Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tiga puluh delapan


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Mas kamu mau ajak kemana sih? Nanti siang aku kerja loh,"ucap Ayudia heran karena suaminya tiba-tiba mengajaknya pergi padahal nanti ia harus bekerja.


"Udah ikut aja,"ujar Benedict santai.


Keduanya menaiki taksi online, hingga taksi itu memasuki bandar udara yang terletak di timur ibu kota, "kita ngapain ke bandara?"tanya Ayudia yang baru saja turun dari taksi.


"Menurut kamu kalau ke bandara kita ngapain?"tanya Benedict balik.


"Nonton pesawat ya! Ngapain sih mas, lagian aneh-aneh aja, emang Ayu bocah, gara-gara belum pernah naik pesawat, sampai di ajak kesini buat liat doang, mending pulang aja yuk, jangan norak deh, Ayu malu," ungkapnya polos.


Benedict terus berjalan menggandeng tangan istrinya, sampai ia melihat sahabatnya telah berkumpul menunggu kedatangannya.


Alex memperkenalkan Benedict kepada seorang petugas bandara.


Ada Rama dan Oscar juga di sana, setelah berbincang sejenak Mereka berjalan menuju landasan pacu pesawat, mereka menuju ke salah satu pesawat dengan logo yang pernah Ayudia lihat namun ia lupa dimana.


Ada dua orang berseragam pilot satu diantara sepertinya orang asing serta seorang pramugara yang menyambutnya, semuanya menunduk ketika Benedict berjalan mendekati tangga pesawat, dan sedikit berbicara dengan bahasa Inggris.


"Mas Ben, ini kita ngapain sih? Kenapa ada pesawat segala?"bisik Ayudia.


"Ikut aja ay," balasnya berbisik.


Mereka menaiki tangga pesawat, dengan tangan masih bertautan, Ayudia berjalan dibelakang suaminya.


Di dalam pesawat hanya ada beberapa kursi, Ayudia duduk bersebelahan dengan suaminya, sedangkan yang lain dibelakang keduanya.


Sesaat kemudian ada suara pilot menyapa menggunakan bahasa Inggris, dan pramugara mulai mendekati para penumpang untuk memberitahu tentang pemasangan sabuk pengaman, karena pesawat akan segera lepas landas.


"Mas kenapa pesawatnya kecil? Nggak kayak yang di TV,"bisik Ayudia pelan.


"Ini pesawat pribadi ay, jadi ukurannya kecil, memang kamu mau naik pesawat yang gede?"balas Benedict berbisik.


"Ya nggak gitu sih, cuman nanya aja,"


"Kalau kamu takut kamu bisa pegang tangan aku,"


Namun sepertinya Ayudia tidak takut sama sekali, ia bahkan melihat keluar jendela ketika pesawat lepas landas.


Perlahan Ayudia memejamkan matanya, sepertinya wanita itu mengantuk, sejak kepulangan suaminya, ia benar-benar kurang tidur.


Ada sesuatu yang lembut tengah bergerak di bibirnya, hal itu mengusik tidur seorang wanita, ada aroma wangi yang familiar di indera penciumannya, ya aroma suaminya.


Ayudia membuka matanya, dihadapannya, ada suaminya yang tengah menutup mata menikmati kegiatan yang ia lakukan, ada kebimbangan dipikiran wanita itu, kalau seandainya ia membalas ciuman itu, tentu akan berakhir dengan pinggangnya yang pegal-pegal, atau tidak membalasnya, namun sayang untuk dilewatkan.

__ADS_1


Hanya dengan sedikit membalas ciuman itu, Benedict membuka matanya dan tersenyum disela-sela ciuman yang mulai panas itu.


Dan terjadilah kegiatan ranjang antara suami dan istri itu, hingga lenguhan panjang keluar dari mulut lelaki itu.


Keduanya masih terengah-engah setelah menyelesaikan kegiatan yang membuat mereka penuh dengan peluh.


Ayudia baru menyadari ketika dirinya ada disebuah kamar dengan interior yang menurutnya cukup mewah bagi dirinya yang memang orang biasa.


"Mas, kita dimana? Seingat Ayu, tadi masih di pesawat deh, kok tau-tau udah dikamar," ucapnya setelah nafasnya lebih teratur.


"Kita ada Di resort, kamu tadi tidur nyenyak banget, bahkan saat aku gendong, kamu nggak bangun juga."


"Maaf ya mas, jadi ngerepotin kamu deh, aku kan berat,"


"Sama sekali nggak, oh ya, apa kamu lapar?"tanya Benedict sambil duduk dan mengenakan bokser nya.


"Banget, tapi kayaknya sekarang aku lebih butuh mandi deh,"jawabnya masih dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Benedict tersenyum senang, istrinya ingin mandi, namun sepertinya ia harus menghubungi seseorang dulu, lelaki itu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.


"Ya udah Kita mandi dulu baru makan," ujar lelaki yang langsung menyingkirkan selimut dan mengangkat tubuh polos istrinya.


"Aku mau mandi sendiri aja mas,"ucap Ayudia meronta, namun Benedict malam memeluknya erat, lelaki itu menggendong tubuh istrinya ala koala, dan berjalan menuju kamar mandi.


