
Saat Ayudia sedang menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, wanita itu terkejut, hampir saja ia akan menampar orang dengan lancang memeluknya.
Namun setelah tau jam tangan yang melingkar di pergelangan lelaki itu, ia jadi paham siapa yang memeluknya.
"Sayang aku kangen,"bisik lelaki itu tepat di telinga suaminya.
"Kan aku bilang tadi kalau aku mau nyusul kamu ke kantor, aku lagi siapkan bekal buat kamu, kenapa kamu malah pulang sih? Memangnya sudah selesai meeting nya?"
"Udah tadi, tapi aku keburu kangen kamu, jadi aku pulang,"
Ayudia memutar bola matanya malas, lalu menarik nafas, "aku kan mau ke kantor kamu, selesai ini, aku kesana, memangnya pekerjaan kamu udah selesai?"
"Aku bawa ke sini kerjaan aku,"
"Apa kamu udah nggak ada meeting?"
"Aku bisa rapat secara daring sayang,"
"Terserah kamu, sekarang lepas tangan kamu, aku mau siapkan makan siang, kamu cukup duduk diam di kursi oke!"
"Kasih maid saja sayang,"
"Tapi ..."
"Sayangku nurut sama suami ya, terus sekarang kamu ikut aku, nanti maid yang bawa makan siang kita ke kamar,"
Ayudia hanya bisa pasrah menuruti kemauan suami yang manja dan mesum, ia bahkan meminta maaf ke maid, karena kelakuan suaminya.
Usai melakukan hal menyenangkan disiang hari, Ayudia tertidur, sepertinya wanita itu kelelahan akibat ulah suaminya.
Benedict mandi siang, dan mengganti bajunya, ia berjalan perlahan, agar istrinya tidak bangun.
Diluar pintu kamar ada Ainsley yang menunggu bundanya,
"Kenapa ayah pulang siang?"tanya Ainsley heran.
"Apa kamu keberatan?"tanya ayah dua anak itu.
"Bukankah harusnya ayah sibuk di kantor seperti biasa,"
"Bunda nggak ikut, jadi nggak ada yang buat ayah semangat,"
"Ayah bisakah tidak memonopoli bunda, Kami anak bunda yang lebih butuh kasih sayang,"
"Bunda istri ayah, kalau kamu lupa, jadi Bunda hanya perlu beri kasih sayangnya ke ayah,"
"Apa ayah tidak mencintai kami? Bukankah kami anak ayah,"
Benedict berkacak pinggang, "Ain, bukankah seluruh fasilitas di mansion ini cukup untuk kalian, itu tanda kalau ayah sayang kalian,"
"Tapi kami hanya ingin kasih sayang bunda seperti dulu saat kami tinggal bersama nenek, tidak seperti sekarang, bahkan kami tidak punya teman,"
"Lalu apa mau kamu?"tanya Benedict dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Ada rasa takut, dalam diri anak berusia hampir tiga belas tahun itu, namun ia sudah membulatkan tekad, dia tidak ingin dirinya dan Aileen hidup seperti ini.
"Ayah, kami mau pulang ke rumah nenek, kami ingin tinggal di desa, kami ingin punya teman yang banyak,"
Benedict menghela nafas, "oke kalau itu memang mau kamu, tapi hanya kalian berdua tidak dengan bunda, bunda disini sama ayah,"
"Bunda pasti akan bersama kami,"ucap Ainsley tak mau kalah.
"Ainsley, jangan harap keinginan kamu tercapai, bunda hanya akan bersama ayah selamanya,"
"Apa ayah tidak malu berdebat dengan anak ayah sendiri?"
"Jika itu menyangkut bunda kenapa tidak,"
"Ingat ucapan Ain, Mr. Wright suatu hari Ain akan membawa pergi Bunda jauh dari ayah, Ain akan merebut bunda dari Ayah, Ayah akan hidup dalam kesendirian,"ujarnya mengancam dan berlalu meninggalkan ayahnya.
Andai tidak ingat jika Ainsley adalah putranya sekaligus yang akan mewarisi perusahaan. keluarga, mungkin Benedict akan menghajar habis-habisan bocah ingusan itu.
Sejak pertengkaran ayah dan anak itu, hubungan keduanya merenggang, Ainsley makin pendiam, hal itu disadari oleh Ayudia.
"Mas, kok Ain semakin pendiam ya, kamu merasa nggak?"tanya Ayudia suatu hari saat keduanya sedang berada di kantor.
Benedict menghentikan pekerjaannya sejenak, ia menarik nafas, "mungkin perasaan kamu aja,"
"Tapi ini lain, bahkan tadi pagi, Ain nggak mau cium pipi aku,"
"Udah besar dia, mungkin malu,"
"Ain, anak aku, mana mungkin dia malu,"
"Gitu ya mas,"
Ayudia merasa sepertinya ada yang terjadi diantara ayah dan Ainsley.
Suatu kali Benedict akan melakukan perjalanan bisnis ke timur tengah, ia hendak mengajak istrinya, tapi wanita itu menolak dengan alasan Aileen sedang demam.
Mengetahui bundanya tidak mengikuti ayahnya dalam perjalanan kali ini, Ainsley mengajak berbicara Ayudia.
