Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus satu


__ADS_3

Pesawat dengan logo BW di ekornya, baru saja mendarat di bandara John F Kennedy beberapa saat yang lalu.


Rombongan dari negara tropis itu sedang berada di ruang imigrasi untuk pemeriksaan.


Tidak sampai tiga puluh menit mereka keluar dari ruangan itu, ada Troy beserta orang-orangnya sudah menunggu kedatangan nyonya beserta tuan dan nona mudanya,


Setelah bertahun-tahun akhirnya Ayudia menginjakan kaki di negara ini.


Rombongan diarahkan pada beberapa mobil yang akan membawanya menuju mansion milik Benedict.


Namun Ayudia meminta Troy untuk membawanya ke Penthouse yang dulunya pernah ia tinggali bersama kedua anaknya.


Troy mengemudi sendiri nyonya, juga tuan dan nona mudanya, tak banyak percakapan selama perjalanan.


Lelaki berusia empat puluh tahun itu sampai membawakan barang-barang milik tuannya hingga sampai di dalam Penthouse,


Tak banyak perubahan berarti di sana, padahal sudah lebih dari tujuh tahun berlalu, tata letak masih sama hanya beberapa furniture yang mungkin sudah berganti.


Saat Troy hendak pamit, Ayudia mencegahnya, ia ingin mengajak orang kepercayaan ayah dari anak-anaknya untuk berbicara.


Setelah memastikan anak-anak berada di kamarnya dengan tenang, Ayudia mengajak Troy berbicara di balkon dekat kolam renang, ada dua kursi panjang putih, yang biasa digunakan untuk berjemur.


Meskipun Troy adalah orang yang lahir dan besar di benua Amerika, namun ia bisa berbahasa Indonesia, tentu saja itu salah satu tuntunan pekerjaannya.


"Mr Troy, saya tau anda satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan ayah dari anak-anak saya,"tanpa basa-basi Ayudia membuka pembicaraan.


Troy hanya diam tak menanggapi ucapan wanita yang berhadapan dengannya,


"Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, apa dia hidup dengan baik?"


Troy mengangguk ragu.


Melihat reaksi lelaki itu, Ayudia menghela nafas, "Mr Troy bisakah saya minta tolong, sampaikan kepadanya untuk menemui saya sebelum acara pernikahan George,"


Troy membulatkan matanya, "maaf nyonya sepertinya itu sulit,"


"Apa ada seseorang yang melarangnya?"tanya Ayudia mengintimidasi.


Troy berusaha untuk bersikap biasa, tak berkata, ia hanya menggeleng.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu sampaikan pesan saya padanya, saya tunggu kedatangannya, kalau sampai besok malam, dia tidak menemui saya, seluruh harta yang diwariskan untuk anak-anaknya akan saya hibahkan, juga jangan harap kalian bisa menemukan saya dan anak-anak saya selamanya,"ancamnya berlalu meninggalkan lelaki itu.


Malam harinya, saat hendak tidur, Aileen bertanya, "Bun, udah jauh-jauh kesini kok aku nggak ketemu Ayah, bunda bilang Ayah kerja jadi TKI di luar negeri, inikan kita udah di luar negeri,"


Ainsley yang ada disebelahnya menatap adiknya tajam, seolah berkata "nggak usah banyak tanya Aileen,"


Ayudia yang sedang mengambil buku dongeng di tasnya, menoleh dan tersenyum, "Aileen yang dimaksud luar negeri itu bukan cuman Amerika, banyak negara-negara di dunia ini, kita kesini kan bukan mau lihat ayah kerja, tapi mau menghadiri pernikahan uncle George,"


"Gitu ya Bun, yah padahal Aileen pengin banget ketemu ayah,"ucapnya kecewa.


Ayudia menghampirinya, ia duduk disisi ranjang menghadap putrinya, "emang kalau udah ketemu ayah, Aileen mau apa?"


"Banyak Bun, yang jelas Aileen mau minta gendong ke ayah,"


"Dasar manja,"celetuk Ainsley.


Ayudia tersenyum lagi, "kan udah sering digendong papa Nando,"


"Kan beda Bun, lagian sekarang ada dedek Rana yang selalu digendong papa Nando,"protesnya.


"Ya udah nanti kalau suatu saat ketemu Ayah, boleh deh Aileen minta gendong ayah, lalu apalagi yang ingin Aileen lakuin kalau ketemu Ayah?"


