
Ayudia keluar dari cafe bersama Ica dan Nia, "eh Ada mas Ben, baru pulang mas?"Tanya Ica berbasa-basi.
Benedict hanya berdehem saja,
"Girls, jemputan gue udah Dateng, gue duluan ya, mari mas Ben,"ucap Ica berpamitan dan menghampiri lelaki yang dijodohkan orang tuanya.
"Gue juga balik dulu ya Ayu, mari mas Ben," pamit Nia menuju parkiran mengambil motor matic miliknya.
Melihat kepergian kedua rekannya, Ayudia menghela nafas, sebenarnya hari ini ia cukup lelah, tapi sepertinya fisik dan batinnya harus bersiap untuk menghadapi suaminya yang sudah berbulan-bulan tidak pulang.
Ayudia berinisiatif memesan taksi online menuju apartemen suaminya, tak lupa iya juga memesan makanan untuk keduanya makan malam.
Sekitar lima menit hanya ada keheningan melanda, ada beberapa karyawan yang baru keluar dari cafe menyapa keduanya, dengan ramah Ayudia menanggapinya, berbeda dengan Benedict yang lagi-lagi hanya berdehem.
Tak lama, taksi Online memasuki parkiran, Ayudia berjalan terlebih dahulu, ia meminta supir untuk membuka bagasi belakang untuk menaruh koper milik suaminya, keduanya duduk dibelakang, tidak ada pembicaraan diantara keduanya.
Sampai di apartemen, Ayudia menemui sekuriti untuk mengambil pesanannya, keduanya menaiki lift, lagi-lagi hanya keheningan diantara keduanya.
Memasuki unit Apartemen, Ayudia menyalakan lampu serta meletakan bungkusan makanan, ia bergegas ke lantai atas untuk mengambil baju ganti, setelahnya ia langsung menuju kamar mandi, ia butuh mandi air hangat, ingin rasanya berendam, tapi ia tidak ingin membuat, suaminya menunggu terlalu lama.
Ia memakai daster motif bunga-bunga kecil selutut, di kepalanya terlilit handuk, guna mengeringkan rambutnya.
Ayudia menyiapkan makanan dan segelas air minum, ia membawanya ke sofa dimana suaminya sedang duduk bersandar dan menutupi wajahnya dengan lengannya.
"Makan yuk mas,"ajaknya.
Benedict membuka matanya dan duduk dengan tegap, ia minum terlebih dahulu, ia menerima suapan nasi goreng seafood dari istrinya, inilah salah satu kebiasaannya setelah menikah.
Ketika sedang di apartemen, Benedict tidak pernah menggunakan tangannya sendiri untuk makan, ada istrinya yang selalu menyuapinya, "kamu nggak makan?" Tanyanya.
"Ini mau makan,"jawab Ayudia menyuapi dirinya sendiri.
Ayudia bergantian menyuapi dirinya sendiri dan suaminya, hanya dalam beberapa menit, satu porsi nasi goreng seafood telah tandas.
Ada season kedua untuk makan malam keduanya, Ayudia memesan satu ember kecil Ayam goreng kf* tanpa nasi, kentang goreng, serta softdrink dua gelas.
Sambil menikmati Ayam goreng itu, Ayudia membuka percakapan dengan suaminya, "Ayu nggak nyangka loh, ternyata suami Ayu, sekaya itu, wah bisa terjamin tuh anak cucu Ayu tujuh turunan, tujuh tanjakan,"ujarnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Rama terlalu melebih-lebihkan, nggak usah percaya,"ucapnya mulai berbicara, karena sedari tadi Benedict hanya diam.
"Sekali-kali ajak Ayu naik pesawat mas, seumur-umur Ayu belum pernah naik pesawat," ujarnya lagi-lagi sambil tertawa.
"What? jadi kamu belum pernah naik pesawat?" Tanya Benedict kaget.
"Serius mas, lagian mau kemana naik pesawat, kampungnya ibunya Ayu kan, bisanya cuman naik bus atau kereta api, mana bisa naik pesawat, tapi aku becanda kok mas, nggak usah dipikirin,"jawabnya, lagi-lagi dengan tawanya.
Ayudia masih menyuapi suaminya ayam goreng krispi yang dicocol saus itu, bergantian dengan kentang goreng.
