
Sudah tiga hari sejak Ayudia dan Benedict menikah, sebagai seorang istri yang baik, Ayudia benar-benar melayani dengan baik suaminya itu.
Ayudia masih tinggal di apartemen milik Benedict, "mas, Ayu mau minta ijin, mulai besok, Ayu balik ke rumah, bude harus pulang besok sore ke kampung, sedangkan adik-adik udah mulai ujian, nggak ada yang ngawasin mereka," ijinnya saat keduanya telah selesai makan siang.
"Oke, se-nyaman kamu aja,"jawabnya singkat.
"Makasih ya, udah ngertiin aku, cuman sampai bulan Juli mas,"
"Iya, ay,"
"Oh ya mas, aku kerja lagi di cafe ya!"ijinnya lagi.
"Iya ay, yang penting kamu jangan kecapean aja," ucapnya tersenyum.
"Terima kasih ya mas,"
Keesokan harinya, Ayudia dengan diantar suaminya, kembali ke rumah, tadi dirinya sempat bertemu dengan bude dan Samsul yang hendak pergi ke stasiun.
Sementara Benedict harus rela kembali ke apartemennya sendiri.
Ya lelaki itu harus bersabar, ia sudah tau resikonya, ketika ia nekad menikahi perempuan seperti Ayudia.
Kehidupan Ayudia tak banyak berubah, dia masih bekerja di cafe dan pulang ke rumah untuk mengurus adik-adiknya, setiap hari sebelum atau sesudah kerja tergantung sif yang ia lakoni, ia datang ke apartemen milik suaminya, hanya saja tidak bisa menginap.
"ay, sepertinya aku harus kembali, ada pekerjaan mendesak di sana, kamu nggak apa-apa kan?"ujarnya saat Benedict mengantar istrinya kembali ke rumah.
"Ya udah, kamu hati-hati di sana, jaga kesehatan kamu," ucapnya.
Benedict kembali bekerja di negara asal Daddy-nya, sedangkan Ayudia memulai kehidupannya seperti sebelum menikah, ia tetap bekerja di cafe, meski tau bahwa cafe itu sebenarnya milik suaminya.
Rama sebenarnya melarangnya, ia tidak mau sahabat sekaligus bos besarnya marah jika istrinya tetap bekerja, namun sepertinya Benedict tidak keberatan dengan hal yang dilakukan oleh istrinya.
"Pokoknya ya nyonya bos jangan capek-capek, gue nggak mau ya, sampai Ben ngamuk," ucap Rama suatu hari, saat Ayudia mengantarkan kue ke ruangannya.
"Iya mas Rama,"
__ADS_1
"Ayu gue boleh nanya nggak?"tanya lelaki itu dan wanita itu mengangguk, "Temen lo yang orang EO itu, udah punya pacar belum?"
"Oh mbak Sinta, setau Ayu sih belum, kenapa emang? Jangan bilang mas Rama suka sama mbak Sinta, ingat mas Rama udah punya tunangan," jawabnya memperingatkan.
"Lo lagi nggak sibuk banget kan dibawah?"Ayudia mengangguk, "gue sebenernya nggak pernah Cinta sama tunangan gue," jawabnya jujur.
Ayudia kaget mendengar pengakuan atasannya itu, "bukannya udah pacaran sejak SMA ya mas?"tanyanya.
"Pas itu karena Citra itu temennya Lusi, jadi kita sering double date gitu, gue juga terpaksa, sama kayak Ben, emang dia belum cerita soal pacar pertamanya dulu?"
"Mas Ben mana mau cerita yang begitu ke Ayu, ya tau dari orang lain aja,"ujarnya berusaha agar tidak terlihat gugup.
"Iya Ben juga terpaksa Nerima Lusi, abis dia agresif banget, udah gitu Ben sengaja juga, buat sakit hati saudara tirinya, Arnold itu suka sama Lusi dari kelas 1 SMA, eh malah Lusi sukanya sama Ben, eh ngapa gue jadi cerita mereka sih," ujarnya merasa bodoh.
"Kan ayu nggak nanya, mas Rama aja yang cerita,"ujarnya tertawa.
"Jadi selama tiga belas tahun ini, gue sama sekali nggak ada rasa deg-degan selama Deket sama Citra, tapi pas pertama kali, Lo kenalin gue ke Sinta, gue deg-degan banget, rasanya sampai sesak, ditambah lagi Ben juga merasakan hal yang sama kalau Deket Lo, itu semakin buat gue yakin kalau kali ini, gue beneran jatuh cinta sama sinta,"jelasnya.
