Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh dua


__ADS_3

Mohon untuk yang di bawah umur, untuk skip chapter ini, untuk kesehatan mental kalian.


Ada yang sedang berbunga tapi bukan pohon, melainkan hati dari seorang Benedict, andai bisa ia bahkan ingin menari saking senangnya.


Istrinya yang berbulan-bulan menghilang dan setelah bertemu malah menghindarinya, sekarang memohon padanya untuk berhubungan suami istri agar keinginannya melahirkan secara normal bisa terpenuhi,


Benedict tau hal itu, sejak tau istrinya hamil, disela-sela kesibukannya ia menyempatkan diri membaca buku-buku dan artikel tentang kehamilan, namun tetap saja ia senang, karena saran dari Natasha, Ayudia mendatanginya, ingatkan calon ayah itu untuk memberikan bonus yang besar untuk gadis yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu.


Sebenarnya Benedict malah suka bentuk tubuh istrinya saat hamil seperti sekarang, Ayudia terlihat seksi dibeberapa bagian tubuhnya, bahkan saat tadi lelaki itu membantu memakaikan ****** *****, jantungnya rasanya akan copot, bagian bawah tubuhnya juga hampir saja mengeras, namun ia berusaha untuk mengendalikan dirinya.


Benedict mematikan ponselnya, ia tidak ingin kegiatan yang sudah lama tak ia lakukan diganggu oleh apapun, tak lupa ia mengambil remote untuk mengunci kamarnya.


Lelaki itu mendekati istrinya yang sedang duduk di ranjang menunggu untuk dijamah, ia menunduk untuk mengecup kening lalu ia duduk disebelah wanita itu , ia memegang tangan itu dan menciumnya.


Benedict menatap Ayudia begitu dalam, tatapan penuh cinta, yang hanya ia tujukan pada wanita itu, "sekali lagi aku tanya kamu yakin Ay akan melakukan itu?"tanyanya dan Ayudia mengangguk yakin,


"Kalau nanti kamu merasa nggak nyaman ataupun kesakitan, kamu ingatkan aku, mungkin kamu bisa cubit atau pukul aku,"ucap Benedict.


Sekali lagi, ia menatap mata itu, seolah meminta ijin untuk memulainya dan kedipan dari wanita dihadapannya menandakan persetujuannya.


Lelaki itu mulai menciumi seluruh wajah istrinya perlahan, dan berakhir ******* bibir yang selama berbulan-bulan ini hanya ia impikan, melalui ciuman itu pula, Benedict mengungkapkan kerinduannya.


Saat kata-kata rindu tak bisa diungkapkan, dengan ciuman itu seolah tergambarkan bagaimana besarnya rasa yang selama ini ia tahan.


Rasa yang belum pernah ia berikan kepada siapapun selama ia hidup.


Ciuman yang awalnya lembut, hanya hitungan puluhan detik berubah menjadi ciuman panas, mereka berperang lidah dengan bibir yang saling *******.


Tangan lelaki itu tak tinggal diam, yang awalnya menyentuh leher belakang istrinya, perlahan berpindah untuk melepaskan sesuatu yang sedari tadi menempel di tubuh wanita itu.


Benedict mengecupi leher beraroma sabun favoritnya, tak lupa ia berikan tanda cinta di sana, bukan hanya satu, entah berapa, yang jelas karena hal itu, ia mendengar suara yang sudah lama tak ia dengar, seperti alunan indah yang membangkitkan hasratnya sebagai laki-laki.


Perlahan tapi pasti, Benedict mulai mengecupi kedua bukit kembar yang ukurannya bahkan lebih dari tangkuban tangan besarnya, rasanya semakin indah dilihat, begitu seksi dan menggairahkan.

__ADS_1


Ada sedikit air yang keluar dari sana, mungkin air susu, manis terasa saat ia menghisapnya.


Alunan indah itu semakin terdengar jelas, bahkan rambut lelaki yang sedikit gondrong, menjadi sasaran remasan tangan istrinya.


Benedict benar-benar memperlakukan istrinya penuh kelembutan, saat melihat perut besar itu terpampang nyata didepan matanya, ia melihat ada telapak kaki dan tangan mungil timbul dari dalam perut istrinya, rasanya dia ingin menangis saking senangnya, itu buah cintanya dengan Ayudia.


Tak lupa ia membisikan kata-kata cinta untuk kedua anaknya sambil mengelus dan mencium kulit penghalang antara dirinya dan dua malaikat kecilnya.


"Mas bisa lakukan sekarang, aku menginginkannya,"mohon wanita itu dengan tatapan sayu.


Benedict tersenyum, sepertinya istrinya sudah tak sabar, terbukti bagian bawah itu telah basah, aroma dibawah sana, yang semakin membuatnya tergila-gila kepada wanita ini.


