
Esok Harinya, setelah selesai mengurusi kedua anaknya, juga sudah memerah ASInya, Ayudia berpamitan pada mertuanya dan suaminya, ia mengendarai motor matic yang biasa digunakan oleh para pekerja di rumahnya, menuju rumah sakit dimana sahabatnya, sedang praktik.
Semalam setelah mendapatkan persetujuan suaminya, Ayudia segera menghubungi Natasha, untuk mengajaknya bertemu sekaligus makan siang.
Dengan memakai Hoodie dan masker yang menutupi setengah wajahnya, ia menunggu sahabatnya di lobby rumah sakit, tadi ia mengirim pesan pada Natasha, dirinya sudah sampai di lobby.
Setelah keduanya bertemu, Natasha mengajak Ayudia menuju kantin khusus pekerja rumah sakit, katanya ada menu makan siang enak di sana.
"Jadi Ayu, apa yang mau lo omongin?"tanya Natasha ketika keduanya telah duduk disalah satu kursi kantin yang sedikit tersembunyi.
"Ada beberapa yang pengen gue omongin sha, pertama gue mau konsultasi soal kontrasepsi,"jawab Ayudia sembari mulai makan.
"Kenapa Lo nggak ke ruangan gue? Malah ngebahas disini, dan kenapa Lo nggak ngajak Ben sekalian?"
"Emang harus bahas sama mas Ben juga sha?"
"Ya iyalah Ayu, mending besok Lo berdua datang kesini sama Ben,"
"Oke, terus yang kedua,"Ayudia menghela nafas, "kemarin gue ketemu mbak Lusi, dia nanyain istrinya mas Ben, terus dia juga pengen bandingkan istrinya mas Ben sama dia, Cantikan mana, seksi mana, terus sampai mau bandingin kehebatannya di ranjang, abis dia nanya begitu, kok gue kayak nggak suka ya! Terus elo kan salah satu temen SMA mas Ben, lo tau nggak sejauh apa hubungan mereka dulu?"
"Gue nggak terlalu Deket sama Ben, Ben itu kalau sama cewek itu dingin, ketus dan kaku, jadi gue deketnya sama yang lain, jadi gue nggak tau persis dulu mereka gaya pacarannya kayak apa, kalau yang lain gue tau, karena mereka kadang suka curhat sama gue, kaya Rama pernah cerita, ternyata pas pertama kali begituan sama Citra, ceweknya udah nggak perawan, terus Alex main pertama kalinya sama pacar pertamanya , terus Nando yang pertama main sama kakak kelas, terus Oscar yang dikerjain sama yang lain, sehingga bisa main pertama kali sama psk, kalau Ben, gue nggak tau,"
"Ternyata mereka bajingan ya! Nggak nyangka gue, apes banget yang jadi istrinya,"
"Maka dari itu, biarpun gue Deket sama mereka, sedikitpun gue nggak tertarik sama mereka, karena gue tau betul, busuknya mereka,"
"Jangan sha, sayang elo nya, gue nggak setuju kalau Lo nikah sama mereka,"
"Terus masalah Ben, mending Lo nggak usah pikirin kata-kata Lusi, dia dari dulu udah nggak bener, bisa jadi dia bohong,"
"Tapi sha, apa maksudnya dia ngomong ke gue gitu, kan dia belum tau kalau gue istrinya mas Ben,"
"Udah si, toh itu udah berlalu, yang penting sekarang Lo mesti tau, kalau Ben itu cuman cinta sama Lo, dia berkorban banyak loh buat Lo, harusnya Lo hargai dan percaya sama dia, nggak usah gue jelasin, Lo paham kan?"
Ayudia mengangguk, sepertinya ia harus ikhlas menerima apapun masa lalu suaminya, toh Benedict juga bisa terima meskipun tau, dirinya tidak sepenuhnya mencintai lelaki itu.
__ADS_1
Keduanya lanjut mengobrol, hingga makanan yang ada dihadapan mereka habis.
Natasha mengantar Ayudia hingga parkiran motor.
Merasa waktunya masih tersisa dari waktu yang dijanjikan pada suaminya, Ayudia mampir terlebih dulu ke sebuah mini market, entah mengapa ia ingin makan es krim, padahal dirumahnya, suaminya menyetok cukup banyak es krim kesukaannya.
Ayudia memakan es krim cokelat itu di taman tak jauh dari mini market, ia butuh waktu sendiri, di taman yang sepi, hanya ada beberapa orang saja.