"Saran Ayu sih, kalau mau deketin mbak Sinta, mendingan mas Rama selesaikan dulu urusannya sama mbak Citra, kasih alasan masuk akal, kasian kan mbak citra udah bertahun-tahun tapi malah nggak dikawinin,"
"Kawin mah udah yu, orang gue nggak dapet perawan,"Rama menutup mulutnya, ia keceplosan menyebutkan aib tunangannya.
"Keceplosan ayu, Citra itu sebelas dua belas sama Lusi, hobby ke klub sejak SMA, gue sama dia juga sempet putus nyambung kok, nggak full tiga belas tahun, gue tau juga waktu dia kuliah di Bandung, pergaulannya kayak apa, ya gue nggak enak aja sama ibu bapaknya,"
"Makan tuh nggak enak, akhirnya tersiksa sendiri kan?"
"Jadi gimana menurut Lo yu?"
"Saran Ayu ya itu tadi, tapi mending langsung temuin kedua orang tua mbak Citra, bawa ibu mas Rama juga, jelasin kalau udah nggak bisa lanjut sama mbak citra, kasih alasan yang masuk akal, ya mungkin karena nggak ada kecocokan, atau apapun itu, terus jangan langsung deketin Mbak Sinta, kasian Mbak Sinta nanti di cap pelakor, ya kasih jeda setengah tahun lah,"ujarnya menasehati.
"Kelamaan Ayu kalau sampai setengah tahun, bisa-bisa Sinta kepincut cowok lain,"
"Kalau jodoh nggak kemana mas Rama, udah ya, sesi curcol nya, Ayu kebawah dulu, ingat jangan deketin mbak Sinta dulu,"ujarnya lalu keluar dari ruangan Rama.
Begitu Ayudia sampai bawah, ada mbak Citra yang sedang memesan kopi dan camilan bersama dengan seorang wanita yang sepertinya seumuran dengannya sedang menggandeng anak perempuan berseragam SD.
__ADS_1
"Hai Ayu, dari ruangan Rama ya?"sapa Citra.
"Iya mbak, cari mas Rama ya?"tanyanya.
"Iya sih, tapi mau makan kue dulu, sama temen,"ujarnya melirik pada wanita disebelahnya.
Ayudia tersenyum menghadap wanita cantik yang mengenakan dress floral.
Citra dan temannya duduk di sudut cafe dekat jendela, entah apa yang dibicarakan oleh mereka, namun saat Ayudia mengantarkan pesanan tak jauh dari meja mereka, tak sengaja, ia mendengar pembicaraan keduanya.
"Cit, Lo yakin Rama masih berhubungan sama Ben?"tanya perempuan disamping anak kecil itu.
"Iya pas gue baru balik kesini seminggu yang lalu, gue ketemu Ben disini, gue Sempet ngobrol juga,"jelasnya. "Coba gue tanya Ayu bentar"
Citra memanggil Ayu, wanita itupun menghampirinya, "bisa Ayu bantu mbak citra?"tanya Ayudia ramah.
"Ayu, kamu kenal temennya Rama yang namanya Benedict nggak?" Tanyanya.
Ayu terdiam sejenak, "k...kenal," Ucapnya ragu.
"Hari ini Ben kesini nggak?"tanya citra.
"Setau Ayu udah beberapa hari nggak ke Cafe mbak,"jawabnya memang suaminya itu sedang keluar negeri.
Citra mengalihkan pandangannya ke temannya, "gimana lus, Ben nggak lagi disini?" Tanyanya.
Perempuan bernama Lusi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas branded miliknya, ia mengulurkan kartu nama miliknya pada Ayudia, "kalau Ben datang kesini, bisa kabari aku, tapi tolong jangan kasih tau kalau aku suruh kamu,"perintah wanita itu.
Ayudia menerima kartu nama itu, ada nama
Lusiana Hermawan
"Ternyata ini pacar pertamanya mas Ben, cantik banget ya, jadi minder gue," ucap Ayudia dalam hati.
"Iya mbak Lusiana, nanti kalau mas Ben datang saya kabari," ucapnya sedikit ragu, ia merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia menyodorkan suaminya sendiri untuk bertemu dengan pacar pertamanya, apa dia sudah gila?
__ADS_1
"Bagus, dan ini buat kamu," ujar Lusi memberikan uang berwarna biru pada Ayu.
Setelahnya, Ayudia berpamitan menuju kitchen.