Sekali lagi ia memastikan melalui tatapan matanya dan berucap, "Kalau kamu merasa sakit, kasih tau aku ya Ay," ucap Benedict dan wanita itu mengangguk mantap,


Benedict memulai aksinya perlahan, walau saat ini hasratnya menginginkan melakukan itu dengan cepat dan keras, namun ia ingat, ada dua bayi didalam sana, ia tak mau mereka tersakiti.


Memang rasanya sedikit tidak bebas, biasanya saat melakukan itu, ia sambil ******* bibir istrinya, namun perut besar itu membuatnya agak susah melakukan hal itu.


Sebagai lelaki yang akan melakukan apapun untuk kebahagiaan wanita yang dicintainya, tentu Benedict akan menuruti permintaan istrinya.


Sekarang Ayudia memegang kendali akan suaminya, ya perempuan itu bukan hanya mengendalikan seorang Benedict di ranjang, wanita biasa itu bahkan membuat lelaki hebat seperti Benedict bertekuk lutut dihadapannya.


Walau gerakannya tak segesit saat belum mengandung, namun saat hamil besar seperti sekarang, Ayudia bisa membuat Benedict hanya dalam beberapa menit menyampai puncaknya, hampir bersamaan bersama dengan wanita yang dicintainya itu.


Ayudia terengah-engah, ia merebahkan tubuhnya disamping suaminya, menikmati sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan, rasa gemetar saking nikmatnya, ia mencium lengan ayah dari anaknya, "terima kasih mas,"ucapnya masih sedikit menormalkan nafasnya.


Benedict yang juga masih mengatur nafasnya, mencium kening istrinya, dan mengucapkan kata yang sama.


Lelaki itu menyelimuti istrinya yang berbaring miring setelah sebelumnya membantu wanita itu membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.


Benedict membereskan kekacauan disekitar ranjang mereka, seperti ia harus mandi sekarang, sebelum istrinya bangun,


Dengan melilitkan handuk di pinggangnya, ia berjalan ke walk in closet setelah ia menghabiskan beberapa menit di kamar mandi.

__ADS_1


Setelah nya Lelaki itu memilih bergabung bersama istrinya, ia memeluk tubuh polos itu dari belakang, ia mengelus perut buncit itu, ada gerakan terasa di telapak tangannya yang bersentuhan langsung dengan kulit itu.


Sepertinya gerakan aktif bayi-bayi itu tak berpengaruh bagi ibunya, wanita itu masih betah memejamkan matanya, bahkan terdengar nafas teraturnya, nyenyak sekali tidur istrinya itu.


Perlahan rasa kantuk menyerang calon ayah itu, akhirnya ia ikut  memejamkan matanya.


Ada sesuatu yang basah namun sedikit kasar di bagian bawah tubuh lelaki itu.


Benedict membuka matanya, ia memandang ke bawah tubuhnya,  di sana ada istrinya sedang melakukan kegiatan yang dulu biasa dilakukannya saat mereka hendak berhubungan intim.


Lelaki itu mendesah, istrinya memang paling pandai membuatnya tak berkutik.


Terlihat Ayudia sedikit kesulitan, karena perut besarnya, tak tega, Benedict akhirnya bangkit berdiri disisi ranjang, itu memudahkan istrinya agar tidak menunduk.


Wanita itu bersemangat, seolah sedang ada es krim cokelat kesukaannya dihadapannya, ia terus menjilat dan mengulum sesuatu yang sedari tadi telah tegak menantang.


Seingatnya tadi sebelum tidur ia masih mengenakan celananya, namun entah kapan sudah tidak ada ditempatnya.


Merasa sudah cukup, lelaki itu meminta istrinya untuk berbaring dengan kaki yang masih menggantung disisi ranjang,


Ia memulai kegiatan panas itu, tangan kanannya memegangi kaki istrinya, sedangkan tangan kirinya mengelus perut besar wanita itu.


Seperti tadi, Ayudia meminta posisinya berada di atas, ini lebih nyaman untuk ibu hamil yang mendekati hari perkiraan lahir.


Benedict memegangi bagian belakang istrinya, memastikan istrinya tidak terjengkang, karena mereka  melakukannya disisi ranjang.


Sepertinya Ayudia lebih bersemangat setelah tadi dirinya sempat tertidur lama.


Hingga secara bersamaan keduanya menggapai indahnya surga dunia.


Beberapa menit mereka menikmati sisa-sisa pelepasan itu, Benedict membopong istrinya menuju kamar mandi,


Sepertinya mereka akan melanjutkannya didalam sana.

__ADS_1


__ADS_2