Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus tiga puluh sembilan


__ADS_3

Wanita yang baru saja melahirkan beberapa menit yang lalu, tak kunjung memberikan reaksi, Benedict semakin panik dibuatnya.


Lelaki itu berteriak-teriak memanggil nama istrinya, bahkan air matanya mengalir terus menerus.


Dokter juga perawat yang masih berada di ruangan itu  segera menangani pasien, sedangkan Benedict yang menangis histeris diseret keluar oleh Natasha, agar tidak mengganggu kerja dokter.


"Ben, Lo mesti tenang, berdoa aja, jangan panik gini,"ucap dokter kandungan itu, setelah mengajak sahabatnya keluar dari ruang bersalin itu.


"Gimana gue nggak panik sha, Ayu menutup matanya barusan, gue bangunin, dia nggak merespon,"ujar Benedict masih sesenggukan.


Natasha menepuk lengan sahabatnya, "Ben, mending Lo shalat dulu, Lo doa minta keselamatan buat Ayu,"sarannya.


Mendengar saran sahabatnya, Benedict beranjak menuju mushola yang disediakan pihak rumah sakit, sejak tiga bulan lalu.


Usai shalat, dengan berlinangan air mata, Benedict berdoa untuk keselamatan istrinya, ini kali kedua ia berdoa sambil menangis memohon kepada Tuhan-nya


Sejam berlalu, laki-laki itu kembali keruangan dimana istrinya berada, namun ia tak menemukannya di sana, hanya ada petugas yang sedang membersihkan kamar bersalin itu.


Benedict panik, dan menelpon Natasha, namun tidak kunjung di angkat.


Ia menghampiri ruangan suster, dan menanyakan keberadaan istrinya, dari salah satu perawat ia mendapatkan informasi, jika pasien yang melahirkan sudah dibawa ke kamar mayat.


Mendengar informasi dari suster, Benedict terduduk lemas, lelaki itu menitihkan air matanya lagi.


Tak terbayangkan dalam pikirannya, ia akan ditinggalkan oleh istrinya untuk selamanya.


Lelaki itu duduk bersandar ditembok, ia menunduk dalam, punggungnya bergetar, entah kata apa yang bisa menggambarkan hancurnya perasaannya.


Kehilangan wanita yang paling ia cintai, tidak pernah terlintas dalam benaknya.


Andai saja boleh, ia lebih merelakan melepaskan wanita itu dibandingkan harus ditinggal mati, setidaknya ia masih bisa melihat wanita itu dari jauh, mencari tau apa yang dilakukan wanita itu secara diam-diam, atau menyelinap ke kamar wanita itu, ketika sudah malam, dan memeluknya tanpa membangunkannya.


Ada tanya dalam hatinya, apa yang harus ia lakukan setelah ini?


Apa ia menyusul istrinya ke alam sana? Tapi bagaimana dengan ketiga buah hatinya? Mereka terlalu kecil jika harus menjadi yatim piatu, apalagi yang masih bayi merah.


Dalam hati Benedict bersumpah, jika istrinya kembali membuka matanya, ia tidak akan membatasi wanita itu lagi, ia juga akan menyumbangkan keuntungan investasinya di Afrika untuk mengatasi kelaparan disalah satu negara di benua hitam itu.


Ia juga berjanji pada dirinya sendiri akan semakin mendekatkan diri pada Tuhan-nya, ia akan umroh setiap tahun bersama istrinya, asal istrinya bisa membuka matanya kembali.


Untuk bangkit berdiri, rasanya kakinya lemas, tulangnya seolah tak bisa ditegakkan, padahal ia harus segera melihat wanita yang ia cintai setidaknya untuk terakhir kalinya, tapi dirinya tak sanggup.


Benedict masih menangis sesenggukan ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya.


Lelaki itu mendongak, ada Troy yang menghampirinya, menanyakan apa yang ia lakukan disini,


"Troy, bisa kau urus semuanya, sepertinya aku tidak bisa mengurusnya sendiri,"ucap Benedict dengan wajah dan mata memerah, berlinang air mata, suaranya bahkan terdengar serak.

__ADS_1


Troy mengernyit bingung, dan  terkejut, ini pertama kalinya ia melihat bosnya berlinangan air mata.


