Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tiga belas


__ADS_3

Acara beres-beres berlangsung hingga pukul setengah dua belas malam, Ayudia dan seluruh Crew berkumpul diruang yang sebelum acara dimulai tadi.


Mas Danu dan mbak Sinta membagikan amplop kepada mereka, tak lupa berterima kasih karena pesta berjalan dengan lancar dan pengantin puas dengan pelayanan EO ini.


"Ayu, kayaknya mbak nggak bisa pulang bareng kamu deh, ada yang harus mbak urus dulu, takut kelamaan kalau kamu nungguin," ucap Sinta setelah para crew membubarkan diri.


"Oh ya udah, Ayu balik naik ojol aja, toh malam Minggu gini kan biasanya masih rame," ujarnya.


"Ya udah kamu hati-hati, kalau udah sampai rumah, kamu kabari mbak ya! Terus jangan lupa jatah makanan kamu di bawa,"


"Terima kasih ya mbak Sinta, udah kasih kerjaan ke Ayu, kalau gitu, aku balik dulu ya mbak," ucapnya berpamitan.


Ayudia menunggu ojek online tepat di pinggir jalan depan hotel, namun sudah lima menit berlalu, Abang ojek belum juga muncul.


Sampai ada mobil sport hitam berhenti tepat di depannya, Ayudia merasa tidak mengenali mobil itu, gadis itu hanya diam saja.


Namun sepertinya Ayu yang tidak peka, membuat pengemudi mobil itu membunyikan klakson beberapa kali, karena tak sabar pengemudi itu akhirnya keluar menghampirinya.


Ayudia yang sedang memainkan ponselnya dibuat terkejut dengan kedatangan lelaki yang masih berpenampilan sama saat keduanya bertemu di dalam ballroom tadi.


"Kamu nggak denger dari tadi aku sengaja bunyikan klakson buat kamu," ucap lelaki itu kesal.


"Ya mana Ayu tau kalau ternyata itu pengemudi mobil itu mas Ben, emang ngapain mas Ben klakson-klakson segala?"


"Ayo aku antar pulang, udah malem, bahaya cewek pulang malam-malam, nggak ingat kamu kejadian saat pertama kali kita ketemu," ujar lelaki itu sambil menggandeng tangan Ayudia.


Gadis itu melepas paksa tangannya, "lepas, Aku udah pesan ojol mas, tuh abangnya udah Dateng," ujarnya menunjuk ojol dengan jaket hijau dan hitam itu.


"Kamu pulang sama aku aja,"


"Tapi kasian Abang ojol nya udah nyamperin,"


Benedict langsung menghampiri ojol yang berhenti tepat di belakang mobilnya, ia berbicara pada Abang ojol dan terlihat memberikan dua lembar uang berwarna merah, hal itu membuat Abang ojol tersenyum lebar dan segera berlalu dari sana.


"Masalah Ojol udah bereskan, sekarang kamu ikut aku," Benedict menggandeng lagi tangan Ayudia menuntunnya menuju mobil, namun saat hendak membuka pintu mobil, Ayudia melepaskan paksa tangannya.


"Apaan sih mas, kok kamu maksa," protesnya kesal.


Benedict memegangi tengkuknya, "kamu kan maunya dipaksa, sekarang kamu masuk, sebelum aku benar-benar paksa kamu," dengan terpaksa gadis itu menurut.


Didalam mobil terjadi keheningan diantara keduanya, sampai Benedict terlebih dahulu angkat bicara, "sepertinya hidup kamu baik-baik aja ya tanpa aku?"


Ayudia yang sedari tadi memandangi jalanan, mengalihkan pandangannya menghadap lelaki disampingnya, "Haruslah mas, ada tiga adik yang aku perjuangkan masa depannya,"


"Padahal aku di sana nggak baik-baik saja Yu, apalagi saat kamu kirim pesan yang nggak pernah terlintas di pikiranku sama sekali, kamu jahat sama aku,"


Mendengar ucapan lelaki itu, membuat Ayudia sedikit merasa bersalah, namun ia segera menepisnya, prioritas utamanya adalah ketiga adiknya.


"Kenapa diam aja Ay?" Tanya Benedict yang menghentikan laju mobilnya saat lampu berwarna merah.


