Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus sepuluh


__ADS_3

Pagi hari usai mandi dan sarapan, Benedict meninggalkan Ayudia sendiri dikamar, katanya ada yang ingin lelaki itu urus.


Tak lama, terdengar ketukan pintu, ada si kembar membuka pintu diikuti Anna juga maid.


Ainsley dan Aileen bercerita tentang hari-hari mereka selama di mansion, juga Anna yang menanyakan tentang keadaan menantunya dan kemana saja beberapa hari ini,


Ayudia menjelaskan tentang keberadaan rumah kayu ditepi sungai dan hutan itu, juga tentang rumah pohon dan greenhouse ditengah hutan, tak ketinggalan yacht milik Benedict,


Si kembar antusias ingin menaiki yacht, namun belum selesai mereka bercerita, pintu diketuk, ada beberapa orang yang masuk membawa perlengkapan make up juga sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan ekor yang panjang.


Mereka mengaku disuruh Mr. Troy untuk mendandani Mrs.Wright, semua make up artist itu berjenis kelamin perempuan,


Bukan hanya wajahnya yang di make up, rambut pendek Ayudia juga ditata,


Satu jam lebih perempuan dua anak itu didandani hingga terlihat sangat berbeda dari biasanya,


Usai di make up, Ayudia dipakaikan gaun pengantin berwarna putih gading yang lengannya panjang dengan ekor menjuntai, entah bahan apa yang digunakan, yang jelas rasanya lembut dan ringan.


Tak lupa veil juga mahkota kecil, dengan batu-batu kecil berkilauan, mungkin itu berlian, Ayudia tidak tau dan tak ingin bertanya.


Si kembar juga dipakaikan baju berbeda model dengan warna yang sama, sementara Anna menggunakan gaun berwarna cream.


Usai semua bersiap, mereka menuju lantai bawah, baru sampai dibawah, Ayudia tak percaya apa yang dilihatnya, keluarganya datang, mereka bergantian berpelukan, bahagia sekali rasanya.


Anin yang sedang hamil, juga Arya dan Aryo yang tingginya setara dengan Samsul, ada bude Marini dengan gaun yang sama dengan Anna, tak ketinggalan bibi Atun juga mengenakan gaun yang sama,


Ayudia dituntun oleh kedua adik kembarnya bersisian, serta Ainsley dan Aileen yang ada didepannya.


Mereka berjalan menuju taman yang berada disamping mansion, di sana sudah ada kursi-kursi berwarna putih, juga bunga-bunga berwarna putih yang berada sepanjang jalan menuju meja akad.


Di sana juga telah berkumpul sahabat Benedict, juga beberapa kolega bisnisnya, entah siapa Ayudia tidak terlalu mengenal mereka.


Ada uncle juga George yang sedang berdiri bersama Benedict yang menunggu mempelai wanita.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Kursi disisi kanan dan kiri terisi penuh saat Ayudia dengan digandeng Arya dan Aryo disisi kanan juga kirinya serta Ainsley juga Aileen yang berjalan didepannya.


Mereka menyusuri jalan menuju meja akad dengan hiasan bunga berwarna putih, di sana sudah ada penghulu yang entah berasal dari mana.


Kedua mempelai duduk berdampingan, dengan Samsul dan Rama berada disamping kanan kiri mempelai, juga penghulu dan Arya yang duduk bersebelahan.


Akad kali ini Arya akan bertindak sebagai wali nikah dari kakak tertuanya, mengingat dirinya sudah mencapai usia dewasa, sehingga diperbolehkan untuk menjadi wali nikah kakak kandungnya.


Benedict menjabat tangan Arya, kedua tangan laki-laki itu terlihat berkeringat juga gemetaran, Arya yang takut salah ucap, sedangkan Benedict gugup akan mengulang janji pernikahannya lagi.


Namun akhirnya dengan lantang Benedict menyahut kalimat akad itu, dan saksi yang hadir serta keluarga dan sahabat mengucapkan kata sah pertanda mereka resmi kembali menjadi suami istri yang kedua kalinya.


Ada doa dan harapan agar keduanya bisa terus bersama selamanya.


Tangis haru para tetua yang mengetahui betapa rumitnya hubungan keduanya.


Ucapan selamat juga doa terbaik dipersembahkan untuk kedua mempelai.


Pernikahan dari pengusaha muda asal New York sama sekali tidak diliput oleh media, atas permintaan Benedict tentunya, ia tak ingin dunia tau istrinya, biarlah hanya orang terdekatnya yang mengetahui.


