Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh satu


__ADS_3

Benedict mengirim pesan pada Nando agar lelaki itu, membawa keliling Ayudia terlebih dahulu, setidaknya sampai dirinya tiba di rumah, calon ayah itu ingin memastikan sekali lagi kondisi rumahnya.


Sesampainya di rumah, Benedict segera mengumpulkan pekerja  di rumah itu, ia memberitahukan, bahwa Nyonya rumah mereka akan segera tiba.


Benedict juga meminta agar mereka melayaninya dengan baik.


Tadi ia sempat menelpon ibu Rama, agar mengirim masakan sehat untuk makan malam istrinya nanti.


Baru selesai membubarkan para pekerja, sekuriti yang baru keluar, kembali masuk dan memberitahukan bahwa ada mobil di depan gerbang.


Benedict menunggunya di ruang tamu, ia sedang berakting seolah ia tidak tau apa-apa.


Teringat kemarin saat ia mengunjungi cafe dan bertemu dengan Satria, ia curhat dengan ayah dua anak itu soal masalah rumah tangganya.


"Orang kayak Ayu, nggak suka terlalu dikejar, Lo harus tarik ulur, kayak lagi main layangan, watak Ayu persis sama kayak bini gue,"


Anna memasuki rumah terlebih dahulu, "Ben, kok kamu nggak nyambut istri kamu sih,"protesnya.


Benedict yang sedang memainkan game online, melirik ibunya sekilas, "lagi nanggung Bu,"sahutnya berpura-pura.


Nando datang mendorong kursi roda dengan Ayudia yang duduk di sana, lelaki melirik Benedict, lelaki itu sedang duduk di sofa, "Ben, gue mau nganterin Ayu,"


Benedict menghentikan kegiatannya, tanpa menatap istrinya ia berucap, "kalau mau istirahat, langsung bawa ke kamar aja, ada di lantai dua, Lo naik lift aja, ada di sebelah tangga,"


"Kenapa nggak Lo aja yang ngantar ke kamar? Lo kan lakinya,"tanya Nando, ia tau sahabatnya sedang bersandiwara.


"Emang Ayu mau gue yang nganter?"tanyanya balik.


"Gue mau ada perlu Ben, ini gue mau jemput Asha, dia tadi nggak bawa mobil,"ujar Nando.


"Oh ya nduk, ibu lupa, nanti ibu mau Dateng ke pesta nikahan anaknya temen, ibu mau ke salon dulu, ibu tinggal ya!"pamit Anna dan Ayudia mencium tangan mertuanya.


"Do, Tante nebeng ke salon ya! Kan searah sama rumah sakit,"ucapnya pada Nando, lelaki itu menganggukkan kepalanya.


"Ayu, gue balik dulu ya! Besok pagi gue kesini lagi temenin lo jalan-jalan,"


"Hati-hati A, makasih ya!"ucap wanita hamil itu.


Andai bisa, rasanya Benedict ingin salto saking senengnya,  namun ia berusaha keras menahannya, ia juga berpura-pura sibuk memainkan ponselnya.


Melihat perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba mendiamkannya, Ayudia menghela nafas, rasanya ia ingin pergi dari situasi canggung ini, namun teringat ucapan Natasha, mau tak mau, ia akan menurunkan sedikit egonya.

__ADS_1


"Mas, bisa kamu antar aku ke kamar? aku mau istirahat b?"Tanya wanita hamil itu.


Benedict memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, ia bangkit menghampiri istrinya, tak banyak bicara ia mendorong kursi roda milik istrinya.


Kamar utama rumah itu ada dilantai dua, lelaki itu menaiki lift untuk mengantarkan istrinya beristirahat.


Ayudia memasuki kamar dengan dominasi warna cokelat dan putih, kamar yang menurut wanita hamil itu sangat luas, lebih luas dibandingkan kamarnya dulu di penthouse,


"Mau aku bantu pindah ke ranjang?"tawar Benedict.


"Nggak usah, aku bisa sendiri,"ucap Ayudia bangun dari kursi roda, bukannya ke ranjang ia berjalan ke toilet.


Benedict duduk di sofa singel sambil memainkan ponselnya,


"Mas,"panggil wanita hamil menonjolkan kepalanya,


Benedict yang dipanggil, bangkit dan berjalan menuju istrinya, "ada apa?"tanyanya.


