Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
lima puluh satu


__ADS_3

Hari keberangkatan Ayudia menuju negara paman Sam tiba, ada para sahabat Benedict sudah menunggunya di bandara timur ibukota ditambah dokter Natasha dan dua perawat pendamping, kemarin Ayudia sempat memeriksakan kondisi kandungannya.


Di Landasan pacu telah terparkir pesawat dengan logo BW yang terdapat di ekor pesawat.


Ini lebih besar dari pesawat yang Ayudia naiki saat tempo hari saat ia mengunjungi pulau Dewata.


Ada pilot dan co-pilot serta dua pramugara yang semuanya berwajah bule menyambut kedatangan penumpang sore itu.


Ayudia tak terlalu memperhatikan detail interior pesawat itu, karena ia langsung dibawa menuju kamar yang ada didalamnya.


Dokter Natasya dan kedua perawat ikut masuk ke kamar itu.


Selama perjalanan Ayudia hanya tidur, makan, diperiksa dan sedikit obrolan dengan dokter dan perawat.


Benedict juga hanya sesekali melihat sebentar, memastikan keadaan istrinya baik-baik saja.


Lebih dari dua puluh jam, waktu yang ditempuh pesawat hingga mendarat di bandar udara John F. Kennedy.


Ayudia membuka matanya, terlihat tempat yang asing baginya, ia teringat tadi tertidur di pesawat, kenapa tiba-tiba ia berada di sini?


Ayudia bangkit, ia menyandarkan tubuhnya ke head board, ia melihat sekeliling, sepertinya ia berada di sebuah kamar yang cukup luas,  dari ranjang ia bisa melihat pemandangan kota dimalam hari, indah menurutnya.


Namun sepertinya bukan saatnya ia menikmati pemandangan itu, ia harus segera mencari suaminya, ia mencari ponselnya dan ia tak menemukannya.


Ayudia berjalan keluar dari kamar, sebenarnya kandung kemihnya sekarang rasanya penuh, ia mencari toilet namun belum menemukannya, Apa ia nyasar?


Sekarang ia butuh toilet, perutnya juga lapar, namun Benedict dan sahabatnya tak terlihat, rasanya kesal sekali, Apa ia di tinggalkan?


"Ay,"panggil Benedict yang melihat istrinya sedang duduk diam di stool menghadap dapur.


"Apa kita sudah sampai? Tapi sebelumnya, boleh aku tau, dimana toiletnya?" Tanya Ayudia.


Benedict menunjukan toilet yang tak jauh dari dapur, Ayudia memasuki toilet itu untuk segera mengosongkan kandung kemihnya.


"Mas, shower buat toiletnya kok nggak ada? Aku mau cebok," Ayudia menonjolkan


kepalanya dari  dalam toilet.


"Pakai tisu, Ay,"ujar Benedict.


"Nggak bersih mas, ada gayung nggak?"tanya Ayudia konyol,


"Nggak ada Ay, tapi sebentar," jawab Benedict berjalan menuju lemari penyimpanan, ia mengambil satu botol air mineral dan memberikannya pada istrinya.


"Makasih Mas,"ucap Ayudia kembali masuk ke dalam toilet.


Benedict tertawa melihat tingkah konyol istrinya.


"Alhamdulillah lega banget,"ujar Ayudia keluar dari toilet, "mas, ada makanan nggak? Aku lapar,"


"Sebentar aku lagi memanaskan makanan,"

__ADS_1


Ayudia duduk kembali di stool, ia melihat suaminya yang berdiri menghadap microwave, "mas, yang lain pada kemana? Kok sepi?"


"Ada di bawah, kenapa?"


"Tadi pas nyampe bandara, kok aku nggak dibangunin? Aku kan pengen lihat pemandangan,"


"Tuh liat aja,"tunjuk Benedict ke arah jendela kaca,


"Tetep beda mas, berarti tadi kamu yang gendong aku sampai kasur dong,"


"Ya aku, memang kamu maunya siapa yang gendong kamu?"


"Pengen jalan aja mas, lagian emang aku nggak berat, kan lagi hamil,"


"Nggak sama sekali, makan yuk,"ajak Benedict menyajikan pizza hangat.


Ayudia memakan pizza dengan lahap, ia benar-benar kelaparan,


"Pelan-pelan makannya Ay, nggak ada yang minta,"Benedict memperingatkan istrinya.


Ayudia hanya nyengir tak enak, "kamu tinggal disini mas?"


"Ia, tapi sekarang kita yang tinggal disini,"


"Berarti kita ngga kenal sama tetangga ya,"


"Kan ada aku,"


"Aku bisa kerja dari rumah Ay,"


"Oh gitu ya, terus Apartemen Segede ini, aku yang bersihkan sendiri ya?"


