
Hari kelulusan Anindia tiba, sebagai wali, Ayudia mendatangi sekolah adik perempuannya itu, tentu saja dikawal oleh suaminya.
Sejak kejadian Ayudia pergi bersama ibu kandungnya, Benedict semakin posesif pada istrinya, kemanapun perempuan itu pergi, ia akan selalu mengikutinya.
Secara diam-diam lelaki itu telah menyadap ponsel Ayudia.
"Selamat ya Anin,"ucap Benedict kepada adik iparnya itu.
"Makasih mas, udah Dateng,"
"Hadiahnya nyusul ya!"
Ayudia mengernyit, "hadiah apa?"tanyanya penasaran.
"Hadiah kecil istriku, tenang aja, bukan uang lima juta kok,"jawab Benedict menyindir.
Di gerbang sekolah ada Oscar dan Rama di mobil mereka masing-masing.
"Lo berdua ngapain ke sini?"tanya Benedict heran.
"Mau ngasih ucapan selamat buat Anin lah,"ucap Oscar memberikan satu buket bunga mawar merah.
"Makasih mas,"ujar Anin.
Rama memberikan sebuah kotak kecil, "ini hadiahnya, diterima ya Anin, khusus buat kamu loh,"ucapnya sambil melirik Benedict.
"Makasih banyak ya, mas,"
Mereka pulang menuju ke rumah Ayudia, bude dan bibi sudah masak-masak untuk merayakan kelulusan Anindia.
Acara makan-makan itu juga dihadiri Anna, Ayudia memperkenalkan mertuanya kepada Bude dan bibinya.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga mereka.
"Kamu kasih hadiah apa sama Anin?"tanya Ayudia ketika mereka kembali ke apartemen sehari setelah acara kelulusan, keduanya menginap semalam di rumah orang tua Ayudia.
"Aku kasih modal buat bisnis,"jawabnya.
"Maksud kamu apa?"tanyanya sedikit dengan nada tinggi.
"Dengerin aku dulu, bukankah Anin harus ngekos?" Tanyanya dan Ayudia mengangguk.
"Dari pada tiap bulan bayar uang kos, bukankah lebih baik Anin yang menerima bayaran kos-kosan, jadi maksud aku, aku beliin rumah kos-kosan nggak jauh dari kampus, terus Anin yang aku minta mengelola kos-kosan itu sambil kuliah, hitung-hitung berbisnis kan?"
__ADS_1
"Kamu beli rumah untuk kos buat Anin?"
"Ya kan itung-itung ngajarin Anin bisnis, ya walau nanti tiap bulan aku tetap kasih uang jajan, lagian aman kok, Rama juga udah cari tau, jadi kamu nggak perlu khawatir keamanan adik perempuan kamu,"
Ayudia tidak bisa berkata-kata, bisa-bisanya suaminya sampai melakukan seperti itu.
Beberapa waktu kemudian, tibalah waktu pengantaran kedua adik kembarnya, tentunya dengan diantarkan Benedict, ada Anin, bude dan Samsul mengantar si kembar.
Lagi-lagi Ayudia dibuat tercengang dengan kondisi pesantren dimana si kembar akan menimba ilmu.
Seingatnya tidak banyak fasilitas yang ada, namun sekarang sudah lengkap, bahkan sekarang sedang ada pembangunan kolam renang khusus santri, ini sangat berbeda ketika Ayudia mengantarkan di kembar awal tahun ini untuk ujian tes masuk.
Sedikit curiga dengan suaminya, namun ia mengenyahkan pikiran itu.
Sempat terjadi drama ketika si kembar harus berpisah dengan kakak-kakaknya, namun Benedict membisikan sesuatu kepada si kembar, dan hal itu cukup efektif menenangkan mereka.
Hanya Ayudia, Benedict dan Samsul yang kembali ke ibukota, Anin memilih tinggal bersama bude hingga hari masuk perkuliahan.
"Ayu, seingat mas, pondok nggak sebagus itu deh, kok sekarang jadi makin lengkap fasilitasnya,"akhirnya Samsul angkat bicara dalam perjalanan menuju ibukota.
Ayudia menatap suaminya, seolah bertanya, "apa ini kerjaan kamu?"
Benedict yang memang cukup peka tersenyum, "itu kerjaannya Rama sama Alex kok, kamu tanya aja sama mereka,"ujarnya masih mengelak.