"Pinjem kaos dong, aku lupa, baju-baju aku masih di rumah Asha, tadi baju aku basah, tersiram air,"jelasnya.


"Bukannya didalam ada handuk, kamu bisa pakai itu dan memilih baju sendiri,"


Benedict menunjukkan dimana letak walk in closet yang ada dikamar itu.


Ayudia sudah tidak kaget dengan banyaknya koleksi pakaian serta aksesoris milik suaminya, yang memenuhi ruangan itu, namun ia heran, ada baju-baju perempuan di sana, "ibu yang beliin buat kamu, semua kebutuhan kamu disini, ibu yang menyiapkan, mudah-mudahan sesuai dengan selera kamu,"ucap calon ayah itu.


Ayudia memilih baju yang akan ia kenakan, banyak daster batik yang biasa ia pakai sejak perutnya membesar, ia memilih daster batik berwarna dasar biru, bra dan ****** ***** juga sesuai ukurannya, mertuanya tau betul ukuran dan apa yang menantunya butuhkan.


Namun saat wanita hamil itu hendak memakai ****** *****, ia sedikit kesulitan,


"Mas, bisa tolong bantu aku?"ucapnya pada suaminya yang sedari duduk memainkan ponsel di salah satu kursi.


Benedict melirik istrinya yang masih mengenakan handuk mandi, "kenapa?"tanyanya.


"Bantu aku pakai CD, aku nggak bisa nunduk,"jawab Ayudia.


Lelaki itu menghampiri istrinya, tak banyak bicara, Benedict memakaikannya CD.


Benedict yang sudah lama tidak berhubungan intim sejak istrinya pergi, hanya dengan melihat saja dan tak sengaja menyentuh paha istrinya, mendadak gugup.


Ia sampai menahan nafas sejenak, ia juga membantu istrinya berdiri agar CD perempuan hamil itu terpasang dengan benar.

__ADS_1


Usai memakai CD, Ayudia melepas handuk mandinya, karena ia akan memakai Bra nya, tentu saja hal itu membuat Benedict semakin panas dingin, apalagi tubuhnya wanita hamil itu semakin terlihat berisi dan seksi.


Benedict sampai mengalihkan pandangannya, ia berusaha agar tidak menyerang istrinya sekarang.


Ayudia sebenarnya sengaja melakukan hal tadi untuk menarik perhatian suaminya, ia butuh lelaki itu untuk melancarkan persalinannya, namun sepertinya Benedict tak mempedulikannya.


Beberapa menit kemudian, Ayudia baru keluar dari ruangan itu, ia melihat suaminya sedang memainkan ponselnya sambil bersandar di sofa.


"Mas, aku tidur dulu ya!"ijinnya.


Benedict hanya mengangguk, tak ada ucapan yang keluar dari mulutnya.


Ayudia tak kunjung bisa menutup matanya, padahal tadi saat perjalanan dari rumah sakit, ia sangat mengantuk.


Karena tak kunjung bisa menarik perhatian suaminya, maka Ayudia memberanikan diri, "Mas, bisa tolong peluk aku?" Ungkap perempuan hamil itu yang melihat suaminya masih sibuk dengan ponselnya.


"Bukannya kamu nggak mau deket-deket aku, kenapa tiba-tiba malah minta peluk? Kamu kan benci sama aku"ujar lelaki itu tanpa menatap istrinya.


"Aku butuh berhubungan intim sama kamu, supaya aku bisa melahirkan dengan lancar,"tutur wanita itu jujur.


"Apa ini alasan kamu mau kembali sama aku?"tanya lelaki itu.


"Salah satunya, tapi apakah kamu tidak mau? Apa karena aku sekarang gendut? Dan jelek"


"Apa menurut kamu, aku mencintai kamu karena memandang fisik kamu?"


"Jadi kamu nggak mau bantu aku?"


Pertanyaan dijawab pertanyaan, Benedict kesal mendengarnya, namun ia harus menahan emosi.


Lelaki itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan "Apa tidak berpengaruh dengan kandungan kamu?"


"Justru itu yang di sarankan oleh Asha, aku juga udah cek di google kok, kalau kamu nggak percaya, kamu bisa cek sendiri,"


"Tapi aku takut akan menyakiti kamu dan bayi kita,"


"Jika aku merasa tidak nyaman, nanti aku bilang,"


"Apa kamu yakin?"


Ayudia mengangguk yakin.

__ADS_1


__ADS_2