"Bun, apakah kita jadi pindah ke rumah nenek ?"tanya Ainsley saat keduanya berada di kamar bocah itu.
"Kenapa kamu bertanya?"tanya balik lelaki itu.
"Tempo hari Ain, bertengkar dengan ayah, ayah ijinkan Ain dan Aileen untuk tinggal di desa tanpa bunda, ayah bilang kalau bunda akan selalu sama ayah, ayah egois, bukankah bunda akan lebih memilih kami?"
"Sayang kalian semua berharga untuk bunda, tapi jika kamu ingin pindah, bunda bisa ikut kalian, tapi nanti ya, saat liburan musim panas,"
"Tenang Bun, Ainsley sudah punya uang yang banyak untuk biaya hidup kita tiga tahun ke depan,"
"Dari mana kamu dapat uang? Jangan bilang kamu mencuri,"
"Bun, Ain nggak kayak gitu, ini uang yang Ain kumpulkan kalau ada yang kasih hadiah,"
"Siapa yang kasih hadiah? Kamu jangan bohongi bunda, Ainsley,"
__ADS_1
Ainsley yang merasa terpojok, akhirnya mengaku, "sebenarnya sebelum nenek Anna dan kakek Frederich meninggal, mereka memberi Ain uang dalam bentuk kartu, kata mereka, uang itu untuk melindungi bunda, saat itu Ain nggak paham, tapi lama kelamaan Ain paham maksud mereka, dan sepertinya mereka sangat memahami sikap Ayah ke bunda, dan uncle George Bahkan membuatkan rekening atas nama Ain dan Aileen, yang setiap bulannya kami akan mendapatkan uang jajan dari uncle, tentu itu semua tanpa sepengetahuan ayah,"
Ayudia jadi teringat kematian uncle Frederich setahun sebelum ibu mertuanya meninggal, bertahun-tahun uncle melawan penyakitnya, akhirnya, tubuhnya menyerah, dan uncle menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit.
"Oke kalau gitu bunda tinggal cari paspor bunda dan kalian,"
Perbincangan kedua ibu dan anak lelakinya berakhir, ketika Aileen memasuki kamar.
Seperti biasa sepulangnya Benedict dari perjalanan bisnis, lelaki itu akan mengurung istrinya sehari semalam di kamar, tak peduli apapun yang terjadi.
Usai melakukan kegiatan bertukar peluh, suami istri itu berendam di bathtub dengan Ayudia dipangku oleh suaminya.
"Mas boleh aku tanya paspor aku dimana?"tanyanya.
Benedict yang sedang mencium punggung polos istrinya menghentikan kegiatannya, "untuk apa kamu menanyakan paspor?"
"Aku mau ke Indo, liburan musim panas, kemarin saat liburan musim dingin, kan kamu terlalu sibuk, makanya kita nggak jadi pulang ke sana kan?"
"Sayang tapi rencananya liburan panas kali ini, aku akan merenovasi resort milik tuan Amar, bukankah kamu tau itu,"ujar Benedict mengingatkan.
"Ya udah, kalau gitu, aku sama anak-anak yang pulang, kamu tetap kerja,"
"Istriku, bagaimana mungkin aku biarkan kamu pulang ke negara yang di sana ada cinta pertama kamu,"
"Mas, kamu masih nggak percaya sama istri kamu?"
"Bukannya nggak percaya, aku hanya takut kamu meninggalkan aku,"
"Ayah, apa ini alasan kamu tidak membiarkan aku pulang ke kampung halaman aku sendiri?"
"Setiap kamu ketemu dia, kita berakhir dengan pertengkaran, bahkan yang terakhir, kamu sampai koma, aku tidak mau hal itu terjadi lagi,"
Ayudia menggenggam tangan suaminya, "mas, sekarang aku benar-benar mencintai kamu, rasa aku buat Dikta bahkan udah aku lupakan, jadi kamu nggak usah khawatir,"
"Tapi sayang, belum tentu dia berfikir sama kayak kamu,"
"Mas, aku pergi sama anak-anak aku, ada Ainsley yang sudah mulai remaja, jadi putra kita pasti akan jaga bundanya,"
Benedict diam sejenak, lelaki itu berfikir keras,
Melihat diamnya suaminya, Ayudia menghela nafas, "kalau kamu nggak ijinkan, aku bakal nekad nggak bakal balik lagi kesini,"
"Kamu mengancam aku,"
"Iya aku mengancam kamu, kenapa? Aku lelah, aku ingin pulang kampung, sudah hampir enam tahun aku nggak pulang, kalau kamu nggak mau kasih uang, aku nggak masalah, aku bisa kok cari uang buat beli tiket pesawat, kamu cukup kasih paspor aku,"
"Sayang ini bukan persoalan uang, semua uang aku, bukankah kamu tau, dan aku bukan suami yang pelit,"
"Maka dari itu ijinkan kami,"
"Apa jaminannya kamu nggak akan meninggalkan aku?"
"Tidak ada jaminan apapun mas, pokoknya kamu percaya sama aku,"
__ADS_1
Benedict menghela nafas, "baiklah, tapi aku sendiri yang akan antar kalian ke sana,"
Ayudia memeluk dan mencium suaminya, "terima kasih sayang, aku akan jaga kepercayaan kamu,"