"Apa yang anda lakukan disini? Kenapa anda menangis? Bukankah seharusnya anda senang, pewaris anda bertambah satu lagi?"tanya Troy heran.


"Bagaimana aku tidak menangis? Aku baru saja kehilangan wanita yang paling aku cintai untuk selamanya,"


Troy semakin dibuat bingung, ia bahkan tak mengerti apa yang diucapkan bosnya itu, "maaf Mr. Wright, apa maksud kehilangan wanita paling dicintai? Bukankah wanita yang anda cintai adalah nyonya Ayudia?"


"Kau paling tau hal itu Troy, kau paling tau bagaimana aku mencintai Ayudia, bagaimana otak cerdas ku tidak berfungsi dengan baik, jika berhubungan dengan istriku, tentu saja hanya Ayudia wanita yang paling aku cintai, dan sekarang dia telah pergi selama-lamanya, aku tak akan bisa melihatnya lagi Troy, apa yang harus aku lakukan setelah ini? Apa aku menyusulnya saja untuk mati?"ungkap Benedict masih dengan air mata yang berlinang.


"Siapa yang Mati? Bukankah Nyonya sudah dipindahkan ke ruang rawat, setelah tadi sempat pingsan karena kelelahan!"ucap Troy


"Apa maksudnya Troy? Baru saja suster memberitahukan aku tentang wanita yang baru saja melahirkan dibawa ke kamar mayat,"


"Mungkin itu s


Pasien yang lain, tapi Nyonya baik-baik saja Tuan, bahkan nyonya menanyakan keberadaan Tuan, sekarang Nyonya sedang menyusui bayinya dikamar rawat,"tuturnya menjelaskan.


Benedict berucap syukur, lelaki itu langsung bersujud syukur, Ada rasa lega didalam diri lelaki itu, ia bergegas mengikuti Asistennya menuju ruangan dimana istrinya berada.


Ia membuka pintu dan mendapati, istrinya sedang menyusui bayinya didampingi oleh Natasha.


Terasa mimpi, diam-diam Benedict mencubit tangannya sendiri, rasanya sakit, ternyata ini nyata bukan mimpi, istrinya ada di hadapannya sedang tersenyum dan menanyakan dari mana dirinya.


Lelaki itu menghampiri Ayudia, dan memeluknya, serta mencium keningnya, "terima kasih sudah kembali,"


"Aku nggak apa-apa mas, aku hanya kelelahan tadi,"balas wanita itu sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


Ayudia menepuk punggung suaminya, "mas, aku hanya pingsan karena kelelahan, dan sekarang aku masih disini, bersama kamu,"ujarnya menenangkan lelaki itu.


"Jangan tinggalkan aku istriku,"balas Benedict semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas, jangan kencang-kencang meluknya, ada anak kita,"ujar wanita yang sedang menggendong bayinya.


Benedict segera melepaskan pelukan itu, ia melihat putranya yang baru lahir, bayi mungil dengan kulit kemerahan, seolah sedang melihat padanya.


Lelaki itu mencium kening bayi dengan rambut hitam seperti miliknya, ia teringat fotonya ketika masih bayi, sangat mirip dengan anak ketiganya.


"Apa kamu sudah mempersiapkan nama untuknya suamiku?"tanya Ayudia sambil tersenyum melirik anak ketiganya.


Benedict mengelus pelan rambut hitam legam itu, "akan aku beri nama Ansel Wright, apa kamu setuju istriku?"


"Apapun itu suamiku, terima kasih,"ucapnya sambil mencium punggung tangan suaminya.


Benedict melakukan panggilan video pada kedua anak kembarnya dibelahan bumi lain, terlihat dilayar, putranya sedang berada di sofa ruang tengah, sedangkan putrinya terlihat membawa toples bola cokelat, kiriman dari Oma Arini.


Ayah tiga anak itu, mengarahkan kameranya, kearah bayi yang sedang dalam gendongan Ayudia,

__ADS_1


"Apa adik kami sudah lahir ayah?"tanya Ainsley antusias.


Benedict berdehem,


Aileen yang mendengarnya langsung merebut ponsel milik kakak laki-lakinya,


"Ayah apa adik aku perempuan?"tanyanya penuh harap.


Kedua anak kembar itu, sedari bundanya melakukan USG dan mengetahui jenis kelamin bayi, Ainsley dan Aileen tidak pernah diberitahu, kata Ayudia kejutan buat anak-anaknya.


