Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tujuh puluh tujuh


__ADS_3

Ayudia, Anna juga si kembar mengunjungi rumah rahasia milik Anna.


Biasanya kalau bayi mengunjungi tempat baru, maka bayi itu akan rewel, namun berbeda dengan Ainsley dan Aileen, keduanya tetap tenang seperti biasanya.


Kondisi rumah yang sudah beberapa bulan tidak ditempati, terlihat terawat dengan baik, semua berkat mang kos yang mengurusnya dengan baik.


Ayudia tentu juga senang, ia bisa bertemu dengan Mirna lagi.


Para tetangga senang dengan kedatangan ibu dari dua anak itu, apalagi dua bayi kembar yang begitu menggemaskan.


Di rumah itu, menantu dan mertua saling bekerjasama dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengingat disini tidak ada maid, hanya saja Anna meminta tolong pada istri dari mang kos, untuk mencucikan baju mereka.


Untuk urusan memasak mertua dan menantu itu, bergantian dalam melakukan kegiatan itu.


Kalau sekiranya ada waktu senggang, selama hampir setengah bulan di sana, Ayudia mengurus tanaman sayur atau sekedar memberi makan ikan.


Ayudia benar-benar menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga tanpa suami,


"Kayaknya kamu lebih bahagia disini dibandingkan saat tinggal di rumah besar itu,"ujar Anna sewaktu keduanya berjalan-jalan pagi berkeliling kampung sambil mendorong stroller.


"Iya Bu, Ayu betah banget disini, Ayu benar-benar melakoni peran sebagai ibu rumah tangga, kalau di rumah mas Ben, kerjaan Ayu kan cuman ngurus anak sama suami doang, ke dapur aja nggak pernah apalagi berkebun, kalau makan aja, kita di lantai dua, kayaknya selama tinggal di rumah itu, kita nggak pernah makan bareng di meja makan ya!"


"Itukan permintaan suami kamu,"


"Emang dari kecil mas Ben suka ngatur ya Bu?"


"Iya, Ben itu jiwa kepemimpinannya tinggi, egois, ambisius, temperamen juga, anak ibu paling nggak suka barang kepunyaannya disentuh tanpa seijinnya, maklum saja Ben itu cucu satu-satunya keluarga Wright sampai berumur delapan tahun, sebelum George lahir, kami terlalu memanjakannya, maka dari itu waktu ibu ajak Ben hidup sederhana disini, anak itu sempat marah sama ibu, untung ada Rama yang mau jadi sahabatnya dan mengajarkan arti bersyukur juga menerima keadaan,"


"Kadang Ayu nggak ngerti sama jalan pikiran mas Ben, bilang sayang, tapi kalau udah ngamuk nakutin, kayak bukan mas Ben, kadang juga nangis, harusnya kalau nggak pengen Ayu pergi, ya jangan segitunya lah, toh sejak Ayu menikah, Ayu udah nggak kepikiran buat pergi dari dia, ucapan Ayu soal cerai, nggak sepenuhnya benar,"


"Kemarin juga pas ngamuk itu, ya ampun, serem banget, padahal aku nggak ngapa-ngapain sama teman SMA aku, kan yang namanya dulu sering belajar bareng dirumahnya, otomatis kan Ayu jadi kenal orang tuanya, wajarlah setelah bertahun-tahun nggak ketemu, jadi suruh mampir, ngobrol banyak hingga lupa waktu, aku udah jelasin, tapi dia malah mikir, aku bakal ninggalin dia dan balikan sama teman SMA aku itu,"


"Apa itu mantan pacar kamu dulu nduk?"


"Bukan Bu, kita dekat banget tapi nggak pacaran, kita saling suka, tapi aku nggak mau pacaran, dia pernah janji sama aku, suatu saat akan nikahin aku, tapi keburu aku nikah sama mas Ben,"

__ADS_1


"Apa kamu menyesal sudah menikah dengan anak ibu?"


"Sama sekali nggak Bu, Ayu bahagia kok, apalagi dapat bonus, mertua rasa ibu kandung,"


"Apa kamu sudah mulai mencintai anak ibu?"


"Sebenarnya sejak aku tinggal di penthouse, aku udah mulai merasakan rasa cinta, tapi setelah tau mas Ben khianati aku, aku kecewa banget, lalu setelah anak-anak lahir cinta itu tumbuh lagi, tapi mas Ben udah nyakitin aku lagi, jadi aku bingung sekarang mesti gimana?"


"Seandainya putra ibu pulang dan menemui kamu, apa yang akan kamu lakukan?"


