Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
empat puluh


__ADS_3

Sudah beberapa hari Benedict mencari istrinya, bahkan setelah mendatangi rumah Samsul di Bekasi, ia hanya bertemu bude dan ketiga adik iparnya, sedangkan Samsul tengah bekerja.


Rumah istrinya juga kosong, Cafe juga sama, ponsel istrinya bahkan tidak aktif.


Benedict hanya berdiam di apartemen, tidak melakukan apapun, berharap jika istrinya segera kembali bersamanya, ia merenung, apa salahnya, sehingga istrinya pergi tanpa pesan bahkan membohonginya.


Ponselnya berbunyi, tertera nama Alex dilayar ponselnya, ia mengangkat panggilan itu.


"Ben, hpnya Ayu udah aktif nih, ke lacak GPS nya,"ucap Alex diseberang sana tanpa berbasa-basi.


"Dimana Lex?"tanya Benedict tak sabar.


"Kayaknya lagi jalan deh ke arah apartemen, mending Lo tunggu di bawah cepetan,"


Mendengar itu, Benedict segera turun menuju lobby, bahkan ia berjalan cepat menuju gerbang apartemen.


Dan benar saja, dari kejauhan istrinya turun dari mobil, Benedict segera berlari menuju ke sisi kemudi dan segera mengetuk jendela kaca dengan keras tanpa mempedulikan istrinya yang kaget melihat kedatangannya tiba-tiba.


"Keluar bangsat," makinya.


Ayudia tentu saja panik melihat kemarahan suaminya, "mas Ben apa-apaan si? Malu dilihat orang,"ucapnya memegangi lengan suaminya.


"Keluar Lo bangsat, sengaja Lo bawa bini gue,"hampir saja Benedict memecahkan kaca mobil dengan tinjunya.


Namun pengemudi itu tiba-tiba membuka pintu mobil dan keluar dari sana, sesosok perempuan paruh baya yang sudah dua belas tahun lamanya tidak ia temui.


Benedict melotot kaget, "ibu"panggilan untuk perempuan yang sudah melahirkannya.


"Maafkan ibu nak,"ucap Anna.


Benedict tanpa sepatah katapun meninggalkan perempuan paruh baya itu, tak lupa ia menggandeng tangan istrinya.


Namun Ayudia melepas paksa genggaman tangan suaminya untuk menghampiri ibu mertuanya, ia mengajaknya untuk mampir ke apartemen, tak lupa meminta sekuriti apartemen untuk memarkirkan mobil mertuanya di parkiran apartemen.

__ADS_1


Benedict hanya diam tak berbicara meskipun istrinya tengah bersama ibu kandungnya.


Ayudia mempersilahkan mertuanya untuk duduk dan membuatkan minuman untuk beliau dan suaminya.


Ada keheningan diantara ibu dan anak yang sudah dua belas tahun tidak bertatap muka, sampai Ayudia duduk disebelah ibu mertuanya, di sana ada Benedict yang duduk di sofa singel.


"Sebelumya ibu minta maaf karena udah membawa istri kamu pergi tanpa meminta ijin sama kamu,"ungkap Anna membuka obrolan.


"Ayu yang ajak ibu kok mas, jadi kalau mau marah, sama Ayu aja, ibu cuman ngikut Ayu aja," ujarnya berharap agar suaminya tidak semakin marah pada ibu kandungnya sendiri.


"Sejak kapan?"tanya Benedict dengan tatapan tajam pada ibunya, "sejak kapan anda mengenal istri saya? Apa anda juga akan melakukan hal yang sama seperti dua belas tahun yang lalu?"ia menghela nafas sejenak, "tapi maaf yang ini tidak akan saya lepaskan sampai kapanpun, meskipun anda berlutut sekalipun,"


"Ibu punya alasan mengapa dulu, ibu memaksa kamu untuk melepaskan Lusi, bukankah kamu tau alasannya?"


Benedict tersenyum miris, "oh ya, saya berterima kasih, karena berkat anda saya bisa lepas dari menantu kesayangan anda bukan,"


"Apa yang dimaksud adalah Lusi Hermawan Bu? Apa mas Ben dulu tidak berniat melepaskan mbak Lusi?"tanya Ayudia menyela.


"Apa kamu mengenalnya nduk?"tanya Anna pada menantunya.


Anna hanya mengangguk, "dulu ibu sengaja meminta Benedict agar memutuskan hubungannya dengan Lusi, karena ibu tau kelakuan perempuan itu bersama Arnold, namun Benedict malah marah pada ibu,"jelasnya.


