Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus delapan


__ADS_3

Benedict seolah ingin melampiaskan hasratnya yang tertahan selama empat tahun lebih.


Lelaki itu bagai seorang Petapa yang tidak bisa menyalurkan hasrat biologisnya, walau sebenarnya hanya dengan dengan jentikan jari tangannya, berbagai macam perempuan bisa dengan mudah ia dapatkan kalau hanya untuk menyalurkan hasratnya, namun semua itu tidak bisa ia lakukan, entah mengapa, sejak mengenal Ayudia, hanya dengan wanita itu, hasratnya bisa bangkit, walaupun wanita itu tidak melakukan apapun.


Beberapa hari bertemu, seperti tak kenal lelah, lelaki itu terus meminta hal itu, ia berhenti saat wanita itu sakit.


Seperti beberapa saat lalu, setelah beberapa kali menyalurkan hasratnya, ia membiarkan wanita itu tertidur di dek bawah samping kemudi, ada sebuah kamar saat pertama kali ia mereka bertemu lagi setelah sekian lama.


Tak henti-hentinya lelaki itu tersenyum-senyum sendiri, jiwa yang sekian tahun kosong, sekarang kembali terisi,


Rasanya ingin memberi tau pada dunia, bahwa saat ini dirinya sangat bahagia.


Tak sia-sia memberi istrinya waktu untuk memikirkan bagaimana hati wanita itu sebenarnya.


Kesabarannya membuahkan hasil, wanita itu sudah mencintainya, bukan lagi sekadar rasa nyaman atau sayang, tapi rasa cinta yang besar untuknya.


Kalau tidak ingat tentang anak-anaknya juga pesta pernikahannya yang akan diadakan ulang di mansion, rasanya ia ingin hanya berdua dengan wanita itu di rumah kayu.


Menjalani hidup hanya berdua dan melakukan banyak hal bersama, tak ada yang mengganggunya, tapi apa mau dikata, anak-anaknya membutuhkan ibunya, pasti mereka sedang mencari wanita itu, karena mereka tak pernah berpisah terlalu lama dengan ibunya.


Tadi lelaki itu sengaja mengemudikan yacht tidak ke arah mansion, ia masih ingin bersama wanita itu, dan setelah membuat wanita itu tertidur karena ulahnya, baru ia melajukan yacht itu menuju mansion.


Waktu tempuh yacht dari rumah kayu menuju mansion sekitar satu jam perjalanan.


Dari jauh sudah terlihat dermaga  tepat di belakang mansion, ia melajukan yacht menuju ke sana,


Ada Troy juga Richard yang menunggunya di tepi dermaga.


Setelah memastikan yacht berhenti, ia mematikan mesinnya, dan keluar dari sana untuk menemui orang kepercayaannya terlebih dahulu.


Ada sesuatu yang disampaikan oleh asistennya, beberapa saat berbicara, Benedict kembali ke dalam menuju dek bawah, tepat dimana wanita yang ia cintai tengah tertidur pulas.


Tubuh polos itu tertutupi selimut  di atas ranjang, kebiasaan istrinya, tertidur pulas, setiap mereka melakukannya.

__ADS_1


Dengan hati-hati ia menggendong wanita itu, tentu dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polos dibaliknya.


Ia tidak akan rela orang lain melihat betapa menggodanya istrinya itu, selain karena cinta, inilah alasan kenapa ia tidak mau menikah dengan wanita negara itu, apalagi beberapa wanita yang dulu pernah dekat dengannya, wanita-wanita itu dengan bangga mengumbar tubuhnya untuk dikonsumsi oleh publik.


Benedict bukan lelaki yang suka berbagi wanita dengan lelaki lain.


Lelaki itu tidak ingin wanitanya menjadi pusat perhatian karena mengumbar tubuhnya.


Benedict keluar dari yacht dengan menggendong wanitanya, sebelum keluar ia meminta Troy dan Richard untuk berbalik, agar kedua lelaki itu tidak melihat istrinya.


