Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sembilan puluh sembilan


__ADS_3

Pagi itu saat sarapan,


"Bun, Sabtu depan kita ke rumah ayah yuk, Aileen pengen berenang di kolam renang, mau ajak Mila sama putri juga,"ujar bocah yang sedang menyantap nasi goreng.


Ayudia menatap ibu mertuanya, seolah meminta persetujuan, "oke, tapi Mila sama putri suruh bilang ke Ambu nya dulu,"ucapnya pada putrinya, "Ain, apa mau ajak teman juga?"tanyanya pada putranya.


Ainsley berfikir sejenak, "entar coba Ain tanya ke temen-temen,"


"Ya udah cepat habiskan sarapannya, nanti keburu telat berangkat ke sekolah,"ujar Anna pada kedua cucunya.


Ainsley dan Aileen bersekolah di Taman kanak-kanak tak jauh dari rumah neneknya.


Setiap hari kesibukan Ayudia salah satunya adalah mengantar jemput anak-anaknya, menggunakan sepeda motor hadiah dari Nando untuk Aileen putri kesayangannya tiga tahun yang lalu.


"Ini gue beliin buat Aileen, anak kesayangan gue, jadi Lo nggak berhak nolak,"ujar Nando saat dulu ia menghadiahkannya.


Akhirnya dengan terpaksa Ayudia menerima hadiah dari salah satu sahabat dari ayah putrinya.


Ainsley dan Aileen terlihat menonjol dari teman-teman sekelasnya, fisiknya berbeda dari anak-anak di sana.


Pernah suatu ketika salah satu temannya bertanya, "Ain, ko rambut kamu nggak hitam?"


Dengan santai Ainsley menjawab, "karena grand fa ain orang bule,"


Bocah itu mengatakan hal yang sama seperti diajarkan oleh neneknya.


Ainsley dan Aileen juga lebih pandai dibanding anak-anak sebayanya,


Ainsley dan Aileen pintar menggambar  juga fasih berbahasa asing, selain itu keduanya juga pandai dalam bidang olahraga.


Tahun ini keduanya bersekolah di taman kanak-kanak kelas B, persiapan masuk sekolah dasar, keduanya sudah bisa membaca dengan lancar juga berhitung angka.


Terkadang sambil menunggu anak-anaknya bersekolah, Ayudia mengobrol bersama ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya, atau pulang dulu untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah.


Ayudia benar-benar menikmati kesehariannya sebagai seorang ibu, namun tak ada yang tau jika malam ketika anak-anaknya telah tidur, ia diam-diam menangis merindukan ayah dari anak-anaknya,

__ADS_1


Entah kemana laki-laki itu, ia tak lagi bertanya dimana lelaki itu, setelah tau jika dirinya telah diceraikan secara agama oleh suaminya.


Saat Alex akan mengajukan pendaftaran perceraian sahabatnya, Ayudia menentang keras, ia tak membiarkan itu terjadi, bahkan perempuan dua anak itu berani mengancam pengacara itu, akan mencabut semua fasilitas yang dulu diberikan ayah dari anak-anak wanita itu.


Hingga saat ini status Ayudia masih sah sebagai istri Benedict di atas kertas.


Meski tak mendapatkan kebutuhan biologis dari lelaki itu, namun untuk nafkah, wanita itu masih menerima penghasilan dari berbagi usaha yang ditinggalkan lelaki itu.


Pernah beberapa kali Troy asisten sekaligus orang kepercayaan dari Benedict menghubunginya, untuk melaporkan penghasilan dari semua usaha yang ditinggalkannya.


Dari situlah Ayudia tau suaminya benar-benar kaya, ia jadi teringat perkataan lelaki itu dulu, "meskipun aku nggak bekerja, rekening aku akan terus bertambah setiap harinya Ay,"


Tak banyak yang diambil dari semua penghasilan ayah dari anak-anaknya, ia hanya mengambil untuk keperluan makan sehari-hari, biaya sekolah, dan sesekali ia akan menggunakan uang itu untuk mengajak anak-anaknya berwisata ketempat yang tak jauh dari desa itu.


Atau untuk dirinya pulang kampung menemui bude marini juga si kembar, sedangkan Anin mengikuti suaminya tinggal di ibukota.


