Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh lima


__ADS_3

Benedict memarkirkan motor matic yang biasa digunakan oleh pekerja di rumahnya, pada tempat parkir tepat di samping pasar yang tak jauh dari rumahnya.


"Ay, kamu serius mau kesini? Kayaknya pasarnya lagi rame deh,"ujar Benedict saat membantu istrinya turun dari motor itu,


"Yakin lah, ini mendingan dibanding pasar Deket rumah aku, kalau hujan dikit langsung banjir,"


Ayudia berhenti sejenak, perutnya mulas, ia mengelus perut besar itu,


Benedict yang menyadarinya, bertanya, "kenapa Ay?"


"Bentar mas, cari tempat duduk dulu yuk, tolong beliin aku minum dong,"pintanya.


Benedict merangkul istrinya dan membimbingnya untuk duduk di  bangku panjang yang berada didepan warung kopi tak jauh dari pintu masuk.


Ayudia merasa lebih baik setelah meminum air mineral yang diberikan suaminya, tak lupa ia berterima kasih.


Beberapa menit setelah perempuan hamil itu tidak lagi merasakan mulas, ia meminta suaminya, agar melanjutkan kegiatan mereka untuk berburu kuliner di pasar itu.


Tak jauh dari sana, ada nenek-nenek penjual jajanan cenil dan lupis, Ayudia meminta suaminya membelikan makanan itu.


Perempuan hamil itu memakan jajanan pasar itu langsung ditempatnya, ada senyum cerah yang memperlihatkan lesung pipinya, senyum yang sudah lama Benedict tak lihat.


Ayudia berbisik kepada suaminya agar memberikan beberapa uang berwarna merah pada nenek-nenek itu.


Senyum mengembang terlihat di wajah nenek renta itu, ia berterima kasih pada pasangan suami istri itu, tak lupa doa kebaikan untuk keduanya.


Dari penjual itu, Ayudia berjalan lagi menuju penjual es campur yang bersebelahan dengan pedagang bakso, ia memesan dua porsi bakso juga es campur, dengan lahap wanita hamil itu memakan makanan yang dipesannya itu.


Benedict sampai melongo melihat nafsu makan istrinya.


Hanya beberapa meter dari sana ada warung nasi khas Sunda, dimeja yang berada di lorong terdapat aneka macam pepes, wanita hamil itu  meminta suaminya untuk berhenti dan memakan nasi dengan pepes yang ada di sana.


Setelah dari sana, Ayudia mengajak suaminya untuk keluar dari pasar, ia meminta diantar ke penjual rujak yang berada tepat di samping gerbang masuk pasar.


Wanita hamil itu memesan satu porsi rujak dengan sambal, saat sedang menunggu penjual rujak memotong buah, Ayudia meminta suaminya untuk mengambil motor di parkiran.


Sepeninggal Benedict, mulas itu kembali datang, berkali-kali Ayudia mencoba mengatur nafas, ia juga meminta tolong pada Abang tukang rujak untuk membelikannya air mineral.


Mulasnya hilang sebelum kedatangan suaminya.


Ayudia menyuapi Benedict dengan rujak yang sudah jadi beberapa menit yang lalu,


"Mas beliin molen sama martabak mini dong, kayanya enak tuh, di motor sambil ngemil,"


Meski merasa aneh, Benedict menuruti permintaan istrinya.


Setelah semua permintaannya dituruti, ia meminta suaminya untuk berjalan-jalan sebentar di taman yang berada didepan Sekolah Dasar yang dilewatinya.


"Mas, uang kamu masih banyak nggak?"tanya Ayudia saat ia sudah berada didepan sekolahan itu.


Benedict mengecek dompetnya, dan menunjukkan isinya pada istrinya,


Ayudia berfikir sejenak sambil menghitung pedagang kaki lima yang ada di sana, "mas coba kamu ambil uang lagi di ATM deh,"ucapnya.


Benedict mengernyit bingung, tapi tetap menuruti permintaan istrinya, setelah memastikan wanita hamil itu duduk dengan nyaman disalah kursi milik pedagang di sana.


Mulas itu datang kembali, Ayudia mengatur nafasnya, sesuai yang pernah diajarkan oleh asisten Natasha, ia juga mengelus perutnya, tak lupa berbicara menenangkan kedua bayinya, "anak-anak bunda, tahan dulu sebentar ya, kita tunggu ayah dulu,"

__ADS_1


Keringat dingin mulai keluar dari dahi dan leher wanita hamil itu, ia meminta tolong ke salah satu pedagang untuk memberinya air mineral kemasan.


Sepuluh menit berlalu, Benedict datang, ia melihat istrinya tengah memakan kue gepeng berwarna hijau,


"Ay, kamu makan apa?"tanya Benedict.


"Ini kue ape, manis, aku suka, kamu mau coba?"ucap wanita hamil itu.


Benedict mengangguk dan menerima suapan dari istrinya.


"Oh ya mas, uangnya tolong bagikan ke semua pedagang disini, sama rata ya!"pinta Ayudia.


Benedict menghitung jumlah pedagang di sana, tadi saat di ATM, ia mengambil lebih banyak, ia membagikan secara rata ke seluruh pedagang yang ada di sana secara rata, tentu saja hal itu membuat semua pedagang mendadak heboh, mereka menghampiri perempuan hamil yang tengah duduk itu, bergantian mereka mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan padanya.