"Kapan kamu libur?" Tanyanya.
"Besok Ayu libur, tadinya Ayu mau nyusul Anin sama si kembar di rumah mas Samsul, tapi kan kamu baru pulang, ya udah aku batalin, udah bilang mereka juga kalau kamu pulang," jawabnya.
"Sejak kita menikah, kayaknya kita belum honeymoon ya? Gimana kalau kita honeymoon?" Usul Benedict sambil mengunyah makanannya.
"Libur sehari doang mas, mau kemana sih? Mending tidur di kasur sepuasnya,"ucapnya santai.
"Sayang apa kamu punya paspor?" Tanyanya.
"Ngapain kamu mau jadi TKW? Emang uang yang aku kasih kurang, lagian kamu kenapa pake yang dari aku sedikit doang?"tanyanya heran.
"Kan aku perlu biayain pesantren si kembar sama Kuliah Anin mas, gaji jadi TKW gede loh mas,"
Benedict memutar bola matanya malas, "aku tau, kamu mau lari dari aku kan?"tebaknya.
"Kok tau mas? Kamu cenayang ya?"Ayudia nyengir memperlihatkan giginya.
"Kenapa sih kamu masih nggak percaya sama aku?"tanyanya kesal.
"Itu waktu aku belum nikah sama kamu mas, sekarang kan kamu suami aku, aku tau kali nggak semudah itu buat kita pisah," jawabnya.
"Dan jangan pernah berpikir aku bakal lepasin kamu istriku,"
"Iyain biar cepat, aku mau tanya kenapa kamu nggak kasih tau aku, kalau kamu balik ke sini?"
"Mau buat kejutan buat kamu, eh aku malah yang terkejut, sekarang aku tanya balik, kenapa kamu bisa kenal sama perempuan itu? Kenapa kamu nggak pernah cerita?"
__ADS_1
"Mbak Citra yang ngenalin, ya udah yang namanya orang mau berteman, ya Ayu terima aja, masa ditolak, nggak enaklah, kayaknya dia nyesel banget ninggalin kamu dulu, sekarang suaminya selingkuh sama sekretarisnya, kasihan ya!"
"Dia itu wanita ular Ayu, dia ninggalin aku karena dulu aku tinggal di kosan Deket rumahnya Rama, sedang suaminya anak orang kaya dan rumahnya mewah, dia itu materialistis,"
"Menurut aku kalau cewek materialistis itu wajar sih, kan dia pengen kehidupan yang lebih baik,"
"Tapi kok kamu nggak?"
"Kan aku nggak wajar mas,"candanya.
"Kemarin aku sempet mikir pas di sana, saat aku benar-benar gila-gilaan kerjanya, dan uang yang aku hasil kan cukup banyak, tapi kalau dipikir-pikir buat apa? Aku punya istri hematnya minta ampun, jadi harta aku buat siapa?"
"Sumbangkan mas,"
"Udah, tapi bener kata guru agama pas aku SMA dulu, katanya kalau beramal, akan diganti sepuluh kali lipat, dan aku berkali-kali udah buktiin, jadi kalau uang disedekahkan bukannya berkurang malah tambah terus, bingung kan?"
"Ya bener sih, ya udah si, nikmati, syukuri, terus emang bener jam tangan kamu harganya lima ratus ribu dolar?" Tanyanya penasaran.
Benedict tertawa, "kenapa emang kamu mau?"tawarnya.
"Nggak, ngapain mas, kalau ilang kan nyesek, seumur-umur aku nggak punya duit segitu mas,"
"Kalau kamu mau, bilang ya, nanti aku beliin, dan soal honeymoon aku serius,"
"Terserah kamu mas," ujarnya
Semua makanan telah habis, Ayu membereskannya, setelahnya ia bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, ia mulai mengantuk.
Keluar dari kamar mandi, ia meminta ijin kepada suaminya untuk naik terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, Benedict menyusul setelah sebelumnya ia membersihkan diri.
Ayudia belum tidur ia sedang bermain ponsel saat Benedict duduk disebelahnya, "ay, aku kangen,"bisiknya.
Wanita itu mematikan ponselnya dan menghubungkannya dengan pengisi daya.
Ia memeluk suaminya dari samping dan berbisik, "aku juga kangen,"
__ADS_1