Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua puluh tujuh


__ADS_3

Benedict keluar dari rumah, ia mencari istrinya di halaman depan, tapi tak kunjung menemukannya, ia sudah bertanya pada sekuriti yang berjaga tapi, mereka tidak melihat Ayudia.


Lelaki itu mengambil ponselnya, untuk mencari keberadaan istrinya, dan diketahuilah wanita itu sedang berada di kebun sayur di belakang rumah.


Tak membuang waktu Benedict menghampirinya, terlihat istrinya sedang memanen sayuran dengan salah satu maid.


Ia memilih mengamati istrinya dari jauh, namun lama kelamaan, lelaki itu tak tahan untuk menghampiri wanita itu.


Maid menyadari kedatangan tuannya dan menunduk, namun Benedict memberi kode agar tetap diam dan meminta keranjang tempat sayur agar diserahkan padanya.


Ayudia bahkan tak menyadari jika suaminya mengikutinya.


"Mbak Nani, entar kangkungnya dimasak terasi ya, terus ikan gurame nya di goreng kering, jangan lupa bikin Sambel dabu-dabu ya, suami saya pasti kangen masakan kayak gitu," oceh wanita hamil itu.


"Oh ya, kue cokelat yang masih utuh, tolong dipotong-potong terus kasihkan ke yang lain, kalau yang satu lagi itu potong-potong buat anak-anak sama bapak,"


"Oh ya bilang ke mang Diman, besok beliin pupuk buat sayur, kayaknya mau abis deh, uangnya bisa minta ke Bu Yanti, mbak Nani, dari tadi saya ngomong nggak ditanggepin sih?"tanya Ayudia dan berbalik sambil menaruh kangkung di keranjang,


Wanita hamil itu melotot kaget, ternyata bukan maid yang mengikutinya melainkan suaminya.


"Kamu ngapain disini?"tanyanya kesal.


Benedict tersenyum, "tentu saja mengikuti istriku, apalagi menurut kamu, apa kamu lupa aku baru pulang, bahkan aku belum tidur,"


"Ya udah sana tidur, nggak usah ikuti aku,"usirnya pada suaminya.


"Kamu tau benar kebiasaan aku sayang, kalau kamu tidak ada di samping aku mana bisa aku tidur,"


Ayudia menghela nafas, sebenarnya ia masih kesal dengan suaminya, tapi sebagai istri yang baik ia harus tetap melayani suaminya.


"Kamu udah makan?"


Benedict menggeleng, "bukankah tadi kamu menuduh aku, kalau aku memasukan obat untuk mencelakai kamu? Kamu tau kan, aku biasa disuapi kamu,"


"Sebentar tinggal sedikit lagi,"ujar wanita hamil itu mempercepat panen sayurannya.


Setelahnya, ia berjalan menuju dapur, dan menyerahkan keranjang yang di pegang suaminya kepada salah satu maid untuk disiangi.


Ayudia mengambil nasi dengan rendang juga lalapan dan sambal hijau, ia memberikan gelas air minum untuk suaminya.


Keduanya duduk di tangga teras samping rumah,  di sana Ayudia mulai menyuapi suaminya.

__ADS_1


Saat di tengah-tengah makan, Aileen membawa toples kue cokelat dan duduk tak jauh dari ayahnya.


"Ayah, besok antar Ai ke sekolah ya!"


"Oke, apa ada masalah?"tanya ayah dua anak ini.


"Sebenarnya Ai bisa mengatasinya, tapi Ai hanya ingin memberi mereka pelajaran saja,"jelasnya.


"Kok kamu nggak cerita sama bunda?"sela Ayudia sambil masih menyuapi suaminya.


"Kan bunda masih sering lemas, kata Tante Asha, bunda nggak boleh stres, kasian adik aku didalam perut,"


"Jadi apa masalahnya?"tanya Benedict.


"Sebenarnya ini salah om Alex dan Ayah, kenapa aku disekolahkan di sana, kenapa nggak disekolah umum, di sana itu tempatnya orang-orang kaya, yang kalau jam istirahat, mereka membicarakan tentang kekayaan orang tuanya, Ai nggak suka, bahkan saat mereka bertanya, dan Ai menjawab jujur, mereka tidak percaya,"jelasnya panjang lebar.


