
Beberapa hari sebelum keberangkatan, Benedict, Ayudia, si kembar dan calon jamaah umroh mengikuti manasik menjelang umroh.
Ada salah satu ustadz yang mempunyai travel Umroh membimbing pelaksanaan manasik, selain tata cara umroh rombongan juga di bekali beberapa benda pendukung kegiatan ibadah tersebut.
Travel umroh rekomendasi dari ibu Rama ini, merupakan langganan beliau ketika melaksanakan ibadah umroh.
Benedict memilih paket termahal untuk para rombongan yang akan berangkat, ada dirinya dan keluarga kecilnya, Rama dan keluarganya, Nando dan keluarganya serta uminya, Oscar dan keluarganya, Natasha, Kama juga Shaka, pekerja rumahnya yang terdiri dari sepuluh orang, dan yang membuat Ayudia kaget adalah kehadiran Mang Kos dan istri juga pak RT dan istrinya dari desa.
Sementara Samsul tidak bisa ikut, karena tak bisa ijin bekerja, bude Marini sedang menjalani pengobatan, dan bibi Atun yang baru saja mempunyai cucu baru dari anak bungsunya.
Sebenarnya biaya, travel umroh sudah termasuk tiket pesawat, namun atas permintaan Benedict, ia memilih menggunakan pesawat pribadinya yang menampung paling banyak penumpang.
Hari keberangkatan menuju tanah haram pun tiba, dengan menaiki pesawat pribadi dari bandara timur ibu kota pada siang hari.
Didalam pesawat, karena Ayudia sedang hamil, ia hanya tiduran di kamar dibawah pengawasan suaminya juga Natasha secara bergantian.
Setelah menempuh perjalanan selama sembilan jam, pesawat mendarat di bandara Jeddah.
Usai menyelesaikan urusan imigrasi, rombongan menunggu sejenak keberangkatan kereta cepat menuju kota Madinah.
Jarak tempuh menggunakan kereta cepat dari bandara Jeddah menuju Madinah tidak sampai dua jam, lebih cepat dibandingkan jika menaiki bus.
Dalam perjalanan ustadz sempat memberikan tausiyahnya masih tentang pelaksanaan umroh.
Tiba di Madinah, rombongan beristirahat di hotel yang sudah dipesan oleh panitia rombongan dari Travel umroh tersebut.
Tentu Benedict akan memberikan fasilitas terbaik untuk keluarga kecilnya juga rombongannya, dengan hotel bintang lima tak jauh dari masjid Nabawi.
Selama empat hari di Madinah, ustadz pembimbing, mengajak rombongan untuk berziarah ke makam Baqi, kuburan luas yang hanya ditandai dengan batu-batu saja.
Juga mengunjungi makam Nabi, mengucapkan salam pada nabi dan dua sahabatnya yang dimakamkan secara berdekatan, tak lupa sholawat juga diucapkan.
Para laki-laki berkesempatan shalat dan berdoa di Raudah yang mana tempat antara rumah nabi dan mimbar,
Selama waktu shalat, mereka juga melaksanakan shalat wajib secara berjamaah di sana,
Ayudia yang sedang hamil selalu didampingi oleh Natasha selama melaksanakan ibadah shalat.
Selain beribadah di masjid Nabawi, rombongan juga sempat mengunjungi masjid Quba, juga kebun kurma dan pusat oleh-oleh tak jauh dari masjid.
Empat hari di Madinah, rombongan bertolak menuju Makkah masih menggunakan kereta cepat,
Sebelumnya, Di hotel ustadz pembimbing mulai mengarahkan untuk para jamaah memulai Ikhram, diantaranya mandi, potong kuku, memotong rambut di ketiak dan ********, serta mencukur kumis bagi laki-laki.
Untuk jamaah laki-laki sudah mulai menggunakan pakaian Ikhram berwarna putih, sedangkan jamaah perempuan menggunakan gamis dan jilbab besar berwarna hitam.
Rombongan mulai menaiki kereta cepat itu dengan tiket kelas bisnis, baru beberapa menit duduk di kereta, ustadz menganjurkan para jamaah untuk miqat atau berniat akan melaksanakan ibadah umrah.
