Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus enam belas


__ADS_3

"Mas, memangnya kamu nggak bisa meluangkan waktu buat anak-anak ya!"ucap Ayudia saat dirinya memasangkan dasi pada suaminya pagi itu.


"Bukankah baru beberapa bulan lalu kita pergi liburan ke Jepang?"ujar lelaki itu mengingatkan istrinya,


"Apa kamu nggak sadar, kalau kita liburan, kamu selalu sibuk sama aku, aku tanya sama kamu, kapan terakhir kali kamu berbicara dari hati ke hati sama anak-anak?"


"Aku kan sibuk sayang,"


"Mas, aku tau kamu berkerja keras buat anak-anak juga buat semua karyawan kamu, tapi anak-anak bukan hanya butuh uang kamu, tapi perhatian kamu,"


"Aku bekerja untuk kamu sayang,"


Ayudia yang sudah selesai memakaikan dasi lalu mengambil jas yang masih tergantung di lemari, "mas, Ainsley dan Aileen itu anak kamu kalau kamu lupa, bahkan wajah mereka mirip sekali dengan mendiang Daddy kamu, harusnya kamu lebih memperhatikan mereka,"


"Sayang mereka nggak pernah protes sama aku, kamu malah yang protes,"


"Karena mereka takut sama kamu, aku juga bingung, kenapa anak-anak terutama Ainsley itu takut sama kamu, apa ada yang kamu lakukan pada anak-anak tanpa sepengetahuan aku?"


Ayudia yang hendak memakaikan jas, mendadak di peluk oleh lelaki itu, "sayang jangan marah-marah ini masih pagi, nanti aku makin cinta sama kamu,"


Ayudia melepaskan paksa pelukan itu, "aku malas sama kamu, hari ini aku nggak mau ikut kamu ke kantor, aku disini aja,"


"Nggak bisa, kamu harus ikut aku, seperti biasanya,"


"Nggak, aku nggak mau ikut kamu,"ucap Ayudia tegas lalu meninggalkan suaminya di ruangan itu.


Benedict tak tinggal diam, ia berjalan cepat menyusul istrinya,  lelaki itu meraih tangan Ayudia, "oke aku hari ini nggak ke kantor, aku akan sama kamu disini,"


Ayudia menghempas tangan besar itu, "bukan sama aku, tapi sama anak-anak,"


"Oke... Baiklah aku seharian akan bersama anak-anak, puas... Jadi sekarang kembali ke kamar, kamu tau kan setiap bertransaksi sama aku, ada yang harus kamu lakukan,"


Ayudia menghela nafas, ia hanya bisa menuruti suami mesumnya, demi anak-anaknya.


"Bunda kenapa tadi nggak ikut sarapan? Bunda baik-baik saja kan?" Tanya Aileen khawatir saat melihat Ayudia memasuki ruang belajar.


"Bunda sarapan dikamar sama Ayah, dan hari ini tutor kalian adalah Mr. Wright,"jawabnya.


"Apa yang dimaksud tutor hari ini adalah Ayah?"tanya Aileen bingung.


Ayudia mengangguk, bersamaan dengan Benedict yang memasuki ruang belajar.


Ainsley dan Aileen melongo melihat ayahnya datang,


"Apa ayah tidak ke kantor bunda?"tanya Aileen.


"Seharian ini waktu ayah buat kalian, jadi ayo semangat belajarnya,"jawab Ayudia menyemangati anak-anaknya.


Benedict mengajari anak-anaknya, meskipun agak kaku, tapi tidak mengapa, karena terlihat anak-anak antusias diajari ayahnya sendiri tentu dengan Ayudia yang selalu di sampingnya.


Jam makan siang mereka berpiknik tak jauh dari dermaga, tentu dengan Benedict yang memonopoli istrinya, meminta disuapi, tiduran di paha istrinya, hingga sesekali mencuri ciuman saat anak-anaknya tidak melihatnya.


Usai makan siang, belajar dilanjutkan hingga sore hari, mereka makan malam dengan mendatangkan salah satu chef terkenal di New York.

__ADS_1


"Ingat sayang, semua yang aku lakukan hari ini tidak gratis, ada sesuatu yang mesti kamu bayar, kamu ngerti kan maksud aku?"


Bisik lelaki itu saat menunggu chef menyiapkan makanan.


"Iya suamiku yang mesum,"bisik wanita itu dan Benedict tersenyum senang.


Begitulah Benedict, yang menjadikan istrinya sebagai memprioritaskan utama, namun setiap ia melakukan sesuatu untuk istrinya diluar kebiasaannya, maka ia akan meminta upah yang berhubungan dengan kenikmatan dunia.


"Mas, seandainya suatu saat kita berpisah apa yang akan kamu lakukan,"tanya Ayudia saat keduanya baru saja menyelesaikan kegiatan panas sebagai bayaran karena lelaki itu menuruti ucapannya.


"Aku nggak akan membiarkan itu, kamu harus selalu sama aku,"jawabnya sambil menatap tajam istrinya.


"Mas, kita itu manusia, hanya bisa berencana, pada akhirnya kita nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya kan?"