Orang-orang yang hadir di sana juga disuguhi masakan mewah yang dimasak khusus oleh chef dari restoran milik Benedict.


Walau yang menghadiri undangan hanya sekitar lima puluh orang saja, namun itu lebih baik, karena mempelai juga tamu berbaur saling mengakrabkan diri.


Senyum yang redup selama empat tahun, kini kembali terang dan bersinar, Benedict benar-benar sangat bahagia, kado terindah untuknya diusia yang menginjak tiga puluh delapan tahun.


Kalau ada kesempatan lelaki itu tak henti-hentinya mencium kening atau sekedar tangan istrinya.


Troy, Richard juga pengacara Willian sampai mengucek matanya, seolah tak percaya, bosnya tersenyum sepanjang acara, senyum yang sangat jarang mereka lihat sejak mereka mulai bekerja bersama hampir enam belas tahun.


Hal itu tentu hal biasa bagi sahabat sekaligus bawahannya asal Indo.


Benedict dikenal dingin, arogan juga temperamen sebagai atasan meskipun tak dipungkiri, berkat campur tangan lelaki itu, perusahaan keluarga Wright yang nyaris bangkrut delapan belas tahun lalu menjadi maju dengan pesat di masa kepemimpinannya, tentunya Berkat kerja keras juga sifat pantang menyerah semenjak bangku kuliah.

__ADS_1


Lelaki itu mulai mengurusi perusahaan saat dirinya masih berumur dua puluh tahun dan masih berkuliah.


Di akhir acara, kedua mempelai berdansa, awalnya Ayudia menolak, namun suaminya tetap mengajaknya, walau masih terlihat kaku, dan beberapa kali wanita itu menginjak kaki suaminya.


Usai seluruh rangkaian acara selesai dan hanya tersisa keluarga juga saudara, sesuai dengan janjinya pada kedua anaknya, Benedict mengajak mereka untuk menaiki helikopter.


Tentu saja Ainsley juga Aileen sangat antusias, mereka semakin bangga pada ayahnya, yang menjadi pilot helikopter miliknya.


"Bude nggak nyangka suaminya sekaya itu nduk,"ucap Marini, saat melihat menantu keponakannya mengemudikan helikopter yang terparkir di halaman belakang mansion tak jauh dari dermaga.


"Apalagi Ayu bude, sampai sekarang Ayu masih nggak percaya ternyata Ayu udah nggak perlu pusing mikirin makan sama sekolah adik-adik,"sahutnya.


"Tau nggak Ayu, kemarin pas bibi dikabari sama nak Rama kalau mau diajak ke Amerika, bibi kayak nggak percaya, bahkan paspor dan visa dibantu sama nak Alex, bibi cuman modal dengkul doang,"bibi Atun ikut nimbrung.


"Kemarin nduk, pas kita kesini, kalau kata Samsul, kita naik private jet, nggak ada penumpang lain selain keluarga kita, kamu tau kan bude nggak pernah sekalipun naik pesawat, eh sekalinya naik, malah pesawat pribadi, bude bisa pamer sama tetangga di kampung,"


Ayudia tertawa mendengar cerita bude juga bibinya.


"Pantesan waktu resepsi dulu, sovenirnya sampai logam mulia, ya tetangga kita pada seneng lah, bukannya ngasih amplop malah dapat emas yang harganya lumayan,"lanjut bibi Atun.


"Ayu juga nggak nyangka bibi, Ayu bakal punya suami sekaya itu,"


"Kamu mesti bersyukur nduk, sekarang hidup kamu lebih baik, adik-adik kamu bisa sekolah sampai lulus sarjana, kamu juga punya keluarga kecil lengkap, anak kamu sehat dan pintar, suami kamu juga baik,"Marini menasehati keponakannya itu.


"Iya bude, Ayu bersyukur banget,"


"Terus bibi dengar, abis ini kamu bakal tinggal disini, ikut suami kamu kerja ya!"tanya Bibi Atun.


"Kemarin mas Ben ada bilang begitu sih, cuman Ayu belum omongin lagi, kalau misal tinggal disini, sekolah anak-anak di kampung bagaimana, kan sayang sebentar lagi mereka lulus TK,"jawab Ayudia.


"Coba nanti diomongin lagi sama suami kamu,"saran Marini.


Obrolan ketiganya berlanjut membahas tentang kehidupan Samsul dan anak dari bibi Atun.

__ADS_1


__ADS_2