Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh tujuh


__ADS_3

Ayudia melajukan motornya menuju penjual bakso langganannya dulu, sepanjang perjalanan, Amara bercerita tentang rencana kedepannya.


Sampai di penjual bakso, mereka memesan dua porsi seperti yang biasa mereka lakukan dulu.


Mereka juga duduk ditempat dimana keduanya duduk dulu saat masih mengenakan seragam putih abu-abu,


"Di, dari tadi gue Mulu yang cerita soal hidup gue, Lo gimana? Sorry ya pas bokap Lo nggak ada, gue nggak ada di samping Lo,"ujar Amara merasa bersalah.


"Nggak apa-apa Ra, gue ngerti,"


"Terus Anin sama si kembar gimana?"


"Anin lagi kuliah semester tujuh, kalau si kembar masih di pondok, tahun depan baru lulus,"


"Terus hubungan Lo sama Dikta gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana Ra, terakhir gue ketemu sekitar dua tahun yang lalu, gue main kerumahnya ketemu Tante Arini,"


"Kirain Lo bakal nikah sama dia, abis kayaknya Lo berdua cocok banget,"


"Belum jodoh Ra, mau gimana lagi,"


Obrolan mereka terhenti, ketika bakso yang mereka pesan telah datang,


Keduanya masing ingat selera masing-masing, Ayudia lebih suka bakso dengan rasa pedas asem asin, sedangkan Amara lebih suka bakso dengan rasa pedas manis asem.


"Kirain makin tua Lo ngurangin asin di,"celetuk Amara yang melihat sahabatnya menambahkan garam pada kuah baksonya.


"Kita belum sampai tiga puluh Ra, kalau Lo lupa,"


Keduanya mulai menikmati bakso itu sambil mengobrol, "jadi sekarang apa kesibukan Lo?"tanya Amara.


"Jadi babu,"jawab Ayudia asal.


"Bokis banget Lo,"ujar Amara tak percaya.


"Serah Lo Ra, seminggu lagi gue bakal jadi TKW selama setahun,"


"Yah Lo Di, masa gue udah balik kesini, Lo malah cabut sih,"


"Ya gimana, Lo kan tau gue butuh duit banyak, tau sendiri kan bayar kuliah mahal, apalagi ada si kembar yang mondok,"


"Iya juga sih, emang Lo jadi TKW, bakal kerja apaan?"


"Jadi babu Amara,"


"Kok gue merasa Lo lagi bohongin gue ya!"


"Mau percaya sukur nggak ya udah, btw Lo kuliah jurusan apa si? Gue lupa?"


"Gue jurusan akutansi, kenapa? Lo ada info lowongan?"


"Coba gue tanya-tanya ke kenalan gue,"


Saat keduanya asik mengobrol tak berapa lama, ada dua pria masuk ke warung bakso, yang membuat Amara menepuk tangan sahabatnya, sehingga Ayudia kaget dan bakso yang hendak ia masukan ke mulut menjadi jatuh.


" Gila Lo Ra, gue lagi makan ini, ngapain ngagetin segala sih?"protes ibu dua anak itu.


"Di...di... Ada cogan mau makan bakso,"ujar Amara dengan pandangan berbinar-binar.


"Udah tua masih mikirin cogan, ingat Lo udah ketipu dua kali gara-gara cogan,"ucap Ayudia memperingati sahabatnya.

__ADS_1


"Di, dia jalan kemari, kok gue deg-degan ya,"


"Norak Lo,"


Ada dua laki-laki tampan memasuki penjual bakso itu, keduanya terlihat bingung, celingak-celinguk mencari sesuatu,


Salah satu dari mereka memesan dua porsi bakso, dan yang satu lagi berjalan sambil melihat ponselnya.


Hingga ia mendapati satu titik yang terlihat di layar ponselnya, ia duduk disamping wanita berjilbab navy,


Sedangkan temannya tadi membawa sendiri nampan bakso pesanan keduanya.


Ayudia kaget saat ia menoleh, ada lelaki yang sangat dikenalnya duduk disampingnya, juga ada satu lagi pria yang duduk disebelah Amara.


Jadi ini laki-laki yang dibilang cogan oleh sahabatnya.


Amara mendekat pada Ayudia sembari berbisik, "di, gue mimpi apaan semalem, ketemu cowok ganteng dan wangi parfumnya Ampe bisa gue cium,"


Ayudia tak menanggapi, ia memasang wajah kesal dan melirik sebelahnya, juga menatap tajam laki-laki disebelah Amara.


Setelahnya, ia melanjutkan menyantap bakso yang ada dihadapannya.


Lelaki itu dengan santai meminum minuman milik Ayudia, karena temannya lupa memesankan minuman untuknya, hal itu membuat Amara melotot dan menegurnya,


"Mas, maaf itu minuman punya teman saya, kok diminum, kan nggak sopan,"


Benedict hanya melirik sekilas tak menanggapi protes dari sahabat istrinya.


"Kayaknya tambah cantik ya Ben, kalau di pakai jilbab,"ujar lelaki yang tak lain adalah Nando.


"Iya nih, jadi makin pengen gue sembunyikan,"sahut Benedict menanggapi.


