
Entah apa yang harus dilakukan oleh Benedict ketika tepat didepannya, istrinya dipeluk dan dicium keningnya oleh lelaki lain, yang ia sangat tau bahwa keduanya saling mencintai.
Ia bisa melihat bagaimana istrinya terlihat masih mencintai Pradikta, tak ada perlawanan dari wanita itu saat tubuhnya dipeluk dan keningnya dicium.
Padahal pernah beberapa kali istrinya menolak ketika ia memeluknya.
Benedict menatap istrinya dengan tatapan kecewa, didepan matanya istrinya mengkhianatinya, padahal istrinya tau dia benci pengkhianatan.
Apa istrinya sengaja melakukannya?
Apa istrinya sengaja membuatnya marah?
Apa istrinya ingin agar ia melepaskannya?
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Itulah pertanyaan yang ada dibenak Benedict, apa dengan memiliki dua anak, tidak bisa membuat istrinya mencintainya, sebesar rasa cinta yang ia berikan.
Setelah ojek yang dipesan Pradikta datang, dan lelaki itu pergi, Ayudia datang menghampiri suaminya.
Wanita itu memeluk lengan Benedict, dan mengajaknya berjalan memasuki rumah.
Tak ada pembicaraan apapun hingga keduanya memasuki kamar tidur mereka.
Ayudia memasuki kamar mandi, sekitar sepuluh menit, wanita itu keluar dengan handuk melilit ditubuh dan kepalanya.
Benedict hanya diam menatap istrinya yang memasuki walk in closed, terdengar suara hair dryer dari sana, lelaki itu bangkit untuk membantu wanita itu mengeringkan rambut, hal yang selalu menjadi kebiasaannya, seolah alam bawah sadarnya memerintahkan hal itu.
Setelah memastikan rambut istrinya kering, Benedict keluar dari sana menuju ranjang, ia merebahkan dirinya membelakangi istrinya.
Tak lama, ada tangan yang melingkar di perut lelaki itu,
"Maaf untuk semua yang aku lakukan hari ini,"ucap Ayudia membuka pembicaraan, ia tau lelaki itu sedang menahan amarahnya.
Tak ada tanggapan apapun dari Benedict, lelaki itu menutup matanya, namun pertanyaan tadi yang muncul dibenaknya, kini muncul kembali.
Rasanya ingin menyerah, ia ingin berhenti mencintai istrinya, tiga tahun pernikahannya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, benar kata Pradikta, ia hanya memiliki fisik dari istrinya, ia tau istrinya sayang padanya hanya karena ia suami dan ayah dari anak-anaknya, bukan cinta antara lawan jenis.
Istrinya pernah mengatakan, saat wanita itu belajar mencintainya, ia malah mengkhianatinya, juga saat dua tahun lalu ia menyakiti fisik maupun psikis istrinya.
Apa istrinya masih belum memaafkan dua kejadian dulu secara tulus?
__ADS_1
Apa lelaki seperti dirinya tak layak mendapatkan cinta dari orang yang sangat ia cintai?
Segala pencapaiannya di usia yang masih tergolong muda tak berarti apapun untuk istrinya.
Ia tampan, ia kaya raya, ia masuk lima puluh orang terkaya di dunia tapi semua itu tak ada artinya, ia tak mendapatkan cinta istrinya.
Mungkin sebagian orang mengatakan dirinya bodoh, mau menikahi wanita yang jelas tidak memberikan cintanya, padahal untuk ukuran lelaki seperti dirinya, ia bisa mendapatkan wanita manapun yang ia inginkan.
Namun lagi-lagi sudut hatinya berkata, ia harus mempertahankan wanita itu, tempatnya untuk pulang dari segala kerumitan dunia, wanita selain ibunya, ibu dari anak-anaknya.
Mata lelaki itu berkaca-kaca, rasanya sesak sekali, dadanya sakit
Air mata keluar begitu saja dari sudut matanya, entah mengapa ia tak bisa mengendalikannya,
Sekali lagi ia menangis karena istrinya, sebegitu besar cintanya kepada wanita itu,
Ayudia menyadari suaminya tengah menangis, ia semakin mengeratkan pelukannya, dan membisikan kata-kata maaf.
"Apa sesulit itu kamu buat mencintai aku Ayudia?"tanya Benedict lirih.
"Apa aku tidak layak mendapatkan cinta dari kamu?"
"Apa keberadaan anak-anak tak juga membuat kamu belajar mencintai aku?"
"Apa lagi yang harus aku lakukan Ayudia supaya kamu bisa mencintai aku?"
"Apa aku harus menyerah sekarang?"
"Apa aku harus melepaskan kamu? Agar kamu bisa bersama dengan dia, agar kamu bisa bahagia,"
"Kasih tau aku Ayudia, apa yang harus aku lakukan? Hati aku sakit, aku sesak, di depan mata aku kamu berpelukan dengan laki-laki yang kamu cintai, aku cemburu Ayudia, aku laki-laki yang harga dirinya sedang diinjak-injak oleh istrinya sendiri dan lelaki lain,"
"Kasih tau aku apa yang harus aku lakukan?"
Hening melanda di kamar besar itu, hanya Isak tangis yang keluar dari suami istri itu.
Ayudia masih memeluk erat suaminya, ia tak berniat untuk melepaskannya,
Wanita itu menarik tubuh suaminya itu menghadapnya, keduanya bertatapan.
