Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh enam


__ADS_3

Bahagia rasanya Ayudia bisa bebas sejenak dari suaminya yang posesif, perempuan itu mengendarai motor entah kemana, yang jelas ia ingin sendiri sejenak, ia butuh ruang untuk menyendiri.


Motor melaju menuju tempat pemakaman umum yang tak jauh dari pusat bisnis ibukota, Ayudia memutuskan untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya, sudah lama sekali ia tak mengunjungi mereka.


Setelah memarkirkan motor, Ayudia menelusuri jalan setapak diantara makam-makam yang ada di sana, hingga sekitar tiga puluh meter dari pintu masuk ia mendapati makam kedua orang tuanya.


Keduanya dimakamkan dalam satu liang lahat, makam yang terawat dengan baik, semua berkat bibi Atun yang membantunya mengurus prosedur perpanjangan makam, sejak dirinya menikah.


Tertulis nama kedua orang tuanya di batu nisan itu, Ayudia menitihkan air matanya, ia berdoa untuk keselamatan keduanya di alam sana.


Sedang khusyu mendoakan kedua orang tuanya, tiba-tiba ada yang memayunginya, hal itu membuat Ayudia terkejut, ia mendongak, melihat siapa yang datang.


Dan betapa terkejutnya wanita itu, saat suaminya yang datang memayunginya, Ayudia menyeka air matanya, ia heran kenapa suaminya bisa tau, ia ada disini,


"Kok kamu disini?"tanya wanita itu.


"Kenapa kamu mau ziarah nggak bilang aku?"tanya Benedict balik.


"Kenapa kamu malah balik nanya?"


"Nggak penting tau dari mana, tunggu sebentar, aku berdoa dulu untuk mertua aku dulu,"


Benedict diam sejenak untuk mendoakan kedua orang tua istrinya.


Tak mau menunggu, hingga suaminya selesai, Ayudia berlalu meninggalkan lelaki itu, ia berjalan menuju parkiran motor.


Benedict yang menyadari, istrinya sudah meninggalkannya, bergegas menyusul istrinya, ia melihat Ayudia tengah memarkirkan motor, tentu ia tak ingin kecolongan lagi, ia berlari dan saat istrinya hendak menjalankan motor itu dengan sigap, lelaki itu membonceng istrinya.


"Kamu apa-apaan sih, turun nggak?"protes wanita itu pada suaminya.


"Nggak mau, aku mau sama kamu,"jawab lelaki itu sambil memeluk pinggang ramping isterinya.


Ayudia memutar bola matanya malas, "mobil kamu bagaimana?"ujarnya sambil melihat mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.


"Biarin aja,"tutur Benedict santai.


Ayudia menghela nafas, "mas, mobil kamu mahal loh, nggak sayang kalau diambil orang?"


"Nggak, kan bisa beli lagi,"

__ADS_1


"Gini aja deh mas, kamu nyetir mobil, terus aku naik motor ini, kamu ikuti aku dari belakang, aku langsung pulang kok, nggak kemana-mana,"


"Kamu aja yang ikut aku naik mobil, motornya tinggal disini,"


"Aku motor boleh pinjam sama orang rumah, masa aku tinggalin,"


"Ya udah berarti mobil yang ditinggal disini,"


"Bisa nggak sih jangan ngeselin, sehari aja, aku nggak bakal kemana-mana, aku nggak bakal kabur, anak-anak masih di rumah kamu, kalau kamu lupa,"


"Rumah kita Ay, kalau kamu lupa, emang salah kalau aku sebagai suami ingin dekat sama istrinya?"


"Mas, aku juga pengin me time, sejam aja, aku pengin keliling kota, kan sebentar lagi kita bakal pergi lama dari sini,"


"Kenapa nggak sama aku aja?"


"Kalau sama kamu namanya bukan me time mas,"


"Kamu ingat, saat aku biarkan kamu pergi sendiri, kamu malah ketemu sama cinta pertama kamu hingga lupa waktu, aku nggak akan biarkan itu terjadi lagi,"


"Kan itu nggak sengaja mas, itu juga udah dua tahun yang lalu, kenapa masih dibahas sih, lagian sekarang kan kamu tau, aku sayangnya cuman sama kamu,"


Bukanya tidak bersyukur, namun Ayudia tak menyangka, suaminya akan semudah itu melepaskannya.


Setelah memastikan suaminya pergi terlebih dahulu, Ayudia baru beranjak dari sana.