Ayudia menatap tajam pada suaminya, "oh pantas aja Bu, beberapa Minggu lalu, anak ibu bahkan dengan rela dipeluk dan dicium oleh mbak Lusi didepan istrinya, ternyata Karena cintanya yang begitu dalam,"ungkapnya.


Benedict bangkit ia duduk bersimpuh dihadapan istrinya, "sumpah sayang, aku nggak ada rasa sama dia, aku cuman cintanya sama kamu, dulu aku cuman akting, aku nggak pernah serius sama perempuan itu,"


"Asal ibu tau, bahkan mbak Lusi bilang ingin kembali ke mas Ben, didepan Ayu, dan sepertinya anak ibu yang satu ini nggak keberatan sama sekali,"jelasnya semakin membuat Ben merasa bersalah.


"Apa itu benar Benedict? Kamu mau kembali kepada Lusi," tanya Anna menatap tajam Putranya.


"Sumpah Bu, Ben nggak kayak gitu, Ben cuman cintanya sama Ayu, Tanya Rama, bahkan Ben langsung Mandi dan ganti baju, karena jijik udah disentuh oleh wanita ular itu Bu," Belanya tanpa sadar.


"ay, baik dulu sampai sekarang aku nggak pernah benar-benar cinta sama dia, dulu aku mau jadi pacarnya, karena Arnold suka sama dia, dan Arnold udah rebut ibu dari aku, aku cuman balas dendam doang,"jelasnya membongkar masa lalunya tanpa sadar.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu pukuli Arnold sampai koma?"tanya Anna penasaran.


"Kan cowok kalau mau menyelesaikan urusannya mesti adu jotos dulu Bu, nggak taunya dia lemah, salah sendiri, lagian kenapa dulu ibu nggak bantu obati Ben, malah belain dia? Sebenarnya anak ibu siapa sih?" Ucapnya kesal namun tiba-tiba ia sadar dengan apa yang diucapkannya.


"Wah Bu, benarkan kata Ayu, mas Ben itu sayang banget sama ibu, itu tadi barusan ngomong sama ibu kayak bocil ngadu ke ibunya,"ucapnya tertawa.


Wajah Benedict memerah menahan malu, melihat itu Anna mendekati putranya dan langsung memeluknya, "maafkan ibu nak,"ujarnya dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Benedict membalas pelukan ibunya, semudah itu hanya karena ulah istrinya, amarahnya pada perempuan yang sudah melahirkannya menguap begitu saja, seolah dua belas tahun hidupnya yang berat tak berarti apa-apa.


Keajaiban, sebuah kata yang terlintas pada pikiran Benedict untuk istrinya, ia bersyukur bisa bersamanya.


Ketiganya berbincang-bincang bersama hingga sore menjelang, bahkan Anna sempat makan bersama dengan anak dan menantunya.


"Jadi kemana kamu selama tiga hari sama ibu?"tanya Benedict.


Ayudia yang baru saja merebahkan diri langsung menghadap suaminya, "rahasia, itu biar jadi tempat yang hanya diketahui oleh mertua dan menantunya,"


"Wah kamu nih, oke nggak masalah sih, tapi sejak kapan kamu kenal ibu?"tanyanya penasaran.


Ayudia berpikir sejenak, "beberapa hari sebelum kita akad nikah, itu juga nggak sengaja, terus ibu juga kasih aku sesuatu,"ia mengambil sesuatu di salah satu lemari, ada sebuah kotak kayu.


"Kata ibu, ini diberikan kepada menantu pertama keluarga Wright,"ucapnya menunjukan kotak kayu dan membukanya, ada satu set perhiasan, Benedict mengingat perhiasan yang pernah ibunya pakai saat dirinya masih kecil


"Jadi apa alasan kamu pergi dari aku?"tanya Benedict pada akhirnya.


"Aku merasa nggak pantas punya suami Kaya, ayu kan orang miskin mas, sedangkan kamu orang kaya, baru tau pesawat pribadi sama resort aja, Ayu udah syok, gimana lihat yang lain,"


"Lalu setelah tau tentang aku, apa yang akan kamu lakukan?"


"Ayu mau kabur,"jawabnya santai.


Benedict melotot dan menatap istrinya tajam, "jangan harap kamu lari dari aku, aku akan melakukan apapun supaya kamu tetap sama aku,"

__ADS_1


"Ihhhh takut..."ujarnya bangkit sambil membereskan kotak kayu dan memasukannya kedalam lemari, ia bergegas menuruni tangga, "dadah sayang aku pergi,"


Mendengar itu Benedict panik dan mengejarnya, namun ia mendapati istrinya sedang ada di toilet.


__ADS_2