
Baru sempat menyentuh gagang pintu, tubuh wanita itu sudah dipeluk lelaki itu, "jangan gila kamu Ayudia, aku nggak akan biarkan kamu,"
Ayudia berusaha melepaskan lilitan tangan besar lelaki itu, "lepas brengsek,"makinya.
"Nggak akan aku biarkan kamu pergi dari aku,"Benedict tetap dengan pendiriannya.
Ayudia sadar ia tak mungkin bisa lepas dari lelaki itu, tenaganya terlalu kuat untuknya, ia menghela nafas, cukup lelah juga jika melawan dengan perbedaan fisik yang jauh.
"Sampai kapan kamu mau peluk aku begini, aku pegel, sesak juga, lengan aku pasti udah merah,"ujar wanita itu berbicara lembut.
Benedict membalikan tubuh istrinya ia mencengkram kedua rahang wanita itu kuat, ia menatap tajam, bukan tatapan penuh cinta, tapi tatapan amarah terpancar dari mata itu.
"Dengar baik-baik ucapan aku Ayudia, tanamkan di otak kecil kamu, kamu itu milik aku, Ayudia milik Benedict sampai kapanpun, nggak akan aku biarkan kamu pergi dari aku,"usai mengatakan hal itu, lelaki itu mencium bibir wanita itu kuat, bahkan menggigitnya, hingga terasa ciuman itu bercampur rasa anyir.
Ciuman yang biasanya penuh cinta diakhiri hasrat, kini tak ubahnya, ciuman kemarahan dari lelaki itu, hingga Ayudia tak sanggup lagi merasakan rasa sesak akibat hampir kehabisan nafas, dengan sisa tenaga yang tersisa, wanita itu mendorong kuat lelaki itu dan ... Plak....
"Brengsek... Lo pengen bunuh gue, sakit jiwa Lo, nyesel gue udah milih Lo, tau gitu gue nggak usah balik lagi kesini..... "Makinya, dan dilanjut dengan cacian seisi penghuni kebun binatang,
"Lo nggak mikir, Lo udah berapa kali nyakitin gue? Lo nggak ingat waktu kita baru nikah Lo di peluk dan cium sama mantan tercinta Lo, gue diem, pas Lo bela-belain babak belur di depan mantan Lo, emang Lo pikir hati gue nggak sakit? Gue cuman bisa diem,"Ayudia benar-benar ingin mengungkapkan apa yang ia pendam selama ini.
"Bahkan Lo udah tau dulu gue nggak cinta sama Lo, tapi dengan liciknya Lo malah melakukan hal itu sebelum kita nikah, yang buat gue nggak bisa punya pilihan lain selain milih Lo, dan sekarang Lo marah hanya karena Lo lihat gue di peluk sama cowok yang bahkan belum pernah resmi jadi pacar gue? Egois tau nggak Lo!"
Benedict terdiam mendengar makian istrinya.
"Dan sekarang setelah gue berusaha meminta maaf karena udah buat salah, Lo malah mengancam gue? Mentang-mentang Lo kaya, Lo bisa seenaknya sendiri sama perempuan miskin kayak gue, nggak bisa, Lo nggak bisa nyakitin gue terus, kalau memang Lo mau ngajak pisah, nggak usah nunggu setahun, kelamaan, sekarang aja kita pisah, toh dengan gampang Lo bisa dapet cewek yang lo mau, tapi bukan gue,"
"Nggak bisa gitu Ayudia, kamu nggak akan aku lepaskan, kamu istri aku, kamu milik aku,"
"Apa Lo tuli? Gue udah nggak mau jadi istri lo lagi, gue udah capek dengan segala aturan Lo, Lo posesif, Lo terlalu membatasi gue, padahal gue sadar diri dan berusaha nurut sama Lo! Tapi hanya karena seharian gue pergi ke rumah Tante Arini Lo marah? Hanya karena gue di peluk dan di cium dahinya sama Dikta
Lo marah, terus apa kabar perasaan gue saat di depan mata kepala gue sendiri bibir Lo di ***** sama mantan pacar Lo, bukan cuman sekali kalau Lo lupa, Bahkan dia pernah bahas urusan ranjang, apa Dikta pernah bahas urusan ranjang sama Lo? Dikta Bahkan hanya peluk dan cium dahi gue, sebatas itu sama kayak mas Samsul kalo ketemu gue, sedangkan Lo?"
