Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus tiga puluh tujuh


__ADS_3

Ainsley dan Aileen berada di negara asal ayahnya selama tiga hari, karena libur sekolah hanya dua pekan saja.


Keduanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya di mansion, sekadar mengobrol atau makan bersama-sama dengan yang lainnya.


Mereka juga menyempatkan diri berziarah ke makam nenek dan kakek mereka bersama ayahnya.


Hari keberangkatan si kembar, sahabat dan pekerja di rumah besar tiba, Ayudia juga Benedict mengantarnya hingga ke bandara.


Ibu hamil itu menangis, untuk pertama kalinya ia akan berpisah dengan anak-anaknya dalam waktu yang lama.


"Jaga diri kalian baik-baik ya anak-anak bunda, sering-sering video call sama bunda, ceritakan semua yang kalian alami, lalu jangan lupa makan dengan teratur, jangan lupa shalat, Ainsley jaga Aileen," ujar Ayudia dengan mata berkaca-kaca.


Aileen memeluk bundanya, "iya Bun, Aileen akan jaga diri, bunda juga ya, jangan kecapekan, jangan stress,"tuturnya.


"Ayah jagain bunda, jangan cuekin bunda, jangan buat bunda stress, kalau sampai bunda mengeluh, ayah jahat sama bunda, nanti Ain akan ambil bunda dari ayah," ujarnya mengancam.


"Apa kamu mengancam ayahmu putraku?"


"Tentu saja, ayah kan egois, ingat kata-kata putramu ini Mr. Wright,"


Benedict memeluk putranya erat, "jaga putri berharga keluarga Wright, sekiranya ada yang mengganggu, Ainsley bisa kasih tau om Alex,"bisiknya dan Ainsley mengangguk.


Tak lupa Ayudia menitipkan anak-anaknya pada para pekerja, "Bu Yanti, titip anak-anak ya, jangan lupa ingatkan makan mereka, tolong pastikan mereka makan makanan sehat,"ujarnya pada kepala maid.


"Baik nyonya,"ucap Bu Yanti.


Juga pada para sahabat Benedict yang berasa di sana.


Troy menghampiri rombongan, ketika, pesawat sudah siap untuk berangkat, lelaki itu akan mengantarkan rombongan menuju negara tropis itu.


Sepeninggal rombongan itu, Ayudia menangis di pelukan suaminya, ia bersedih harus berpisah dari anak-anaknya.


Kehidupan tanpa anak-anaknya dimulai, beberapa hari Ayudia menjadi pendiam, terkadang diam-diam ia menitihkan air matanya.


Natasha sahabat sekaligus dokter kandungan Ayudia menyadarinya, saat ia memeriksa keadaan wanita hamil itu, seminggu setelah kepulangan si kembar ke Indo.


"Ayu, tensi Lo naik dikit nih, kenapa sih Lo? Udah ikhlasin aja, anak-anak pasti baik-baik aja di sana,"tutur dokter kandungan itu menasehati pasiennya.


"Ini pertama kalinya gue nggak ketemu lama sama anak-anak sha,"ungkap ibu hamil itu.


Natasha menggenggam tangan sahabatnya, "Ayu, gue paham perasaan Lo, tapi Lo juga mesti mikirin janin dalam kandungan Lo, kalau tensi Lo naik terus, Lo bisa beresiko komplikasi, itu bisa bahaya buat janin sama Lo nya,"


"Jadi gue mesti gimana sha?"


"Ikhlaskan Ayu, anak-anak di sana seneng, mereka bisa bersekolah di sekolah umum sesuai keinginan mereka, coba kalau mereka disini, pasti Ben nyuruh mereka buat home schooling lagi, dan mereka kasian juga tertekan, kalau Lo kepikiran si kembar terus dan Ben sampai tau, bisa-bisa si kembar disuruh balik kesini lagi,"


Ayudia menunduk mendengar nasehat sahabatnya.


"Tapi gue bosen sha, nggak ada hiburan, Lo tau kan, anak-anak itu hiburan gue,"keluhnya.


