
Dua hari Ayudia berada di rumah kayu itu, bengkak di bagian intimnya telah pulih, berkat perawatan yang diberikan oleh lelaki itu.
Tidak banyak yang wanita itu lakukan, hanya berkeliling didalam rumah, atau sekedar duduk di dermaga mini tepat didepan rumah kayu itu.
Rumah kayu itu seperti terisolasi dari dunia luar, karena tidak ada tetangga, hanya semak dan pepohonan yang tinggi.
Ayudia tak berani berjalan ke belakang rumah, ia takut bertemu binatang buas,
Transportasi satu-satunya adalah yacht yang terparkir di dermaga mini itu.
Benedict mengaku selama tiga tahun lebih, menghabiskan waktunya disini, entah apa yang lelaki itu lakukan, Ayudia malas bertanya.
Wanita itu masih saja kesal, semua orang mempermainkannya, mereka kompak menipunya, namun mustahil baginya untuk marah pada mereka.
Karena bagaimanapun mereka hanya ingin rumah tangganya dan Benedict tetap utuh.
Ayudia menghela nafas, ia masih duduk di sisi dermaga, saat lelaki itu menghampirinya, membawakan beberapa buah-buahan yang katanya didapat dari dalam hutan.
"Kalau di pikir-pikir, kamu kayak Tarzan tau, rambut panjang, nggak pake baju, kulitnya cokelat, mainnya di kebon, benar-benar Tarzan modern,"ucap Ayudia sembari memakan buah yang dibawa lelaki itu.
Benedict menyunggingkan senyumannya, lelaki itu tiduran dengan paha wanita itu sebagai bantal, "ada yang kurang sebenarnya,"ujarnya sambil meminta disuapi buah-buahan itu.
"Apa?"
"Coba Tarzan ceweknya juga nggak pakai baju, terus kita bercinta di tengah hutan, dibawah pohon besar,"ungkapnya mulai berfantasi.
"Kalau pas lagi begituan, ada binatang buas gimana? Kan ngeri,"
"Kan aku kira-kira kalau mau begituan, lihat situasi lah, mau coba nggak? Mumpung disini?"
Ayudia menggelengkan kepalanya, sepertinya lelaki itu benar-benar kesambet penghuni hutan, bisa-bisanya memikirkan hal mesum.
"Coba yuk, kamu udah sembuhkan?"
Wanita itu mengangkat kepala Benedict, lalu ia bangun meninggalkannya, ia berjalan dengan cepat, ia masuk ke dalam rumah kayu.
Benedict mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah, dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, tak lama kemudian wanita itu keluar,
"Kamu kenapa disini?"tanya Ayudia heran, wanita itu berjalan menuju wastafel dan menyalakan air lalu menampungnya di gelas kaca, lantas langsung meminumnya.
"Kaget aja, kamu tiba-tiba masuk ke rumah, aku pikir ada apa,"jawabnya mengambil gelas bekas minum wanita itu dan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Aku itu kebelet pipis terus haus juga,"jelasnya, "terus kapan kita kembali, kata kamu kan kalau aku udah sembuh, kita bisa kembali,"
"Urusan kita disini belum selesai,"
Ayudia mengernyit bingung, "urusan apa sih? Kan kita nggak ngapa-ngapain, orang dua hari kerjaan aku cuman bengong,"
"Nah itu kamu tau jawabannya, kita kan lagi honeymoon before marriage,"
"Emang ada yang begitu?"
"Ada kita kan9,"
"Mas kayaknya sepulang dari sini, kamu mesti ketemu psikiater deh, soalnya kamu makin aneh,"
"Aneh gimana sih?"
"Aneh aja, segala pengen cosplay jadi Tarzan lagi,"
"Loh kan kamu yang bilang aku kayak Tarzan, ya aku tentu bilang kalau kamu Tarzan cewek, kan kalau di film Tarzan kan gitu,"
"Gimana nggak bilang kamu kayak Tarzan, kamu kemana-mana cuman pakai bokser doang, nggak pakai baju, apa nggak masuk angin?"
"Nyatanya aku semakin sehat, dengan hidup menyatu dengan alam,"
"Tapi kamu tetap sayang aku kan?"
