
Ainsley dan Aileen mulai memasuki lingkungan sekolah pagi ini, tentu saja diantar sendiri oleh Ayudia.
Perempuan itu mengenakan pasmina dengan warna pastel senada dengan baju serba panjang yang ia kenakan.
Kemarin Amara mengirimkan baju-baju muslimah untuk Ayudia, ya perempuan beranak satu itu mempunyai usaha menjual pakaian khusus muslimah.
"Kenapa anak-anak bunda pada cemberut sih?"tanya Ayudia yang baru saja menghentikan mobilnya dikarenakan lampu berubah merah.
"Aileen pengen sekolah bareng Mila sama Putri Bun,"keluhnya.
"Sayangnya bunda, kalian coba aja dulu, bagaimanapun ini sekolah pilihan om Alex loh, kalian harus menghargai kerja keras beliau,"
"Terus kira-kira kita sekelas atau terpisah Bun?"tanya Ainsley.
"Bunda nggak tau,"jawabnya, "memangnya kenapa?"
"Ain tanya aja Bun, kalau terpisah kelas, Aileen harus jaga diri ya, jangan gampang percaya sama orang lain,"
"Ia kakak ku tersayang,"sahut Aileen.
"Pesan bunda, di sekolah kalian tidak bisa seenaknya seperti saat kalian home schooling, ada aturan yang harus di patuhi,"Ayudia mengingatkan anak-anaknya, ia kembali melajukan mobilnya.
Sekolah yang menjadi tujuannya adalah salah satu sekolah Internasional yang ada di selatan ibukota.
Kebanyakan murid di sana adalah anak-anak ekspatriat atau anak dari duta besar negara lain ataupun anak konglomerat negara ini.
Yang biaya masuk dan perbulannya sangatlah mahal.
"Terus kalau ada yang tanya kami anak siapa, apa kita perlu memberitahu mereka Bun?"tanya Aileen.
"Ya tinggal bilang kalian Anaknya ayah dan bunda,"
"Terus kalau ada yang tanya kerjaan ayah?"tanya Ainsley.
"Ayah kalian kan Arsitek, bilang aja begitu, ingat ya jangan sombong, jangan pamer, tetap rendah hati, dan Ainsley kendalikan diri kamu, kamu tau kan kalau kamu sampai buat masalah, kamu akan menjalani hari-hari yang kata kamu membosankan,"ujar Ayudia mengingatkan.
"Baik Bun,"jawab keduanya kompak.
Usai mengantarkan anak sekolah dan juga sempat mengobrol dengan wali kelas mereka, Ayudia melajukan mobilnya menuju tempat pemakaman umum, dimana kedua orang tuanya dikebumikan.
Dari makam, ia ada janji dengan Tante Arini, katanya beliau ingin berkunjung ke rumahnya bersama Ayudia kecil.
Ayudia menjemput Arini di tukang mie ayam yang menjadi langganannya.
Perempuan berbeda usia itu merencanakan akan memasak bersama di rumah besar milik Ayudia.
Sesaat memasuki gerbang, Arini dibuat terkejut dengan megahnya rumah milik cinta pertama putranya itu.
"Tante nggak nyangka kamu sekaya ini Ayu,"ungkap Arini begitu dipersilakan masuk,
"Ini cuman titipan Tante,"ucap Ayudia merendah.
"Apa suami kamu lagi nggak di rumah?"
"Nggak, suami Ayu lagi kerja di pulau,"
"Memangnya suami kamu kerja apa?"
"Jadi Arsitek Tante,"
"Pantesan rumahnya sebagus ini,"
__ADS_1
Arini memberi tau resep puding cokelat kesukaan Ayudia pada maid yang bekerja di rumah itu,
mereka juga membuat cookies untuk camilan, juga bola-bola cokelat.
Tentu dengan direcoki oleh Ayudia kecil.
Arini dan Ayudia kecil pamit selepas makan siang, Ayudia mengantarnya hingga ke rumah.
Usai mengantarkan Arini, Ayudia menjemput anak-anaknya.
Ya rutinitas yang akan ia lakoni selama dirinya di negara ini, sebelum suaminya kembali dari pekerjaannya.
Ayudia benar-benar menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga,
Selain dengan Arini, Ayudia juga bertemu dengan Amara, Ica juga Nia temannya di cafe dulu.
Terkadang ia juga di kunjungi oleh Anin atau kedua adik kembarnya.
Atau Natasha yang masih sibuk dengan profesi dokter kandungannya walau sekarang dia sudah memiliki anak laki-laki yang masih balita.
Ya Natasha termasuk wanita karir yang terlambat menikah, dan sedang ada masalah dengan suaminya.
Kemarin dia sempat berkunjung bersama dengan putranya dan curhat pada Ayudia,
"Gue nggak sengaja baca pesan di hape laki gue, isi pesannya mesra banget yu,"
"Mungkin itu salah kirim kali,"ujar Ayudia berusaha menenangkannya sahabatnya.
"Ada namanya ayu, dia juga nyebut nama laki gue, gue sadar diri yu, gue udah nggak muda lagi, sedangkan Lo tau sendirikan laki gue masih muda, sama Lo aja tuaan Lo,"
"Lo udah ngomong baik-baik sama dia Sha?"
"Gue males yu, kayaknya gue mau pisah aja deh, gue mendingan hidup sama anak gue doang deh,"
"Tapi ini bukan pertama kali yu, gue baca pesan mesra itu,"
"Gini deh sha, gimana kalau Lo minta tolong bang Alex, buat selidiki suami Lo?"
