Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh delapan


__ADS_3

Kehidupan yang sibuk mengiringi hari-hari Ayudia sebagai seorang ibu sekaligus istri dari seorang Benedict.


Bangun sebelum subuh, untuk menyusui kedua bayinya secara bergantian, dibantu oleh suaminya yang juga terbangun.


Anna juga tak mau ketinggalan, nenek dua cucu itu, antusias dalam setiap kegiatan yang dilakukan menantunya dan kedua cucunya.


Setelah dua bayi kembar itu, puas menyusu, maka giliran Benedict menjaga kedua bayinya, sedang Ayudia bersiap untuk mandi pagi, menurut mertuanya, ibu yang baru melahirkan harus mandi pagi-pagi.


Sedangkan Anna setelah memastikan kedua cucunya puas menyusu, nenek baru itu akan membantu maid untuk menyiapkan sarapan untuk menantunya dan juga putranya.


Beberapa hari ini, kegiatan itu sudah jadi rutinitas yang dilakukan mereka.


Setelah matahari pagi muncul, maka kedua bayi kembar itu akan berjemur di balkon lantai dua didekat kolam renang yang berada tepat didepan kamar utama.


Ayudia dan Anna menggendong masing-masing bayi kembar itu, sedangkan Benedict memilih melakukan workout tak jauh dari mereka.


"Nduk, boleh ibu bertanya?"tanya Anna dengan suara rendah.


"Boleh Bu,"jawab Ayudia.


"Maaf beberapa malam yang lalu, saat ibu mau mengingatkan kamu untuk memompa ASI, ibu tidak sengaja mendengar kamu sedang bertengkar sama Ben ya?"


Ayudia tersenyum, "Ayu sengaja ngajak mas Ben ribut,"


"Maksud kamu?"tanya Anna bingung.


"Jadi Bu, sebelum Ayu lahiran, AA ngomong suruh bilang ke mas Ben, kayak minta jaminan buat masa depan Ayu sama anak-anak, kalau misal suatu saat mas Ben khianati Ayu lagi, semacam kayak harta kekayaan gitu, supaya hidup anak-anak terjamin kedepannya,"jawab Ayudia polos.


"Nando bilang gitu?"


Ayudia mengangguk, "sebenarnya Ayu males ngurus urusan harta kekayaan mas Ben, ayu kan nggak terbiasa dengan itu semua bu, tapi kalau dipikir-pikir benar juga kata Aa, kan Ayu agak susah kerja kalau punya bayi kembar, dulu waktu ngurus adik-adik, kan masih ada bapak sama bibi Atun, bude Marini juga kadang Dateng, lah sekarang kan mereka punya kehidupan masing-masing," jelasnya panjang lebar.


"Emang kamu beneran mau minat pisah dari anak ibu?"


"Ya nggak lah Bu, udah nggak kepikiran, lihat mas Ben sayang banget sama anak-anak beberapa hari ini, Ayu jadi percaya kalau mas Ben beneran sayang sama Ayu dan anak-anak,"


"Ibu sebenarnya kesal loh sama kamu, ya mau bagaimanapun tingkahnya Ben, dia tetap anak ibu, jadi pas tau kamu lari dari Ben, dan Ben sampai depresi, ibu sempat membenci kamu, tapi setelah tau keadaan kamu dan alasan apa yang membuat kamu seperti itu, ibu berubah pikiran, apalagi saat tau kamu mau kembali pada anak ibu, dan yang paling utama, kamu udah melahirkan cucu-cucu yang mirip dengan mendiang Daddy nya Ben, lihat si kembar itu seperti mengobati rasa rindu,"


"Emang mirip banget Bu?"Tanya Ayudia.


"Dari mata dan warna rambutnya, persis sama, ya jangan kaget kalau liat Ben, mata dan rambut memang mirip ibu, tapi kalau kulit, aslinya itu bule, cuman karena dia seneng jemur, makannya kulitnya jadi cokelat gitu,"


"Mas Ben, nggak pernah ngasih tau foto masa kecil sama masa mudanya ke Ayu, jadi Ayu sama sekali nggak ada bayangan,"


"Emang di penthouse, nggak ada fotonya Ben?"


"Cuman ada foto pas kita nikah doang,"


"Kenapa dia begitu?"


"Nggak tau Bu,"


"Dasar anak itu, terus lusa si kembar udah tujuh hari kan? Apa kamu ada rencana buat Aqiqah sekaligus memberi nama?"

__ADS_1


"Pengennya gitu Bu, cuman mas Ben belum bahas, Ayu nggak berani ngomong,"


"Nduk, Ben itu suami kamu, kamu wajib bahas apapun baik itu tentang anak-anak ataupun tentang kamu sendiri, jangan kebiasaan dipendam sendiri,"


"Iya Bu,"


Usai berjemur, Bayi-bayi itu dimandikan oleh Ayudia dibantu oleh Anna, sedangkan Benedict hanya menyiapkan pakaian yang akan di kenakan si kembar.


Setelah bayi-bayi itu mandi, dan tertidur, ketiga orang dewasa itu, sarapan di meja tak jauh dari kolam renang,


"Ben, lusa kan cucu ibu, umurnya udah tujuh hari, apa tidak sebaiknya kita adakan aqiqah sekaligus memberi nama,"ucap Anna disela-sela mereka sarapan.


