
Berat rasanya bagi Benedict berpisah dari istrinya, namun karena tuntutan pekerjaan juga wujud rasa terima kasihnya pada tuan Amar, maka ia menerima pekerjaan merenovasi resort yang dulu ia bangun.
Lain Benedict yang sedih harus hidup terpisah, sedangkan istrinya dan kedua anaknya berteriak kegirangan begitu sampai rumah sepulangnya mengantarkan Benedict ke bandara.
"Akhirnya Aileen bisa bebas tanpa aturan Ayah, yeeeee," teriak gadis remaja itu.
Ainsley yang biasanya kaku malah mengajak ibundanya berdansa,
"Jadi Bun, apa yang akan kita lakukan di hari pertama tanpa ada Ayah bersama kita?"tanya Ainsley.
Ayudia diam berfikir, "kita kulineran yuk, bunda kangen banget makan bakso sama mie ayam, lontong sayur, nasi uduk, nasi Padang,"
"Ai pengen makan sambel cikur buatan Ambu teteh Mirna,"
"Lusa kita baru ke rumah nenek, sekarang kita disini dulu ya!"ujar Ayudia.
"Terus kita naik apa beli semua makanan yang bunda inginkan?"tanya Ainsley.
"Kalo naik mobil, kayaknya nggak enak, naik motor aja kali ya, mudah-mudahan nggak ketangkep polisi, karena kita boncengan bertiga," jawab Ayudia sambil tertawa.
Perempuan dua anak itu, meminjam motor dari salah satu pekerja di rumah,
Tempat pertama yang dituju adalah penjual mie ayam langganannya dulu, wanita yang beberapa tahun lagi berusia empat puluh tahun itu, kangen ingin sarapan dengan mie ayam.
"Kalian nggak masalah kan makan ditempat seperti ini?"tanya Ayudia ketika mereka baru sampai tukang mie ayam.
"Nggak apa-apa Bun, kita seneng kok, kan waktu kecil kita sering makan di pasar kalau ikut bunda atau nenek,"ujar Aileen.
Ayudia menyebutkan pesanannya, juga mempersilahkan anak-anaknya untuk memesan.
"Penjual mie ayam ini udah lama berjualan Bun?"tanya Ainsley ketika mereka menunggu pesanan mereka tengah dibuat.
"Dari bunda masih SMA, bapak itu udah jualan,"
"Berarti sudah lebih dari dua puluh tahun Bun?"tanya Aileen.
Ayudia mengangguk, "terkadang kalau pulang sekolah cepat, bunda sama teman-teman makan disini,"
"Kayaknya seru ya Bun, pakai seragam, pulang sekolah bareng temen-temen, Ai pengen ngerasain kayak gitu,"
"Lalu gimana kata ayah? Kalian belum cerita Sama bunda,"
"Ya gitu Bun, pokoknya asal kami jaga bunda dari laki-laki bernama Pradikta, maka kami akan diijinkan sekolah disini,"
"Ayah bilang begitu?"tanya Ayudia tak percaya.
"Iya, kayaknya ayah nggak suka deh,"Aileen menjawab.
__ADS_1
Ayudia menutup mulutnya agar suara tawanya tidak menggangu pengunjung yang lain.
"Ayah kalian aneh, padahal udah bunda jelasin, kalau bunda udah nggak cinta sama Dikta, bunda cintanya sama ayah, masih nggak percaya,"
"Ayah kan emang gitu Bun, sama Ain, yang anaknya sendiri aja cemburu,"
Obrolan mereka terhenti karena mie ayam yang mereka pesan sudah tersaji dihadapan mereka.
"Ingat Aileen sama Ainsley jangan kasih sambal banyak-banyak ini masih pagi,"Ayudia memperingatkan anaknya.
"Iya bunda,"jawab keduanya kompak.
Mereka fokus menikmati makanan hingga ada suara yang memanggilnya.
"Ayudia bukan si?"tanya perempuan tua berjilbab biru muda.
Yang dipanggil melihat ke arah suara, Ayudia mengernyit, "Tante Arini!"
Perempuan tua itu mengangguk, "kamu apa kabar? Kemana aja? Tante kangen loh sama kamu,"
Ayudia menyalami Arini dan memeluknya, "Ayu baik Tante, Tante apa kabar?"