Ayudia mencubit perut lelaki itu, namun tak bisa, perutnya keras, dengan otot terbentuk sempurna,
Benedict seperti binaragawan dengan kulit kecokelatan,
"Bukannya aslinya kulit kamu nggak kayak gini ya! Kayaknya kamu malah senang kulit eksotis ya?"
"Dari pertama kali aku pindah ke Indonesia, aku pengen banget punya kulit kayak orang asli sana, kayaknya gagah aja, apalagi sejak jadi tetangganya Rama, dan dikenalkan sama salah satu sepupunya Rama yang jadi binaragawan, aku makin terobsesi seperti dia,"
Ayudia menggelengkan kepalanya, "kamu nih, orang indo aja pengen kulitnya putih, lah kamu malah pengen kulit sawo matang, dasar nggak bersyukur,"
"Kan selera orang beda-beda yang penting aku nggak merugikan orang lain,"
"Serah kamu mas, aku malas meladeni omongan kamu, mending aku tidur,"
Saat Ayudia hendak bangkit, pergelangan tangannya di tahan lelaki itu, "kamu mau secepatnya ketemu anak-anak nggak?"tanya lelaki itu.
__ADS_1
"Mau lah,"jawabnya ketus.
"Kalau gitu, kita cosplay jadi Tarzan ya, sekali ini aja, aku pengen coba sensasi baru,"
"Yang lain nggak bisa mas, kenapa harus ujung-ujungnya begituan sih mas?"
Benedict memeluk pinggang ramping wanita itu, lalu berkata, "aku nggak begituan lebih dari empat tahun, kalau kamu lupa, aku pria dewasa sehat dengan kebutuhan biologis yang harus terpenuhi, tapi aku mati-matian menahannya, saat sudah tidak bisa ditahan, aku hanya bisa membayangkan kamu untuk melepaskan hasrat, wajar dong setelah aku ketemu kamu lagi, aku hanya ingin mencoba banyak hal baru,"
Ayudia diam berfikir, hingga beberapa saat wanita itu berkata, "oke, kita cosplay jadi Tarzan, tapi pastikan tidak ada hewan buas didalam hutan, dan jangan melakukannya dengan kasar, kamu tau kan aku baru sembuh,"
"Apapun yang kamu minta sayang,"
Benedict menyiapkan segala keperluannya, termasuk kostum yang akan dikenakan,
Lelaki itu mengumpulkan daun-daunan untuk dirangkai menjadi gaun yang akan dipakai oleh Ayudia, sedangkan dirinya hanya menutupi bagian bawahnya dengan selembar kain kecil.
"Kamu serius hanya mengenakan itu?"tanya wanita itu heran.
"Kan kita mesti totalitas,"
"Ini pertama dan terakhirnya kita buat yang aneh-aneh, bodohnya aku menyetujuinya,"
"Iya tenang aja, pasti ini seru,"
Benedict membantu wanita itu memakai gaun yang terbuat dari rangkaian daun-daunan,
Ayudia semakin seksi dengan kostum itu, lelaki itu beberapa kali menelan ludahnya, namun ia berusaha untuk menahannya.
Keduanya benar-benar berperan dengan baik, mereka bertelanjang kaki memasuki hutan, melalui jalan setapak tepat di belakang rumah,
Ayudia awalnya heran melihat keadaan yang dibilang hutan itu, di sana terlihat rapih, seperti ada yang merawatnya, jalanan setapak itu juga bersih.
Hingga beberapa menit berjalan, keduanya sampai di pohon besar dengan akar menonjol ke atas membentuk tempat tersembunyi berbentuk sudut.
Benedict mengajak wanita itu untuk beristirahat sejenak, ia memberikan botol air mineral yang dibawanya.
Saat di sana, Benedict meminta wanita itu duduk di pangkuannya sambil memulai aksinya.
Ayudia melakukan hal gila, ditengah hutan ia berhubungan badan dengan lelaki itu, sambil berpegangan dengan akar-akar yang menjulang.
Tak hanya di sana, lelaki itu menunjukkan sebuah rumah pohon, di sana lelaki itu melakukannya lagi,
__ADS_1
Bahkan malam ini, mereka akan menginap di rumah pohon itu, lelaki itu benar-benar totalitas dalam melakoni perannya.