Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
empat puluh dua


__ADS_3

Ayudia melotot tak percaya mendengar kabar dirinya kini telah berbadan dua, waktu awal menikah diam-diam ia mengkonsumsi pil KB, namun sejak kepulangan suaminya, ia selalu lupa mengkonsumsinya, tamat sudah riwayatnya, ia tak akan bisa lepas dari lelaki-ini.


Dokter Natasha masih memeriksanya, "bukan cuman satu janin, Ada dua janin di rahim Nyonya Ayu, lihat Ben, ada dua kantong," ucapnya menunjuk layar.


Senyum mengembang menghiasi wajah Benedict, entah harus bagaimana ia menggambarkan kebahagiaannya saat ini, rasanya ingin berteriak, bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah dengan dua anak sekaligus.


Benedict mencium kening istrinya lembut, tak lupa mengucapkan terima kasih.


Dokter Natasha meresepkan vitamin dan obat penguat kandungan untuk Ayudia.


Di luar poli, ada Oscar juga Alex dan Rama yang baru saja datang,  "gimana bro?"tanya ketiganya kompak.


Benedict yang baru saja keluar bersama Ayudia, tersenyum senang, "Lo semua gue kasih bonus gede bulan ini,"ucapnya Ambigu.


"Maksudnya gimana Ben?"tanya Rama bingung.


"Gue mau punya Bayi dua sekaligus, terutama Lo Oscar, dua kali lipat buat Lo,"


Tawa mengembang menghiasi ketiga orang sahabatnya, mereka mengucapkan selamat kepada Ayudia.


"Nggak sia-sia gue minta tolong sama Lo Oscar,"ucap Benedict keceplosan.


"Maksudnya apa mas?"tanya Ayudia bingung.


"Nggak kok ay,"jawab Benedict gelagapan.


Ayudia menatap Oscar seolah bertanya, "nggak ada apa-apa Ayu, Ben cuman minta resep vitamin kok,"ujar Oscar.


"Vitamin apaan?"tanya Ayudia penasaran.


Benedict yang memang sudah tak bisa mengelak akhirnya menjawab jujur, "aku minta Oscar agar dikasih obat penyubur kandungan, supaya kamu cepat hamil, kamu ingat, saat kamu bilang kamu mau jadi TKW? Itu artinya, kamu mau pergi lagi dari aku, aku nggak mau kehilangan kamu lagi, maaf ay,"


Ayudia menghela nafas, "siapa yang mau ninggalin kamu? Itu kan rencana aku sebelum nikah sama kamu, memang awal menikah aku masih mengkonsumsi pil kontrasepsi, karena belum yakin sepenuhnya sama kamu, tapi sejak kepulangan kamu, aku udah nggak mengkonsumsi pil itu lagi,"


"Harusnya aku, yang ketar ketir kamu tinggalin, kenapa jadi kamu?"tanyanya.


"Aku nggak mungkin ninggalin kamu lah, susah-susah di dapet, main lepasin gitu aja, nggak akan,"jawabnya.


"Drama laki bini, lakinya ketakutan ditinggalin bini, bininya santai gitu, urusin temen Lo tuh, bilangin gue butuh transfer bonus secepatnya,"bisik Alex pada Rama Sambil berlalu.

__ADS_1


Ayudia dibawa kembali ke ruang rawat, agar beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang, pemeriksaan sudah selesai.


Tadi Benedict sempat meminta Rama untuk mencarikan rumah tinggal untuk dirinya dan Ayudia, lelaki itu tidak mau beresiko jika istrinya naik turun tangga dalam keadaan hamil muda di dalam apartemen.


Berita membahagiakan itu, langsung diberitahukan kepada Anna, bude Marini serta bibi Atun, mereka mengucap syukur dengan anugerah yang telah diterima oleh pasangan itu.


Sepulangnya dari rumah sakit keesokan harinya, Benedict membawa istrinya untuk menempati rumah yang Rama sediakan.


Salah satu rumah yang awalnya akan di jual oleh Rama, akhirnya digunakan oleh Benedict untuk sementara, sebelum dirinya memboyong istrinya menuju negara Paman Sam.


"Untuk sementara kita tinggal disini dulu ya, nggak apa-apa kan?" Ucap Benedict ketika dirinya dan Ayudia baru saja memasuki rumah sepulang dari rumah sakit.