"Gini aja Ayu, mulai besok kita lakukan kegiatan diluar ruangan bareng gue sama Shaka, nunggu Ben berangkat kerja,"

__ADS_1


Ayudia mengangguk, selama seminggu ini, ia hanya berdiam diri di kamar, tidak banyak melakukan kegiatan.


Dan keesokan paginya sepeninggal Benedict dan Kama bekerja, Ayudia bersama Natasha juga Shaka, berjalan-jalan disekitar mansion, mereka juga berpiknik di tepi sungai.


Hampir setiap hari sepeninggal suami mereka bekerja, para wanita itu melakukan aktivitas di luar ruangan, terkadang Natasha juga mengajak Ayudia untuk membaca buku di perpustakaan.


"Baru kali ini gue sebagai dokter, nggak punya kegiatan super padat, ngurusin pasien satu doang, tapi bayarannya bisa buat nutupin semua cicilan gue dulu,"ujarnya tertawa saat mereka sedang berada di ruang bermain bersama Shaka.


Ayudia yang mendengarnya tertawa, "anggap aja ini waktu istirahat Lo, setelah bertahun-tahun sibuk melayani pasien-pasien Lo, yang nggak kenal waktu saat mau lahiran,"


"Bener juga ya!"


Ayudia terdiam sejenak, "sha, gue pengen makan nasi Padang, yang biasa Lo bawain dulu, waktu gue masih di Penthouse,"ungkapnya.


"Lo ngidam yu?"tanya Natasha.


"Kayaknya sih! gue kepikiran kuah gulai sama rendangnya,"jawabnya.


"Ya udah Lo bilang dulu sama laki Lo, minta ijin buat beli nasi Padang yang nggak jauh dari Penthouse,"


"Jangan sha, kita kasih kejutan aja yuk, kan dua jam lagi jam makan siang, kita kesana aja, bawain makan siang sekalian,"usul Ayudia.


"Boleh-boleh, yuk siap-siap,"


Keduanya bergegas ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian.


Sekitar dua puluh menit kemudian, keduanya sudah duduk manis di jok belakang mobil, dengan supir yang mengemudikan mobil, menuju pusat kota.


Setengah jam sebelum jam makan siang, mereka telah sampai di restauran nasi Padang yang berada di kota.


Natasha sampai melongo melihat lahapnya, perempuan hamil itu memakan semua pesanannya,


"Ayu, gue tau Lo ngidam, tapi nggak sampai kalap juga  kali, ingat tensi Lo sempat naik, jangan sampai gara-gara makan nasi Padang Lo jadi nambah kolesterol,"Natasha mengingatkan sahabatnya.


"Lo tau sha, gue pengen banget makan nasi, Lo tau kan, udah seminggu gue belum ketemu nasi, kalau nggak roti, pasta, atau kentang, bosen banget gue,"


"Dasar Lo, udah belasan tahun jadi orang kaya, lidah ndesonya belum ilang ya!"ujar Natasha mengejek sahabatnya,


"Kayak Lo nggak aja, Lo kan sama kayak gue, cuman nggak mau ngomong aja, gue tau Lo kangen sambel cumi sama nasi anget kan!"balas Ayudia mengejek balik.


Natasha hanya nyengir, membenarkan ucapan sahabatnya.


"Sha, abis ini kita belanja dulu nyok, kita beli magic com sama beras sekarung, sekalian kalau ada cabe rawit sama terasi, kita beli sekalian, mumpung diluar, nungguin laki gue, ngimpi, dia selalu bilang gini pas gue protes kalo makan nggak ada nasinya : 'sayang kamu harus ikuti cara hidup aku selama disini, termasuk apa yang aku makan,'"


"Lo tau sha, rasanya pengen gue ulek-ulek laki gue, nggak tau apa lidah bininya lebih cocoknya makan nasi sama sambel terasi,"


Natasha tertawa mendengar keluhan juga cerita sahabatnya.


