
Rama mengemudikan mobilnya menuju rumah Benedict yang berada disalah satu perumahan elit di selatan ibukota.
Rumah dengan gerbang tinggi berwarna hitam itu baru jadi sekitar sebulan lalu, rumah yang dibangun untuk sang istri, ada harapan besar pada lelaki itu sewaktu memulai pembangunannya.
Mereka memasuki rumah itu, belum banyak perabotan yang ada di sana, sofa saja hanya terdapat di ruang tengah.
Ayudia duduk di kursi roda, sedangkan yang lain duduk di sofa,
Kembali hening, tak ada yang memulai pembicaraan, sampai Anna membuka mulut, "Ben, sebelumnya ibu minta maaf, ibu nggak bermaksud menyembunyikan istri kamu, tapi setelah mendengar cerita istri kamu dan juga cerita versi kamu, ibu memutuskan untuk menuruti permintaan menantu ibu, ini demi kebaikannya, istri kamu sedang hamil, tidak boleh stres, ini akan berpengaruh pada bayi kalian, tolong maafin ibu nak,"jelasnya panjang lebar.
Benedict diam tak menanggapi, ia duduk sambil menatap istrinya, ada Amarah sekaligus rindu yang besar, namun sepertinya lidahnya Kelu untuk memulai pembicaraan dengan istrinya.
Nando juga hanya diam, ia juga bingung harus berkomentar apa, ia tau resiko apa yang akan ia tanggung, ia tau betul, sahabatnya paling benci dibohongi dan dikhianati.
Kembali hening, tidak ada yang berbicara, sampai akhirnya Benedict angkat bicara, "sejak kapan Do? Lo bohongi gue,"tanyanya sambil menatap tajam sahabatnya.
Nando yang merasa ditanya, menatap balik sahabatnya, "udah mau dua bulan, sorry Ben, gue nggak bermaksud bohong sama Lo,"jawabnya.
"Jadi ini alasan sebenarnya Lo sampai cuti lama? Lo bohongi sekaligus khianati gue, gue kecewa sama Lo,"ujar Benedict kesal.
"Sorry Ben, terserah Lo mau pecat gue juga nggak masalah, kalau itu bisa buat Lo puas," ungkap Nando.
Benedict menghela nafas kasar, "dipecat itu terlalu sepele buat seorang penghianat, Lo tau kan akibatnya jika khianati gue?"
"Gue terima Ben,"ucap Nando pasrah.
Alex dan Rama panik melihat Benedict bangkit menghampiri Nando, "jangan Ben, Lo nggak boleh gitu sama Nando, ingat Ben, kita sahabat, kita selalu sama-sama,"ucap Rama bangkit menahan sahabatnya itu.
"Jangan halangi gue Rama, kalau Lo nggak ingin bernasib sama kayak dia,"Benedict memperingatkan.
Tak banyak bicara Benedict menarik kerah Nando, ia langsung menghadiahi sahabatnya itu, Bogeman mentah, Nando sampai tersungkur dibuatnya.
Ayudia menjerit, ia tak menyangka gara-gara dia, Nando dipukul oleh suaminya.
Benedict benar-benar melampiaskan amarahnya pada sahabatnya, ia memukuli dan menendangnya, Nando hanya diam tak melawan sementara Alex dan Rama tidak bisa berbuat banyak, keduanya tak berani ikut campur, sedang Anna hanya diam, tak bisa berbuat banyak.
Ayudia kesal sendiri, tak ada yang menolong Nando, ia bangkit dari kursi rodanya, ia berjalan perlahan menuju suaminya yang tengah memukuli Nando,
"Cukup, nggak seharusnya kamu memukuli dia, harusnya kamu pukul aku bukan dia, dia sama sekali nggak salah, aku yang memintanya untuk merahasiakan keberadaan aku,"Ayudia berteriak pada suaminya.
__ADS_1
Benedict berhenti menghajar Nando setelah mendengar teriakkan istrinya.
Dengan susah payah, wanita hamil itu mendekati suaminya, ia memegang tangan lelaki itu, "harusnya kamu pukul aku, istri pembangkang yang tak menuruti suaminya,"ucapnya sambil memukulkan tangan besar lelaki itu ke pipinya.
Benedict menahan tangannya, namun istrinya berusaha membuat tangan besar itu mendarat di pipinya.
"Ay, aku nggak mungkin ngelakuin itu ke kamu,"ujarnya sambil memeluk istrinya, walau agak susah karena terhalang perut besar wanita itu.
