
Benedict tiba di rumahnya ketika langit sudah gelap gulita, ia memasuki rumah besar yang sepi dan sunyi, hanya sekuriti yang tadi ia temui didepan, sedangkan pekerja yang lain, kemungkinan sudah berada di rumah yang disediakan khusus untuk para pekerja.
Lelaki itu naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya, ia duduk di kursi kebesarannya, bersandar lalu menghela nafas lelah, ia mendongak, menatap langit-langit ruang kerjanya.
Sebenarnya ia ada jadwal meeting virtual dengan salah satu kliennya dari timur tengah, namun karena kondisinya tidak memungkinkan, ia menundanya.
Sudah dua pekan ia kembali ke negara ini, setelah Troy memberitahunya bahwa ibunya menghubunginya, dan memberitahukan bahwa istrinya berniat mengajukan gugatan cerai padanya.
Tak membuang banyak waktu, ia langsung berangkat ke negara ini, namun benar saja, istri dan anak-anaknya tidak berada dirumahnya.
Hancur sudah rasanya, ia mengamuk melampiaskan amarahnya, ia memaki dirinya sendiri yang dengan bodoh menyakiti istrinya hanya karena cemburu beberapa Minggu yang lalu.
Wajar saja Ayudia berniat berpisah dengannya, perilakunya saat itu sangat brutal layaknya binatang, ia tak mempedulikan teriakan memohon istrinya untuk berhenti, hingga istrinya berakhir tak sadarkan diri.
Tapi kalau itu tentang Ayudia, ia akan egois, ia tak ingin kehilangan wanita sederhana itu, wanita yang membuatnya berdebar saat berdekatan dengannya, bahkan rasa cinta itu semakin bertambah setiap harinya.
Tadi Benedict menemui para sahabatnya di kantor Alex, untuk mendiskusikan soal pencarian istrinya, yang tak kunjung ditemukan.
Di sana tadi ia sempat meminum alkohol, namun yang membuatnya kesal, kenapa setiap ia ingin melupakan sejenak masalahnya, dengan minuman haram itu, ia justru tak kunjung mabuk, bahkan ia masih bisa mengemudi hingga tiba di rumah dengan selamat.
Sejak istrinya pergi, lelaki itu juga sering mengkonsumsi obat tidur, ia salah satu penderita insomnia, sebenarnya ia sangat lelah, ia Merindukan Ayudia ia ingin memeluknya, mencium aromanya, melihat senyumannya dan mendengar suaranya serta ingin disuapi olehnya.
Sejak bermasalah dengan istrinya, makannya tidak teratur dan tidak berselera.
Benedict bangkit, ia berjalan menuju kamarnya melalui pintu penghubung, ia memasuki kamar mandi, ia akan berendam air hangat terlebih dahulu, agar tidurnya lebih nyenyak, tentu harus mengkonsumsi obat tidur yang diberikan oleh Oscar.
Hampir setengah jam lelaki itu menghabiskan waktu dikamar mandi, setelahnya ia berjalan ke walk in closet untuk memilih baju tidur yang akan dikenakannya, ia teringat beberapa hari sebelum kejadian itu, istrinya membelikannya baju tidur couple berwarna ungu tua.
Sebenarnya Benedict merasa ada yang aneh dengan ruangan itu, namun iya mengabaikannya, mungkin efek alkohol masih terasa, tapi bukankah dia tidak mabuk?
__ADS_1
Benedict menggelengkan kepalanya, ia berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran itu, ia keluar dari ruangan itu menuju ranjang, dimana Aroma istrinya masih begitu terasa, wangi khas wanita itu,
Namun apa yang dilihatnya di atas ranjangnya, membuatnya kembali menggeleng sampai mengucek kedua matanya.
Ada seseorang yang tidur di ranjangnya, apa itu orang yang ingin menggodanya? Andai iya, tak segan ia akan membunuh orang yang dengan lancang menempati ranjangnya.
Dengan perlahan Benedict mendekati ranjangnya sembari menajamkan penglihatannya, hingga ia benar-benar ada disisi ranjang dimana orang itu tertidur.
Terlihat sosok berambut pendek, tidur dengan posisi miring serta selimut menutupi hingga lehernya, wajahnya tidak terlihat, karena orang itu menutupinya dengan guling.
