Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sembilan puluh dua


__ADS_3

Ayudia dan Amara serta si kembar mengunjungi rumah Pradikta setelah tadi mereka membeli parcel buah yang tak jauh dari penjual mie ayam.


Tadi Pradikta sempat melarang, tapi Ayudia bilang, "masa nggak bawa apa-apaan, nggak enak sama mama kamu,"


Pradikta mengajak mereka masuk setelah sebelumnya memberi salam.


Arini sedang menunggu kedatangan tamunya di ruang tengah, perempuan paruh baya itu antusias melihat kedatangan Ayudia, ia memeluknya, menyalami kedua balita itu dan juga Amara.


"Anak kamu menggemaskan banget Ayu, Tante jadi pengen punya cucu, tapi Dikta yang nggak mau nikah-nikah,"ungkap Arini. Ayudia hanya tersenyum menanggapi.


"Di, kayaknya gue balik dulu deh, tetangga belakang rumah gue meninggal, gue mau melayat dulu ya,"ucap Amara  pada sahabatnya,


"Ya udah, Lo mau bawa motor buat balik?"tawar Ayudia.


"Nggak usah gue naik ojek aja, entar gue balik lagi deh beneran,"


"Ra nggak apa-apa, entar Ayu sama gue aja, gue anterin balik,"ujar Pradikta menyela.


Amara mengangguk dan berlalu setelah sebelumnya menyalami Arini serta berpamitan padanya.


Sepeninggal Amara, Aileen mulai rewel, sepertinya balita itu mengantuk, Arini menyuruh Ayudia menidurkan di kamar milik Pradikta.


Bukan hanya Aileen yang mengantuk, Ainsley juga sama, keduanya tertidur di kasur queen size milik Pradikta.


"Gimana kerajaan kamu Dikta?"tanya Ayudia memecah keheningan setelah kedua anaknya tertidur, wanita itu bangkit dan duduk disisi ranjang.


Pradikta duduk di kursi tak jauh dari ranjang, "Udah sebulan ini, aku balik lagi kesini, aku mulai kerja disini lagi, terus selain mengurus anak, apa kamu juga bekerja?"


Ayudia menggeleng, "aku jadi ibu rumah tangga full,"


"Bagaimana kabar Anin dan si kembar?"tanyanya lagi.


"Anin masih kuliah, si kembar masih di pondok,"


Ada keheningan diantara keduanya, hanya hembusan suara pendingin ruangan juga jam dinding yang ada di sana,


"Apa sekarang kamu sudah bahagia Ay?"


Ayudia menghela nafas, "iya seperti yang kamu lihat, aku punya dua anak yang lucu-lucu,"

__ADS_1


"Bukan itu maksud aku Ay,"


"Bahagianya seorang ibu ya melihat anaknya tumbuh dengan baik Dikta, kamu bisa tanya Tante Arini,"


Pradikta menatap cinta pertamanya lembut, "bagaimana dengan suami kamu?"


Ayudia melihat langit-langit kamar itu lalu menghela nafas, "aku sayang sama suami aku, dia juga cinta sama aku, jadi kamu nggak usah khawatir,"


Pradikta mengernyit, "ay..."


"Harusnya aku yang tanya sama kamu, ingat kesepakatan kita dulu, kalau kita ketemu lagi, kita masing-masing udah bahagia,"


"Bahagia aku udah dibawa pergi sama cinta pertama aku Ay, aku udah berusaha buat buka hati, tapi belum ketemu juga, nggak ada yang bisa gantiin cinta pertama aku Ay,"


Ayudia menunduk, ia merasa bersalah, ia mulai terisak.


Melihat hal itu Pradikta menghampirinya, ia berjongkok dan menggenggam tangannya lalu memeluk tubuh yang beberapa tahun ini ia rindukan.


"Jangan nangis Ay, ini pilihan hidup aku, kamu jangan merasa bersalah,"bisik Pradikta mencoba menenangkan wanita itu.


Ayudia balas memeluknya, "maaf Dikta, tapi jangan begini, aku merasa bersalah sama kamu juga Tante Arini, buka hati kamu, aku mohon,"


Pradikta melepaskan pelukan itu, ia mencium kening wanita itu lembut, juga menghapus air mata di pipinya, "Ay, bukankah dari dulu kamu tau, aku susah untuk membuka hati, kamu tau Ay, aku tidak pernah sekalipun bisa membenci kamu meskipun kamu sudah jadi milik orang lain, mungkin aku bodoh, karena mengharapkan kamu, tapi kamu tau Ay, sedikitpun aku nggak menyesal karena mencintai kamu hingga detik ini,"


Ayudia berdiri, ia menjauh dari lelaki itu, ia menggelengkan kepalanya, lalu ia berjongkok menutupi wajahnya, ia kembali terisak,