"Terus Ayu mesti jawab apa mas, kan Ayu udah kasih tau alasannya mengapa hubungan kita harus diakhiri,"


Benedict kembali melajukan mobilnya ketika lampu berubah warna hijau, "kalau aku nggak mau gimana?"


"Ya itu urusan kamu mas, itukan hak kamu, mau menyukai siapapun,"

__ADS_1


"Jadi kamu bener nggak peduli sama apa yang bakal aku lakuin nih?"


Ayu memutar bola matanya malas,"terserah kamu mas,"


"Sekali lagi aku tanya, kamu serius nggak peduli dengan apa yang aku lakuin," ucap Benedict menegaskan.


"Iya mas Ben, terserah kamu, puas," sepertinya jawaban itu akan Ayudia sesali sebentar lagi.


Tanpa banyak kata Benedict mempercepat laju mobilnya, Ayu terkejut dan langsung berpegangan erat di atas pintu mobil, "apa-apaan sih kamu mas, kalau mau bunuh diri, sendiri aja, nggak usah ngajak Ayu, Ayu masih punya tanggungan," ungkapnya kesal.


Benedict membawa gadis itu menuju Apartemen yang dulu pernah ia datangi bersama Ayu sebelum ia kembali ke US.


"Kenapa di bawa kesini sih mas? Aku mau pulang aja," ujarnya sambil membuka pintu mobil dan berjalan mencari pintu keluar parkiran.


Tentu saja Benedict mengejar gadis itu, "mau kemana kamu?" Tanyanya sambil memegang pergelangan tangan Ayudia.


"Ayu mau pulang mas, udah malam," jawabnya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan besar itu.


Benedict tersenyum sinis, "bukan kah kamu setuju apa yang akan aku lakukan ke kamu?"


"Kapan aku bilang begitu?"


"Tadi pas di mobil,"


Ayudia berusaha mengingatnya, "maksudnya nggak kayak gini mas,"


"Jadi aku harus gimana menurut kamu?"


"Ya kan kita udah putus, kayaknya nggak pantas aja kita berduaan kayak gini,"


"Udah deh mas, aku udah cape banget hari ini, aku mau pulang istirahat,"


"Kan bisa istirahat di apartemen aku,"


"Sekarang kita nggak sedekat itu untuk berbagi kamar mas?"


"Kamu mau jalan sendiri atau aku gendong,"


"Please mas, aku cape banget sekarang, udah nggak ada tenaga buat debat sama kamu,"


Tanpa banyak kata, Benedict menggendong Ayudia layaknya karung beras, menuju unit apartemennya.


Gadis itu hanya bisa pasrah dengan perlakuan lelaki itu.


Saat sudah di depan pintu unit apartemennya, Benedict memencet kode password pintu apartemen.


Ia menggandeng tangan gadis itu, untuk memasuki unit apartemennya.


Ayu duduk di sofa panjang sedangkan Benedict mengambilkan air dingin dari kulkas.


Lelaki itu duduk di sofa singel setelah mempersilahkan gadis itu untuk minum.


"Mas Ben kapan tiba di sini?"tanya Ayudia berbasa-basi.


"Tadi siang," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Udah selesai urusannya di sana mas?"


"Belum, tapi terpaksa aku tunda sementara, karena ada hal penting yang harus aku urus di sini,"


"Oh gitu ya mas,"


Hening beberapa menit, "kok kamu nggak nanya balik tentang hal penting yang akan aku urus di sini?"


"Oh gitu ya mas,"


Hening beberapa menit, "kok kamu nggak nanya balik tentang hal penting yang akan aku urus di sini?"


"Lah apa hak aku, nanya kayak gitu sama kamu?" Sahut gadis santai.


Benedict pusing mendengar ucapan gadis itu, ia memijit ringan kepalanya, "setidaknya kamu hibur aku dikit, biar aku seneng gitu,"


"Emang aku harus hibur gimana sih mas? Aku bukan pelawak atau komika, salah alamat kalau kamu minta aku hibur kamu,"


Benedict berdiri dan berjalan menuju jendela kaca di belakang sofa, tak lupa mengubah mode kaca tersebut agar bisa melihat pemandangan ibukota dimalam hari.


Dia sengaja melakukan hal itu agar amarahnya tidak semakin menjadi karena sikap gadis yang ia cintai, ia menarik nafas dan menghembuskannya pelan, terus seperti itu hingga amarahnya mereda.