Benedict menurunkan istrinya di jacuzzi yang sudah terisi air hangat, dan terjadilah kegiatan mandi plus-plus untuk suami istri itu.


"Wah Ben mukanya cerah banget," ungkap Alex ketika melihat kedatangan pasangan suami istri itu.


"Jelas dong kan udah ketemu pawangnya,"sahut Nando.


"Loh Aa kesini juga,"celetuk Ayudia.


"AA emang kerja disini Dede,"ledek Nando, hal itu membuat Benedict melempar topi yang ia kenakan ke lelaki itu


"Nggak usah godain bini gue,"ungkap Benedict kesal.


"Si bos cemburu,"ledek Oscar sambil tertawa-tawa dan diikuti oleh sahabatnya yang lain.


Pantai yang terletak dalam lingkungan resort itu merupakan salah satu properti milik Benedict yang dikelola oleh Nando.


Tidak ada pengunjung resort di sana, resort memang sengaja dikosongkan atas permintaan Benedict agar ia bisa berbulan madu dengan istrinya dengan leluasa.


Pasangan suami istri itu mengabadikan moment kebersamaan mereka saat matahari seolah tenggelam ke dasar lautan.


Hanya dua hari para sahabat Benedict merecoki acara bulan madunya, hari ketiga mereka mulai kembali ke tempatnya masing-masing.

__ADS_1


"Kenapa yang lain disuruh pulang sih mas, kan seru ada mereka,"protes Ayudia ketika keduanya baru memasuki kamar.


"Mereka godain kamu terus, aku nggak suka." Ucap Benedict kesal.


"Jadi ceritanya cemburu nih?"Ayudia menggoda suaminya dengan duduk dipangkuan lelaki itu.


"Iya aku cemburu, aku nggak suka kamu dekat cowok lain,"


Ayudia mencium pipi suaminya mesra, "jadi sekarang apa yang akan kita lakukan kalau hanya ada kita berdua?"ucapnya menyentuh rahang tegas suaminya.


Benedict tersenyum lebar, ini yang ia harapkan, menghabiskan waktu hanya berdua dengan istrinya, tanpa ada pengganggu satu pun, "tentu melakukan kegiatan menyenangkan yang hanya bisa kita lakukan berdua,"


Keduanya menghabiskan sisa waktu dengan kegiatan panas antara suami dan istri, istirahat mereka hanya saat makan dan tidur, hanya beberapa kali mereka keluar untuk menikmati sunset.


Ada penjaga yang hanya boleh ada di gerbang resort, sedangkan para karyawan resort diliburkan sementara, hanya bagian dapur itupun hanya saat menjelang waktu makan saja.


Mungkin bisa dibilang ini cukup gila, namun Benedict tidak peduli, baginya waktu berdua dengan istrinya lebih berharga dibandingkan dengan penghasilan resort miliknya itu.


Menjelang kepulangan mereka, Ayudia baru menyadari keanehan itu, "mas, Ayu bingung deh, kok resort tempat kita menginap kok sepi ya? Kayak kita doang pengunjungnya,"ungkapnya heran.


"Ya emang kita doang yang ada disini,"ucap Benedict santai.


"Kok bisa?"tanya Ayudia makin heran.


"Biar nggak ada yang ganggu kita,"jawabnya.


Ayudia hanya menganga mendengar jawaban suaminya, "mas, jadi beneran kalau kamu orang kaya ya?"tanyanya polos.


Benedict hanya tersenyum ambigu menanggapi pertanyaan istrinya.


"Ditanyain senyum doang, jadi omongan mas Rama tempo hari bener, kalau kamu itu punya resort, terus pesawat yang kemarin kita naik juga punya kamu? Abis ini apalagi mas? Jangan bilang di Amerika sana harta kamu benar seperti yang mas Rama bilang," ungkapnya mendadak kesal.


"Emang kenapa ay?"tanya Benedict.


"Kamu bukan mafia kan mas?"tanya balik Ayudia.


Benedict tertawa keras, "mikir kamu kejauhan ay, yang jelas aku bukan mafia, jadi kamu nggak usah khawatir,"jawabnya.


Saat keduanya dalam perjalanan menuju bandara, diam-diam Ayudia mengetikan nama sang suami melalui mesin pencarian pintarĀ  yang ada di ponselnya, tak lama ada banyak artikel berbahasa asing yang membahas suaminya, ia bersyukur karena diam-diam ia mengerti dan paham bahasa internasional itu, tanpa orang sekelilingnya tau.


Ada banyak berita, foto bahkan gosip kedekatan suaminya dengan beberapa aktris dan model negeri paman Sam.


Ayudia menutup dan segera menghapus pencariannya, ia memandang tajam kepada lelaki yang sedang memainkan salah satu game online.


Entah ia merasa beruntung atau justru terbebani dengan semua ini, ia merasa bodoh karena tidak mencari tau sebelumnya siapa sebenarnya suaminya itu.

__ADS_1


Yang jadi pertanyaan dalam benaknya adalah apa dirinya pantas bersanding dengan lelaki sehebat Benedict Johnson Wright?


Namun jika ingin mundur, apakah ia bisa?


__ADS_2