Pradikta menghampirinya, ia memeluk tubuh itu lagi, "ay, jangan merasa bersalah, ini pilihan aku untuk mencintai kamu,"


Ayudia mendongak menatap mata yang dulu membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya, "Dikta, aku ini istri orang, aku udah punya anak dari orang itu, aku nggak mungkin ninggalin mereka, jadi tolong jangan buat aku merasa bersalah,"


"Ay, aku tegaskan, ini pilihan aku, dan aku bersyukur rasa cinta aku masih besar ke kamu, meskipun aku nggak bisa memiliki fisik kamu, tapi bukankah hati kamu masih untuk aku ay?" Pertanyaan yang menohok untuk Ayudia.


"Aku udah punya suami Dikta, aku sayang suami aku,"wanita itu berusaha menegaskan perasaannya.


Pradikta berdiri ia memandang jendela kamarnya, ada rintik hujan yang mengenai jendela luar kamarnya.


"Ayudia putri, kamu hanya sayang sama suami kamu, karena dia adalah suami kamu sekaligus ayah dari anak-anak kamu, bagaimana dengan cinta? Bagaimana dengan hati kamu?"


"Perasaanku nggak penting Dikta, yang penting itu kebahagiaan anak-anak aku sama adik-adik aku,"

__ADS_1


Pradikta berbalik, ia menghampiri wanita itu lagi dan berjongkok, ia mengelus rambut lalu menciumnya, "jadi kamu juga nggak perlu merasa terbebani karena rasa bersalah kamu, bukankah kita sama-sama menderita Ay, biar adil bukan hanya kamu yang tersiksa karena hidup dengan orang yang tidak kamu cintai, tapi juga aku yang nggak bisa memiliki kamu,"


"Kasihan Tante Arini, beliau mengharapkan cucu dari kamu, kamu anak satu-satunya,"


"Bukankah sekarang jaman udah modern Ay, aku bisa cari ibu yang bersedia mengandung anak aku,"


Ayudia menggeleng, "jangan lakukan itu Dikta, kasihan anak kamu nantinya, dia juga butuh sosok seorang ibu,"


"Jadi aku harus gimana ay? Aku bahkan nggak bisa dekat dengan wanita lain, selain kamu sama mama, kamu tau kan, aku jijik sama mereka,"teriak Pradikta.


"Kamu yang paling tau Ay, bahkan mama sampai sekarang nggak tau, aku begini,"


"Bagaimana dengan Amara, bukankah kamu bisa berdekatan dengannya?"


Pradikta memegangi kepalanya, ia mulai merasa pusing, "aku nggak ada rasa sama Amara Ay,"


Ucapnya pelan.


"Kamu bisa mulai coba Dikta, bukankah bisa karena biasa,"


"Kamu nggak kasihan sama sahabat kamu, mungkin aku bisa berinteraksi dengan dia, tapi saat aku bersama dia, pikiran aku ke kamu, bahkan saat kami menikah nanti, saat kami berhubungan badan aku malah menyebut nama kamu? Apa kamu nggak memikirkan sejauh itu Ay?"


Ayudia menghela nafas, "udah lah terserah kamu Dikta, aku pusing, aku mau numpang tidur aja, dan kamu keluar dulu sana, nggak enak sama Tante Arini,"


"Ini kamar aku Ay, kalau kamu lupa, masa aku diusir,"


"Nggak baik Dikta kalau kita berduaan doang disini, bahaya,"


"Ay, aku nggak mungkin berbuat kurang ajar sama kamu, apa kamu lupa aku selalu jagain kamu?"


"Iya aku percaya sama kamu, masalahnya aku nggak percaya sama diri aku sendiri,"


"Maksud kamu?"tanya Pradikta bingung.


Ayudia menghela nafas, "Pradikta, aku ini wanita yang sudah menikah, udah merasakan yang namanya berhubungan badan, kamu tau kan kalau aku masih ada rasa sama kamu, perempuan itu lemah dengan orang yang dicintainya, jadi sebelum sesuatu yang tidak boleh kita lakukan terjadi, mending sekarang kamu keluar dari sini,"tegasnya,


Pradikta malah tertawa namun tertahan karena mulutnya dibungkam oleh Ayudia dengan tangannya, "jangan ketawa, anak-anak aku bisa bangun,"bisiknya.


Ada ide jahil terlintas di pikiran lelaki itu, selagi tangan wanita itu ada di mulutnya, lidahnya menjilat telapak tangan yang membungkamnya.

__ADS_1


Ayudia sontak melepaskan tangan itu, juga melotot kaget, "jangan gila kamu Pradikta,"


__ADS_2