Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sembilan belas


__ADS_3

"Ay, aku meeting bentar ya, kamu tiduran aja," ujarnya duduk di kursi berhadapan dengan meja dengan laptop terbuka, Tablet dan kopi disisinya.


Terlihat, lelaki itu mengenakan jas dan dasi dengan warna yang sama dengan kemejanya.


Meeting dimulai, Ayudia hanya mendengarkan pembicaraan kekasihnya dengan bawahannya, sebagian besar ia paham apa yang mereka bicarakan dalam bahasa asing itu, intinya salah satu bawahannya meminta pendapatnya tentang proyek yang akan mereka tangani dengan pemerintah setempat.


Benedict memberikan pendapatnya kepada bawahannya, selain laptop, tablet yang sedari ada ditangannya, entah apa yang lelaki itu lakukan, ia benar-benar serius dan terlihat sangat berwibawa di mata Ayudia.


Meeting berlangsung hingga lebih dari satu jam lamanya, hal itu sampai membuat Ayudia tertidur.


Setelah menyelesaikan meeting nya, Benedict menutup laptopnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah ranjang, di sana gadisnya tertidur, senyum mengembang menghiasi wajahnya, akhirnya gadisnya kembali padanya.


Ia menelpon Nando menanyakan  keberadaan adik-adik dari kekasihnya, dan sahabatnya memberitahukan jika mereka baru saja meninggalkan tempat itu menuju kamar dilantai atas.


Dengan perlahan, ia meninggalkan gadisnya keluar, ingin sekedar menyapa calon adik-adik iparnya.


Dan benar saja, saat Benedict baru saja keluar dari kamar, mereka sedang menaiki tangga, terdengar ketiganya sedang bercerita dengan antusias.


Ketiganya tersenyum melihat keberadaan Laki-laki dewasa yang berdiri di kamar sebelah,


"Hai," sapa Benedict membuka percakapan.


"Hai om," jawab mereka hampir serempak.


"Udah selesai mainnya? Seru nggak?" Tanya lelaki itu ramah.


"Seru om, om yang tadi duduk dibelakang Arya sama Mbak Ayu kan, pas di bus?" Tanyanya antusias.


Benedict mengangguk, "apa kalian mau beristirahat?"


"Kami mau nyari mbak Ayu, tadi kata om Nando, mbak Ayu lagi nemuin bos, om tau nggak dimana ruangan bos?" Tanya Anin.


"Panggil aja Ben, oh tadi saya minta tolong Ayu, buat bantuin saya, ada zoom meeting, tapi kayaknya Ayu kecapean, jadi sekarang malah ketiduran,"


"Terus mbak Ayu sekarang dimana Om Ben?"Tanya Aryo.


"Ayu tertidur di kamar saya, saya nggak tega kalau mau bangunin, sepertinya dia kelelahan, jadi biar saya yang jagain, kalian tenang saja saya nggak bakal jahat dengan kakak kalian, jadi kalau kalian mau istirahat silahkan, kalau butuh bantuan bisa ketuk kamar sebelah,"


"Tapi om, masa kalian tidur berdua, kan nggak boleh,"protes Anin.

__ADS_1


"Ada sofa di dalam, apa kalian mau lihat?" Tawarnya.


Ketiganya mengangguk, Benedict membuka pintu kamar pelan, mereka melihat Ayudia tengah tertidur pulas dengan selimut yang menutupi hingga sebatas dadanya, tak jauh dari ranjang ada sofa besar, akhirnya mereka percaya perkataan lelaki dewasa itu, merekapun memasuki kamar dan segera beristirahat.


Benedict menghembuskan nafas lega, ia mengambil ponsel di saku celananya dan memberitahukan pada para sahabatnya agar tidak mengganggunya.


Ia memasuki kamar tak lupa menguncinya, ia melepas jas, dasi dan kemeja dan menggantungkannya di lemari, ia memeluk gadisnya dan menyusulnya ke dalam alam mimpi.


Keesokan paginya setelah sarapan bersama para karyawan beserta keluarganya, game kembali diadakan untuk menguji  kekompakan anggota keluarga, dengan juri kelima lelaki tampan itu.


Ada hadiah uang tunai menanti bagi pemenang, tentu mereka dengan semangat mengikuti game itu.


Walau Ayudia dan adik-adiknya tak menang, namun ia sangat senang melihat adik-adiknya tertawa bahagia.


