Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
lima belas


__ADS_3

Semalam tidak ada apapun yang terjadi antara keduanya, Benedict tidur di sofa panjang sedangkan Ayudia tidur di ranjang lantai atas.


Setelah melakukan aktivitas paginya dan berganti baju yang sepertinya memang sudah disiapkan lelaki itu untuk Ayudia, karena ukuran dan style nya memang menyesuaikan selera gadis itu, padahal Ayudia merasa belum pernah ia memberi tau ukuran dan gayanya dalam berpakaian, ya walaupun yang tersedia di sisi lemari milik lelaki itu semuanya bermerk ternama.


Ayudia pernah menanyakan apa pekerjaan lelaki itu namunĀ  hanya menjawab dengan tidak jelas, itu juga jadi alasan mengapa ia memilih untuk memutuskan hubungan dengannya.


Gadis itu juga melihat dari sisi pertemanan lelaki itu, ia kenal seperti apa Rama, Alex, Oscar dan Nando, beberapa kali secara bergantian keempat laki-laki itu mencoba mendekatinya, namun dengan tegas ia membentengi dirinya dari godaan para lelaki yang ia kenal sebagai playboy itu.


Mengapa bisa Ayudia menyimpulkan group mereka kumpulan playboy, karena selama dua tahun dirinya bekerja di cafe, mereka sering membawa wanita berbeda-beda, apalagi Rama, yang ia tau sudah punya tunangan namun masih sempat-sempatnya lelaki itu malah mendekati dirinya, belum lagi beberapa wanita yang silih berganti mencarinya.


Pernah dengar istilah, Jika ingin melihat tabiat seseorang maka lihatlah dengan siapa dia berteman, tentu Ayudia tidak ingin mengambil resiko patah hati yang kedua kalinya.


Tentu hal utama yang melandasinya untuk segera memutuskan hubungannya karena ia ingin fokus bekerja mencari nafkah untuk ketiga adiknya.


Benedict sarapan bersama gadisnya di tukang bubur ayam yang tak jauh dari apartemennya, tentu itu atas permintaan gadisnya.


"Kamu masuk siang kan?"Tanya Benedict ketika keduanya sedang menunggu pesanannya dibuat.


Ayudia mengangguk, "abis ini Ayu pulang ya mas,"ucapnya.


"Kenapa emang?"


"Kan belum lihat adik-adik, Ayu juga mau antar makanan semalam," alasannya.


"Masalah makanan minta tolong ojol kan bisa, terus kalau mau lihat kan tinggal video call,"


"Ya kan Ayu pengen istirahat di rumah mas," pembicaraan keduanya terhenti ketika tukang bubur menyajikan dua porsi bubur Ayam dan dua gelas teh tawar hangat.

__ADS_1


"Kan bisa istirahat di apartemen, emang kasurnya kurang nyaman ya, apa mau aku belikan kasur seperti di kamar kamu?" Ucap Benedict sambil menyantap makanannya.


"Kenapa mas Ben terkesan memaksa buat sama Ayu terus sih?"Tanyanya heran.


"Kenapa kamu selalu berusaha lari dari aku sih?"tanya lelaki itu balik.


Ayudia yang sedang mengunyah makanan menjadi tersedak mendengar pertanyaan laki-laki itu, Benedict segera memberikan minuman yang tersedia.


Setelah Ayudia merasa lebih baik, ia memilih menghabiskan makanannya tanpa berbicara hingga bubur ayam satu porsi itu habis tak bersisa.


Saat keduanya berjalan kembali ke apartemen, Ayudia membahas hal yang tadi membuatnya tersedak, "mas, Ayu nggak lari dari kamu, bukannya kamu yang sengaja nggak menghubungi Ayu selama di sana?"


"Aku sengaja nggak menghubungkan kamu, karena kalau aku lihat wajah kamu atau dengar suara kamu, aku bisa nekad langsung datang kesini tanpa pikir panjang, kamu pikir aku nggak tersiksa di sana nahan kangen, nahan jari aku buat nggak menelpon kamu," Benedict menghela nafas kasar sambil berkacak pinggang dihadapan gadisnya, "urusanku di sana bahkan belum selesai, namun karena kamu kirim pesan begitu sama aku, aku nekad terbang kesini untuk memperbaiki hubungan kita, bahkan semua dewan direksi menentang keputusan aku," ucapnya keceplosan hampir mengungkapkan apa pekerjaannya.


Ayudia mengernyit dan memahami maksud dari kata-kata yang keluar dari mulut lelaki yang berdiri dihadapannya, "apa yang kamu maksud dewan direksi? Apa sebenarnya pekerjaan kamu di sana? Apa kamu pimpinan perusahaan besar?,"tanyanya serius.


Benedict menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sepertinya ia harus jujur mengenai siapa sebenarnya dirinya, "kita duduk di bangku itu aja ya!" Perintahnya merangkul bahu gadisnya untuk duduk di bangku taman yang masih ada di lingkungan apartemen.