"Ya kalau memang mas Ben, tetap mau mempertahankan pernikahan kami, aku akan terima dengan tangan terbuka, tapi jika memang mas Ben ingin mengakhiri, Ya aku hanya bisa pasrah Bu,"


"Ibu nggak bisa bayangin kalau seandainya kalian pisah, akan se_hancur apa Anak ibu,"


"Apa kamu ingat saat kamu kabur kesini, Benedict sampai dirawat gara-gara stres dan nggak mau makan,"


"Kenapa sampai menyiksa diri gitu sih, lagian Bu, kalau dipikir-pikir, mas ben itu ganteng dan kaya, kan tinggal tunjuk cewek, pasti banyak yang mau dan lebih baik dari Ayu,"


"Namanya juga cinta"


"Kalau cintanya cinta buta gimana?"


"Bener juga sih,"


Keduanya mengobrol sepanjang jalanan kampung, dan beberapa kali menegur tetangga yang kebetulan bertemu.


"Boleh nggak sih Bu, kalau misal Ayu tinggal di rumah ibu aja, kayaknya kok tentram banget, Ayu juga benar-benar berperan sebagai ibu rumah tangga, juga bisa sering berinteraksi dengan tetangga, karena Ayu biasa tinggal di lingkungan padat kali ya Bu! Jadi kalau tinggal di Penthouse atau komplek, kurang betah, biarpun fasilitas semua lengkap," ucap Ayudia ketika mereka baru saja memasuki rumah kayu dan duduk di ruang tamu.


"Coba aja kamu ngomong ke Ben, kali aja dia mau, tapi bukannya kamu bilang, Ben sering rapat secara daring ya! Kan butuh koneksi internet yang stabil, sedangkan kalau disini, saat hujan, pasti sinyalnya susah,"


Ayudia menghela nafas, "Bu, seandainya kami tidak bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga kami, apa ibu masih mau jadi ibu dari Ayu?"


Anna memegang pundak menantunya lembur, "nduk, misalnya kamu pisah sama anak ibu, kamu kan tetap ibu dari cucu-cucunya ibu, kita pasti akan tetap dekat, tapi ibu berharap kalian nggak akan pisah, dan ibu minta coba turunkan ego kamu, nanti kalau ibu ketemu Ben, ibu akan bilang ke dia harus belajar mengendalikan dirinya, ini demi kedua anak kalian,"


"Baik Bu, Ayu usahakan ya!"

__ADS_1


Tak lama, Mirna datang terengah-engah, "Mbak Ayu, ada telpon dari A Nando,"


Ayudia mengernyit heran, "kok kamu bisa punya nomornya A Nando?"tanyanya.


"Kan dulu waktu Mbak Ayu masih hamil, kalau mau komunikasi sama A Nando, pakai hape Mirna,"


"Ya udah sini,"ucap Ayudia meminta ponsel milik anak mang Kos.


Sebelum mengangkat panggilan itu, Ayudia menarik nafas terlebih dulu, "halo A, apa kabar?"sapanya.


"Ya ampun Ayu, bener feeling gue, Lo pasti di rumah Tante Anna,"ucap Nando dari seberang sana.


Terdengar tarikan nafas dari sana, "Ayu, Lo kenapa kabur lagi sih? Bawa anak-anak lagi, ada masalah apalagi sama Ben?"tanya Nando dari sana.


"Ayu pengen nenangin diri A,"jawabnya.


"Kapan Lo balik?"


"Belum tau A, Ayu betah disini,"


"Tapi Ayu, bagaimana dengan Ben? Apapun masalahnya, apa nggak sebaiknya dibicarakan baik-baik?"


Hening selama beberapa detik, Ayudia terdiam, sejak beberapa hari setelah melahirkan, ia tidak berkomunikasi lagi dengan Nando, lelaki itu ada pekerjaan di luar pulau.


"Kenapa diam yu? Lo tau kan, Lo tuh udah gue anggap sebagai adik gue sendiri, kalau memang ada yang ingin Lo ceritain, gue siap dengar, apa perlu gue kesitu sekarang?"


"Emang Aa lagi dimana?"


"Gue lagi di Jakarta, baru banget sampai sejam yang lalu, eh malah denger kabar Lo kabur lagi,"


"Ayu minta tolong, jangan kasih tau mas Ben, tentang keberadaan Ayu ya!"


"Baiklah, nanti kalau urusan gue udah selesai disini, gue kesitu, Lo mau gue bawain apa?"


"Nggak usah A, terima kasih, kalau gitu, Ayu tutup dulu ya!"Ayudia mengakhiri panggilannya dan menyerahkan ponsel itu pada Mirna tak lupa berterima kasih.

__ADS_1


__ADS_2