"Apa kamu ingin kabur dari aku seperti dulu?"


Ayudia tertawa, "asal kamu nggak ngeselin aja,"


"Aku ikutin mau kamu sayang,"


"Anggaplah begitu, oh ya, boleh aku bertanya, sebentar lagi, anak-anak akan ujian elementary school, lalu untuk junior high school, apa anak-anak boleh belajar di sekolah umum?"


"Bukankah lebih baik home schooling,"


"Supaya anak-anak punya teman mas, selama ini mereka hanya berdua, paling anaknya Troy atau Richard teman mereka itupun saat weekend,"


"Home schooling saja sayang, lebih aman untuk mereka,"


"Terserah kamu deh mas,"


"Aku nggak marah Ayah,"


"Kok terserah,"


"Terus mau jawab apa,"


"Apa gitu,"


"Ya udah jawab gini aja,"ujar wanita itu sambil mengecup bibir suaminya.


Senyum mengembang dibibir lelaki itu, "apa kamu menginginkannya lagi?"


"Nafas dulu mas, oh ya ngomong-ngomong kok, aku nggak hamil-hamil ya, kan aku nggak KB,"


"Apa kamu ingin punya anak lagi?"tanya Benedict dingin.


"Kalau dikasih aku mau, kan biar rame,"jawabnya.


"Apa kamu tidak ingat, aku hampir kehilangan kamu, saat kamu keguguran beberapa tahun yang lalu, aku nggak mau ambil resiko, kamu harus selalu hidup bareng aku,"


"Saat itu kita nggak tau kalau aku hamil, jadi kita nggak sengaja kan,"


"Tapi aku hampir kehilangan kamu, rasanya dunia aku hampir kiamat, itu lebih parah dibanding waktu kamu koma dulu,"

__ADS_1


"Udah lewat mas, nggak usah khawatir, yang penting aku, masih disini sama kamu,"


"Aku nggak mau kehilangan kamu, bukankah ibu kamu meninggal setelah melahirkan adik kembar kamu? Aku nggak mau kehilangan kamu,"


Ayudia memeluk suaminya erat, "iya suamiku, aku masih disini, jadi nggak usah khawatir,"


Sejak pembicaraan itu, Benedict semakin posesif pada istrinya, laki-laki itu akan berteriak memanggil nama istrinya jika wanita itu tak ada dalam jangkauannya.


Pernah suatu hari, saat bangun pagi, lelaki itu tak mendapati istrinya ada diperlukannya, ia berteriak-teriak memanggil nama istrinya bahkan ia berlari ke seluruh mansion hanya untuk mencari istrinya.


Dan saat mendapati istrinya sedang membantu maid menyiapkan sarapan, ia langsung memeluk wanita itu erat,


"Kamu apa-apaan sih, coba lihat penampilan kamu, kamu nggak malu,"ucap Ayudia kesal melihat suaminya keluar kamar hanya mengenakan bokser nya.


"Kenapa saat aku bangun, kamu nggak ada di pelukan aku, aku takut kamu pergi,"


"Aku kan terkadang bantu-bantu maid siapin sarapan buat kamu sama anak-anak,"


"Seenggaknya kamu bangunin aku dulu,"


Malas berdebat pagi-pagi, akhirnya Ayudia mengajak suaminya kembali ke kamar mereka.


"Mas, aku nggak suka kamu keluar kamar dengan penampilan seperti ini, apa kamu mau memamerkan tubuh seksi kamu? Itu aurat suamiku, hanya istri kamu yang boleh melihat,"


"Apa kamu tidak rela jika ada yang lihat tubuh aku?"


"Tentu saja aku tidak rela, kamu kan suami aku, sama seperti kamu yang tidak rela ketika aku pakai baju terbuka dihadapan lelaki lain kan?"


"Aku nggak akan membiarkan itu terjadi,"


"Aku juga sama mas, ya udah, mending kamu mandi, terus sarapan lanjut ke kantor,"


"Kamu ikut aku ke kantor hari ini?"


"Kalau hari ini aku nggak bisa, ada hal yang akan aku bicarakan dengan tutor anak-anak,"


"Kalau gitu aku nggak usah ke kantor,"


Ayudia menghela nafas, suami manja dan mesumnya selalu mengajaknya berdebat hal yang sama hampir setiap pagi.


"Nggak bisa, kamu harus ke kantor, akan ada rapat dengan klien penting,"tadi pagi Troy menelponnya untuk memastikan Benedict berangkat ke kantor hari ini.


"Aku bisa menundanya,"


"Mas, selesai urusanku dengan tutor anak-anak selesai, aku susul kamu ke kantor, aku bawakan makan siang untuk kamu,"


"Tapi sayang,"


"Terserah kamu, kalau kamu mau nanti malam aku tidur dengan anak-anak,"ancam wanita itu.


"Ain udah remaja, tidak boleh berbahaya,"


"Ain anak kandung aku, kalau kamu lupa,"

__ADS_1


"Oke aku berangkat ke kantor, tapi kamu harus susul aku,"


"Baiklah suami manjaku, sekarang waktunya kita mandi,"


__ADS_2