
Usai menuntaskan hasratnya, Benedict keluar dari kamar yang menjadi saksi bisu, betapa panasnya kegiatan yang baru berakhir beberapa menit yang lalu.
Dalam kegelapan, lelaki itu menyusuri lorong menuju bagian kemudi kapal, ia akan meninggalkan dermaga mini miliknya, menuju tempat dimana, ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan wanita yang sedang tertidur di ranjang miliknya.
Tak lupa ia memberitahukan pada Troy bahwa wanita itu sedang bersamanya, agar kedua buah hatinya tidak perlu mencarinya.
Sekitar satu jam perjalanan menggunakan Yacht, ia tiba di rumah kayu yang ada di tepi sungai,
Tempatnya menghabiskan waktu selama tiga tahun ini, untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuk keramaian dunia.
Tanpa menyalakan lampu dalam kamar, lelaki itu memindahkan tubuh polos itu beserta selimut yang ia lilitkan, agar wanita itu tidak kedinginan.
Benedict tau betul kebiasaan wanita itu jika sudah tertidur, mau ada goncangan apapun tak akan membuatnya terbangun.
Lelaki itu menyusuri jalan kayu, menuju rumah dua lantai yang juga didominasi kayu.
Walau gelap, Benedict sudah hafal diluar kepala dimana letak kamar juga barang-barang yang akan dilewatinya, sehingga ia tak khawatir akan menabrak barang-barang yang dilaluinya.
Usai merebahkan tubuh wanita itu di ranjangnya, Benedict keluar sejenak dari kamar itu menuju kamar mandi, ia butuh membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bergabung dengan wanita itu.
Dengan tubuh polosnya, ia berjalan dalam kegelapan menuju kamarnya, mungkin sebelum tidur ia akan melakukannya sekali lagi, agar nanti tidurnya semakin pulas.
Ia meraba tubuh dibalik selimut itu, seketika hasratnya mulai naik, hanya karena sedikit sentuhan di kulit lembut wanita disampingnya.
Tak membuang banyak waktu, Benedict kembali menjalankan aksinya, ia menggagahi wanita itu lagi, tak peduli lenguhan dari mulut seorang yang ia cintai dibawah kendalinya.
Yang ada dipikirannya sekarang adalah hasratnya tersalurkan sekaligus melepas rindu yang ia tahan bertahun-tahun.
Hingga erangan panjang yang keluar dari mulut lelaki itu, menjadi pertanda benihnya sedang berenang menuju titik terdalam di sana.
Ada harapan akan ada nyawa yang baru penghuni rahim itu, karena sudah cukup bagi wanita ini terlepas dari jangkauannya, saatnya wanita ini kembali dalam kuasanya.
Ya lelaki itu dengan sengaja melakukannya, andai nanti wanita itu bangun dan menyalahkannya, ia hanya akan berkata, "salah kamu kenapa membangunkan lelaki yang sudah bertahun-tahun tak menyalurkan hasratnya,".
Saat tadi melakukannya wanita itu sempat terbangun, namun kembali tidur setelah ia mencapai puncak kenikmatan bersamaan dengan lelaki itu.
Suatu hal yang selama beberapa tahun ia impikan akhirnya menjadi kenyataan, ia bisa merengkuh tubuh polos yang tak terhalang apapun,
Lelaki itu berusaha memejamkan matanya, agar tak lagi menggagahi wanita itu lagi.
Sinar mentari pagi menelisik diantara celah gorden transparan berwarna putih,
Wanita yang masih bergelung dibawah selimut itu perlahan membuka matanya, menyesuaikan cahaya menyilaukan yang tertuju padanya.
Ia mulai mengamati sekeliling, terasa sangat asing baginya, ia mengingat kembali apa yang terjadi kemarin.
Sembari mengingat, ia melihat tubuhnya sendiri, ia terkejut, ia baru sadar, jika tubuhnya tak mengenakan apapun, ada bercak merah keunguan disekitar dadanya.
Ia memukuli kepalanya sendiri, kenapa ia begitu bodoh? Kenapa dengan mudahnya ia malah terbuai dengan lelaki yang sudah menjatuhkan talak padanya?
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Apa ia harus lari?