"Males gue, Alex kan lemes mulutnya, entar yang lain pada tau lagi,"
"Lo jadi klien resminya aja, ya mesti keluar duit banyak sih, kalau kayak gitu, gue rasa bang Alex bakal profesional, kan dibayar,"
"Oke deh gue coba, tapi yu, boleh nggak gue tinggal sementara disini, gue mau pisah rumah sama laki gue dulu,"
"Gue sih seneng aja kalau Lo mau disini, kan rumah jadi rame, apalagi anak-anak pasti seneng kalau ada Shaka,"
Sejak saat itu Natasha bersama putranya Shaka tinggal di rumah Ayudia, tentu saja Ainsley dan Aileen sangat senang dengan kehadiran balita menggemaskan seperti Shaka.
Dan Ayudia bahkan senang jika harus menjaga Shaka selama Natasha bekerja di rumah sakit.
Setiap malam sebelum tidur adalah waktu rutin dimana Ayudia berkomunikasi dengan suaminya, meski suaminya sesekali akan menyuruhnya bergaya layaknya perempuan nakal yang menggoda laki-laki, katanya untuk membantu menyalurkan hasrat suaminya.
Sudah dua bulan Ayudia hidup terpisah dengan suaminya, wanita itu masih rutin melakoni perannya menjadi ibu rumah tangga,
Pagi-pagi sekali mengantar anak-anaknya sekolah, pulang dari sekolah, terkadang ia menjemput Arini juga Ayudia kecil untuk bermain bersama Shaka, sementara Natasha bekerja.
Hari-harinya penuh keceriaan, dikelilingi oleh orang-orang yang membuat hidupnya lebih lengkap, meskipun tanpa ada suami disisinya.
Hingga suatu pagi usai shalat subuh, dan sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, mendadak ia pingsan.
Hal itu membuat penghuni rumah panik, beruntung Natasha yang baru pulang usai melakukan operasi darurat.
__ADS_1
Natasha memeriksa Ayudia di ranjang milik Aileen, ibu satu anak itu, paham apa yang sedang terjadi dengan tubuh sahabatnya.
Setelah Ayudia tersadar, Natasha menanyai beberapa hal pada wanita itu,
"Yu, Lo ingat terakhir kali haid nggak?"tanya Natasha memulainya pembicaraan.
"Kalau nggak salah sekitar tiga bulan yang lalu, pokoknya sebelum gue balik ke indo, gue lupa tepatnya,"
"Entar agak soren mending Lo ke tempat praktek gue deh,"
"Kenapa sih sha?"
"Lo hamil yu,"
Ayudia menganga mendengar ucapan sahabatnya, antara senang juga bingung.
Untuk memastikannya, Ayudia mendatangi rumah sakit tempat sahabatnya bekerja.
Di lobby ia bertemu dengan Oscar, "loh Yu, Lo ngapain kesini? Lo sakit?"tanyanya mulai khawatir.
"Belum pasti adik ipar, ini Asha nyuruh aku kesini,"jawab Ayudia.
"Jangan bilang Lo hamil,"
"Nggak tau, ini mau periksa dulu,"
"Bisa gawat yu, kalau sampai Lo hamil,"celetuk Oscar.
"Kenapa emang?"
"Mending yuk periksa sekarang, gue anterin,"
Oscar berbicara sejenak dengan bawahannya, lalu ia mengantar Ayudia menuju ruangan praktek Natasha.
Dan benar saja, di rahim Ayudia ada satu kantong yang berisi janin yang sedang tumbuh, umurnya sudah tiga belas Minggu.
Oscar lemas mendengarnya, "kok, bisa sih Yu, itu bener anaknya Ben kan yu?"tanyanya tak yakin.
"Gila Lo OS, Lo nuduh kakak ipar Lo selingkuh?"ucap Natasha tak terima.
"Jelas ini anaknya mas Ben, memangnya siapa lagi?"ujar Ayudia.
"Tapi yu, Ben udah nggak bisa punya anak lagi,"ungkap Oscar jujur.
"Apa maksud Lo OS?"tanya Natasha.
"Ayu Lo ingat beberapa tahun lalu Lo pernah keguguran dan hampir merenggut nyawa Lo?"Ayudia mengangguk, "saat itu Ben ketakutan setengah mati, bahkan dia nelpon gue sambil nangis-nangis, bilang kalau Lo lagi sekarat,"
Oscar menarik nafas kasar, "dan setelah Lo keguguran, dia sempat bilang kalau dia lagi kerja di pulau kan selama tiga bulan?" Ayudia mengangguk lagi.
"Sebenarnya dia lagi vasektomi, dia nggak mau Lo hamil lagi, sementara dia nggak mau kalau Lo yang melakukan kontrasepsi,"
"Kenapa mas Ben nggak mau cerita sama Ayu?"
Oscar memegang bahu kakak ipar sekaligus istri dari sahabatnya, "yu, Lo pernah bilang ke Ben kalau Lo ingin punya anak lagi kan? Meskipun nyawa Lo terancam?" Ayudia mengangguk.
"Dia nggak mau kehilangan Lo yu, Lo tau kan dia cinta mati sama Lo!"
"Tapi benarkan itu anak Ben?"
"Os Lo tau kan Ayu kayak apa? Nggak mungkin sahabat gue selingkuh, Lo harusnya bisa ngitung, Lo tau sendiri umur kandungannya Ayu,"
__ADS_1
"Pokoknya Ayu, akan pertahankan bayi ini apapun yang terjadi,".