"Ya nggak lah, nanti ada yang datang bersihkan duao hari sekali,"


"Terus kerjaan aku ngapain disini?"tanya Ayudia.


"Dampingi aku, temani aku, dan selalu ada disamping aku,"


"Oh gitu ya mas,"


Ayudia terdiam, sepertinya ia harus berpikir keras, agar tidak bosan disini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"tanya Benedict yang melihat istrinya terdiam.


"Nggak mikirin apa-apa kok, oh ya, handphone aku mana? Aku cari-cari di kamar nggak ada,"


Benedict merogoh kantong celananya, dan memberikan ponsel berwarna hitam.


"Kayaknya handphone aku nggak kayak gini deh,"ujar Ayudia mengamati ponsel dengan logo buah apel tergigit.


"Itu handphone kamu dengan nomor baru, dan kontak udah aku pindahkan ke situ,"

__ADS_1


Ayudia membuka ponsel itu, ada foto pernikahannya, ia mengecek daftar kontak yang ada didalamnya, "kok, kontak aku cuman sedikit, cuman sepuluh nama doang, yang lain pada kemana?"tanyanya heran.


"Kamu cuman butuh kontak itu, disitu juga udah ada nomor asisten aku, kalau kamu mau tanya-tanya soal aku dimana atau ngapain, atau kamu butuh sesuatu, dan baju-baju kamu bersebelahan sama baju aku, apa kamu udah lihat?" Ayudia hanya menggeleng, suaminya tidak tau, dia sempat nyasar.


"Ya udah nanti aku kasih tau,"


"Nggak ini, nomor-nomor temen-temen aku kok nggak ada sih,"protes Ayudia.


"Ay, disini kamu juga bisa menganggap aku sebagai teman kamu kan,"


"Terus Facebook aku kok nggak ada,"


"Buat apa sih Ay?"


"Ya, aku kan pengen tau kabar temen-temen aku di sana, lagian sekarang aku kan pengangguran, jadi buat ngisi waktu aja, ngobrol atau chat sama temen-temen aku,"


"Ngobrol sama aku aja Ay, kalau kamu butuh kesibukan, bagaimana kalau kamu belajar lagi? Nanti aku datangkan tutor buat kamu,"


"Betul juga mas, bahasa Inggris aku biar fasih ya mas, mau deh mau,"


Setelah mengobrol Benedict mengajak istrinya untuk room tour di penthouse miliknya.


Keduanya tidur setelah menyelesaikan room tour, sebenarnya Benedict ingin bercinta, namun ia teringat pesan dokter Natasha, jika kegiatan panas itu ditunda untuk sementara, mengingat ada dua janin yang masih rapuh di rahim sang istri, apalagi mereka baru saja menempuh perjalanan jauh.


Pagi harinya, Ayudia lebih dulu membuka mata, disebelahnya ada suaminya yang tengah memeluknya, perlahan ia melepaskan lilitan tangan itu, ia butuh menuntaskan hajatnya, serta menunaikan kewajibannya yang masih sering bolong-bolong.


Usai melaksanakan kewajibannya, Ayudia menuju dapur, ia membuka kulkas, sepertinya perutnya minta diisi, semalam ia tak makan nasi.


Karena masih bingung dengan letak bahan makanan, Ayudia hanya memakan buah-buahan yang ada di kulkas, tak lupa ia meminum susu kemasan yang ada di sana.


Setelahnya  ia  berjalan keluar menuju kolam renang yang ada di dalam area penthouse milik suaminya.


Ia menghirup udara segar di sana, ia duduk bersandar sambil menatap gedung-gedung yang lebih tinggi dari tempatnya tinggal.


beberapa menit di sana, ia juga bisa menyaksikan matahari yang baru saja terbit, indah sekali, sepertinya, ini akan menjadi tempat favoritnya.


Terdengar suara Benedict memanggilnya, ponsel yang ada di meja kecil sebelahnya bergetar, ada id suaminya di sana, namun Ayudia malas menanggapi, lebih baik ia memandangi pemandangan kota.


"Ay, kenapa aku telpon nggak diangkat si? Aku panik pas bangun nggak ada kamu,"ujar Benedict dengan wajah khawatir.


"Lagian aku disini aja dicariin mas, kecuali kalau aku kabur baru,"


"Nggak akan aku biarkan kamu pergi dari sisi aku,"


"Iya mas, iya, aku nggak bakal kabur, dompet sama paspor aku aja nggak tau kemana,"


"Kan semua kebutuhan kamu bakal aku sediain, jadi kamu nggak butuh itu semua Ay, kamu tinggal bilang sama aku atau asisten aku,"


"Iya mas,"


Benedict memeluk istrinya, "Ay, jangan pernah jauh dari aku, kamu harus selalu ada disekitar aku,"

__ADS_1


__ADS_2