__ADS_1
Tapi tempat ini benar-benar asing baginya, terlalu hening, sepertinya bukan di mansion yang kemarin ia kunjungi.
Jadi ini dimana?
Terasa kandung kemihnya penuh, ia butuh toilet sekarang, namun hanya satu pintu dikamar itu, tak ada toilet didalam kamar,
Ia melihat sekeliling, tak ada baju yang bisa ia gunakan, ia melihat lemari kayu berwarna cokelat, namun itu jauh dari jangkauannya, apa ia harus telanjang untuk mencapai lemari itu, tapi bagaimana jika lelaki itu masuk, tentu akan sangat canggung bagi keduanya.
Dirasa aman, Ayudia bangkit dengan tubuh polosnya berjalan menuju lemari kayu itu, ia membukanya, ada kaos dan kemeja dengan warna monokrom.
Ia mengambil kaos hitam polos dan langsung mengenakannya, setidaknya panjangnya hingga setengah pahanya, tak lupa mengambil bokser milik lelaki itu.
Ia bergegas keluar dari kamar, untuk mencari toilet, rasanya sudah diujung,
Ia baru tau jika dirinya ada dilantai dua rumah kayu itu, tadi saat bangun ia tak sempat mengamati keadaan sekitar dari jendela.
Ia menuruni tangga, ada lelaki yang membelakanginya sedang sibuk dibalik kompor,
Wanita itu berjalan pelan, agar tak menimbulkan suara, namun sepertinya hal itu langsung diketahui lelaki itu, "kamu mau kemana?"tanyanya sambil memegang spatula.
"Aku mau ke toilet," jawab wanita itu sembari memegang bagian bawahnya.
Lelaki itu menunjuk pintu tak jauh dari dapur dengan spatula nya, tak banyak membuang waktu, wanita itu berlari ke arah yang ditunjuk.
Dari balik pintu yang tertutup, lelaki itu berkata, "kalau mau sikat gigi ada dibalik cermin, handuknya dibawah wastafel,"
Tak ada sahutan apapun dari dalam sana, lelaki itu lebih memilih menyelesaikan membuat sarapan.
Usai membersihkan diri, Ayudia keluar dari toilet dengan handuk melilit di rambutnya, akhirnya wanita itu memutuskan untuk mandi.
Ayudia mengangguk, duduk berseberangan dengan lelaki itu,
Piring didepannya tersaji tiga sosis panggang, dua telur mata sapi, ada roti juga segelas susu, yang sayangnya berwarna putih.
Ada tanya dalam diri wanita itu, "apa lelaki itu sudah lupa kalau dirinya tidak menyukai susu putih?".
Ia memakan sosis bergantian dengan telur juga roti, saat terasa serat di kerongkongannya, rasanya ingin minum, tapi hanya ada susu yang tersedia, mendadak ia kesal pada lelaki itu, ia menaruh garpunya sedikit keras, hingga menimbulkan bunyi.
Mendengar bunyi garpu yang diletakan dengan sedikit kasar, membuat Benedict menatap wanita dihadapannya, terlihat wajah kesal wanita itu.
"Apa kamu tidak suka sarapannya? Hanya ini yang bisa aku sajikan, kamu tau kan aku tidak pandai memasak,"
"Kamu juga tau kan kalau aku tidak suka susu putih, kenapa kamu kasih aku? Apa kamu lupa?"ujar wanita itu akhirnya berani angkat bicara.
"Maaf hanya itu yang ada disini,"ucap lelaki itu santai.
"Kalau begitu aku minta air mineral saja,"
"Hanya ada cola, bir juga wine, kalau mau kamu bisa ambil sendiri,"tunjuk lelaki itu ke arah kulkas juga lemari penyimpanan disampingnya.
"Ini masih pagi,"
"Kalau begitu habiskan susu kamu,"
__ADS_1
Ayudia lebih memilih meninggalkan lelaki itu di meja makan dan mencari jalan keluar.
Benedict seolah tak peduli ia lebih memilih menghabiskan sarapannya.
Tak lama, wanita itu kembali masuk dengan wajah masam, "ini dimana? Aku mau ke anak-anak aku,"ungkapnya kesal.