Ayudia hanya mengiyakan saja, tak banyak berkomentar tentang rumah yang akan ditempati sementara itu.


Rumah dua lantai, dengan design minimalis, terlihat nyaman walau belum banyak barang yang terisi.


Ayudia duduk di sofa panjang, mendadak perutnya lapar, mungkin efek mengandung bayi kembar, padahal tadi sebelum pulang dari rumah sakit, ia telah makan terlebih dahulu.


Tadi diperjalanan pulang ia sempat mampir untuk membeli makanan cepat saji untuk mengganjal perutnya.


Sementara Benedict sedang membereskan kamar milik keduanya.


"Mas, mau makan sekalian nggak?"teriak Ayudia dari ruang tamu.


Keduanya mulai makan makanan yang tadi dibelinya.


"ay, seminggu lagi, kamu ikut aku ke US ya!"


Ayudia yang sedang mengunyah, menghentikan kunyahannya, "kok mendadak?"


"Ya nggak mendadak lah, ini aku udah bilang seminggu sebelum kita berangkat,"


"Tapi kan aku lagi hamil muda, emang boleh pergi naik pesawat?"


"Tadi aku sempat Konsul sama dokter Natasha, boleh kok, toh nanti dia sama Oscar ikut antar kita sampai sana,h"


Ayudia menganga mendengar ucapan suaminya, "kok bisa?"


"Ya bisa lah, masa buat calon anak aku nggak bisa, harus bisalah,"

__ADS_1


"Kita berapa lama di sana?"


"Sampai kamu lahiran, menyusui atau sama anak kita juga sekolah di sana,"


"Terus adik-adik aku gimana?"


"Ya kalau liburan, mereka kan bisa kesana,"


"Bukannya katanya, kamu mau mundur dari perusahaan dan mengalihkan perusahaan itu untuk sepupu kamu?"


"Maaf Ay, belum bisa, dewan direksi menentang aku untuk mundur, karena mereka menganggap George belum mampu, uncle juga nggak setuju, karena ada masalah cukup serius dengan proyek yang ditangani oleh George, ini aja aku minta waktu seminggu buat kembali, kamu nggak apa-apa kan?"


"Emang nggak bisa ya, aku disini aja,"


"Kalau kamu disini, aku nggak bisa tenang ninggalin kamu,"


"Kan ada ibu,"


Benedict yang sudah menyelesaikan makannya, duduk menghadap istrinya, "Ay, walau ibu bilang mau bercerai sama suaminya, belum tentu suaminya mau menceraikan ibu, om Ronald itu cinta mati sama ibu,"


"Tapi ibu bilang udah ngajuin gugatan cerai kok,"


"Ay, aku tau kayak apa om Ronald itu, walau terkesan aku nggak peduli sama ibu, tapi aku selalu mengawasi semua gerak gerik keluarga itu, apa aja yang dilakukan oleh mereka, aku tau semua, jadi kesimpulan aku, ibu nggak mungkin bisa jagain kamu terus, karena beliau kan harus mengurusi suaminya itu,"


Dengan berat hati, Ayudia menyetujui permintaan suaminya itu, "tapi mas, di sana aku ngapain? Maksud aku kegiatannya apa?"


Sejenak Benedict berfikir, "terserah apa yang ingin kamu lakukan, tapi kamu nggak boleh capek-capek, ingatkan ada dua janin yang ada diperut kamu,"ujarnya sambil mengelus perut yang masih rata itu.


"Oh ya mas, besok aku ke cafe ya,"


Benedict yang sedang membereskan bungkus makanan, menghentikan kegiatannya, "mau ngapain ke cafe?"


"Ya, mau nggak mau kan aku harus resign dari cafe, sekalian pamit sama rekan-rekan aku di sana,"


"Oh ya udah, besok aku antar,"


"Emang kamu nggak sibuk?"


"Aku meeting nya malam, lagian kamu kan istri aku, prioritas utama aku, itu kamu,"

__ADS_1


Mendengar hal itu, Ayudia terharu, senyum mengembang menghiasi wajahnya yang memerah.


Wanita hamil itu berharap, mudah-mudahan dirinya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di negara asing itu.


__ADS_2