
Benedict mengunjungi salah satu negara di wilayah timur tengah, ia bekerja sama dengan perusahaan pertambangan di sana, ia juga ada kerja sama pribadi dengan salah satu pengusahaan properti yang sedang membutuhkan kemampuan Benedict dalam mendesign pembangunan gedung.
Selain sebagai pebisnis, Benedict adalah seorang arsitek, banyak perusahaan kontruksi di dunia yang pernah memakai jasanya dalam mendesign bangunan, itu diluar dari usaha milik keluarganya, walaupun perusahaan keluarganya juga bergerak dalam bidang properti.
Benedict dilema, baru saja ia kembali setelah berhasil membawa istrinya untuk mengikutinya, pamannya memaksanya untuk bertunangan dengan anak dari salah satu anggota dewan direksi perusahaannya, yang dicurigai menggelapkan pajak perusahaan, ia harus mencari bukti agar bisa memenjarakannya.
Calon ayah itu, semakin sibuk dan jarang ada waktu untuk istrinya, ia memang sengaja membatasi pergerakan wanita hamil itu, ia tak ingin istrinya terlihat oleh orang lain, hanya ia yang boleh melihat istrinya.
Berhari-hari istrinya, meminta barang-barang miliknya, tentu Benedict sampai kapanpun tak akan memberikannya, ia tak mau istrinya pergi meninggalkannya.
Ia tau betul, istrinya tak benar-benar mencintainya, terkadang dalam keheningan, Benedict berfikir, apa kurangnya dirinya, padahal kekayaannya melimpah, ia juga tampan, ia juga selalu berkata lembut pada istrinya, tapi mengapa Ayudia tidak mencintainya? Sementara seseorang yang dari masa lalu istrinya bahkan bisa hadir dalam mimpi istrinya itu.
Tapi Benedict tidak peduli, baginya Ayudia selalu ada dalam jangkauannya, itu sudah lebih dari cukup.
Setiap menyelesaikan kegiatannya, ia selalu melakukan panggilan video, ia hanya ingin melihat aktivitas istrinya, sebenarnya ia bisa memantau kegiatan istrinya dari cctv yang ada di penthouse miliknya.
Namun entah mengapa setelah terakhir ia melakukan panggilan video dengan istrinya siang itu, mendadak ia sangat sibuk selama berjam-jam, bahkan sekedar melihat ponselnya, ia tak sempat.
Setelah berjam-jam berlalu, Benedict kembali melakukan panggilan video kepada istrinya, namun sepertinya ponsel wanita itu tidak aktif, ia melihat situasi penthouse melalui cctv yang tersambung dengan ponselnya, tak ada tanda-tanda keberadaan istrinya di sana.
Benedict menghubungi asisten yang biasa membersihkan penthouse, namun wanita tua itu mengaku, sudah pulang sedari tadi.
Tak kehabisan akal, Benedict menghubungi Maria dan Natasha, namun istrinya tidak bersama mereka.
Ia menelpon salah satu orang kepercayaannya, ia memerintahkan untuk melacak keberadaan Ayudia.
Benedict terpaksa harus segera mengakhiri pertemuannya dengan kolega bisnisnya, sepertinya ia harus segera kembali ke negaranya, istrinya menghilang.
Berbagai pikiran buruk berkecamuk mengganggunya, kepalanya mendadak pusing, rasanya mau pecah, ia juga mulai merasakan mual.
__ADS_1
Ia pulang ke negaranya dengan menggunakan private jet miliknya, ia harus bergerak cepat.
Berjam-jam lamanya ia merasakan ketakutan luar biasa selama ada di pesawat, ia takut istrinya pergi darinya, apa yang akan ia lakukan setelahnya?
Sesampainya di bandara John F Kennedy, ia bertemu dengan orang kepercayaannya, menurut laporan mereka, wanita itu telah meninggalkan negara ini beberapa jam yang lalu.
Salah satu Asistennya yang tadi bersamanya bilang, jika tadi saat mereka hendak kembali ke negara ini, ia melihat wanita yang mirip dengan istrinya sedang makan disalah satu restoran di bandara.
Saking emosinya Benedict sampai menghajar asistennya itu, ia memaki-maki asistennya, mengapa tidak memberitahunya.