Benedict diam tak menanggapi, ia lebih memilih menghabiskan susu di gelasnya juga gelas wanita itu, lalu membereskan meja dan mencuci piring yang tadi digunakan untuk makan.
Lelaki yang hanya mengenakan celana bokser nya terlihat santai saat melewati wanita itu menuju lantai dua rumah itu.
Ayudia mengikutinya dari belakang, hingga keduanya berada di kamar yang masih berantakan, sisa percintaan mereka semalam,
Benedict membereskan kamar itu, tak mempedulikan wanita yang sedari tadi bersandar di pintu sambil menatapnya.
Hingga lelaki itu selesai merapihkan kamar, tak ada pembicaraan apapun diantara mereka.
Benedict mengambil kaos hitam dan celana pendek miliknya dari dalam lemari, tak langsung mengenakannya hanya mengambilnya.
Lalu lelaki itu duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya di laci, entah apa yang ia mainkan.
Ayudia yang sedari tadi didiamkan lama-kelamaan kehilangan kesabaran.
"Mas, bisa tolong antar aku ke anak-anak aku?" Ucapnya sambil mendekati lelaki itu.
Benedict hanya melirik, tak bersuara, ia masih sibuk memainkan ponselnya.
Dengan berani, Ayudia merebut ponsel lelaki itu, "mas, aku dari tadi bicara sama kamu, tapi kamu diamkan aku, aku cuman minta antar aku ke anak-anak aku, bisa nggak kamu tanggapi, jangan diamkan aku,"teriaknya kesal.
Benedict berdiri menjulang tepat berhadapan dengan wanita itu, ia menunduk dan tepat di telinga wanita berambut sebahu itu ia membisikan sesuatu, "layani aku, hingga aku puas, maka aku akan antar kamu ke anak-anak KITA,"lelaki itu menekankan kata terakhir.
Ayudia melotot kaget, "kurang ajar sekali lelaki ini, apa yang mereka lakukan semalam, tidak cukup?" Ucapnya dalam hati.
"Apa kamu gila? Bukankah sekarang kita tak ada ikatan apapun? Kamu yang membuat kita jadi terpisah," teriak wanita itu lantang,
"Bukankah itu mau kamu, untuk lepas dari aku, aku hanya mengabulkan permintaan kamu,"skakmat ucapan menohok lelaki itu untuk Ayudia.
Ayudia diam mematung mendengar ucapan lelaki itu, apa yang dikatakan lelaki itu benar, dirinya memang selalu berusaha lepas dari lelaki itu.
"Aku seorang pebisnis Ayudia, aku mencari keuntungan dari setiap transaksi yang aku lakukan, aku butuh sesuatu yang menguntungkan jika kamu ingin aku mengantarkan kamu ke anak-anak KITA,"
"Bukankah semalam aku sudah membuat kamu puas? Anggap semalam itu bayaran buat kamu antarkan aku sekarang, dan bukankah kamu yang membawa aku kesini,"
Benedict mencium bahu wanita itu dan berbisik, "bukankah kamu sendiri yang masuk ke yacht milik aku dan tertidur di ranjang aku, kebetulan aku mau pergi kesini, menurut itu salah siapa?"
Ucapan lelaki itu membuatnya tersadar akan kesalahannya, seharusnya kemarin ia tidak masuk ke yacht itu, kali ini sepertinya Ayudia akan kalah.
Ayudia menghela nafas, "apa aku hanya perlu melakukan hubungan badan sama kamu, supaya aku bisa bertemu dengan anak-anak aku?"
Benedict menyunggingkan bibirnya, "aku butuh dilayani sekaligus dipuaskan, kalau kamu tidak membuat aku puas, maka kamu akan tinggal disini dalam waktu yang lama,"
Sepertinya tidak ada pilihan lain untuk Ayudia, toh ia sering melakukannya dulu, maka ia hanya perlu mengingat bagaimana dulu membuat lelaki itu puas.
Wanita itu memulai aksinya, mungkin ini akan menjadi hal paling memalukan untuk dirinya sendiri,
__ADS_1
Sekarang ini Ayudia tak ubahnya seorang ****** yang sedang melayani pelanggannya.