
Benedict terbangun dan tidak mendapati istrinya dipelukannya, lelaki itu duduk sambil mengucek matanya, ia melihat sekeliling kamar mewah itu, tak ada tanda-tanda keberadaan wanita yang sangat ia cintai,
Lelaki itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Usai berganti pakaian dengan kemeja formal serta celana panjang dengan warna monokrom, ia keluar kamar mencari keberadaan istrinya.
Ia menuju kamar anak-anaknya, namun tak mendapati siapapun di sana, juga kamar ibunya, lalu ia turun menuju play ground namun hanya Anak-anaknya juga ibunya,bude Marini, dan bibi Atun di sana.
Lelaki itu sedikit panik, ia sampai menelpon semua sahabatnya, juga Troy dan Richard, tapi semua jawaban mereka sama, mereka tidak tau keberadaan Ayudia.
Tak menyerah, ia mengerahkan bodyguard juga maid untuk mencari keberadaan istrinya, tak lupa ia mengecek CCTV yang ada di mansion.
Dan ia mendapati istrinya sedang duduk bersama lelaki lain di halaman depan mansion, tak banyak bicara Benedict berlari menuju tempat dimana istrinya berada.
Rasa amarah melingkupi hati juga pikirannya, dirinya terbakar api cemburu, ia tak akan membiarkan istrinya dengan lelaki lain.
Bahkan sapaan beberapa sahabatnya yang ia temui di lorong mansion, tidak ia tanggapi.
Nafas lelaki itu memburu, wajahnya memerah, ia sangat marah, benar-benar emosi.
Ada Rama juga Nando yang mengikutinya, keduanya mengejar Benedict, hingga keluar dari pintu utama mansion, Rama dan Nando berhasil menghentikan langkah sahabatnya.
"Lo mau kemana Ben?"tanya Rama.
"Ayu ngilang dan dia lagi berduaan sama cowok lain, gue nggak terima,"jawabnya dengan nafas memburu.
"Lo yakin Ben?"tanya Nando.
"Tadi gue udah lihat CCTV,"jawabnya penuh keyakinan.
"Oke, misalnya itu benar, apa yang mau Lo lakuin? Apa Lo mau pukuli itu cowok depan Ayu? Atau mau Lo bunuh sekalian terus abis ini Ayu tau asli Lo kayak apa, menurut Lo setelah ini, apa Ayu masih sama Lo? Atau Apa Lo menyetubuhi Ayu hingga pingsan kayak dulu, dengan alasan cemburu, gue rasa Lo orang paling cerdas diantara kita berlima, tapi sayang ternyata Lo paling goblok diantara kita karena selalu mengulang kesalahan yang sama,"
"Lo tau Ben, setiap Lo bermasalah sama bini Lo, gue yang pada akhirnya bujuk dia dengan susah payah supaya dia mau balik sama Lo, tapi sekali lagi Lo bikin ulah lagi, gue nggak akan melakukan hal itu lagi, gue bakal biarin Ayu lari dari Lo,"
Benedict mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Nando, "Lo ngancam gue bangsat,"
Nando melepas paksa cengkraman itu, "iya gue ngancam Lo, karena gue kasihan sama Ayu, punya laki temperamen kayak Lo, katanya cinta, tapi nyakitin Mulu, jangan-jangan bukan cinta tapi obsesi, ingat Ben, sekali lagi Lo nyakitin Ayu, gue pastikan dia nggak akan balik lagi sama Lo, terserah Lo mau bikin gue miskin, gue nggak peduli," ungkapnya , lalu meninggalkan sahabatnya.
Rama menepuk bahu Benedict, "bener kata Nando Ben, Lo mesti tahan amarah Lo, Lo baru nikah lagi sama Ayu, jangan sampai Lo pisah lagi sama istri dan anak-anak Lo,"
Benedict melihat punggung sahabatnya yang memasuki pintu utama, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia sedang berusaha mengontrol dirinya.
__ADS_1
Ia berjalan menuju taman depan mansion dimana istrinya sedang duduk bersama lelaki lain,
Saat Benedict sudah mendekati istrinya, terlihat lelaki yang bersama istrinya hendak bangun, mungkin pembicaraan mereka sudah selesai.
Dan saat lelaki itu berbalik, Benedict tak menyangka, jika lelaki itu adalah George sepupunya sendiri.
"Apa yang kalian lakukan berdua disini?"tegur Benedict pada keduanya.
"Kami hanya mengobrol, untuk mengakrabkan diri, bukankah dia adalah kakak iparku,"jawab George santai.