Ayudia menghapus air mata di pipi suaminya, lalu ia mencium kening itu lembut, seolah mengungkapkan rasa sayangnya kepada ayah dari anak-anaknya.
__ADS_1
Lalu ciuman dikedua mata lelaki itu, mengungkapkan bahwa wanita itu selalu setia pada suaminya.
Terakhir Ayudia mengecup bibir suaminya, lalu **********, belum ada balasan dari lelaki itu,
Wanita itu memasukan lidahnya kedalam mulut suaminya, belum juga mendapat balasan dari suaminya, lelaki itu hanya diam.
Ayudia melepaskan tautan bibir itu, ia menatap mata suaminya, dari tatapan itu seolah menggambarkan, rasa cinta yang begitu besar sekaligus kekecewaan terselip di sana.
Ayudia menyentuh pipi lelaki itu lembut, "maaf," satu kata, yang sedari tadi terucap dari bibir wanita itu.
"Ayudia, aku beri waktu kamu untuk berfikir, apa kamu masih mau bersama aku dan anak-anak, atau kamu pergi dari sini, dan mungkin kamu memilih dia, aku pergi mungkin setahun aku baru kembali dan setelah setahun nanti aku akan bertanya lagi tentang pertanyaan yang sama, aku harap kamu berfikir dengan baik selama aku pergi,"Benedict akhirnya mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan isi hatinya.
Ayudia menggelengkan kepalanya, "aku nggak akan memilih apapun,"ungkapnya.
Benedict bangkit dari ranjang ia duduk disisi ranjang dan menatap istrinya, "apa maksud kamu? Apa kamu mau jalani rumah tangga yang tak didasari cinta? Bukankah kamu tersiksa karena tidak mencintai suami kamu? Aku beri kamu waktu Ayudia, untuk memilih, aku akan terima apapun keputusan kamu, sepulang aku dari pulau, aku akan melepaskan kamu jika kamu ingin lepas dari aku, aku nggak akan memaksa kamu untuk ada disisi aku, apa perlu kita buat surat perjanjian?"
Ayudia yang bangkit duduk berhadapan dengan suaminya, wanita itu langsung memeluk lelaki itu erat, "aku nggak akan memilih apapun,"
Benedict melepaskan pelukan istrinya, "apa maksud kamu? Apa kamu mau tetap menikah dengan aku sementara hati kamu untuk lelaki lain? Nggak bisa Ayudia, aku ini laki-laki, dimanapun laki-laki tak suka berbagi dengan laki-laki lain termasuk hatinya, aku kasih waktu kamu satu tahun untuk merenung, aku tunggu jawaban kamu sepulang aku nanti," setelah mengatakan itu, Benedict bangkit, dan berjalan menuju ruang kerjanya, sepertinya lelaki itu butuh wine untuk pengalihan.
Namun belum sampai pintu penghubung itu, tubuhnya dipeluk dari belakang, itu istrinya, wanita itu mengatakan kata maaf berulangkali.
Benedict melepaskan pelukan itu, ia menghadap istrinya, ia menunduk, lalu menatap wanita itu tajam, "kata maaf nggak bisa mengembalikan segalanya Ayudia, kamu mengkhianati aku didepan mata aku,"
Ayudia menatap tak kalah tajam, "bagaimana dengan kamu? Bukankah kamu pernah melakukan hal yang lebih parah dari aku? Aku hanya di peluk dan dicium keningnya oleh Dikta itu cuman sekali, bagaimana dengan kamu dan mbak Lusi? Apa kamu bisa bayangkan bagaimana saat itu perasaan aku? Berapa kali kamu dipeluk dan dicium, bukan di kening, tapi di pipi bahkan bibir kamu, aku diam kan? Saat kita baru menikah, kamu malah bertunangan dengan wanita lain, apa itu nggak disebut mengkhianati?"
"Tapi aku nggak pakai perasaan sama mereka, sedangkan kamu? Kamu mencintai dia Ayudia, itu yang jadi masalahnya,"
"Apa kamu bisa baca pikiran aku? Nggak usah sok tau kamu,"
"Kamu terlihat menikmati saat dia peluk dan cium kening kamu,"ucap Benedict tak mau kalah.
Ayudia menyunggingkan senyumannya miris, "Benedict Lo nggak tau apapun soal gue, jadi nggak usah sok tau, kalau Lo emang pengin kita pisah, oke nggak usah nunggu setahun, saat ini kita pisah juga bisa, gue nggak peduli, yang penting, anak-anak ikut gue,"ucapnya kasar.
Benedict melebarkan matanya, mendengar ucapan kasar keluar dari mulut istrinya, "nggak bisa Ayudia, kamu nggak bisa bawa anak-anak, mereka anak-anak aku, kalau kamu mau pisah, tunggu satu tahun lagi aku kembali,"
"Kelamaan mending sekarang kita pisah aja,"
"Apa kamu mau kembali sama dia?"
"Kalau iya kenapa? Masalah buat Lo? Ini mau Lo kan? Gue bersatu sama orang yang menurut Lo, gue cintai, jadi nggak usah nunggu setahun, gue tau Lo mau mengurung gue lagi, mending gue cabut sekarang, gue bawa anak-anak,"ucap Ayudia berlalu menuju pintu penghubung kamar anak-anaknya.
__ADS_1