"Makasih ya mas, hari ini udah turuti semua permintaan Ayu,"ujarnya sambil memeluk suaminya dari belakang, mereka baru saja menaiki motor bersama.


Benedict mengambil tangan istrinya yang ada di pinggangnya lalu menciumnya.


"Aku minta satu lagi boleh nggak?"teriak Ayudia dari belakang,


Lelaki yang mengemudikan motor itu mengangguk.


"Aku pengen ketemu Natasha, aku kangen, bisa antar aku ke tempat prakteknya nggak?"


Lagi-lagi Benedict mengangguk,


Mulas kembali menyerang, keringat keluar lebih banyak dari sebelumnya, namun Ayudia sebisa mungkin menahannya, ia tidak ingin membuat suaminya khawatir.


Lima belas menit kemudian keduanya sampai di lobby depan rumah sakit,


Saat Benedict membantu istrinya turun dari motor dan menyerahkan kunci motor pada sekuriti itu.


"Ay, kayaknya wajah kamu pucat deh, kamu juga berkeringat,"ucap lelaki itu khawatir.


"Mas bisa tolong ambilkan kursi roda, kayaknya aku nggak sanggup jalan deh,"pintanya.


Benedict memanggil salah satu petugas yang kebetulan lewat,


Setelah Ayudia duduk dengan nyaman dan mulai tenang ia meminjam ponsel suaminya.


Wanita hamil itu menghubungi Natasha,


"Sha, Lo lagi sibuk nggak?"tanya Ayudia pada sahabat sekaligus dokternya.


"...."


"Ke lobby dong, bawa sekalian assisten Lo,"


"..."


Setelahnya ia juga menghubungi mertuanya, menanyakan hal yang sama juga meminta hal yang sama.


Selesai menghubungi mertuanya, ia menghubungi Nando, meminta lelaki itu untuk mendatanginya.


"Ada apa sih Ay, kok kamu telpon Nando segala, kan tadi dia bilang, mau keluar kota,"


"Urusan pekerjaan bisa nanti mas, emang kalau A Nando nggak datang ke sana, kamu bisa jatuh miskin,"

__ADS_1


"Ya bukan gitu Ay, itu kan tanggung jawab Nando,"


"Tapi aku mau, aa disini,"


"Kan ada aku Ay,"


"Aku maunya A Nando,"


Benedict menghela nafas kasar, ia memegangi tengkuknya yang mendadak tegang, "kamu kenapa si Ay, selalu dekat-dekat Nando, yang suami kamu itu aku Ay, Benedict bukan Nando,"ucapnya dengan nada tinggi.


"Kalau kamu keberatan, silahkan pergi dari sini, oh aku lupa, ini kan punya kamu ya! Apa aku pergi aja dari sini?" Ujarnya tak kalah ketus.


Benedict yang menyadari kesalahannya berjongkok didepan lutut istrinya, "maaf Ay, aku nggak bermaksud begitu, aku cemburu Ay, aku merasa kamu tidak membutuhkan aku,"ucapnya memohon.


Pembicaraan mereka terhenti ketika Natasha beserta asistennya menghampiri pasangan suami istri itu,


"Kenapa Ayu?"tanya Natasha.


"Sha, gue kangen sama Lo,"jawabnya konyol.


"Nggak jelas tau nggak, untung gue baru aja selesai meriksa pasien, bikin panik aja Lo," ucap gadis itu kesal.


"Sorry deh, tapi gue lagi nunggu ibu sama A Nando dulu, ada yang mau gue omongin,"


"Emang ada apa sih Ayudia?"ujarnya sambil duduk di bangku di seberang kursi roda yang dinaiki sahabatnya.


"Ya pengen ngumpul aja sih,"


Assisten Natasha membisikan sesuatu ke telinga atasannya itu,


"Jangan bilang Lo mau lahiran sekarang Ayu?"


Wanita hamil itu hanya tersenyum,


"Udah berapa menit sekali datangnya?"


"Tadi barusan, mungkin sekitar tiga puluh menitan lah,"


"Lo nggak bilang ke laki Lo?"


Ayudia menggeleng, "entar dia panik sha, gue baru ini jalan-jalan sama dia setelah sekian lama,"


Natasha menghela nafas, ia meminta asistennya untuk mempersiapkan ruang bersalin.


"Ben, Ayu mau lahiran,"ucap Natasha pada Benedict yang sedang berbicara pada Oscar melalui sambungan telpon.


Terlihat wajah panik calon ayah itu, "kenapa nggak ngomong ke aku sih Ay? Terus mana yang sakit?" Lalu lelaki itu beralih ke Natasha, "buruan tanganin bini gue, jangan diem aja disitu,"


"Liat kan sha, kalau gue ngomong dari tadi, adanya gue nggak bisa sampai sini dengan selamat,"ujar Ayudia membenarkan ucapannya tadi..


"Ben, udah nggak usah panik, Ayu aja santai,"


"Nggak bisa gitu sha, pokoknya tolong tangani bini gue dengan baik, ayo ke ruangan bersalin sekarang,"ucap lelaki itu masih panik.


Ayudia memegang tangan suaminya, "mas, nggak usah panik, aku nggak apa-apa, mulesnya juga masih jarang, mending kamu duduk sini,"tunjuknya disampingnya.


Benedict menuruti istrinya.

__ADS_1


__ADS_2