Tak banyak membuang waktu, ia berangkat menuju negara asal istrinya, ia tidak akan bisa tenang, apalagi wanita itu sedang hamil bayi kembar, yang menurut Natasha sedikit beresiko jika melakukan perjalanan jauh.
Rasanya perjalanan menuju negara itu begitu sangat lama, lelaki itu benar-benar sangat kacau.
Sesampainya di negara tropis itu, sahabatnya menunggu di bandara, mereka bertemu di sana, alangkah terkejutnya para sahabatnya melihat penampilan kacau dari Benedict itu.
Ponsel lama Ayudia tidak aktif, tidak ada transaksi apapun di rekening milik wanita itu.
Berhari-hari Benedict mencari keberadaan istrinya, ia meminta Alex untuk mengerahkan seluruh anak buahnya, namun hasilnya nihil.
Hari ketujuh pencarian, akhirnya Benedict sampai pada batasnya, ia pingsan saat dalam perjalanan pulang dari rumah bude Marini di kampung.
Laki-laki itu dilarikan ke rumah sakit, dan menjalani perawatan intens di sana.
Hal itu sampai juga di telinga Anna, perempuan paruh baya itu mendapatkan kabar dari Rama, dengan segera ia menuju rumah sakit.
Terlihat wajah kurus puteranya, ada selang infus di tangan kanan puteranya, Anna sampai menangis melihat keadaan Benedict yang memprihatinkan.
Dari Rama ia mendapatkan semua informasi apa yang terjadi pada puteranya.
__ADS_1
Kepada ibunya, Benedict menumpahkan segala kegelisahannya, lelaki itu bahkan sampai menangis seperti anak kecil.
Dalam tidurnya, Benedict memanggil nama istrinya, ia meminta maaf.
Penyesalan, dan rasa bersalah membuatnya semakin terpuruk, di rumah sakit, ia juga sampai harus ditangani oleh seorang psikiater.
Segitu besarnya efek istrinya, seminggu berlalu, akhirnya Benedict diperbolehkan pulang, ia tinggal di apartemen miliknya, setiap hari Anna akan datang untuk memastikan puteranya makan dengan baik, begitu juga para sahabatnya yang menginap secara bergantian di sana.
Sebulan berlalu, Benedict tak kunjung mendapat kabar tentang istrinya, kondisinya mulai membaik, Anna mengurus puteranya dengan baik.
Lelaki itu harus kembali ke Amerika, sudah terlalu lama pekerjaan ia tinggal, ia bertekad, sesampainya di sana, ia akan memutuskan pertunangannya, ia sadar, karena tindakannya itu, Ayudia meninggalkannya, ia tak mempedulikan tanggapan uncle nya, baginya istrinya lebih berharga dari apapun.
Benedict menjalani hari-harinya di sana semakin menggila, ia tak kenal lelah dalam bekerja, ia hanya ingin tenggelam dalam kesibukannya, agar tak larut dalam kesedihan.
Uncle nya sempat marah dengan keputusan sepihak keponakannya dalam memutuskan pertunangannya, lelaki yang berusia setengah abad itu sampai mendatanginya.
Benedict yang sedang luar biasa pusing, membentak balik uncle nya, dan mengancam akan mundur dari perusahaan, jika lelaki itu mencampuri urusannya.
Calon Ayah itu semakin keras dalam mengajari sepupunya, ia tak mempedulikan lagi protes George, gara-gara mengurusi perusahaan sialan ini, ia kehilangan wanita paling ia cintai.
Para bawahannya dibuat lebih pusing dengan sikap Benedict, bahkan asistennya berhari-hari tidak pulang ke rumah, benar-benar seperti kerja rodi.
Beberapa bulan berlalu, George sudah mulai bisa memimpin perusahaan, walau belum bisa sepenuhnya, tapi lelaki yang baru saja lulus itu, setiap harinya menunjukan perkembangannya.
Benedict mengajukan pengunduran dirinya sebagai CEO pada rapat dewan direksi, dan menunjuk George sebagai penggantinya, walau sebagian besar dewan direksi protes, ia tidak peduli.
Sudah cukup baginya untuk bekerja keras, saatnya ia mencari kebahagiaannya sendiri, ia membutuhkan istrinya sekarang, ia tau tinggal sebulan lagi anak-anaknya akan lahir, ia berharap bisa menyaksikan kelahiran buah cinta dirinya.
Seorang perempuan sederhana yang membuat seorang Benedict Wright hampir gila.
__ADS_1