Anna sampai geleng-geleng kepala melihat kesederhanaan menantunya, pernah ia berbicara, "nduk, kamu itu lucu, dimana-mana yang namanya istrinya orang kaya, pasti belanjanya ke mall mewah, beli barang-barang branded, jalan-jalan ke luar negeri atau ikut arisan sana-sini, lah kamu, belanja ke pasar tradisional, beli baju obralan, arisan juga ikutnya arisan ibu-ibu PKK,"


Dengan santai Ayudia menjawab, "kan Ayu tinggalnya di kampung, masa pakai barang-barang branded, kan aneh Bu, lagian arisan kan biar bisa kenal sama tetangga,"


"Ada manfaatnya kok bu, ini aku belanja dari uang anak ibu kan?"


"Ngeyel kalo dibilangin, pokoknya besok pas ke Jakarta, kamu kuras saldo tabungan anak ibu,"


"Iya Bu, Ayu nurutin ibu, apa perlu kita bawain orang sekampung,"


"Ya nggak gitu nduk, buat keperluan kamu ngerti nggak?"


"Bu kalau cuman tas sama baju-baju kan masih banyak di rumah, udah kayak toko lagi, ada banyak yang masih ada labelnya malah,"


"Cape ibu ngomong sama kamu, tau gitu anak ibu disuruh jadi kuli aja disini, dari pada kerja keras cari uang, tapi uang yang banyak itu, nggak dimanfaatkan sama anak dan istrinya,"ucapnya kesal sambil berlalu keluar dari rumah menuju kolam ikan.


Ayudia menghela nafas, mertuanya selalu menyuruhnya hidup boros, namun itu sama sekali bukan gayanya,


Weekend tiba, Ayudia membawa serta anak-anak beserta teman-temannya, dengan meminjam mobil milik mertuanya, ia melajukan mobil itu menuju rumah besar di ibukota.

__ADS_1


Anna tidak jadi ikut, perempuan paruh baya itu mengeluh pusing, sehingga membatalkan niatnya untuk kembali ke ibu kota.


Mengetahui mertuanya sakit, Ayudia berniat membatalkan niatnya, namun Anna menentangnya, katanya beliau akan minta ditemani istri mang kos.


Sesampainya di rumah besar, pekerja di sana menyambut nyonya rumah mereka,


Para pekerja merawat dengan baik rumah itu, tak banyak yang berubah di sana, wanita itu memang memintanya agar tetap menjaga rumah itu sama seperti dia masih berkumpul bersama ayah dari anak-anaknya.


Ainsley dan Aileen beserta teman-temannya bermain di play  room dimana dulu keduanya selalu bermain, hanya ada sedikit renovasi menyesuaikan usia anak-anak itu.


Puas bermain mereka berenang dilantai dua, ada delapan anak yang sedang berenang di sana, termasuk Ainsley dan Aileen.


Ayudia hanya mengawasi mereka, tak lupa ia berpesan pada Maid untuk menyediakan Snack untuk anak-anak itu.


Rumah yang semula selalu sepi mendadak kembali ramai dengan teriakkan juga tawa dari anak-anak itu, wanita itu tersenyum senang melihat kegembiraan anak-anak itu.


"Ain, kenapa rumah kamu yang di kampung nggak sebesar ini sih, coba kalau yang di kampung ada kolam renangnya, aku bakal main ke rumah kamu setiap hari, buat berenang, jadi kita nggak perlu berenang di kali,"celetuk Aldo salah satu tetangga di desa.


"Nggak ada kolam renangnya aja, kamu setiap hari main ke rumah aku kan?" Ujar Ainsley.


"Kan rumah kamu banyak kue-kue enak, makanya kita-kita pada seneng main ke rumah kamu,"sahut Farel.


"Betul tuh rel, udah gitu gratis lagi,"sahut Dava.


Mereka tertawa mendengar ucapan Dava.


Usai berenang dan makan siang, mereka tertidur di play room yang dilengkapi karpet bulu.


Sore harinya, Ayudia mengajak kedelapan anak itu, mengunjungi pusat perbelanjaan yang tak jauh dari rumahnya,


Meskipun dirumahnya sudah ada banyak permainan, namun atas permintaan Aileen , Ayudia mengajak mereka ke Timezone yang ada di mall itu.


Usai puas bermain, Ayudia mengajak mereka untuk makan disalah satu restoran cepat saji bergambar badut berhidung merah.


Tak lupa ia membelikan beberapa mainan dan baju-baju untuk mereka, seperti kata mertuanya, ia harus menguras isi saldo yang selalu masuk ke rekeningnya.

__ADS_1


Mereka berencana menginap semalam di sana.


__ADS_2