"Apa Aileen menginginkan adik perempuan?"tanya Benedict.


"Tentu saja ayah, nanti kami bisa berdandan bersama, juga berbagi pakaian,"jawabnya antusias.


"Jarak umur kalian jauh Aileen, tidak mungkin adik bayi memakai baju kamu,"celetuk Ainsley sambil merebut ponselnya kembali.


"Jadi adik kami laki-laki atau perempuan ayah?"tanyanya penasaran.


Benedict tersenyum, "sepertinya harapan Ainsley terwujud, Adik kalian laki-laki,"


Ada dua tanggapan berbeda dari anak kembar itu, Aileen yang sedikit kecewa, dan Ainsley yang berteriak kegirangan, remaja laki-laki itu bahkan meloncat-loncat di sofa.


"Terima kasih Ayah, akhirnya Ain ada yang menggantikan,"


Keluarga kecil itu melanjutkan obrolan tentang bayi yang baru lahir itu.


Dua hari di rumah sakit, Ayudia pulang ke mansion, karena sudah tidak ada mendiang Anna, wanita tiga anak itu mengurus bayinya sendiri, bahkan boks bayi sengaja ditempatkan di samping ranjangnya, agar memudahkannya untuk bangun jika malam hari putranya rewel.


Terkadang Natasha juga membantu,


Selama masa nifas istrinya, Benedict lebih sering bekerja dari rumah, ia mendampingi istrinya seperti dulu saat mereka baru memiliki si kembar.


Sempat diadakan acara aqiqah yang hanya dihadiri orang terdekat, atau kolega bisnisnya, bahkan tuan Amar datang dari timur tengah untuk menghadiri acara tersebut.


Sesuai janjinya jika istrinya membuka mata kembali, Benedict memberitahu tuan Amar, akan niatnya untuk menyumbang semua keuntungan investasinya yang berada di Afrika, tentu kolega bisnisnya itu menyambutnya dengan gembira.


Pengusaha asal Amerika itu sangat bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan padanya, diusianya yang mencapai lebih dari empat puluh empat tahun, dirinya sudah mendapatkan segalanya, wanita yang sangat ia cintai, dua putra dan satu putri, keuangan yang stabil, bisnisnya lancar, sahabat yang menyayanginya, dan yang paling sangat ia syukuri, ia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri agar lebih dekat dengan Tuhan-nya.


Sempurnalah hidupnya saat ini, kehidupan yang berliku selama tiga puluh tahun kebelakang, meskipun tanpa kehadiran orang tuanya namun setidaknya setiap kali beramal atau umroh, Benedict selalu menyelipkan doa untuk keselamatan kedua orang tuanya di alam sana.


Sepupu satu-satunya yang menurutnya menyebalkan juga mulai menemukan kebahagiaannya, walau George sampai sekarang masih tidak bisa sepenuhnya mengurus perusahaan, katanya biar perusahaan kakeknya diteruskan oleh anak dari Benedict, bahkan saat tau anak ketika sepupunya laki-laki, ia menghadiahkan sebagian sahamnya untuk keponakan ketiganya itu.


Ayudia semakin bahagia, melihat perubahan besar pada suaminya, semakin hari laki-laki itu tidak hanya sibuk mengejar dunia, suaminya itu sampai mendatangkan guru ngaji untuk mengajarinya.


Suatu kali Benedict pernah berkata, "semua yang aku inginkan sudah tercapai, terutama Cinta kamu, jadi apalagi yang harus aku kejar, bukankah aku tinggal mensyukurinya, dengan cara semakin dekat dengan sang pencipta, agar nanti, kita sekeluarga bisa berkumpul lagi di kehidupan selanjutnya,"


Mendengar itu, Ayudia hanya memeluk suaminya erat, seraya bersyukur, kehidupan rumah tangganya yang berliku, akhirnya menemukan titik kebahagiaannya.

__ADS_1


Walau bukan kehidupan yang sederhana impiannya, namun dengan suami yang sangat mencintainya dan sekarang mulai mengerti akan kemauan dirinya, itu lebih dari cukup.


Ayudia berharap kehidupannya akan selalu penuh kebahagiaan untuk hari-hari kedepannya, tentu dengan suami Tercinta, ketiga anak-anaknya dan para sahabatnya.


__ADS_2