"Apa itu kamu Ay?"
Ayudia yang sedang menyuapkan es krim ke mulutnya, menghentikan suapannya, ia terdiam, seingatnya yang memanggilnya dengan sebutan 'Ay' hanya ada dua orang, kalau nggak suaminya ya cinta pertamanya.
Perempuan itu menoleh, ia melebarkan matanya, ada Pradikta dan seorang wanita paruh baya sedang berjalan ke arahnya.
"Apa kabar Ay? Apa yang kamu lakukan disini?"tanya lelaki itu.
"Aku baik, aku lagi makan es krim, sambil ngadem,"ujarnya sambil menunjukan cup es krim rasa cokelat.
"Mama masih ingat, teman dekat aku pas SMA nggak, ini Ayudia ma,"ucap Pradikta pada ibunya.
"Apa kabar Tante?"sapa Ayudia ramah.
Tanpa disangka, Arini memeluk Ayudia, "Tante baik Ayu, kamu kemana aja si? Tante kangen sama kamu,"perempuan paruh baya itu melepaskan pelukan itu dan duduk disamping Ayudia sedangkan Pradikta duduk disisi lain disebelahnya.
"Masih disini aja Tante,"
"Dikta bilang kamu udah nikah dan lagi hamil, setahun yang lalu, apa kamu sudah melahirkan?"
"Udah Tante, dua bulan yang lalu,"
"Tante agak gimana gitu pas dengar kamu udah nikah, bisa dibilang Tante kecewa,"
"Mama jangan gitu, nggak enak sama Ayu,"tegur Pradikta pada ibunya.
"Tante itu masih berharap loh, kamu jadi mantu Tante, tapi mau bagaimana lagi, kalian belum jodoh,"
__ADS_1
Ayudia bingung harus menanggapi bagaimana ucapan perempuan paruh baya itu,
"Nggak usah diambil hati, omongan mama Ay,"ucap Pradikta tak enak.
"Ya emang bener Dikta, sampai sekarang, kamu masih cinta banget kan sama Ayu?"
"Dan kamu tau Ayu, walau Tante dan om sudah pernah mengenalkan beberapa perempuan pada Dikta, dia nggak menanggapi apapun, katanya dia nungguin kamu jadi janda,"ucap Arini sambil tertawa.
Sedangkan Pradikta menahan malu, akibat ucapan ibunya.
Sempat hening namun, "mumpung ketemu, disini bagaimana kalau kamu mampir ke rumah, kebetulan Tante tadi buat puding kesukaan kamu loh,"
"Tapi Tante..."
"Udah ayok mampir ke rumah tante,"rayu Arini.
Ayudia baru menyadari bahwa taman yang sedang ia singgahi memang terletak tak jauh dari rumah keluarga Pradikta.
Arini menggandeng lengan Ayudia, mereka saling mengobrol sambil berjalan menuju kediaman keluarga Pradikta, sedangkan lelaki itu menuntun motor yang dibawa oleh Ayudia.
Arini benar-benar melayani Ayudia dengan baik, ia menyajikan puding cokelat kesukaan teman dekat putranya, perempuan paruh baya itu begitu antusias.
Hingga tak terasa waktu sudah sore, Ayudia tak menyadari jika waktu begitu cepat berlalu.
Bahkan dia sempat bertemu dengan papa dari Pradikta, tak kalah dengan istrinya, om Irwan juga antusias saat bertemu dengannya.
Tadi Ayudia sempat menyambangi kamar dari Pradikta, masih sama seperti saat dirinya masih SMA, hanya ada beberapa furniture yang diganti, tapi foto-foto kebersamaan dirinya dan lelaki itu masih terpajang di sana.
Karena waktu sudah sore, akhirnya Ayudia meminta ijin untuk pulang, dengan berat hati Arini dan Irwan melepas kepulangan wanita itu.
Saat di halaman rumah itu Pradikta sempat menanyakan kabar anak dari Ayudia, juga tentang perasaan wanita itu,
Ayudia hanya diam, tak menjawab, wanita itu malah mengalihkan pembicaraan.
Saat Ayudia sudah duduk di atas motor dan bersiap memakai helm, tiba-tiba Pradikta memeluknya, juga mencium keningnya lembut, tak lupa mengusap rambut wanita itu penuh kasih sayang.
__ADS_1
Ayudia terdiam kaku diperlakukan seperti itu, entah bingung atau apa, yang jelas ia hanya diam, lalu berpamitan.