Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sembilan puluh tujuh


__ADS_3

Sore harinya Pradikta kembali berkunjung, lelaki itu bertemu dengan Anin juga si kembar,


Anin masih teringat dengan lelaki itu, lelaki yang membuat kakaknya selalu tersenyum dan bersemangat ketika berangkat sekolah dulu, sekaligus lelaki yang membuat kakaknya patah hati untuk pertama kalinya.


Keduanya mengobrol diruang rawat Ayudia, tentang masa lalu dan juga kondisi wanita yang masih betah terdiam di atas ranjang.


Tak lama, Benedict memasuki ruang rawat bersama sahabatnya, kondisi lelaki itu sangat berbeda dari biasanya.


Lelaki itu terlihat kurus, kulitnya menjadi kecokelatan, wajahnya tirus, kantong matanya terlihat menghitam, rambutnya panjang sebahu, jauh dari kata rapih.


Benedict berhadapan dengan Pradikta terhalang ranjang dimana tubuh wanita yang kedua lelaki itu cintai terbaring, mata wanita itu terpejam.


Disebelah Benedict ada Oscar juga Rama, disisi kaki dari wanita itu, ada Nando juga Alex, sementara Anin berada disebelah Pradikta.


Benedict memberi kode pada Pradikta untuk membangunkan Ayudia, karena beberapa kali wanita itu membuka mata, jika Pradikta membangunkan dengan cara memanggil atau menyentuh tangannya.


"Ay, buka mata kamu, ini aku Dikta, aku datang Ay,"ucapnya sambil menyentuh tangan yang terdapat jarum infus.


Dan benar saja, Ayudia membuka matanya, ia melihat ke arah Pradikta, tak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya tatapan yang seolah berkata, "ada apa?"


"Ay, ada yang mau bicara sama kamu, kamu bisa mengalihkan pandangan kamu ke sebelah kanan kamu,"


Ayudia menuruti ucapan dari Pradikta, wanita itu mengalihkan pandangannya, terlihat ada suaminya, lelaki yang menyakitinya.


Mata wanita itu berkaca-kaca, entah apa maksudnya,


"Ayudia, aku Benedict, aku udah pulang, aku mau penuhi janji aku setahun yang lalu, kamu ingat, aku mengatakan akan memberi waktu buat kamu selama setahun, untuk memikirkan apa yang harus kita lakukan buat kelangsungan rumah tangga kita,"


Benedict menghela nafas, "Ayudia aku menyerah, aku menyerah  mempertahankan kamu, dan aku juga akan penuhi permintaan kamu, tentang Ainsley dan Aileen, jika kamu bangun dan sudah bisa beraktivitas, mereka akan ada dibawah asuhan kamu, aku tak akan mengambil mereka dari sisi kamu,"


Benedict mendongakkan kepalanya, ia berusaha tidak mengeluarkan air mata, Oscar menepuk bahu sahabatnya, mencoba menenangkannya.


"Ay, setelah ini, aku berharap kamu hidup bahagia bersama cinta kamu, ada Dikta disini, dia selalu menunggu kamu disini, dia masih mencintai kamu, dia juga udah janji, akan menjaga kamu dan menjadi papa yang baik untuk Ainsley dan Aileen,"


Benedict yang tak kuat mempertahankan bendungan air matanya, akhirnya tak kuasa lagi menahannya, lelaki itu berbalik, sebisa mungkin ia tak ingin wanita itu tau jika dirinya menangis.

__ADS_1


Setelah merasa lebih baik, Benedict kembali menghadap Ayudia, ia melihat mata yang sedang tertuju padanya, entah apa arti tatapan wanita itu.


Lelaki itu menatap Anin, seolah meminta persetujuan dari adik iparnya, namun gadis muda itu menggelengkan kepalanya.


Lalu ia melihat ke arah Nando, sahabatnya melakukan hal yang sama, kedua orang yang berarti dan dipercaya oleh Ayudia.


"Lo yakin Ben?"tanya Rama.