"Bisa aja Lo,"


Mereka menyelesaikan makannya, usai membayar, tempat berikutnya yang mereka datangi adalah super market Asia, yang menyediakan barang-barang asal benua terbesar di dunia itu.

__ADS_1


Saat sedang mengantri membayar, ponsel Natasha berbunyi, tertera nama suaminya menghubunginya.


"Halo,"


"...."


"Iya ini lagi sama aku, kita lagi ada di supermarket,"


"...."


"Nanti kita mampir kesitu ko, bilangin aja ke Ben,"


Tanpa menunggu jawaban, Natasha mengakhiri panggilan itu.


"Siapa sha?"tanya Ayudia.


"Kama nanyain Lo, tadi Ben dapat notifikasi waktu lo pake kartu buat bayar nasi Padang kan,"


"Lo bilang kan kalau kita mau kesana?"


Natasha mengangguk.


Usai berbelanja, keduanya menuju salah satu gedung pencakar langit di pusat kota dengan berjalan kaki, kata Ayudia, ia ingin berjalan-jalan sejenak, sedangkan mobil dibawa supir menuju mansion.


"Baru kali ini gue bisa jalan kaki disini,"ungkap Ayudia saat dirinya dan Natasha juga Shaka yang duduk di stroller.


"Lah, emang bertahun-tahun Lo punya laki orang sini, Lo nggak pernah diajak jalan sama Ben?"


"Lo kayak nggak tau temen Lo itu, mana boleh sha, gue jalan sendirian, dan dia juga nggak mau jalan kaki berdua di jalanan gini, katanya takut ada paparazi, lagaknya udah kaya selebritis aja tuh laki,"ujar Ayudia kesal.


"Ya kan Ben salah satu pengusaha muda sukses di mari, Lo kayak nggak tau aja, kan banyak tuh fotonya di internet, Lo tuh beruntung punya laki terkenal,"ucap dokter kandungan itu.


"Beruntung apaan Sha, Lo tau kan gue itu rakyat jelata, yang biasa pergi kemanapun dengan bebas, lah ini apaan, masa selama enam tahun kebelakang gue tinggal disini, gue nggak pernah ke mall, terus masalah baju, designer nya yang disuruh Dateng ke mansion, apa aja udah disediain, gue tuh pengin sekali-kali jalan ke mall, makan di street food,"wanita hamil itu jadi kesal sendiri mengingat kehidupannya yang menurutnya membosankan.


"Gue mau tanya, setau gue waktu masih ada Tante Anna, Lo kan hampir tiap hari ikut Ben ke kantor, bukannya Lo naik mobil, kan bisa Lo minta turun bentar buat jalan-jalan,"


"Lo tau sha, dari mansion ke kantor, gue naiknya helikopter, kalau pulang ke Penthouse, baru naik mobil sebentar, eh udah sampai aja di parkiran Apartemen, Lo tau kan sedekat apa antara kantor sama Penthouse, gue kalau ingat, kesel banget deh,"


"Udah bersyukur aja, banyak loh cewek-cewek yang pengin diposisi Lo,"ucap Natasha menghibur sahabatnya.


Mereka masih berjalan menyusuri jalanan kota, hingga ada pesan masuk ke ponsel Natasha, wanita itu membukanya, ada Kama yang menanyakan lokasi keberadaannya.


"Kama nanyain posisi kita nih," ucap Natasha sambil menunjukkan isi pesan dari Kama.


"Bales aja, gue mau kabur,"ujar wanita hamil itu asal.


"Jangan gila Ayudia, Lo mau laki Lo ngubek-ngubek New York, gara-gara nyariin bininya, terus Lo jadi terkenal di mari,"


"Nggak sampai segitunya sha, mas Ben nggak mungkin kayak gitu,"sangkal Ayudia.


"Coba aja, dan jangan kaget kalau Lo mendadak jadi seleb,"

__ADS_1


"Tau ah, buruan yuk, kaki gue udah mulai pegel, gue mau luruskan kaki,"


Mereka berjalan cepat menuju kantor milik Benedict.


__ADS_2