"Jadi kerjaan lo Ben?"tanya Samsul.
"Udah ngaku aja apa susahnya sih?"desak Ayudia, "asal tau aja ya mas Samsul, masa karena Anin mau kos Deket kampus, mas Ben beliin rumah kos katanya biar Anin belajar bisnis, dan sekarang apalagi yang kamu perbuat sama pondok tempat Si kembar belajar?"jelasnya.
Samsul cukup kaget dengan pengakuan adik sepupunya itu, "bener Ben apa yang di omongin Ayu?"tanyanya.
"Cuman dikit kok Sam, lagian dari pada duit nganggur doang,"jelasnya pada lelaki yang tengah mengemudi itu.
"Kan kalau uang disumbangkan untuk fasilitas keagamaan kan dapat pahalanya banyak, bener kan kata gue," ujar Benedict membela diri.
"Ya bener sih, tapi gue mau tanya dong, sebenarnya Lo sekaya apa sih?"tanya Samsul penasaran.
"Biasa aja gue Sam," jawabnya merendah.
"Biasa apaan, tau nggak mas, pas Ayu lagi diajak jalan-jalan mas Ben, aku diajak naik privat jet dan resort dikosongin gara-gara nggak mau keganggu, masuk akal nggak tuh,"
"Jadi Lo sampai punya privat jet? Sebenarnya kerjaan Lo apaan si?"Tanyanya penasaran.
"Gue lontang Lantung, gini-gini aja Sam,"
__ADS_1
"Kapan-kapan mas Samsul searching di go*gle, ketik nama lengkap Mas Ben, jangan kaget ya, bingung Ayu mas, entah beruntung atau justru beban," ujarnya menghela nafas.
"Hati-hati Ayu, banyak pelakor nggak tau diri,"ujar Samsul memperingatkan.
"ay, aku kan nggak aneh-aneh, kan yang penting aku cintanya sama kamu," ujar Benedict meyakinkan istrinya.
"Misal Lo nyakitin Ayu, entar bakal gue bawa pergi jauh, sampai Lo nggak bakal ketemu lagi sama dia,"ucap Samsul mengancam.
"Gue tau kali Sam, rugi banget gue kalau sampai nyakitin bini gue,"
Ketiganya terus mengobrol untuk menghilangkan bosan akibat perjalanan jauh, Samsul dan Benedict bergantian dalam mengemudi.
Sepasang suami istri itu mampir sebentar ke rumah Samsul, setelahnya keduanya kembali menuju apartemen.
"Mas, kamu kapan Kembali kerja?"tanya Ayudia ketika keduanya hendak tidur.
"Kenapa emang?"tanya Benedict balik.
"Ya pengen tau aja, terus kerjaan aku di cafe gimana ya,"
"Terserah kamu,"
"Nggak enak sama mas Rama,"
"Kalau nggak enak nggak usah dimakan,"ucap Benedict enteng, "ay gimana kalau kita periksa kesehatan, semacam general check up gitu di rumah sakit, aku biasanya setahun sekali, cuman tahun ini belum,"
"Buat apaan sih?"tanya Ayudia heran.
"Kan lebih baik mencegah dari pada mengobati ay, mau ya?"ucap Benedict penuh harap.
"Oke"
Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya Benedict langsung menghubungi Oscar, agar segera disiapkan untuk keperluan check up itu.
Benar saja, keesokan paginya Benedict membawa istrinya ke rumah sakit yang dikelola oleh Oscar, di pintu masuk keduanya disambut oleh beberapa petinggi Rumah sakit, hal itu membuat Ayudia heran.
Ayudia diperiksa menyeluruh, bahkan dirinya diharuskan menginap semalam di rumah sakit tentunya dengan kamar terbaik di sana.
"Mas, kok mereka ramah banget ya, terus kenapa ke bagian kebidanan segala sih?"bisiknya saat sedang ada di poli kandungan.
"Udah ikutin aja prosedurnya,"balasnya berbisik.
Ada dokter kandungan berjenis kelamin perempuan yang sedang memeriksa Ayudia dengan alat yang disebut USG.
__ADS_1
Dokter Natasha namanya, tersenyum, "selamat ya Ben, istrinya sedang hamil empat Minggu,"ucapnya.
Reaksi berbeda ditujukan oleh pasangan suami istri itu, Benedict yang tersenyum lebar dan Ayudia yang tersenyum kecut.