Ia menyusuri taman belakang, lalu memasuki mansion, beberapa kali ia bertemu dengan para maid yang sedang membersihkan lorong yang ia lewati,


Benedict menaiki lift untuk sampai di lantai dua, dimana kamar utama terletak, kamar miliknya dan istrinya.


Ia meletakan istrinya dengan hati-hati, ia tak ingin wanita itu bangun,


Setelah itu ia membersihkan diri, ia harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya.


Di ruang kerja yang tak jauh dari kamar utama, bawahannya telah menunggunya, ada hal yang akan mereka bicarakan tentang kembalinya lelaki itu ke dunia bisnis.


Memang selama tiga tahun kebelakang ia tidak sepenuhnya meninggalkan bisnisnya, ia masih sedikit berperan sedikit, meskipun yang  menjadi pelaksananya adalah asistennya.


Banyak hal yang mereka bicarakan hingga dua jam lamanya ia berada didalam ruangan itu.


Keluar dari ruang rapat, di sofa yang tak jauh dari ruangan itu, ada sahabatnya juga ibunya yang telah menunggunya.


Mereka menanyakan keberadaan Ayudia juga tentang rencana dirinya yang akan kembali menikahi wanita itu.


Namun bukannya menjawab, Benedict malah bertanya balik soal keberadaan anak-anaknya,


Dan dari kejauhan kedua anak kembarnya berjalan ke arahnya, tiga tahun lebih ia tidak bertemu dengan buah cintanya itu, keduanya semakin mirip dengan mendiang daddy-nya,


"Ayah...."teriak Aileen, putrinya berlari kearahnya.

__ADS_1


Benedict merentangkan tangannya, untuk memeluk kedua anak kembarnya, namun hanya Aileen yang berlari kearahnya sedangkan Ainsley berjalan santai ke arahnya, Hanya menyalaminya juga mencium tangannya.


"Apa Ainsley tidak ingin memeluk ayah?"tanyanya pada putranya.


"Ain sudah besar Ayah, Ain malu,"jawabnya santai.


"Hug me son," ujarnya pada putranya.


Mau tidak mau, bocah yang sebentar lagi berusia tujuh tahun itu memeluk ayahnya bersama dengan saudara kembarnya.


"Ayah merindukan kalian, ayah takut kalian tidak mengenali ayah, lama sekali kita tidak bertemu,"ungkap Benedict langsung mengangkat kedua anaknya dalam gendongannya.


"Wow... Ayah kuat sekali, tentu kami mengenali ayah kami sendiri, asal ayah tau, bunda selalu memandang foto ayah lama, sepertinya bunda merindukan ayah, tapi kata tuan Troy bunda sedang bersama ayah, benarkah itu?" Ucap Aileen.


Benedict mengangguk, "ya bunda bersama ayah, kami orang dewasa yang saling merindukan, jadi apa yang kalian lakukan selama tidak bersama bunda?"


"Kami bermain disekitar rumah besar yang kata nenek disebut mansion, disini lebih besar dibandingkan dengan rumah yang di kota, lalu ada helikopter juga, apa Ain boleh menaikinya Ayah?"tanya bocah bermata biru itu.


"Tentu saja boleh, apa kalian mau ayah ajak berkeliling menaiki helikopter?"


Keduanya kompak mengangguk, "bagaimana kalau besok setelah pesta, hari ini kalian bermain lagi bersama nenek dan maid dulu, ayah mau ke bunda ya"ujar Benedict


"Apa kami belum boleh ketemu bunda?"


"Besok pagi kalian bisa ketemu bunda ya, besok bunda akan menjadi Ratu yang sangat cantik, apa kalian mau lihat?"


Kedua anak kembar itu mengangguk antusias, "jadi hari ini kalian sama nenek dulu ya!"


Setelah mengatakan hal itu, Benedict mencium pipi kedua anaknya secara bergantian, lalu menurunkannya.


Kedua anak itu berlari ke arah nenek dan paman-pamannya, sedangkan Benedict berjalan menuju ke kamar utama, ia merindukan istrinya.


Ia ingin tidur sambil memeluk wanita yang ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2