"Lo bahkan yang udah cium bibir gue pertama kalinya, Lo juga yang udah mengambil keperawanan gue kalau Lo lupa, tapi gue???? Bagaimana dengan Lo? Apa gue pernah mempermasalahkan Lo masih perjaka apa nggak saat pertama kali gituan sama gue?"
"Dan sekali lagi hanya karena Dikta memeluk dan mencium dahi gue Lo udah ada niat ninggalin gue? Dasar egois, brengsek....." Ayudia mengeluarkan semua sumpah serapahnya.
__ADS_1
Seumur hidupnya, baru kali ini, Ayudia sampai memaki orang hingga seperti ini, apalagi lelaki itu adalah suami sekaligus ayah dari anak-anaknya, puncak dari segala amarahnya.
Benedict melotot kaget, untuk pertama kalinya ia dicaci maki oleh seorang wanita dan itu adalah istrinya sendiri.
Tak banyak bicara, Ayudia memasuki kamar mandi tak lupa menguncinya, ia menangis sejadi-jadinya dibawah guyuran shower, ia tak mempedulikan apapun, yang ia inginkan hanya menangis, memaki dirinya sendiri, sesak sekali rasanya, rumah tangga yang bahkan dulu tak pernah ia impikan, sekarang harus seperti ini, kalau boleh jujur, memang benar ia masih mencintai Pradikta, karena mau bagaimanapun lelaki itu cinta pertamanya, disebagian hatinya jelas masih terukir nama lelaki itu, apalagi lelaki itu luar biasa baik padanya, tak pernah sekalipun lelaki itu mengecewakannya, hanya saat karena lelaki lebih melanjutkan studi diluar kota, lelaki itu membuatnya patah hati.
Berbeda dengan Benedict, suami serta ayah dari anak-anaknya, memang benar ia sampai saat ini belum sepenuhnya mencintai lelaki itu, layaknya tanaman yang baru mulai menyemai, berkali-kali bibit itu diberi racun oleh suaminya sendiri, sehingga cintanya tak bisa tumbuh layaknya benih tanaman yang subur, tapi ia lebih memilih bersama dengan lelaki itu, bukan karena apa yang lelaki itu punya, tapi rasa nyaman dan merasa dibutuhkan yang membuatnya lebih memilih bersama suaminya juga karena lelaki itu adalah ayah dari anak-anaknya.
Andai lelaki itu tau, sebesar apa rasa sayangnya pada lelaki itu, mungkin hal ini tak akan terjadi, tapi ternyata lelaki itu malah menyakitinya lagi.
Ayudia hanya bisa menjerit, seraya membiarkan guyuran shower yang dingin membasahi tubuhnya, seraya membenturkan dahinya ke tembok kamar mandi.
Terdengar ada gedoran diluar sana, tapi Ayudia tak peduli, ia tak ingin orang lain tau betapa ia sangat bersedih, ia kecewa pada dirinya sendiri.
Tubuhnya mulai menggigil kedinginan, namun wanita itu tak peduli, beberapa saat kemudian tubuhnya tumbang, bersamaan dengan teriakan mertuanya.
Sebelum menutup matanya, ia melihat wajah panik lelaki itu juga ibu mertuanya,
Matanya tertutup namun telinganya mendengar permintaan maaf berkali-kali dari lelaki itu, dan setelahnya ia tak bisa merasakan apapun.
Entah apa yang membuat wanita itu tak kunjung bangun dari tidurnya, betah sekali mata itu terpejam, sudah berhari-hari, wanita itu koma.
Saat pertama kali ditemukan dibawah guyuran shower air dingin, juga dahinya yang terus mengucurkan darah segar.