Setelah benar-benar amarahnya hilang, Benedict membalikkan tubuhnya dan menghampiri gadisnya, ia berlutut tepat di hadapan gadis yang masih duduk di sofa panjang miliknya,


Ia memegang kedua tangan gadisnya lalu menciuminya seraya menatap lembut gadis yang ia cintai, "Ayudia maafin aku, atas semua tindakan aku ke kamu, baik soal uang yang aku kasih ke adik kamu, atau soal aku yang nggak pernah menghubungi kamu selama aku pergi, atau apapun perlakuan aku ke kamu yang buat kamu sakit hati, tapi please jangan pernah putuskan aku, aku sayang dan cinta kamu, kamu bisa rasain bagaimana jantung aku ketika lagi bareng kamu," ungkapnya sembari menempelkan tangan gadisnya ke dadanya.


Ayudia bisa merasakan bagaimana jantung lelaki yang sedang berlutut dihadapannya berdetak kencang, "mungkin kamu sakit jantung mas, coba kamu konsultasi ke dokter,"sarannya.


Benedict melongo mendengar saran gadisnya, ia menunduk dan menyandarkan kepalanya di kedua lutut gadisnya yang mengenakan celana hitam panjang, ia benar-benar pusing sekarang, bisa-bisanya gadis biasa seperti ini membuatnya gila.


Lelaki itu mengangkat kepalanya, menatap dalam kedua mata gadisnya, ia memegangi kedua pipi gadisnya, "Ay," ucapnya lembut, "apa sebelumnya kamu pernah berhubungan dengan pria lain atau jatuh cinta atau pacaran dengan pria lain?"tanyanya.


Ayudia yang ditanya mengernyitkan dahinya mengingat-ingat sesuatu, "kalau pacaran sih aku nggak pernah, nggak ada waktu buat mikirin hal merepotkan kayak gitu," ucapan gadis itu membuat Benedict lega, karena menjadi orang yang pertama untuk gadisnya, namun Ayudia kembali berucap, "kalau jatuh cinta pernah, waktu SMA sama teman sekelas Ayu, cowok itu ganteng banget dan jadi most wanted di sekolah Ayu,"ceritanya bersemangat.


Benedict melepaskan kedua tangannya dan duduk di karpet, ia lemas mendengar pengakuan gadisnya selanjutnya, ia pikir ia cinta pertama gadisnya.


Dengan wajah berseri-seri Ayudia menceritakan kisahnya, "aku juga sering jalan beberapa kali sama dia, waktu itu aku bahagia banget mas, walau kita cuman ngobrol, makan bareng di kantin, belajar bareng di perpus, atau diantar jemput, ya walau nggak sampai ada kata jadian sih, cuman karena dia lulus SMA dan melanjutkan kuliah di luar kota, kami jadi nggak berhubungan lagi si, saat itu aku patah hati banget,"jelasnya.


Kalau bisa di gambarkan mungkin akan ada api yang keluar dari kepala lelaki yang tahun ini berusia  hampir tiga puluh tahun itu, namun ia tak akan mau mengakuinya, bahwa ia sedang cemburu dengan lelaki yang ada di masa lalu gadisnya.


Benedict mencoba tetap tenang, "terus apa kamu nggak berusaha mencarinya?"Tanyanya.


"Nggak sempet mas, pas terakhir reuni, kata temen aku, dia nanyain aku, dia lagi ngambil kuliah S2,"


"Terus kamu nggak coba buat cari tau dia, kan sekarang bisa cari pakai medsos,"


"Aku malu mas, aku nggak sebanding sama dia, dia orang terpelajar sedang aku cuman lulusan SMA yang harus bekerja keras untuk adik-adik,"


"Apa kamu masih suka sama dia?"


"Kalau suka ya masih lah, yang namanya kita pernah berhubungan cukup dekat ya walau status kami nggak jelas sih,"


"Apa dia pernah mengungkapkan perasaannya ke kamu?"


"Pernah malah sampai tiga kali, tapi aku selalu jawab, jalanin aja dulu, toh selama itu kami baik-baik saja,"

__ADS_1


Benedict bangkit berdiri membelakangi gadis itu, ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, ia sedang emosi sekarang.


__ADS_2