringkat satu dan dua, tentu hal itu membuat bangga Benedict sebagai ayah.
Usai berjabat tangan dan berterima kasih juga memberikan paper bag, sebagai hadiah untuk wali kelas, Benedict pamit undur diri.
Dalam perjalanannya menuju tempat parkir, ada Amanda mama dari Michelle mengejarnya.
"Mr. Wright, boleh saya meminta tolong,"ujar wanita itu.
Benedict menghentikan langkahnya, ia menoleh dan menaikan sebelah alisnya.
"Bisa beri saya tumpangan, mobil saya masuk bengkel, saya juga mau berbicara soal anak-anak,"Amanda beralasan.
Benedict melihat jam tangan mahalnya, "maaf untuk menumpang saya keberatan, tapi jika anda ingin. Berbicara soal anak-anak silahkan, anda bisa berbicara dan saya akan dengarkan disini sekarang juga,"
"Apa hanya itu? Kalau begitu permisi, mari,"ujar Benedict dingin.
Amanda tentu tak akan membiarkan ia ditinggalkan begitu saja, ia berjalan cepat dengan high heels miliknya.
Wanita itu memegang lengan kekar milik Benedict, "Mr. Wright saya mohon, beri saya tumpangan ya! Saya terburu-buru,"
Benedict menatap tajam tangan wanita dengan nail art bermotif bunga mawar kecil,
Merasa sedikit takut dengan tatapan tajam lelaki itu, Amanda melepaskan tangannya,
"Maaf Nyonya Lauren, anda dan saya tidak sedekat itu untuk berbagi tumpangan, jadi silahkan anda cari orang lain,"
"Ayolah Mr. Wright, saya tau, anda tertarik dengan saya, jadi tidak usah malu-malu, bukankah istri anda sedang hamil, tentu sulit untuk membuat anda puas di ranjang,"ungkap Amanda Frontal dan percaya diri.
Benedict menyeringai, "jadi anda menawarkan diri untuk menghangatkan ranjang saya Nyonya Lauren?"
Amanda mengangguk antusias,
__ADS_1
"Baiklah, jika anda mau, anda bisa datang, ke hotel xx kamar xx, pukul sepuluh malam, mungkin saya akan terlambat datang, jadi bisakah anda memakai lingerie merah sesuai dengan warna kuku anda, jangan kunci pintunya," ucap Benedict pelan sambil melirik kuku wanita itu.
Amanda mengangguk setuju, wanita itu tersenyum bahagia.
Usai mengatakan itu, Benedict berlalu menuju mobilnya.
Ia mengemudikan mobilnya meninggalkan parkiran sekolah anak-anaknya.
Lelaki itu menghubungi salah satu sahabatnya, berbicara soal rencananya menghancurkan keluarga Lauren.
Malam harinya disalah satu hotel mewah di ibukota, terlihat seorang perempuan menggunakan lingerie berwarna merah transparan, sedang menunggu kedatangan laki-laki yang menjadi incarannya.
Ia sengaja mematikan lampu kamar deluxe itu untuk memberi kejutan pada laki-laki tampan yang ada dipikirannya.
Tak lama kemudian, pintu kamar hotel di ketuk, dengan suara yang dibuat-buat, Amanda menyuruhnya untuk masuk.
"Hai Mr. Wright, sesuai permintaan anda, saya sudah mengenakan lingerie merah, apa perlu saya nyalakan lampunya, supaya anda bisa melihat tubuh indah saya,"ucap Amanda serak menahan hasrat yang tengah tinggi-tingginya.
Lelaki itu hanya berdehem, dalam cahaya remang-remang yang berasal dari jendela kaca hotel, ia mendekati wanita yang sedang duduk di ranjang.
Dengan senang hati Amanda menyambut lelaki yang mulai menjamahnya.
Keduanya saling bercumbu, ruangan itu menjadi semakin panas karena dengan tergesa-gesa keduanya melepaskan kain yang menempel pada tubuhnya.
Hingga terjadilah sebuah hubungan badan yang tidak semestinya,
Saat keduanya sedang asik mengarungi samudera kenikmatan, tanpa mereka sadari, pintu dibuka perlahan,
Ada beberapa orang yang masuk, salah satu dari mereka menekan saklar, dan waw.... Terlihat laki-laki dan perempuan berbeda jenis kelamin dalam keadaan tanpa busana tengah menyatu.
Amanda terkejut ruangan tiba-tiba terang, dan lelaki yang sedang berada di atasnya bukan orang yang ia bayangkan, tapi lelaki asing yang tidak ia kenal.
Harry Lauren serta Asistennya, juga koleganya yang bernama Fernando serta Asistennya bernama Kamajaya, terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Jadi ini yang Mami lakukan dibelakang papi?"teriak Harry marah.
Bukannya berhenti, lelaki yang berada di atas Amanda bahkan masih terus melakukan kegiatan panasnya, tak peduli teriakan suami dari wanita dibawahnya.
Hingga yang berbadan kekar berkulit gelap mengeram menandakan dirinya telah mencapai puncak kenikmatan.
Melihat hal itu Herry benar-benar malu, ia meminta maaf dengan tuan Fernando karena melihat pemandangan tak senonoh yang dilakukan istrinya.
__ADS_1
Disisi lain, rumah milik orang tua Karen Soesetyo, didatangi polisi, mereka hendak menangkap wanita, itu atas tindakan, Penyerangan, pencemaran nama baik, juga fitnah kepada Dr. Natasha Kusuma SpOG.
Karen dan orang tuanya tidak terima namun apa daya, polisi membawa surat resmi perintah penangkapan untuknya, dan wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu di gelandang menuju kantor polisi.