Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
empat puluh tujuh


__ADS_3

Benedict baru sampai rumah menjelang sore, namun lelaki itu tak mendapati keberadaan istrinya.


Lelaki itu menghubungi istrinya, namun tak kunjung diangkat, ia juga mengiriminya pesan menanyakan keberadaannya.


Sudah hampir satu jam, tidak ada tanggapan apapun dari istrinya, saat dirinya hendak beranjak, perempuan itu terlihat baru turun dari taksi berwarna biru.


Benedict kaget melihat mata sembab istrinya, "Ay, kamu kenapa? Kamu dari mana? Kenapa aku telpon nggak diangkat,....."berbagai pertanyaan ditujukannya pada istrinya.


Ayudia yang memang sedang bersedih, mengangkat tangannya, ia memberikan kode pada suaminya agar diam, ia sedang tidak baik-baik saja, "maaf mas, bisa kamu biarkan aku sendiri dulu,"ucapnya berlalu menuju ke dalam rumah.


Perempuan hamil itu menuju dapur dan meminum segelas air hingga tandas tak tersisa, lalu ia berjalan menuju kamarnya, sepertinya ia ingin menangis lagi di sana.


Dan benar saja, begitu ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia berbaring miring dan menutup wajahnya dengan bantal, ia berteriak dibalik bantal bersarung biru muda itu, ia menangis sejadi-jadinya.


Sesuatu yang sedari tadi ingin ia ucapkan keluar dari mulutnya, walau mungkin tak terdengar jelas oleh orang lain.


Benedict yang berada dibalik pintu kamar, hanya mendengar teriakan dan raungan tertahan dari istrinya, ia bingung apa yang harus dilakukannya, istrinya meminta waktu untuk sendiri.


Usai menangis lama, wanita hamil itu perlahan tertidur mungkin kelelahan menangis.


Langit diluar sudah gelap, saat wanita itu terbangun, ia meregangkan tubuhnya, namun saat hendak membuka mata, seperti ada sesuatu yang mengganjal pada kedua matanya, ia tau ini efek tangisannya beberapa jam yang lalu.


Ayudia bangkit perlahan, sepertinya kandung kemihnya telah penuh, ia butuh toilet sekarang.


Selesai menuntaskan hajatnya, perutnya berbunyi, sepertinya ia tengah lapar, ia keluar dari kamar menuju dapur, namun saat melewati ruang tengah, ia melihat suaminya tertidur di sofa.


Dimeja makan ada bungkusan makanan dari salah satu restoran cepat saji bergambar dua orang.


Ayudia memeriksanya, makanan itu telah dingin, ia menghangatkannya di microwave.


Setelah semuanya siap santap, ia hendak berniat membangunkan suaminya, namun lelaki itu tengah berjalan menuju meja makan dengan wajah lebih segar, sepertinya Benedict baru saja mencuci muka.

__ADS_1


Tak banyak pembicaraan diantara keduanya, hingga makanan yang ada dihadapan  mereka tandas.


Benedict yang melihat mata bengkak istrinya, menawarkan untuk mengompres mata bengkak itu, namun Ayudia dengan halus menolak.


"Kamu nggak ada meeting?"tanya Ayudia ketika suaminya menghampirinya setelah keduanya membersihkan diri secara bergantian.


"Nggak, aku minta pending, besok aja sekalian,"jawabnya seraya merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


"Kenapa nggak meeting aja? Mereka pasti nungguin kamu loh,"ucap Ayudia mengingatkan.


"Istri aku lebih penting dari apapun, bagaimana mungkin aku bisa konsentrasi meeting dengan keadaan istri aku, yang pulang dalam keadaan sembab, dan menjerit histeris di kamar, sementara aku nggak bisa berbuat apa-apa,"ucap Benedict menatap lembut istrinya.


Ayudia yang awalnya terlentang, langsung memiringkan tubuhnya menghadap suaminya, "maaf buat kamu kepikiran, tapi sekarang aku baik-baik aja kok,"


Benedict menghela nafas, "kamu kenapa Ay? Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"


"Maaf mas, tapi untuk yang ini, tolong cukup aku sendiri yang tau, toh urusan aku udah selesai, dan gimana tadi? Kamu ketemu sama sahabat kamu kan?" Ucap Ayudia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kamu malah memenjarakan dia? Apa maksudnya?"tanya Ayudia penasaran.


