
Benedict membuka mata, ia tak mendapati Ayudia disebelahnya, terasa dingin disisinya.
Calon Ayah itu bangkit, ia memanggil-manggil istrinya, namun tak ada jawaban, ia menghubunginya namun tak diangkat.
Lelaki itu menghubungi sahabatnya, ia meminta sahabatnya untuk melacak keberadaan istrinya.
Setelah mendapatkan informasi dari sahabatnya, Benedict yang baru saja selesai mandi, langsung menuju tempat dimana lokasi istrinya berada.
Namun saat menghampiri tempat penjual lontong sayur, ia tak menemukan keberadaan istrinya, ia kembali menghubungi Alex, tak lama, Alex memberi lokasi pasti dimana istrinya berada.
Dan di lokasi itu, Benedict mendapati istrinya tengah berpelukan dengan seorang lelaki yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bahkan istrinya menangis, seolah sedang merasakan rasa sakit begitu dalam, sayangnya pembicaraan Ayudia dan lelaki asing itu tak terdengar jelas oleh Benedict.
Rasa cemburu seketika menyeruak menyelimuti hati dan pikirannya, rasanya ia ingin menghajar lelaki yang dengan kurang ajarnya menyentuh miliknya.
Saat Ayudia pergi menaiki ojek online, lelaki asing itu masih berada di sana, tak banyak membuang waktu, Benedict menghampiri lelaki itu.
"Bisa gue ngomong sebentar sama lo," ucap Benedict pada lelaki yang tak lain adalah Pradikta.
"Lo siapa?"tanya Pradikta bingung.
"Gue suaminya Ayudia,"jawab Benedict.
Pradikta yang tadi bersiap akan pergi dari tempat itu, akhirnya mengurungkan niatnya, ia turun dari motornya, ia mengajak suami dari cinta pertamanya itu untuk duduk disalah satu cafe tak jauh dari sana.
"Apa Lo ngikutin Ayudia?"tanya Pradikta membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Bukankah itu hak gue, buat ngikutin istri gue, apa menurut Lo gue salah?"tanya Benedict balik.
"Tidak sepenuhnya salah sih, tapi menurut Lo, kalau sampai Ayudia tau, suaminya nggak percaya sama dia, apa yang bakal Ayudia lakuin?"
"Sorry gue belum memperkenalkan diri, gue Pradikta, teman dekat Ayudia sewaktu SMA,"
Mendengar nama lelaki itu, Benedict jadi tau mengapa semalam istrinya menangis sampai histeris.
Karena bahkan dalam tidurnya, Ayudia menyebutkan nama itu, walau dalam keadaan mata terpejam, air mata perempuan itu mengalir, istrinya mengigau meminta maaf pada lelaki itu.
Ada rasa gelisah dan takut menyelimuti hatinya, ia tau, istrinya masih mencintai cinta pertamanya begitu dalam, apa Ayudia akan meninggalkan dirinya dan kembali pada cinta pertamanya itu, lalu bagaimana dengan anak mereka? Banyak tanya yang ingin ia tanyakan nanti ketika ia bertemu dengan istrinya.
"Apa Lo cuman mau diem aja? Apa nggak ada yang ingin Lo tanyain ke gue?" Ucap Pradikta melihat diamnya lelaki dihadapannya itu.
Benedict menghela nafas kasar, ada beban berat yang ada dipikirannya sekarang, "gue bingung mau ngomong apa, mendadak pikiran gue buntu,"
"Kalau Lo mau, Lo bisa tanya tentang apa yang gue bicarakan dengan Ayudia dua hari ini, apa yang mungkin membuat Ayudia menangis semalam," ujar Pradikta.
"Gue nggak sengaja ketemu Ayudia kemarin, sebenarnya kepulangan gue sekarang memang berniat ketemu sama dia, gue mau memenuhi janji gue dulu, kalau gue sukses dan punya pekerjaan bagus, gue mau melamar dan menikahi Ayudia, karena bagi gue, Ayudia adalah cinta pertama dan terakhir gue, yang akan menjadi ibu dari anak-anak gue kelak,"
Pradikta menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "tapi gue nggak nyangka, Ayudia malah udah nikah, gue tau itu bukan salah dia sepenuhnya, disini gue juga salah karena semenjak lulus sekalipun gue nggak menghubungi dia, gue berpikir jika dia bakal setia nungguin gue, ternyata gue salah besar, tapi satu hal yang mesti Lo tau, rasa kami masih tetap sama seperti dulu,"
Pradikta terdiam sejenak, tak ada reaksi apapun dari lelaki dihadapannya itu, "Lo taukan arti dari tangisannya semalam? Antara penyesalan dan rasa bersalah dia ke gue,"
"Mungkin Lo sekarang memilikinya secara fisik, tapi apa Lo yakin, hatinya milik Lo sepenuhnya?"
