Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan belas


__ADS_3

Acara api unggun berlangsung meriah, seluruh pekerja cafe dan keluarganya bergembira ria, ditambah lagi ada game yang dimainkan dengan hadiah berupa uang tunai.


Selain bermain game, mereka juga mengadakan acara barbeque, dengan laki-laki yang membakar sate serta jagung.


Anin dan si kembar antusias berbaur dengan anak-anak yang lain, Ayudia hanya mengawasinya dari kejauhan, tadi saat main game, gadis itu sempat mendapatkan hadiah amplop berisi lima ratus ribu rupiah, tentu ia sangat bersyukur mendapatkannya.


Sebenarnya Ica dan Nia tadi mengajaknya untuk bernyanyi atau sekedar berjoged bersama yang lainnya, namun dengan alasan mengawasi adik-adiknya, Ayudia menolak ajakan temannya, alhasil dia hanya sendiri sembari memakan sosis bakar.


"Kok nggak ikutan yu?"tanya Nando yang tiba-tiba menghampirinya.


"Eh A Nando, ini Ayu lagi awasi Adik-adik,"


"Yu, gue boleh nanya nggak?"


"Nanya apa A?"


Nando berfikir sejenak, menyiapkan kata-kata yang tepat, "gimana hubungan Ayu sama Ben?"akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.


"Ya nggak gimana-gimana A, sebatas karena mas Ben pernah nolongin Ayu, dan mas Ben temennya mas Rama, sama kayak Aa Nando,"


"Masa sih yu,"ucapnya tak percaya.


"Emang harusnya gimana A?" Tanya Ayudia.


"Tapi Ayu, Ben itu beneran suka sama Lo, sepanjang gue kenal dia dari jaman SMA, gue nggak pernah liat dia Ampe segitunya sama cewek, Bahkan sama pacar pertamanya dulu,"


"Terus Ayu mesti gimana A, Ayu sama mas Ben beda kasta, Ayu nggak mau, saat Ayu benar-benar kasih hati Ayu ke mas Ben, nanti pasti banyak rintangan yang akan kami hadapi, mungkin dari keluarga mas Ben,"


"Ayu, ini bukan drama yang tiba-tiba orang tua tokoh utama laki-laki memberikan cek agar perempuan itu meninggalkannya, lagian Ben itu berdiri dengan kakinya sendiri, jadi lo nggak usah takut bakal ada yang mengancam posisi kamu suatu saat nanti,"


"Tapi A, mas Ben terlalu kaya buat Ayu yang miskin ini, Ayu takut nggak bisa menyesuaikan diri,"


Nando mendadak pusing mendengar ucapan gadis itu, ia menghembuskan nafasnya kasar seraya berdiri berkacak pinggang di hadapan gadis itu, "gue baru kali ini ketemu sama cewek nggak doyan harta, bisa-bisanya sahabat gue suka sama Lo, yang punya kepala batu, gila ye pusing gue,"


"Apa Lo nunggu Ben mendadak bangkrut, baru Lo mau sama dia?" Ucapnya kesal.


Ayudia tertawa, "Ya nggak gitu juga A, ya kali udah biasa kaya tiba-tiba jadi miskin, kasihan lah mas Ben nya, kaget pasti,"

__ADS_1


Lama-lama Nando yang biasa sabar merasa geregetan menghadapi gadis itu, "ya udah Lo terima cintanya dia, apa susahnya sih? Semua bisa bahagia, nggak kayak sekarang, temen gue makin gila gara-gara elo,"


"Emang mas Ben kenapa sih?"Tanyanya khawatir.


"Lo liat sendiri sana, dia kayaknya mau bunuh diri di kamarnya, sebelahan sama kamar Lo tuh, tadi dia nanyain Bayg*n sama mang Asep soalnya,"


Ayudia menjadi panik mendengar hal itu, "A tolong awasi Anin sama si kembar ya, Ayu mau mencegah mas Ben bunuh diri," ujarnya sambil menunjuk ketiga adiknya yang sedang bermain bersama teman-teman barunya.


Tanpa menunggu jawaban Nando, Ayudia berlari masuk ke dalam villa, menaiki tangga menuju kamar dimana Benedict berada, ia bahkan sempat beberapa kali tersandung walau tidak sampai jatuh.


Ayudia menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu saking paniknya, namun begitu membuka pintu ia tak menemukan keberadaan lelaki yang dicarinya.


Ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Ayu menggedor-gedor pintu dan memanggil-manggil lelaki itu, di pipinya sudah berlinang air mata.


Benedict yang sedang mandi kaget ketika ada menggedor pintu keras-keras, ia mematikan shower dan melilitkan handuk ke pinggangnya.


Pintu terbuka, Ayudia langsung memeluk tubuh besar yang masih terdapat tetesan air yang memang belum sempat Benedict keringkan.