"Mungkin dengan ini, Ayu bisa kembali ke sediakala, gue udah ikhlas Rama,"


Sedangkan Oscar kembali menepuk bahu sahabatnya, "lakukan yang menurut Lo baik Ben,"


Lalu Pradikta, "gue nggak pernah maksa Lo buat lepasin dia, coba Lo pikirkan lagi, apa ini yang dia harapkan? Walau dia bilang mencintai gue, tapi nyatanya dia selalu pulang ke tempat Lo kan? Gue harap Lo pikirkan itu,"


"Bahagianya dia cuman sama Lo Dikta, dia terlihat nyaman sama Lo, gue nggak mau egois lagi,"ucap Benedict


Lelaki itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah istrinya.


Benedict menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia  ulangi beberapa kali hingga dirinya mulai merasa sudah ikhlas, "Ayudia Putri, aku Benedict Johnson Wright menjatuhkan talak satu pada kamu, mulai saat ini kita bukan suami istri lagi,"


Akhirnya lelaki itu menyerah mempertahankan cintanya, ia melepaskan belahan jiwanya.


Seolah ada beban berat di kepalanya, dadanya sesak, hatinya sakit sekali.


Kini semuanya telah berakhir, mimpinya untuk bersama dengan wanita yang ia cintai hingga akhir hayatnya tak akan tercapai,


Entah apa yang akan dilakukan lelaki itu setelah ini, pikirannya buntu, sebagian jiwanya melayang entah kemana.


Ia bingung akan berbuat apa?


Usahanya selama ini terlihat sia-sia, kerja kerasnya siang malam, kekayaaan melimpah yang ia miliki, tak ada artinya, semuanya sia-sia.


Semua itu tak bisa membeli cinta ibu dari anak-anaknya.


Lelaki itu teringat pertama kali saat dirinya tidur satu ranjang untuk pertama kali dengan wanita itu, saat pertama kali dadanya berdebar-debar hanya berdekatan dengan wanita itu.

__ADS_1


Belum lagi saat dia bertemu lagi dengan wanita itu, ia melihat senyuman yang memperlihatkan lesung pipi wanita itu, manis sekali.


Juga saat pertama kali lelaki itu mencium bibir wanita itu, rasanya manis dan membuatnya ingin selalu melakukannya lagi.


Juga saat melihat tubuh polos itu pertama kali, nyaris membuatnya gila hanya dengan memikirkannya.


Dan terakhir saat pertama kali mereka berhubungan badan, rasanya, ia tak ingin saat itu berakhir,


Benedict juga teringat saat ia mengatakan janji suci dihadapan penghulu, sayangnya janji itu tak bisa ia penuhi, berkali-kali ia menyakiti hati dan fisik wanita itu.


Andai ia tak egois memaksakan kehendaknya, mungkin wanita itu masih sehat dan bahagia menjalani harinya.


Namun setidaknya ada yang sangat ia syukuri, kehadiran buah hati dirinya dan wanita itu.


Ainsley dan Aileen buah hati mereka, wujud rasa sayang diantara mereka.


Putrinya sangat dekat dengan Nando sahabatnya, sama seperti ibundanya, yang selalu nyaman berada disisi lelaki itu.


Benedict tertawa disela tangisnya, wanita itu terkadang juga polos, terkadang ia memanfaatkan kepolosannya itu.


Hanya memikirkannya saja ia sudah ingin berlari merengkuh tubuh itu.


Dan salah satu alasannya dulu ingin mengajak wanita itu ke pulau, ia ingin dimana satu hari penuh ia bercinta dengan wanita itu di seluruh pulau, sebelum dibangun resort.


Namun semua itu tinggal kenangan dan mimpi yang tak akan jadi kenyataan.


Semuanya telah berakhir, secara agama Benedict telah resmi menyandang status duda, tak ada ikatan dengan wanita manapun.


Tinggal secara negara, salah satu sahabatnya yang akan mengurusnya.


Untuk urusan kekayaannya, seluruh kekayaannya yang ada di negara ini, beralih nama pada wanita itu termasuk seluruh usaha yang dijalankan oleh Sahabat-sahabatnya.


Sedangkan kekayaannya yang ada di luar negeri, akan ia wariskan pada kedua anaknya saat mereka beranjak dewasa.


Sementara dirinya, hanya menyisakan rumah kayu sederhana yang ada di tepi sungai, tempat dimana ia akan hidup sendiri, jauh dari hirup pikuk kehidupan dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2