"Baik, apa itu si kembar?"tanya Arini melihat kedua remaja bule yang tengah menikmati makanan.
"Iya Tante,"Ayudia menyuruh kedua anaknya untuk menyalami perempuan tua itu.
"Ya gitu deh,"jawab Arini sedih.
Ayudia mengernyit heran dengan jawaban ibu dari cinta pertamanya.
"Apa Tante mau beli sarapan?"tanya Ayudia.
"Iya, ini Tante beli bubur ayam sama mie ayam buat sarapan Mas Irwan,"
"Oh gitu,"
"Ayu, kamu mampir ya ke rumah Tante, kemarin Tante buat kue cokelat loh, kamu kan paling suka sesuatu yang berhubungan dengan cokelat,"
"Aduh gimana ya Tante?" Ujar Ayudia memegang tengkuknya tak enak.
"Tenang aja, anak Tante baru aja berangkat kerja, jadi yang di rumah cuman mas Irwan,"
Mendengar itu Ayudia tersenyum dan mengangguk.
Dan usai sarapan mie ayam, akhirnya Ayudia beserta anak-anaknya mampir ke rumah Arini.
Di sana ia bertemu dengan Irwan yang sedang memberi makan ikan di kolam kecil di sudut depan rumah,
__ADS_1
Dari obrolan kedua perempuan berbeda usia itu, Ayudia mendapatkan informasi, jika Pradikta belum menikah hingga sekarang, dan mengenai balita laki-laki itu benar cucu kandung Arini.
Beberapa tahun yang lalu saat Pradikta kuliah lagi di salah satu negara di Eropa, lelaki itu membayar seorang perempuan untuk mengandung benihnya, tanpa Proses hubungan badan.
Ayudia tercengang mendengar ucapan Arini, Pradikta benar-benar gila,
"Tante itu bingung mesti gimana sama anak Tante, kok bisa mikir begitu, hanya karena tante pengen punya cucu, maksud Tante tuh Dikta biar nikah gitu, biar ada yang ngurusin, Tante kan udah tua,"curhat perempuan tua itu kesal.
"Maaf ya Tante, ini semua gara-gara Ayu,"ujarnya tak enak.
Keduanya tengah mengobrol di teras belakang rumah sambil menyuapi balita yang berusia tiga tahun itu.
"Kamu nggak salah Ayu, yang salah itu anak Tante, belum bisa move on dari kamu,"
"Terus nama cucu tante siapa?"sedari tadi Ayudia ingin menanyakan, hanya saja ia lupa.
Arini terdiam dan menghela nafas, "namanya sama dengan nama kamu,"
Ayudia menganga mendengarnya, bingung akan berkomentar apa, sampai suara memanggil nama Ayudia..
Keduanya menoleh mencari sumber suara, melihat siapa yang memanggilnya balita itu bangkit dan berjalan cepat menghampiri ayahnya.
Sedangkan Ayudia masih membelakangi lelaki itu.
"Oh ada tamu ya mah?"tanya Pradikta yang mengenakan setelan formal.
"Kamu ngapain pulang, perasaan baru berangkat deh,"ujar Arini menghampiri putranya.
"Ini hape aku ketinggalan mah,"ucap Pradikta beralasan.
"Kan kamu bisa telpon mama, pakai telpon kantor, biar mama titipin gojek,"
"Pengen pulang aja mah, terus papa mana kok nggak ada?"
"Itu tadi papa lagi jalan-jalan sama anaknya teman mama, ya udah kamu berangkat sana,"usir Arini.
"Iya ini mau berangkat,"ujarnya, "Ayudia sayang, Ayah berangkat dulu ya, kamu sama nenek dulu, nanti sore Ayah beliin mainan,"lanjutnya sambil mencium kening putrinya dan menyerahkan pada Arini.
Sepeninggal Pradikta, Ayudia bernafas lega,
"Untung Dikta nggak sadar kalau itu kamu, bisa bahaya kan, kalau sampai ketemu,"ujar Arini.
Melihat diamnya Ayudia, Arini menepuk bahu wanita itu, "nggak usah dipikirin, itu udah pilihan hidup Dikta,"
"Ayu merasa bersalah Tante,"
"Udah takdir Ayu, Tante nggak masalah kok,"
__ADS_1
Keduanya melanjutkan obrolan tentang si kembar juga Ayudia kecil yang berwajah setengah bule.