
Selepas makan bakso, Pradikta mengajak Ayudia duduk di taman sambil memakan es krim yang tadi dibelinya di toko sebelah kios Bakso pakde.
"Ay, boleh aku bertanya?"tanya Pradikta memulai obrolan kembali dan Ayudia hanya mengangguk.
"Apa kamu masih sayang sama aku Ay?"tanyanya lagi.
Ayudia menghela nafas, "kenapa tiba-tiba kamu nanya begitu Dikta?"
"Karena aku ingin menjalin hubungan serius sama kamu Ay, kamu ingat kan dulu saat kita SMA, aku pernah bilang, bahwa jika nanti aku udah kerja tetap, aku akan datang ke rumah kamu, buat melamar dan menikahi kamu, kamu ingat janji aku kan?"ucap Pradikta mengingat janjinya dulu ketika keduanya baru saja menerima amplop kelulusan.
"Sekarang aku ingin memenuhi janji itu, kamu ingat juga kan, soal ucapan aku, bahwa aku hanya akan menikah sama kamu, cinta pertama aku,"
"Tapi Dikta, itu kan dulu, saat kita masih SMA, kalau bisa dibilang itu hanya cinta monyet,"
"Tapi Ay, aku serius, sampai detik ini, aku hanya cinta sama kamu,"
Ayudia yang telah menghabiskan es krimnya, bangkit dan membuang bungkus es krim itu ke tempat sampah yang letaknya tak jauh darinya.
"Masa sih Dikta, di kampus kan pasti banyak cewek yang cantik-cantik, belum lagi ditempat kerja kamu,"ucap Ayudia meragukan pengakuan cinta lelaki itu.
"Ay, di hati aku hanya ada kamu, aku tidak peduli dengan perempuan lain, cinta dan sayang aku masih sama Ay seperti dulu,"ungkap Pradikta berusaha meyakinkan Ayudia.
"Dikta, harusnya kamu lupain aku, itu sudah lama berlalu," Ayudia menghela nafas sejenak, "Dikta kamu ganteng, baik, punya kerjaan tentu banyak yang suka sama kamu, kamu tinggal pilih wanita mana yang akan kamu nikahi,"
"Tapi Ay, aku maunya kamu,"
"Tapi aku nggak bisa Dikta,"
"Kenapa? Apa karena kamu nggak cinta sama aku?"
__ADS_1
"Bukan itu Dikta, kita nggak mungkin bersatu,"
"Apa alasannya Ay? Aku nggak peduli apapun alasan kamu, aku mau kamu jadi istri aku Ay,"ucap Pradikta sembari mengambil kota kecil di saku celananya, "aku bahkan udah siapin cincin buat kamu, dan selalu aku bawa sejak aku menginjakkan kaki di kota ini,"ujarnya menunjukkan isi kotak itu,
"Maaf Dikta aku nggak bisa, andai kamu datang tahun lalu, mungkin ceritanya tak akan seperti ini," ucap Ayudia dengan penuh penyesalannya.
Pradikta berjongkok dihadapan Ayudia yang duduk di kursi taman itu lalu lelaki itu menggenggam tangannya, "apa maksud kamu?"
Ayudia melepaskan genggaman tangan lelaki itu dan menunjukkan cincin yang ada dijari manisnya, "maaf Dikta, aku udah nikah,"ungkapnya berkaca-kaca.
Mendengar hal itu Pradikta lemas, ia sampai terduduk di paving blok, ia menunduk lalu ia menatap mata perempuan yang dicintainya itu dengan tatapan kecewa dan berkaca-kaca.
"Maaf Dikta, bukannya aku nggak mau nungguin kamu, kita bahkan lost kontak kan? Aku nggak tau, apa di sana kamu masih memikirkan aku atau tidak,"
Ada air mata yang mengalir disudut mata lelaki itu, "Ay, kamu kan tau aku udah janji sama kamu, sebagai seorang laki-laki, aku nggak mungkin melanggar janji aku, dan maaf karena aku nggak menghubungi kamu atau cari tau tentang kamu, kalau aku dengar suara kamu, aku pasti akan berlari ke kamu, aku berbuat itu supaya aku cepat menjadi sukses dan datang ke kamu dengan kesuksesan aku, supaya aku bisa menikahi kamu dan menjamin masa depan cerah untuk rumah tangga kita kelak,"ungkapnya.