Setelah game keluarga, atas saran mang Asep, diadakan lomba seperti tujuh belasan, ada makan kerupuk dan balap karung.


Ayudia dan ketiga adiknya mengikuti lomba itu, meskipun berbeda berdasarkan usia, Ayudia dan Anin bersaing dalam lomba makan kerupuk bersama Ica, Nia dan para waiters cafe, lagi-lagi Ayu kalah, sedangkan Anin juara tiga dan mendapatkan uang sebesar seratus ribu rupiah.


Untuk lomba balap karung diadakan untuk barista dan crew dapur, tak ketinggalan kelima laki-laki tampan itu juga mengikutinya dengan antusias, meski Benedict sedikit kaku karena sudah lama tidak mengikuti lomba balap karung, namun ia bisa tertawa lepas.


Lomba balap karung dimenangkan oleh Satria, disusul Dino, dan crew bernama Heri, tentu uang tunai ratusan ribu diberikan pada mereka.


Ayudia dan adik-adiknya memilih beristirahat dikamar, si kembar tertidur sedangkan Anin mengajak kakaknya mengobrol, "mbak Ayu lagi Deket sama om Ben ya?"tanyanya.


"Siapa yang kasih tau?"tanya Ayudia balik.


"Anin nebak aja mbak, semalem mbak ketiduran di kamar Om Ben ya?"


"Iya, mbak abis bantuin beliau buat meeting,"


"Anin bahagia kalau mbak Ayu juga bahagia, sesekali mbak pikirin diri sendiri,"


"Apaan sih Anin,"


"Menurut Anin, om Ben orangnya baik banget dan sayang banget kayaknya sama mbak Ayu, apalagi tadi pas lagi pada lomba, om Ben menatap mbak Ayu lembut banget, apalagi pas tadi kita kalah di game keluarga, beliau hampir nyamperin mbak Ayu tapi dicegah sama


om Nando"ujarnya.


"Sok tau kamu dek,"

__ADS_1


"Mbak Ayu dibilangin sama adiknya juga, aku itu paham soal tatapan laki-laki yang sayang sama cewek,"


"Tau dari mana kamu?"


"Dari Drakor yang Anin tonton,"


"Itukan cuman acting Anin,"


"Tapi serius mbak, Anin tau Om Ben itu kayaknya sayang banget sama mbak,"


"Iyain deh biar cepat, udah mbak mau beres-beres dulu, entar abis makan siang kita pulang," ujarnya memasukan baju kotor kedalam plastik lalu di taruh di dalam tas ransel besar.


Setelah waktu istirahat habis, mereka makan siang bersama, tepat pukul dua siang mereka bersiap meninggalkan Villa.


Didalam bus seperti saat berangkat Ayudia dan Arya duduk kursi depan Benedict dan Alex, rombongan sempat berhenti di pusat oleh-oleh, Ayudia dan ketiga adiknya ikut berbelanja oleh-oleh, tentu saja kelima lelaki tampan itu mengikuti calon ibu bos mereka.


Tadi saat waktu istirahat, Benedict memberitahukan kepada sahabatnya jika Ayudia sudah kembali menjadi kekasihnya.


Ayudia membeli beberapa oleh-oleh untuk bibi Atun dan para tetangganya, tak lupa ia membeli stok cemilan di rumah.


Saat akan membayar, tiba-tiba Nando menyela dan memberikan kartunya kepada kasir yang berjaga, Ayudia tentu saja menolak, namun Nando beralasan bahwa ini sebagai balasan kemarin Anin telah membantunya, karena antrian dibelakangnya panjang, akhirnya Ayudia menyetujuinya dan berterima kasih kepada Nando.


Tentu saja belanjaan Ayudia juga dibawakan oleh lelaki itu.


Ayudia mengirim pesan kepada kekasihnya,


Ayudia


Kerjaan kamu kan?😡


^^^Mas Ben^^^


^^^Nggak ay, Nando katanya mau berterima kasih sama Anin, karena udah ijinkan mbak nya buat ketemu bosnya yang lagi galau.^^^


Ayudia


Nggak jelas🤦


Rombongan melanjutkan perjalannya menuju ibukota, mereka akan diturunkan di cafe, namun jika ada rumah yang dilewati bus maka, mereka bis turun di mana saja, karena rumah Ayudia dilalui jalur bus menuju cafe, ia dan ketiga adiknya turun tepat di jalan masuk rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2