"Kamu tidak perlu akrab dengan istriku George,"
"Tapi sepertinya istri kamu, tidak keberatan jika berbicara dengan ku,"
"Aku yang keberatan George,"
"Santai bro, aku tidak akan merebutnya dari kamu,"
"Tetap lah jadi pencinta bokong George, dan urus dirimu sendiri lalu enyahlah dari mansion ku,"usir Benedict.
"Tentu aku kan enyah dari sini Brother, kau tidak usah khawatir," ujarnya, "dan kakak ipar, mumpung disini kapan-kapan aku ajak ke club' malam ya, di sana banyak lelaki yang lebih tampan dari suamimu,"
"Kenapa kamu masih emosian sih mas, umur kamu udah tua loh, kok kayak masih kecil sih,"ujarnya kesal.
"Aku seperti ini karena cemburu sayang, aku nggak mau kehilangan kamu,"
"Aku tau, tapi kamu harusnya berpikir, istrimu tidak akan pernah mengunjungi tempat yang di bilang George tadi,"
"Tapi aku tidak suka kamu berdekatan apalagi berbicara dengannya,"
"Dia sepupu kamu mas, masa aku tidak boleh mengobrol dengan dengannya, bukankah kamu bilang dia tidak suka wanita?"
"Tetap saja dia laki-laki sayang,"
"Terserah kamu mas, aku malas berbicara sama kamu, mendingan aku main dengan anak-anak," ucapnya berlalu meninggalkan suaminya.
Benedict yang ditinggalkan oleh istrinya, tentu tak akan tinggal diam, lelaki itu berjalan cepat menuju istrinya yang sedang memasuki pintu utama Mansion.
Lelaki itu memegang lengan istrinya, ia menarik tubuh wanita itu lalu memeluknya erat, "kenapa kamu ninggalin aku lagi sih? Aku kan bilang hari ini, kamu sama aku terus,"ucapnya tepat ditelinga wanita itu.
"Lalu kita harus melakukan apa, kalau kita sama-sama terus?"
__ADS_1
"Bukankah kita pengantin baru sayang, tentu kamu tau apa yang harus kita lakukan,"
"Tapi aku lelah,"
"Aku akan memijit kamu sayang,"
Ayudia memutar bola matanya malas, "oke aku akan ikuti kamu, tapi tolong kasih waktu aku, buat bermain sama anak-anak selama satu jam saja, dan sekarang kamu bisa ketemu sama sahabat kamu dulu, aku ada di play ground,"ucapnya sambil melepaskan pelukan itu dan berlalu dari hadapan suaminya.
Ayudia menemui anak-anaknya, bermain dan mendengarkan cerita mereka, juga mengobrol dengan mertua, bude juga bibinya, namun belum sampai satu jam dari waktu yang ia pinta dari suaminya, lelaki itu sudah mendatanginya.
Rasanya kesal sekali dengan tingkah lelaki itu, karena tanpa melihat tempat dan kondisi, suaminya itu, memeluknya mesra tak sampai disitu bahkan lelaki itu mencium dan ******* bibirnya tepat depan para tetua juga anak-anaknya yang masih di bawah umur.
Karena merasa tak enak dengan para tetua juga anak-anaknya, Ayudia meminta ijin untuk meninggalkan ruangan bermain itu, tak lupa meminta maaf dan kembali menitipkan si kembar.
"Kamu apa-apaan si, kamu nggak malu apa cium sama peluk aku didepan mereka?"protes Ayudia kepada suaminya, sesaat setelah keduanya keluar dari ruangan itu.
"Mereka mengerti kok, kita kan pengantin baru,"
"Tapi nggak didepan mereka juga mas, aku malu,"
"Ya udah, kalau gitu kita bisa ke tempat dimana tidak ada orang lain selain kita, agar kamu tak malu lagi ketika kita berciuman,"
"Jangan ke rumah kayu itu, aku nggak mau, di sana tidak ada nasi, aku tidak bisa kenyang kalau nggak ada nasi,"
Benedict diam berpikir, lalu menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari mansion menuju halaman belakang dimana ada helikopter terparkir.
"Kita mau ngapain kesini mas?"tanya Ayudia heran saat dirinya tepat berada di samping helikopter berlogo BW di pintunya.
"Kita ketempat dimana hanya ada kita berada dan kamu bisa makan nasi sepuasnya,"jawab Benedict sambil membuka pintu helikopter itu.
"Masa naik ini sih, emang nggak bisa naik mobil aja,"protesnya.
"Lebih cepat istriku,"
"Tapi bagaimana sama anak-anak,"
"Kamu tau anak-anak selalu aman bersama ibu kan? Ada bude juga bibi,"
"Tapi mas?"
Benedict mempersilahkan istrinya untuk duduk di belakang kemudi tak lupa memasangkan seat belt juga penutup telinga, sedangkan dirinya duduk dibalik kemudi.
__ADS_1