"Gimana Ay?"bukannya menanggapi ucapan ibunya, Benedict malah bertanya pada istrinya.


Ayudia melirik mertuanya, dan Anna mengangguk, "iya mas, mending kita adakan acara syukuran, aqiqah sama kasih nama buat anak-anak,"


"Oke kalau gitu, aku telpon Rama untuk urus semua,"ujar Benedict.


"Kenapa nggak kamu aja yang cari kambing? Kan mereka anak kamu,"protes Anna, "lagian kamu kan nggak sibuk,"lanjutnya.


"Ben sibuk bantu urus si kembar Bu,"


"Ada ibu disini Ben, nggak usah banyak alasan deh,"


"Tapi kalau Ben pergi, entar Ayu bawa kabur anak-anak lagi,"ungkap Benedict khawatir.


Ayudia dan Anna kompak menghela nafas, "ibu yang jamin, kalau Ayu nggak bakal kabur,"ujarnya tegas.


"Itu karena kamu berkhianat sama mantu ibu, jelas ibu dukung Ayu lah, meskipun kamu anak ibu,"


"Kan aku udah jelasin alasannya Bu, kenapa diungkit lagi sih,"ucap Benedict kesal.


"Kekayaan kamu itu melebihi paman kamu, bisa-bisanya kamu nggak bisa nolak permintaan dia,"ujar Anna tak kalah kesal.


"Iya Ben ngaku salah, sekarang ibu puas kan?"


Anna tersenyum lebar, "gitu dong, dan kamu harus janji nggak akan ulangi lagi,"


"Iya Bu, Benedict janji nggak akan mengkhianati Ayudia putri,"


"Gimana Nduk, kamu nggak jadi ninggalin anak ibu kan? Dia udah janji nggak bakal khianati kamu loh,"


"Iya Bu, Ayu nggak bakal ninggalin mas Ben,"


Senyum mengembang terlihat dari wajah pasangan ibu anak itu.


Usai sarapan, Benedict mengajak istrinya untuk berbicara di ruang kerjanya yang juga bersebelahan dengan kamar utama, ada pintu penghubung juga.


Ayudia baru pertama kali memasuki ruang kerja suaminya di rumah ini,


"Ay, sesuai kesepakatan kita beberapa hari yang lalu, aku akan mengalihkan semua harta kekayaan aku buat kamu dan anak-anak, besok Troy dan pengacara yang mengetahui semua aset aku, akan datang,"


"Ini bukti aku beneran sayang dan cinta sama kamu, kamu udah nggak ragu sama aku kan?"

__ADS_1


"Aku pikir kamu nggak serius mas, jadi ini serius mas?"tanya Ayudia tak yakin.


"Ya ampun Ay, emang wajah aku tempo hari keliatan bercanda ya!"


"Ya nggak gitu mas, apa kamu nggak mikir kalau misalnya ternyata aku yang khianati kamu gimana dong?"


"Kamu nggak mungkin kayak gitu ay, kalau kamu dari awal mau khianati aku, kamu pasti lebih memilih bersama cinta pertama kamu dibanding aku,"


"Yakin banget sama aku mas?"


"Aku percaya kamu Ay,"


"Tapi aku minta jangan semua mas, aku nggak mau serakah, lagian aku kan nggak pernah pegang uang banyak,"


"Kamu itu emang unik ya Ay, baru kamu doang, perempuan nggak doyan duit,"


"Duit ya suka mas, malah rekan kerja aku di cafe bilang kalau Ayu itu pelit, maka dari itu kamu kasih secukupnya aja buat aku sama anak-anak, misal biaya hidup, pendidikan sampai anak-anak bisa mandiri,"


"Baiklah, tapi sebagai istri, kamu  wajib tau seberapa banyak kekayaan suami kamu ini!"


"Terserah deh mas, tapi ngomong-ngomong masalah anak-anak, nama yang waktu itu kita bahas jadi nggak? Kan harus udah bikin akta kelahiran,"


"Tenang Ay, jangankan Akta, paspor aja udah mau dibikin juga,"


"Paspor? Jangan bilang kamu mau bawa aku ke New York lagi?"


"Buat punya aja Ay, kali aja kamu mau liburan,"


"Ribet mas, anak-anak masih bayi,"


"Kan ada private jet Ay,"


"Emang kamu bawa sini juga mas? Kan katanya parkirnya mahal,"


"Kan di sewakan Ay, jadi nggak bakal rugi,"


"Emang ada yang sewa mas?"


"Banyak Ay, kebanyakan, artis sama pejabat, pengusaha juga ada,"


"Wah kamu jadi kenal sama mereka dong,"


"Ya nggak lah, kan yang urus Alex sama Rama,"


"Kan lumayan jadi terkenal disini mas, kamu bisa jadi artis,"


"Nggak kepengin Ay, entar kamu malah jauhi aku lagi, pokoknya disini aku mau ikutin gaya hidup kamu aja, aku mau jadi orang biasa,"


"Wah suamiku ternyata sayang beneran sama aku,"ucap Ayudia menggoda suaminya.


"Kemana aja kamu Ay? Aku udah lepasin karir aku demi kamu loh,"


"Emang Ayu minta,"ujarnya santai dan berlalu meninggalkan suaminya yang berteriak-teriak protes.

__ADS_1


__ADS_2