"Mas Ben maafin Ayu, kamu nggak boleh bunuh diri," Isak gadis itu makin mengeratkan pelukannya.


Benedict yang dipeluk tiba-tiba tentu saja kaget, setelah sekian lama ia tidak merasakan pelukan hangat dari gadis yang membuatnya jatuh cinta, ia juga tersenyum mendengar ucapan gadisnya.


"Kata A Nando, mas Ben mau minum bayg*n, gara-gara Ayu, jangan ya mas, Ayu nggak mau mas Ben meninggal," gadis itu masih menangis dengan air mata yang semakin deras.


Dalam hati Benedict berterima kasih kepada sahabatnya, karena ucapan konyol sahabatnya, ia bisa mendengar ungkapan kekhawatiran gadis yang ia cintai.


Benedict memegangi kedua pipi gadisnya dan menghapus air mata itu, "Ayu, tadi aku sengaja minta Bayg*n karena tadi di kamar mandi ada kecoa, aku mau mandi, akan ada zoom meeting sejam lagi,"


"Bener mas Ben, nggak bakal bunuh dirikan?"


"Nggak Ayu, tapi makasih, akhirnya aku tau kalau kamu peduli sama aku, tapi aku mau lanjut mandi sebentar ya, aku bau asap soalnya,"ucapnya lembut, Ayudia hanya mengangguk.


Sebelum memasuki kamar mandi, Benedict sempat menutup pintu masuk kamar, ia mandi secepat kilat, tidak sampai sepuluh menit Benedict sudah keluar dari kamar mandi.


Namun ia tak menemukan keberadaan gadisnya, apa gadisnya akan meninggalkannya lagi? Ia segera memakai kemeja hitam polos dan celana Chino berwarna senada, ia memanggil gadisnya, terdengar jawaban dari arah balkon.


Benedict menghampiri gadisnya yang sedang melihat keramaian dibawah sana, Ia memeluk gadisnya dari belakang, "ay, kamu liatin apa sih?"

__ADS_1


"Itu aku liatin adik-adik main sama anak-anak yang lain, mereka seneng banget, makasih ya mas,"


"Kok makasih sama aku,"


"Kamu kan yang merencanakan acara family Gathering ini kan?"


"Kok kamu tau,"


Ayudia menghadap lelaki itu menatapnya, "Ayu tau semua mas, kamu yang selalu kasih makanan buat dibungkus dan dibawa pulang karyawan, acara ini dan aku juga baru sadar seminggu ini, ternyata ada yang ikutin aku diam-diam pas aku pulang malam,"


Benedict gelagapan mendengar perkataan gadisnya, "aku kan khawatir sama kamu, makanya aku ikutin, aku nggak mau kejadian dulu menimpa kamu, terus masalah makanan, ia aku memang sengaja abis aku liat kamu, cuman makan sama roti dua ribuan, nanti kamu sakit, kalau makan nggak kenyang, terus soal jalan-jalan ini, aku pengen kenal sama adik-adik kamu,"


"Tapi nggak sampai kayak gini mas,"


Benedict menangkup kedua pipi gadisnya, "sayang apapun akan aku lakuin supaya kamu bahagia, kamu tau, aku sengaja nggak ngejar-ngejar kamu lagi, karena aku nggak mau menyakiti kamu, jadi sekarang kamu mau maafin aku kan?"


Ayudia mengangguk, lalu berkata, "kamu nggak salah apa-apa mas, yang salah itu aku, karena nggak pede berdampingan sama kamu,"


"Jadi kita balikan kan?"tanya lelaki itu penuh harap.


"Jalanin aja mas, kayaknya kamu bukan anak ABG yang mesti adanya kata jadian, cukup tau kalau aku sayang kamu begitupun sebaliknya, dan aku minta kamu penuhi tanggung jawab kamu,"


Benedict mengernyit bingung, "kita belum ngelakuin apapun loh sayang, kok kamu minta pertanggung jawaban?"


"Apaan sih kamu, maksud aku itu tanggung jawab sama pekerjaan kamu di Perusahaan keluarga kamu,"


"Ini tinggal beberapa menit lagi sih aku mau meeting,"


"Ya udah aku keluar ya,"


"Kamu sini aja, temenin aku,"


Ucap lelaki itu memelas.


"Ya udah aku disini, tadi aku udah nitip Adik-adik sama A Nando sih, tapi nggak apa emang kalau ada aku pas kamu meeting, nanti aku ganggu lagi,"


"Nggak lah, aku malah semangat kalau ada kamu,"

__ADS_1


Benedict menyiapkan tablet danĀ  laptopnya, mengecek jaringan WiFi Villa, ia terlihat sibuk mondar mandir, dan juga mengutak-atik ponselnya beberapa kali.


Tak lama, pintu di ketuk dari luar,lelaki itu berbicara sebentar pada si pengetuk, ia membawa nampan berisi kopi dan air mineral.


__ADS_2