Ayudia berencana untuk mengunjungi salah satu sahabatnya yang rumahnya tak jauh dari makam.


Sahabat yang sejak lulus SMA tak pernah ia temui dikarenakan, sahabatnya lebih memilih kuliah dikampung halaman orang tuanya, berlanjut bekerja di sana.


Amara namanya, belum lama, Amara menghubunginya melalui media sosialnya, mengajaknya bertemu karena gadis itu akan tinggal kembali di kota ini.


Sama seperti dirinya, Amara tinggal di pemukiman padat, tak jauh dari tempat pemakaman umum.


Ayudia harus memasuki jalanan yang hanya bisa dilalui satu motor untuk menuju rumah Amara.


Ibu dua anak itu mengetuk pintu kayu berwarna cokelat, tak lupa mengucapkan salam, ada jawaban salam dari dalam rumah, tak lama pintu terbuka.


Seorang gadis yang seumuran dengannya, mengenakan pakaian serba panjang dan jilbab instan yang menutupi kepalanya, Ayudia memeluk sahabat lamanya erat, "gue kangen banget sama Lo Ra,"ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Apalagi gue di, udah lama banget kita nggak ketemu,"sahut Amara sembari melepaskan pelukan mereka, gadis itu mempersilahkan sahabatnya untuk masuk kedalam rumahnya.


Mereka mengobrol tentang kehidupan yang mereka jalani sejak kelulusannya, namun lebih banyak Amara yang bercerita, Ayudia hanya menjawab ketika ditanya.


Dari cerita itu Ayudia tau bahwa sahabatnya berencana akan tinggal lagi di ibukota, kedua orang tuanya telah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan, sedang kakak-kakaknya telah berumah tangga, ada yang menetap di kampung, ada juga yang merantau ke pulau Borneo, semua kakaknya sudah menikah.


Dari cerita itu juga, Ayudia jadi tau, jika sahabatnya dua kali gagal menikah, pertama saat baru lulus kuliah, calon suaminya ketahuan menghamili wanita lain, kedua sekitar tiga tahun yang lalu, saat hendak melakukan akad nikah, ternyata calon suaminya adalah seorang pria beristri.


Sepertinya Amara trauma dengan yang namanya pernikahan, Ayudia mencoba menenangkan sahabatnya yang menangis menceritakan kisahnya.


Amara juga bercerita jika dia sudah beberapa kali mengajukan lamaran ke perusahaan besar, namun belum ada respon Satupun, beberapa bulan ini ia menganggur tidak ada pemasukan, beruntung kakak-kakaknya mengiriminya uang untuk biaya hidup sementara.


Sore itu, Ayudia mengajak sahabatnya untuk memakan bakso langganan mereka dulu, saat keduanya masih berseragam putih abu-abu.


Ayudia sempat tertegun melihat penampilan berbeda saat sahabatnya hendak pergi bersamanya.


Amara mengenakan setelan gamis dan pasmina berwarna maroon, "ngapa Lo jadi cantik banget si Ra? Gue jadi iri sama Lo,"puji Ayudia pada sahabatnya.


"Bisa aja Lo di, Lo mau gue pinjemin gamis sama pasmina gue?"tawar gadis itu.


"Emang boleh Ra?"


Amara mengangguk dan mengajak sahabatnya menuju kamarnya di lantai dua rumahnya.


Gadis itu memilihkan gamis dan warna Navy untuk Ayudia, ia masih ingat sahabatnya menyukai warna biru.


Ayudia tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya, ia melihat dirinya sangat berbeda dengan penampilan baru itu, "Masya Allah, Lo cantik juga di, kalau pakai jilbab,"puji Amara.


Dipuji cantik oleh sahabatnya membuat wajah Ayudia bersemu merah, "Ra, ini gue beli aja ya, kayaknya gue makin pede kalau pakai ini,"


"Ini bekas di, ngapain dibeli segala, gue kasih buat Lo deh, gratis anggap aja hadiah,"


"Serius Lo, ya udah nanti baksonya biar gue yang traktir,"


"Di, nggak mungkin banget Lo traktir gue, Lo kan pelitnya nggak ketulungan,"


"Gue nggak pelit Ra, gue hemat,"


"Apa kata Lo deh, yuk jalan , udah sore nih,"

__ADS_1


Keduanya beranjak dari rumah Amara menuju warung bakso.


__ADS_2