Mendengar penjelasan lelaki itu, Ayudia seketika melepas paksa tangan lelaki itu, ia berdiri tanpa berkata apapun dan meninggalkan lelaki itu.


Tentu saja Benedict segera mengejar gadis yang berjalan masuk melalui pintu belakang gedung apartemen itu, ia menarik tangan gadisnya yang hendak memasuki lift yang terbuka, "kenapa kamu tiba-tiba ninggalin aku sih? Ngomong apa dulu kek, jangan kayak gini"


"Aku mau ke atas, emang nggak boleh?" Jawabnya santai.


Beruntung di lift hanya ada mereka berdua, Benedict masih menggenggam tangan gadisnya, ia tak akan melepaskannya dengan mudah.


"Mas, aku langsung pulang ya!" Ujarnya menaiki tangga menuju lantai atas untuk mengambil tasnya.

__ADS_1


Benedict mengikutinya, "kenapa kamu langsung pulang setelah mendengar penjelasan aku?"


"Kan tadi aku udah bilang, aku mau liat adik-adik aku mas," ucapnya sambil memasukan ponselnya yang tadi ia cas.


"Tapi aku masih kangen sama kamu,"Benedict memeluk gadisnya dari belakang, ia menunduk dan menyandarkan kepalanya pada bahu gadisnya.


Ayudia menghela nafas, ia melepaskan lilitan tangan besar lelaki itu pada perutnya, ia berbalik menghadap lelaki yang tengah tertunduk itu, "mas, aku nggak pernah minta kamu untuk mengorbankan sesuatu yang besar seperti cerita kamu tadi, itu buat aku terbebani dan merasa bersalah sama keluarga kamu serta para bawahan kamu di sana, kamu nggak bisa bertindak semaunya hanya untuk perempuan seperti aku, aku yakin kamu akan dapat perempuan yang setara dengan kamu, yang bisa sesuai dengan derajat kamu oke, jadi mending sekarang kamu pulang ke sana, dan menjalani kehidupan seperti sebelum kamu ketemu aku, anggap aja aku nggak pernah masuk di hidup kamu," ungkapnya dan segera pergi dari hadapan lelaki itu.


Ayudia mengambil makanan yang semalam diberi oleh mbak Sinta di kulkas, tak lupa ia mengganti bajunya yang semalam ia sempat cuci dan dikeringkan nya.


Saat ia keluar dari kamar mandi setelah mengganti bajunya, Benedict berdiri menunggunya di depan pintu kamar mandi, lelaki itu menatapnya tajam.


"Ada apa mas Ben?" Ayudia berbasa-basi, ia tau lelaki dihadapannya sedang marah atas ucapannya tadi, mungkin harga diri lelaki kaya itu terluka akibat penolakannya, "Ayu pulang ya mas, terima kasih atas tumpangannya semalam,"pamitnya berlalu menuju pintu keluar.


"Apa kamu tidak bisa menghargai aku yang sudah mengorbankan waktu hanya ingin bertemu kamu? Apa tidak ada setitik rasa sayang dan cinta di hati kamu buat aku?" Ucapnya menghentikan langkah gadis itu.


Tanpa memandang lelaki itu, Ayudia berucap, "aku nggak pernah minta kamu berkorban sejauh itu untuk perempuan biasa seperti aku, aku pamit mas, terima kasih," ucapnya sambil membuka pintu, namun tertahan oleh tangan besar lelaki itu.


Benedict membalikan tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya, ia langsung membungkam mulut gadisnya dengan mulutnya.


Lelaki itu menahan tengkuk dan pinggang gadisnya, ia menggigit bibir bawah gadisnya dan memasukan lidahnya, ia terus ******* mulut yang sedari tadi mengeluarkan kata-kata penolakan untuknya.


Ia tak mempedulikan pukulan pada pundaknya, sampai ciuman terhenti, ketika ia merasakan asin pada mulut yang tengah ia sesap itu.


Ayudia menangis diperlakukan seperti itu, namun tangannya lemas tak berdaya ketika ingin menampar lelaki yang baru saja melepaskan lumatannya.


Setelah sekian lama lelaki seperti Benedict mengeluarkan air matanya, terakhir ia menangis saat daddy-nya meninggal dua puluh tahun yang lalu, dan sekarang, hanya karena seorang gadis biasa bernama Ayudia, ia menangis?

__ADS_1


Benedict memeluk gadisnya erat, ia tak ingin kehilangan gadisnya, "please ay, jangan tinggalkan aku,"bisiknya tepat di telinga gadisnya.


Ayudia membalas pelukan lelaki itu, sejujurnya ia memang ada rasa nyaman ketika bersama lelaki ini, namun perbedaan kasta sepertinya tidak memungkinkan mereka untuk bersatu.


__ADS_2