__ADS_1
Dari batas miqat itu sudah mulai berlaku larangan-larangan selama melakukan ibadah umrah.
Tidak sampai satu jam kereta sudah tiba di Makkah.
Rombongan diarahkan menuju hotel yang tak jauh dari Masjidil haram.
Sama dengan di Madinah, Benedict meminta fasilitas terbaik untuk keluarga dan rombongannya.
Benedict dan keluarga kecilnya menempati kamar suite room yang terdiri dari dua kamar.
Fasilitasnya cukup lengkap, untuk master bedroom dari jendela kamar hotel, bisa melihat aktifitas di sekitar ka'bah.
Sementara kamar yang satunya ada dua bed untuk kedua anaknya.
Hanya diberi waktu tidak sampai satu jam untuk bersih-bersih di kamar hotel, rombongan berkumpul lagi di lobby hotel untuk segera menuju Masjidil haram.
Dari Masjidil haram mereka berjalan kaki, sudah tiba di dekat Ka'bah rombongan memulai tawaf sebanyak tujuh kali, kali ini Benedict bersama Ayudia juga si kembar, banyak doa yang dipanjatkan oleh mereka.
Usai tawaf waktu shalat tiba, mereka shalat berjamaah terlebih dahulu, sebelum melakukan rukun umroh selanjutnya.
Saat mulai sa'i dari Shafa ke Marwah, Ayudia, Aileen, Natasha juga bersama jamaah wanita berjalan bersama, sementara laki-laki berjalan terlebih dahulu, karena mereka harus berlari-lari kecil saat melewati tanda lampu berwarna hijau.
Tujuh kali bolak-balik mereka melalui bukit itu.
Selesai melakukan sa'i ustadz mengarahkan untuk melakukan Tahalul atau mencukur gundul bagi laki-laki dan memotong sedikit rambut bagi perempuan.
Aileen membantu bundanya, untuk memotong rambutnya, begitu juga sebaliknya, yang lain juga saling membantu untuk memotong rambutnya.
Rombongan kembali ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat.
Namun Benedict mengajak Kama untuk menemui salah satu kolega bisnisnya yang kebetulan sedang berumroh.
Sementara Ayudia dan kedua anaknya beristirahat di kamar.
"Bun, tau nggak, masa Ain tadi lihat ayah nangis, baru pertama kali Ayah kayak gitu, bahkan saat nenek meninggal Ayah hanya berkaca-kaca,"Ainsley menceritakan hal yang ia lihat saat tadi bersama ayahnya usai shalat berjamaah.
"Ya wajar kan, yang namanya manusia kalau disini, pasti nangis, ingat dosa-dosa yang pernah diperbuat, tadi juga bunda nangis, tanya tuh Aileen,"ujar Ayudia sambil melirik ke putrinya.
"Dulu waktu Ain pertama kali ketemu ayah lagi, Ain pikir Ayah bukan orang muslim, soalnya Ain nggak pernah diajak shalat, kaya abahnya Dafa atau Aldo," ungkap remaja laki-laki itu.
"Kalau bukan muslim, bunda nggak bakal mau nikah sama ayah kamu, kan di agama dan negara kita harus menikah satu agama, dulu juga bunda menyangka Ayah kalian itu bukan orang muslim, bunda tanya ke om Rama, ternyata biarpun ayah begitu, ayah seorang muslim loh, kan dulu ayah tinggal didekat om Rama,"
"Om Rama juga diam-diam bercerita sama bunda soal awal ayah kalian memutuskan masuk Islam, kalian tau ayah kalian iri sama om Rama, cuman gara-gara setiap sore om Rama pakai baju Koko buat ngaji, dari situlah, ayah kalian penasaran dan akhirnya memutuskan menjadi mualaf sebelum masuk SMP,"
"Ayah juga baru di khitan saat itu, kata om Rama, ayah ikutan khitanan masal dan dapat hadiah, seneng banget katanya,"cerita Ayudia panjang lebar.
"Kok Ain nggak ikutan khitanan masal sih Bun, kayaknya seru,"ujar Ainsley.
__ADS_1
"Kamu udah di khitan tepat saat kamu masih bayi bersamaan saat kami memberi nama ke kalian berdua,"ucap Ayudia menjelaskan.