Benedict dan Anna panik bukan kepalang, mendapati keadaan wanita itu dengan tubuh mulai membiru,
Permintaan maaf berkali-kali Benedict ucapkan, lututnya lemas seketika melihat keadaan istrinya, karena ulahnya lagi, istrinya tak sadarkan diri.
Bahkan saat perjalanan ke rumah sakit ia tak mampu mengendarai mobilnya, seluruh tubuhnya lemas, ia memeluk istrinya yang tubuhnya telah kaku tak bergerak, denyut nadinya lemah sekali.
Setiba di rumah sakit, dokter langsung menanganinya, bermenit-menit berlalu Benedict hanya bisa menunggu kabar dari dokter di dalam sana.
Pandangan lelaki itu kosong, bajunya yang basah tak ia pedulikan, panggilan dari ibunya dan sahabatnya tak ia pedulikan, seakan telinganya tuli.
Hingga dokter keluar dari ruang UGD, memanggil wali dari pasien, Benedict bangkit menghampiri dokter yang menangani istrinya,
__ADS_1
Dokter mengatakan, istrinya mengalami hipotermia, juga ada beberapa jahitan di dahinya tadi pasien sempat kejang hebat, hingga tak sadarkan diri, dokter menyarankan untuk ditempatkan di ruangan ICU, karena detak jantungnya sangat lemah.
Mendengar hal itu Benedict jatuh terduduk, ia lemas, sekali lagi karena ulahnya, istrinya menderita.
Hingga selama beberapa hari istrinya tak kunjung sadarkan diri, lelaki itu terus mendampinginya.
Benedict berniat membawa istrinya untuk pergi berobat ke Amerika, namun Anna mencegahnya, di sana tidak ada yang menjaganya, sementara lelaki itu harus memenuhi tanggung jawab pekerjaannya.
Dengan terpaksa Benedict meninggalkan istrinya yang tengah koma, ia berangkat ke pulau dimana ia akan membangun sebuah resort milik salah satu pengusaha kaya asal timur tengah.
Walau jauh di sana Benedict selalu memantau kondisi istrinya.
Tak ada perkembangan berarti, istrinya masih tertidur lelap di atas ranjang rumah sakit.
Secara bergantian Anna, Marini, dan bibi Atun menjaga Ayudia, mereka menceritakan perkembangan Ainsley dan Aileen,
Menurut dokter, meskipun wanita itu tertidur ia bisa mendengarkan semua suara yang ada disekitarnya,
Terkadang saat salah satu dari ketiga wanita paruh baya itu menceritakan tentang si kembar yang menangis memanggil bundanya, ada air mata keluar dari sudut mata wanita itu.
Sahabat Benedict tak ketinggalan, menyempatkan diri untuk menjenguk, mereka bercerita tentang hal remeh temeh yang mereka alami, seperti dulu saat Ayudia masih bekerja di cafe, dimana dulu sering sekali mereka curhat tentang kehidupan percintaannya.
Seperti Rama yang menceritakan, jika istrinya tengah mengandung juga mengidam hal-hal yang cukup merepotkan dirinya.
Alex yang bercerita bahwa Sandra sudah resmi bercerai dengan suaminya.
Ada Oscar yang berniat melamar Anin, ketika gadis itu lulus kuliah, lelaki itu tengah membantu Anin dalam menyusun skripsi, saat mendengar nama Anin jari-jari Ayudia sempat bergerak.
Nando yang berkali-kali meminta maaf pada wanita itu, karena ulah jahilnya, Ayudia bertengkar dengan suaminya, ia juga mengatakan, jika dirinya telah melamar Amara, dan gadis itu menerima lamarannya.
"Kalau sampai Lo nggak bangun juga, gue perawanin Amara sebelum nikah," mendengar hal itu, wanita itu mengeluarkan air mata meskipun matanya masih terpejam.
Juga ada Samsul yang bercerita akan segera menikah dengan tetangga sebelah kompleks rumahnya.
Terakhir ada Natasha yang dikejar-kejar oleh laki-laki berseragam putih abu-abu.
__ADS_1
Semuanya berharap supaya Ayudia cepat bangun dari tidur panjangnya.