Ayudia tidak membalas pelukan suaminya, "pukuli aku aja, aku yang salah, nggak seharusnya kamu pukuli dia, ayo pukul aku, mungkin dengan itu, bisa meredam amarah kamu,"
Benedict menggeleng, "aku nggak mungkin pukul kamu Ay,"
Ayudia melepas paksa pelukan suaminya, ia mendorong tubuh besar itu, ia berjalan menuju Nando yang sedang terkapar dilantai.
Wajah Nando babak belur, "A sini, Ayu bantu bangun, kita ke rumah sakit aja, biar luka kamu bisa diobati,"ujarnya.
Tanpa pikir panjang Nando berusaha bangkit sendiri walau dengan susah payah.
"Bu, Ayu minta tolong, bawa A Nando ke rumah sakit, jangan sampai lukanya infeksi,"ucapnya melihat ke arah ibu mertuanya.
Ayudia berjalan melewati suaminya, namun Benedict menahan tangan istrinya, "kamu mau kemana Ay?"tanyanya.
"Ada ibu yang udah tolongin Nando Ay,"
"Nggak, aku mau antar A Nando,"bantah Ayudia pada suaminya.
Benedict menghela nafas, ia menelpon Oscar, agar sahabatnya datang ke rumahnya untuk mengobati Nando.
"Nggak ada yang keluar dari rumah ini Ay, sekarang kita duduk ya,"kata Benedict lembut, ia membimbing istrinya untuk duduk di sofa.
Anna memberikan tisu untuk Nando, untuk menghentikan darah yang mengalir pada hidung dan sudut bibirnya.
Ada luka memar di pipi dan sudut matanya, juga hidungnya yang mengeluarkan darah, bahkan tadi lelaki itu sempat batuk darah.
Melihat hal itu Ayudia semakin merasa bersalah, wanita hamil itu diam menunduk.
"Ay, gimana keadaan bayi kita?"tanya Benedict yang duduk di samping istrinya.
Ayudia tidak menjawab, ia hanya melirik suaminya sekilas.
__ADS_1
"Apa aku harus memukuli Nando lagi, supaya kamu mau bicara sama aku?"ucap Benedict kesal, istrinya mendiamkannya.
"Apa kamu sekarang mengancam aku?"Tanya Ayudia menatap suaminya tajam.
"Nggak gitu Ay, aku cuman pengin bicara sama kamu," jawab lelaki itu.
"Nggak ada yang perlu aku obrolin sama kamu,"ujar Ayudia ketus.
"Ko gitu sih Ay, aku kangen sama kamu, berbulan-bulan kita nggak ketemu,"
"Oh ya, selesai melahirkan, aku mau kita pisah,"ungkap Ayudia.
Ucapan wanita hamil itu sontak membuat semua orang yang ada di sana terkejut, apa Ayudia sudah gila? Oscar bahkan belum datang untuk mengobati Nando, apa wanita itu, ingin melihat amukan dari Benedict, mungkin itu yang dipikirkan oleh Alex dan Rama.
Sedangkan Anna hanya menghela nafas pasrah.
Benedict tentu tercengang mendengar ucapan istrinya, apa dia bermimpi? Apa ia salah dengar, atau lidah istrinya bermasalah?
Oscar yang baru datang bingung dengan suasana hening di sana, pria yang berprofesi sebagai dokter terkejut melihat wanita hamil itu ada di sana,
"Hei Ayu, kemana aja sih? Bikin semua orang panik, akhirnya Lo balik juga, baguslah,"ucap Oscar berbasa-basi.
Ayudia yang disapa hanya tersenyum.
Oscar mengobati luka memar Nando, "kenapa sampai begini sih Do? Lo bikin masalah apa sih? Lo mau mati apa gimana?"gerutunya.
Nando tak menanggapi ucapan sahabatnya itu.
"Oh ya Do, tadi Natasha pesan, katanya entar malem nggak jadi, emang ada apaan sih Do? Kata Ben Lo minta cuti buat deketin Natasha! Segitunya Lo sama Diak i7," oceh Oscar.
Hening lagi, "kenapa pada diem aja sih?" Tanya Oscar penasaran.
Sampai Ayudia berdiri, "Bu, pulang yuk, Ayu capek, pengen bobo,"ajaknya pada ibu mertuanya.
Anna melirik reaksi dari puteranya, Benedict sedang menatap istrinya dengan pandangan sulit diartikan.
"Nduk, apa nggak sebaiknya, kamu sama suami mu dulu?"saran Anna pada menantunya.
"Nggak mau Bu, Ayu mau pulang bareng ibu aja," ucapnya kekeh.
__ADS_1
Ayudia berjalan perlahan menuju pintu keluar, belum sampai pintu, terdengar sebuah benda pecah, wanita hamil itu menoleh, hingga melebarkan matanya karena terkejut.