Terdengar dengkuran halus dari orang itu, siapa sebenarnya orang yang lancang tidur di ranjangnya, saat hendak mengambil guling yang dipeluk orang itu, tiba-tiba dia bergerak terlentang, masih dengan guling yang menutupi wajahnya.
Tidak terlalu jelas dari sisinya, dikarenakan pencahayaan yang remang-remang hanya berasal dari balkon dibalik jendela.
Dengan hati-hati Benedict menyingkirkan guling itu, ia membuangnya ke sembarang arah, ia mendekati wajah yang sedang memejamkan matanya serta mulut sedikit terbuka.
Dengan jarak sekita tiga puluh sentimeter, ia tak percaya apa yang dilihatnya, ia mengucek kembali matanya, benar, ia tak salah lihat, itu Ayudia, istrinya yang sudah beberapa Minggu tak ia lihat.
Andai ia tak ingat ini sudah malam, lelaki itu mungkin akan berteriak kegirangan karena saking senangnya, istrinya telah kembali.
Benedict mengitari ranjang, dengan perlahan, ia merebahkan diri disamping istrinya, ia mengambil tangan wanita itu dan menciuminya, seraya berbisik mengucapkan terima kasih.
Sepertinya obat tidur dari Oscar tak akan ia konsumsi malam ini.
Keesokan paginya,
Ayudia yang terbiasa bangun sebelum subuh, membuka matanya, namun lehernya terasa hangat juga rasa berat diperutnya seperti ada benda yang menimpanya.
Perempuan itu menoleh perlahan ke belakang tubuhnya yang tertidur miring, terlihat tepat didepan wajahnya, lelaki yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Perlahan Ayudia berusaha melepaskan lilitan tangan besar lelaki itu, namun bukannya terlepas, lilitan itu semakin erat memeluknya, juga kaki lelaki itu yang menimpa betisnya.
"Mas lepas dulu, aku mau pipis,"ucap Ayudia berusaha lepas dari pelukan suaminya.
"Entar aja Ay, aku masih kangen,"ujar Benedict bergumam.
"Lepas sebentar, aku udah nggak tahan," dengan terpaksa, Benedict melepas pelukan itu.
Ayudia bergegas menuju toilet, rasanya kandung kemihnya penuh sekali, tak lupa ia mandi pagi sebelum beribadah.
Sesudah shalat, Ayudia menghampiri anak-anaknya, begitu memasuki kamar, mertuanya baru saja melipat mukena usai melakukan hal yang sama.
"Apa Ben sudah pulang nduk?"tanya Anna.
"Udah Bu, tapi nggak tau jam berapa, soalnya semalam Ayu tidur cepat,"jawabnya sambil menyusui Ainsley yang bangun terlebih dahulu.
"Kayanya ibu pengin sarapan lontong sayur deh nduk, kita jalan-jalan pagi, sambil bawa cucu-cucu ibu yuk,"usulnya, dan langsung disetujui oleh menantunya.
Mereka bersiap berangkat, diluar belum terlalu terang, namun hal itu tak membuat perempuan paruh baya itu mengurungkan niatnya.
Anna keluar terlebih dahulu disusul menantunya yang mendorong stroller, ada salah satu Maid yang akan menemani mereka.
Karena suasana masih pagi, jalanan sepi, hanya beberapa kendaraan yang melintas.
Berjalan kaki sekitar dua ratus meter, mereka baru menemui penjual sarapan yang berjualan lontong sayur tak jauh dari pintu masuk kompleks.
Anna memesan tiga porsi lontong sayur, tak lupa teh tawar hangat untuk minumannya.
Usai sarapan, mereka berjalan-jalan disekitar taman yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Disisi lain, seorang lelaki meraba-raba sebelahnya, terasa dingin, apa semalam ia bermimpi? Namun semalam Ia melihat dan memeluk tubuh wanita yang sangat ia rindukan.
Dan sekarang, wanita itu tidak ada, Benedict menunduk frustrasi, kalau memang semalam ia bermimpi, itu tidak mungkin, ia bahkan mencubit tangannya sendiri, tapi ia merasakan sakit berarti semalam itu nyata, ia tidak bermimpi, istrinya telah kembali, tapi dimana wanita itu sekarang?