"Aileen bukankah bunda bilang, kalian hanya belajar di sana, masalah teman, suatu saat pasti ada teman yang benar-benar baik sama Aileen, jadi kamu bisa jaga jarak dari mereka, lalu bukankah kamu sekelas sama Ainsley?"


"Kalau jam istirahat, kakak selalu di perpustakaan, katanya biar tambah pintar, aku males ikut kakak, aku kan lapar jadi aku ke kantin,"


"Jadi apa maksudnya Aileen ingin ayah datang ke sekolah?"tanya Ayudia memastikan,


"Besok Ai mau pamer sama teman-teman soal Ayah, tau nggak yah, meskipun aku berwajah bule dan pintar, mereka bilang Ai nggak pantas sekolah di sana, karena ayah Ai cuman Arsitek dan Ai diantar oleh supir dengan mobil murahan,"jelasnya lagi panjang lebar.


"Makanya Ai nggak usah sekolah di sana, mau di sekolah biasa aja,"


"Besok ayah datang, dan membungkam mulut yang sudah menghina kamu,"


"Mas.."


"Sayang, suami kamu ingin membuat putrinya bangga, apa menurut kamu aku nggak boleh membuat putri kesayangannya bangga?"


Ayudia menghela nafas, "baiklah bunda setuju, tapi jangan berlebihan,"


Benedict dan Aileen mengangguk.


Usai makan, Benedict naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya, tentu bersama istrinya,


Ia mengirimi pesan pada Alex, lalu menelpon Rama,


"Rama, kirim mobil mewah keluaran terbaru ke rumah gue, entar malam harus udah sampai, besok pagi mau gue pakai,"tanpa menunggu jawaban, lelaki itu menutup telponnya.

__ADS_1


"Mas, jangan berlebihan,"Ayudia mengingatkan.


"Sayang aku ingin buat putri aku bangga, jadi aku harus totalitas dong, kalau perlu, aku antar Anak-anak pakai helikopter,"


"Suamiku, ini bukan Amerika yang kamu bisa seenaknya, bukankah kamu tidak mau dikenal di negara ini?"


"Aku hanya sedikit menunjukan kekayaan sebagai ayah dari putrinya,"


"Terserah kamu, yang penting jangan berlebihan,"ujar wanita hamil itu masuk ke dalam kamarnya.


Melihat hal itu Benedict mengejar istrinya dan memegang pergelangan tangannya, "sayang, apa kamu marah?"tanyanya.


Ayudia menggeleng,


"Terus kenapa kamu ninggalin aku?"tanyanya lagi.


"Aku mau pipis, nggak boleh emang?"ucap Ayudia sambil berlalu menuju toilet.


Benedict duduk di ranjang dan menghadap pintu toilet, lelaki itu menunggu istrinya keluar dari dalam sana.


Wanita hamil itu keluar dari toilet, "kamu mau ke toilet juga?"tanyanya.


"Nggak aku nunggu kamu, aku mau tidur," jawab lelaki itu mulai merebahkan tubuhnya disalah satu sisi ranjang.


Ayudia menyusulnya, ia merebak dirinya membelakangi suaminya, "hadap ke aku sayang,"bisik Benedict.


Wanita hamil itu menurutinya, "udah, sekarang tutup mata kamu dan tidur,"perintahnya.


"Cium aku dulu,"


Ayudia menurutinya, ia mencium kening kedua pipi dan terakhir mengecup bibir seksi milik lelaki itu.


"Sayang kenapa cuman dikecup, kamu tau mau aku kan?"protesnya.


"Mas, yang ada kamu nggak bakal tidur, malah melakukan hal yang lain, cepat tutup mata kamu dan tidur,"ujarnya sambil meletakan kepala lelaki itu pada dadanya.


Tidak sampai lima menit, suara dengkuran halus terdengar, Benedict memasuki alam mimpi sambil memeluk belahan jiwanya.


Sementara Ayudia masih mengelus kepala belakang suaminya.


Saat hendak bangkit, Benedict mengeratkan pelukannya, sambil bergumam, "sayang, temani aku tidur,"

__ADS_1


Ayudia yang tadinya ingin melakukan aktivitas lain jadi mengurungkan niatnya, wanita hamil itu lebih memilih menyusul suaminya memasuki alam mimpi.


__ADS_2