"Maaf Dikta, maaf..."hanya itu yang bisa diucapkan oleh Ayudia.
"Apa kamu mencintainya sebesar rasa kamu dulu sama aku?"tanya Pradikta.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat Ayudia gelapan, ia tau, bahwa nama cinta pertamanya itu masih terpatri disudut hatinya dengan kuat, namun tak bisa dipungkiri, suaminya juga mengisi sudut hatinya yang lain, masalah rasa, entahlah, Ayudia tidak yakin dengan seberapa besar cintanya pada suaminya, yang jelas perasaan berdebar saat bertemu dengan cinta pertamanya itu masih terasa sampai saat ini.
Ayudia hanya diam tak menanggapi, melihat diamnya cinta pertamanya itu Pradikta berkata, "Ay, apa kamu terpaksa menikah?"tanyanya.
Perempuan itu hanya menggeleng, "lalu kenapa kamu nggak bisa jawab pertanyaan aku Ay?"
"Maaf Dikta,"
Pradikta bangkit ia berdiri dihadapan Ayudia, "Ay, kata maaf kamu nggak bisa mengubah segalanya, oke kalau memang rasa sayang kamu buat aku masih ada, bisa tolong kamu tinggalkan suami kamu, dan kembali ke aku, aku tidak peduli apa yang sudah kalian lakukan, aku terima kamu apa adanya,"
__ADS_1
"Nggak semudah itu Dikta, aku lagi hamil sekarang,"
Mendengar pengakuan cinta pertamanya, Pradikta lemas seketika, ia kembali terduduk di paving blok, lelaki itu menunduk, berkali-kali ia menghela nafas.
Air mata mengalir deras di pipi Ayudia, ia tidak tega melihat cinta pertamanya seperti itu,
"Aku nyesel Ay, aku menyesal nggak menghubungi kamu, andai waktu bisa diulang, aku akan selalu datang menemui kamu setiap ada kesempatan, atau sekedar menelpon kamu, agar aku pastikan kamu selalu nunggu aku, aku menyesal Ay, apa yang harus aku lakukan Ay, aku cinta banget sama kamu, rasa itu masih sama besarnya seperti dulu bahkan setiap harinya aku kangen sama kamu, aku harus gimana Ay?"ungkap Pradikta terisak.
Beruntung suasana taman sedang sepi sehingga keduanya tidak jadi bahan tontonan orang-orang.
Ayudia berjongkok, ia memeluk Pradikta, ia menepuk punggung yang selalu ia rindukan dulu, "maaf Dikta, aku nggak nunggu kamu, aku harap kamu bisa segera bertemu dengan wanita yang baik,"ucapnya.
Pradikta membalas pelukan cinta pertamanya, ia mencium kening perempuan itu lembut, ada air mata yang menetes di pipi Ayudia, itu air mata lelaki itu.
"Ay, jika suatu saat dia menyakiti kamu, aku akan selalu disini menunggu kamu, cinta aku akan selalu ada buat kamu,"
"Makasih Dikta,"
Setelah menangis keduanya malah tertawa bersama, merutuki kebodohan keduanya, "kita kayak lagi main sinetron tau nggak?"ucap Pradikta berusaha menutupi patah hatinya.
Mereka berpisah di taman itu, awalnya, Pradikta akan mengantarkan Ayudia, namun dengan halus perempuan hamil itu menolak.
Setelah memastikan Ayudia menaiki taksi dan memberikan uang pada supir taksi itu, Pradikta baru meninggalkan taman itu, walau harus patah hati, setidaknya ia sudah mengobati rasa kangennya bertemu dengan cinta pertamanya itu.
Lain halnya dengan Pradikta, Ayudia justru menangis tersedu-sedu didalam taksi, entah mengapa ia sulih untuk menghentikan air mata yang terus menerus keluar dari matanya.
Hal itu sampai membuat supir taksi heran, namun tak berani bertanya banyak.
Taksi berhenti tepat di depan rumah minimalis itu, dari teras terlihat Benedict sedang menunggunya.
__ADS_1