"Mas, kok diulang lagi sih, itu minuman punya temen saya,"protes gadis dengan pasmina maroon.


"Wah Ben, kayaknya temennya boleh buat gue nih, nggak kalah cantik, kira-kira boleh nggak kalau gue deketin,"celetuk Nando.


"Nggak usah macem-macem A,"sahut Ayudia tak terima.


"Gue seriusin yu, Soleha begini, nyokap gue bakal setuju kalau sama yang tipe kayak gini,"ucap Nando menimpali.


"Tapi Ayu nggak ikhlas ya,"


"Kalau dia mau gimana dong, iya nggak teteh meni geulis pisan, boleh kenalan nggak?"tanyanya pada gadis disampingnya.


Amara yang merasa ditanya, tersedak seketika, mendapat pertanyaan dari lelaki tampan disebelahnya.


Nando menepuk punggung, gadis itu, namun ditepis oleh Amara, "maaf anda bukan mahrom saya, jangan sembarang menyentuh saya,"ucapnya kesal.


"Wah yu, yang ini nggak bakal gue lepas nih,"


"A jangan macem-macem,"


"Serius gue yu, bentar-bentar gue video call nyokap dulu,"


Nando mengambil ponselnya, ia hendak melakukan video call,


"Assalamualaikum mi," ucap Nando sambil melambaikan tangan pada ponsel mahalnya.


Walaikumusalam Do, ada apa?"ujar wanita dari seberang sana.


"Mi, AA mau tanya, kalau mantu umi, model begini, umi bolehin Nando nikah nggak?"lelaki itu mengarahkan layar ponselnya pada Amara yang sedang menyuapkan bakso ke mulutnya,

__ADS_1


"Meni geulis pisan A, hayuk jadiken, umi setuju sama yang ini,"


"Iya mi, ini lagi usaha, doain ya mi, Assalamualaikum,"


Setelah mendapatkan salam dari uminya, Nando mengakhiri panggilan videonya.


"Denger kan Ayu, nyokap gue udah setuju,"


"Grecep amat A, emang AA udah tau namanya?"


"Teteh geulis namanya siapa?"tanya Nando menjulurkan tangannya, namun gadis disampingnya hanya menangkupkan kedua tangannya.


"Saya Amara, sahabatnya Dia,"jawabnya.


"Apa Amara udah punya pacar atau suami?"tanya Nando lembut.


Benedict tak mempedulikan usaha sahabatnya dalam mendekati sahabat istrinya, lelaki itu terus menikmati makanan yang ada dihadapannya.


"Saya nggak pacaran A,"


"Ya udah nikah aja yuk,"ajak Nando tiba-tiba.


"A, yang romantis kalau melamar cewek, masa di tukang bakso,"


"Emang waktu Ben ngelamar Lo dimana? Bukannya cuman di apartemen sama aja kali,"


"Itu karena kepepet,"kilah Ayudia.


"Mas kamu nggak pengen belain aku? Si AA ngeselin,"protes Ayudia pada suaminya yang sedari tadi diam saja.


Benedict mengelus kepala istrinya yang tertutup pasmina lalu mencium keningnya lembut, "kamu minta aku apakan Nando? Apa mau dikirim ke Afrika seperti setahun yang lalu? Atau mau dikirim ke Alaska?"


"Si Ayu, minta belain si bos, nggak asik Lo, Ben masa gue usaha kaga boleh sih, gue lagi nyari calon bini nih biar bisa besanan sama Lo,"ujar Nando.


Semua pembicaraan ketiganya, membuat Amara bingung tapi tak berani bertanya, sampai Ayudia ingat belum mengenalkannya pada sahabatnya.


"Ra, sorry gue lupa, kenalin yang di sebelah gue itu mas Ben suami gue, dan yang disebelah Lo itu Aa Nando sahabatnya suami gue,"


"Kok Lo nggak cerita Lo udah nikah?"


"Ini gue cerita Ra,"


"Kenapa nggak dari tadi Di?"


"Lo kan nggak nanya soal status gue, "


"Ya Lo ceritain Dia, hal begini Lo nggak mau cerita sama gue,"


"Lo dari tadi nggak nanya Amara,"


"Lo dari tadi nggak cerita sama gue Dia,"


Tiba-tiba Nando menyela, "tunggu deh neng Amara, kenapa sedari tadi manggil Ayu dengan nama Dia?"


"Itu panggilan sayang buat Ayudia, biar beda aja sama yang lain, biar Dia ingat sama Amara ya nggak Di, kaya Dikta manggil Ayu pakai panggilan sayang Ay,"ungkap Amara polos, hal itu membuat ketiganya melotot dengan maksud berbeda.


Nando kaget mengetahui itu, ia berharap sahabatnya tidak ngamuk, sedangkan Ayudia kaget dan berharap suaminya tidak ngamuk, lalu Benedict kaget, ternyata bukan dia satu-satunya lelaki yang memanggil Ayudia dengan panggilan Ay.


"Di, gue salah ngomong ya, sorry gue keceplosan, maaf ya mas Ben, saya nggak bermaksud,"ucap Amara tak enak.


Benedict hanya diam tak menanggapi.

__ADS_1


__ADS_2