"Andai Ayudia mau menerima gue lagi, gue nggak keberatan dengan statusnya bahkan anak yang ada di kandungannya, gue nggak peduli, mungkin Lo menganggap gue bego, tapi nyatanya sebesar itu rasa cinta gue sama dia, mungkin kami nggak bisa bersama karena ada elo diantara kami, tapi itu hanya sekedar fisiknya, gue tau tatapan matanya ke gue masih sama seperti dulu, rasa cintanya nggak berubah ke gue, meski sudah bertahun-tahun,"
__ADS_1
"Yah.. walau pada akhirnya dia lebih memilih bersama elo, tapi gue cuman ngingetin, kalo gue masih disini menunggu dia, sekali Lo nyakitin dia, mungkin nggak akan ada kesempatan lagi buat Lo bersama dia, jika dia udah kembali ke gue, ingat rasa cinta kami masih sangat besar,"
"Sorry mungkin Lo tersinggung dengan omongan gue, tapi kenyataannya memang seperti itu, jadi pesan gue, jaga dia, cintai dia, sayangi dia, meski dia nggak bisa balas sebesar rasa yang Lo beri, setidaknya Lo masih bisa lihat dan peluk dia setiap hari, satu lagi, tolong jaga dia, gue cabut," Pradikta mengakhiri pembicaraannya, lelaki itu meninggalkan suami dari cinta pertamanya.
Benedict hanya diam, dari awal ia tau isi hati istrinya, ia tau istrinya tidak benar-benar mencintai dirinya, tapi ia hanya ingin egois, ia ingin serakah jika itu menyangkut Ayudia.
Ada rasa sakit hati, ia merasa dikhianati, tetapi ia tau, ini sudah jadi resiko yang harus ia tanggung.
Dalan perjalanan pulang, dipikiran lelaki yang berusia tiga puluh tahun itu, terngiang-ngiang setiap ucapan yang disampaikan cinta pertama istrinya.
Sangat mengganggunya, jujur saja, harga dirinya terluka, seorang Benedict bisa tak berkutik jika itu menyangkut tentang Ayudia.
Kecerdasannya di dunia bisnis, kekayaannya yang berlimpah, ketampanannya rasanya tak ada artinya, karena semua tak bisa membuat dirinya memiliki sepenuhnya hati perempuan yang dicintainya.
Tetapi sisi hatinya yang lain meyakinkan dirinya, agar ia bersikap egois jika itu tentang perempuan bernama Ayudia.
Sesampainya di rumah, ia mendapati istrinya sedang duduk termenung dengan pandangan kosong di ruang tengah.
"Ay,"panggil Benedict lembut.
Ayudia yang dipanggil mengalihkan pandangannya ke arah lelaki yang menjadi suaminya, ia tersenyum, meskipun matanya masih sembab.
Benedict tau arti tatapan mata itu, itu tatapan penuh luka dan penyesalan, meski senyuman menghiasi wajah istrinya.
Lelaki itu memeluk istrinya erat, "Ay, jangan tinggalkan aku, aku mencintai kamu, aku sayang kamu, maafkan aku, tapi aku mau serakah kalau itu tentang kamu,"ungkapnya memeluk dan menciumi kening Ayudia.
"Please Ay, biarkan aku egois, biarkan aku serakah jika tentang kamu, aku tidak peduli tentang apapun, asal kamu jangan tinggalkan aku, aku cinta sama kamu,"
__ADS_1
Ayudia menepuk pelan punggung suaminya, "aku masih disini mas, aku masih sama kamu, aku nggak kemana-mana," ucapnya.
Benedict mencium bibir istrinya rakus, ia mengungkapkan rasa dihatinya melalui ciuman itu, meski diantara keduanya mengalir air mata disela-sela ciuman itu.