"Padahal seru tuh ikutan rame-rame, dapat hadiah kan,"
"Memangnya kamu mau hadiah apa?"
"Kayak Dafa sama Aldo Bun, dapat tas, alat tulis, sama uang lima ratus ribu,"jawab Ainsley antusias.
"Ih kakak, semua itu kan udah punya ngapain masih ngarep yang begitu sih, bukannya kakak punya uang lebih dari lima ratus ribu, dolar lagi,"sela Aileen menanggapi ucapan kakak kembarnya.
"Tapi seru tau,"
"Ya udah kalau memang mau dikhitan lagi, bunda bilang ayah ya,"
"Jangan Bun, nanti abis,"
Pasangan ibu dan anak kembar itu tertawa.
Selama empat hari rombongan berada di kota Mekkah, banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi lebih banyak beribadah di Masjidil haram.
Umroh usai, rombongan bertolak meninggalkan Mekkah menuju Jeddah.
Kecuali ustadz dan panitia, rombongan menaiki pesawat pribadi dengan logo BW di ekornya, menuju negeri paman Sam, mereka akan mengantar ibu hamil terlebih dahulu.
Tiba di bandara John F Kennedy, usai mengurus imigrasi, dengan menaiki beberapa mobil, mereka dibawa menuju mansion yang ada di tepi sungai.
Bagi para pekerja, tentu sesuatu yang baru buat mereka, karena melihat rumah yang berkali-kali lebih besar dari rumah yang ada di Jakarta.
Mereka tidak menyangka mempunyai majikan sekaya itu, bukan hanya rumah bak istana, majikan mereka juga memiliki pesawat pribadi yang mewah, helikopter, juga perahu besar yang disebut Yacht.
Mereka juga tidak menyangka akan diajak umroh secara gratis dan berjalan-jalan ke negeri paman Sam, hal yang tidak pernah terfikir oleh mereka seumur hidupnya.
Keesokan harinya, Benedict mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk para sahabatnya juga pekerjanya.
Mereka mengadakan barbeque di dekat dermaga mini.
Disela-sela syukuran, Benedict meminta waktu untuk berbicara,
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian, untuk para pekerja, saya berterima kasih karena kalian telah menjaga dan merawat rumah kami yang ada di Jakarta, saya meminta selama saya dan istri saya tidak ada di sana, tolong jaga anak-anak saya, saya titip mereka,"ucap Benedict menghadap para maid, sekuriti, tukang kebun dari rumah besar, mereka kompak mengangguk.
"Untuk para sahabat saya, terima kasih, selama saya tidak berada di Jakarta kalian sudah menjaga istri dan anak-anak saya, saya titip kedua anak kembar saya lagi, tolong sering-sering di tengok," para sahabat hanya mengangguk.
"Dan untuk Ainsley dan Aileen, selama tidak ada Ayah dan bunda disisi kalian, tolong jaga diri baik-baik, ayah tau kalian sudah mulai besar, kalian tau apa resiko dari setiap tindakan kalian, jadilah anak baik meskipun tidak ada kami, tentu kami akan sering-sering menjenguk kalian,"
Ainsley dan Aileen menghampiri kedua orang tuanya lalu memeluk mereka secara bersamaan.
Setelah itu, Benedict menghadap istrinya, "dan untuk Istriku yang aku cintai, terima kasih banyak, karena kehadiran kamu, hidup aku lengkap, aku menjadi lelaki sejati, terima kasih karena sudah mau mendampingi aku yang menyebalkan ini," semuanya tertawa mendengar ucapan lelaki itu,
__ADS_1
"Terima kasih dengan bersama kamu, aku merasakan cinta yang sesungguhnya, cinta yang bertambah setiap harinya, mudah-mudahan kedepannya, keluarga kecil kita semakin bahagia dengan kehadiran buah hati kita yang ada di kandungan kamu,"ujarnya sambil mengelus perut buncit dibalik gamis berwarna biru floral itu.
"thank you my wife, i love you, i beg you love me for the rest of your life," usai mengatakan itu, Benedict memeluk dan mencium kening Ayudia dengan penuh cinta.