Ainsley menarik rambut adiknya, seketika Aileen mengaduh, "enak aja, Ain juga mau kalau kayak gitu,"protesnya.


"Ya udah kalau ketemu Ayah kalian bisa minta itu ke ayah, dan sekarang kalian bisa dengarkan bunda bacakan dongeng,"


Kedua bocah itu menuruti bundanya.


Paginya saat sarapan Troy kembali datang, lelaki itu berkata, akan mengajak ibu dan anak-anak itu untuk fitting baju yang akan digunakan untuk menghadiri pesta pernikahan George.


Troy membawa mereka ke salah satu butik ternama di kota itu, sebelum berangkat lelaki itu sempat menanyakan ukuran pakaian dari ibu dan anak itu, sehingga sesampai di butik mereka hanya perlu mencobanya saja.


Butuh waktu lebih dari satu jam hanya untuk mencoba beberapa gaun yang sengaja dibuat untuk Ayudia dan Aileen, sedangkan Ainsley sudah cocok dengan setelan formatnya.


Tetapi Ayudia memiliki pilihan tersendiri, gaun berwarna maroon yang paling tertutup diantara semua gaun yang telah ia coba.


Aileen juga memilih gaun dengan warna senada dengan bundanya.


Kata Troy pernikahan George tidak mengharuskan memakai dress code khusus, jadi para tamu bebas memilih gaun asal bukan berwana putih.

__ADS_1


Usai dari butik, Troy mengajak mereka untuk menikmati kudapan dari toko kue terkemuka di kota itu, tentu saja Aileen yang paling antusias.


Jam makan siang mereka makan steak di restoran mewah yang masih ada dalam naungan usaha Benedict.


Tentu saja manajer juga chef yang berkerja melayani mereka dengan istimewa, untuk pertama kalinya mereka melihat istri dan anak dari bosnya.


Usai makan siang Ayudia meminta pada Troy untuk diantar ke mansion agar bisa bertemu dengan Anna juga yang lainnya.


Ayudia yang baru pertama kali menginjakkan kaki di mansion itu, sempat tercengang melihat kemegahannya.


Ini jauh berbeda dari rumah besar yang ada di Jakarta, ini berkali-kali lipat lebih besar, meskipun jaraknya jauh dari pusat kota dan membutuhkan waktu berjam-jam.


Saat Troy mengajaknya untuk berkeliling, di bagian belakang mansion ada yacht yang terparkir.


Tak jauh dari sana ada helipad dengan helikopter yang terparkir.


Ayudia sampai lelah mengelilingi mansion yang bisa dibilang lebih mirip istana, padahal menurut Troy, itu belum semuanya.


Saat Ayudia bertemu Anna, perempuan paruh baya itu sedang berada di perpustakaan, tertidur usai membaca buku.


Tak mau menganggu, Ayudia meninggalkan ruangan itu.


Wanita itu berjalan sendiri, tadi saat Troy mengantarnya, ia meninggalkannya di perpustakaan.


Katanya lelaki itu akan mengajak si kembar untuk melihat play ground yang ada di mansion itu.


Ayudia lupa tak membawa ponselnya, tadi setibanya di mansion ia memberikan tasnya pada salah satu maid untuk dibawa ke kamarnya.


Wanita itu merutuki kebodohannya, sekarang ia bingung harus bagaimana, tak mungkin ia membangunkan mertuanya.


Dengan mengandalkan instingnya ia berusaha mencari tempat dimana anak-anaknya berada,


Setelah sekian lama, ia tak kunjung menemukan anak-anaknya, bahkan sahabat-sahabatnya tak terlihat dimanapun.


Hingga ia memutuskan untuk keluar dari mansion itu, sepertinya jika dari luar mungkin ia bisa berteriak minta tolong, atau bertemu maid yang bekerja di sana, karena sedari tadi ia tak bertemu satu manusia pun.


Ayudia berjalan menghampiri yacht yang terparkir di sungai, ia berharap ada nakhoda atau seseorang yang bisa ia mintai tolong.


Dengan hati-hati wanita itu memasuki yacht, "Excuse me, there's someone inside, please help me,"

__ADS_1


Berulang-ulang ia mengatakan itu tapi tak ada sahutan dari dalam yacht, hingga wanita itu nekad memasukinya lebih dalam, alangkah terkejutnya ia dengan apa yang dilihatnya.


__ADS_2