"Ya pengen aja,"jawab Benedict santai.


Ayudia kembali terlentang, ia menatap langit-langit kamar itu, "apa hal itu kamu lakukan karena kamu masih ada rasa sama mbak Lusi?"


Benedict bangkit dari rebahannya, "Ay, aku nggak ada rasa sama dia baik dulu atau sekarang, bagaimana mungkin kamu tanya seperti itu sama aku, aku kan udah cerita sama kamu, apa kamu nggak percaya sama aku?"


"Bukannya aku nggak percaya sama kamu, tapi perbuatan kamu terkesan kalau kamu masih ada rasa sama mbak Lusi, bukannya dulu kamu memukuli suaminya mbak Lusi hingga beliau koma, tapi apa kamu dipenjara? Padahal perbuatan kamu dulu lebih parah dari perbuatan beliau ke kamu kemarin kan? Kalau bukan karena kamu masih ada rasa, lalu apa tujuan kamu  memenjarakan suaminya mbak Lusi? Apa kamu berniat kembali bersama mbak Lusi? Karena istri kamu kurang hot di ranjang,"


"Ay, kenapa kamu bisa mikir kayak gitu sih, aku nggak ada sedikitpun niat untuk kembali sama dia, aku bahkan jijik lihat kelakuannya,"


"Jadi apa alasan kamu memenjarakan suaminya mbak Lusi?"

__ADS_1


"Apa untuk mencari perhatian ibu? Apa kamu masih meragukan sebesar apa rasa sayang ibu ke kamu? Sehingga kamu melakukan hal kekanakan seperti itu?"


Benedict yang mendapatkan tuduhan itu menatap tajam istrinya, "kalau ia memang kenapa? Emang aku salah pengen ibu lebih membela aku dibanding anak tirinya itu,"


Ayudia yang ditatap tajam oleh suaminya, memilih bangkit dan keluar dari kamar, ia tak ingin berakhir mencaci lelaki itu, di saat sekarang dirinya bahkan tidak baik-baik saja.


Benedict yang tiba-tiba ditinggalkan oleh istrinya, tentu mengikuti langkah istrinya.


"Ay, kamu mau kemana?"tanya Benedict menahan pergelangan tangan istrinya.


"Lepaskan tangan kamu, sebelum aku mengucapkan kata-kata yang nggak layak diucapkan seorang istri pada suaminya,"


"Tapi Ay, kenapa malah kamu yang marah?"


Ayudia yang biasa sabar entah mengapa ingin mencaci maki orang, "berisik Lo sialan, udah gue bilang lepas, apa Lo tuli? Biarin gue sendiri, jangan sampai gue benci sama Lo, gue lagi mumet," akhirnya keluar juga kata-kata itu.


Benedict yang baru pertama kali mendengar ucapan kasar Ayudia, terkejut, sepertinya istrinya benar-benar marah sekarang.


"Oke sekarang kamu kembali ke kamar, dan jangan sekalipun kamu berniat buat keluar dari rumah ini,"ucap Benedict akhirnya, sepertinya ia harus mengalah.


Ayudia memilih kembali ke kamar dan tak banyak bicara.


Benedict duduk di teras belakang rumah, ia menatap langit malam yang hitam legam, tak ada Kerlip bintang di sana, ia mengambil rokoknya.


Ia menghubungi Alex, dan meminta sahabatnya itu mencabut tuntutannya.


Berkali-kali ia menghela nafas kasar, ia bingung dengan perilaku istrinya, apa perlu ia menyelidiki apa yang dilakukan istrinya tadi siang sehingga berakhir dengan mood buruk istrinya.


Ia mengirim pesan pada Alex untuk menyelidiki siapa yang ditemui oleh istrinya tadi siang.


Tak lama Alex membalas pesannya, ia memberitahu jika istrinya menemui ibunya di cafe tak jauh dari rumah.

__ADS_1


__ADS_2