Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus tiga belas


__ADS_3

Dari ketinggian Ayudia bisa melihat pemandangan dibawahnya, ada sungai besar yang membelah kota menuju samudra.


Suaminya membawanya ke kota New York, seolah tidak percaya dengan penglihatannya, Ayudia mencubit lengannya sendiri, tak pernah ia membayangkan bisa menaiki helikopter seperti sekarang.


Rasa sakit di lengannya menandakan bahwa ini nyata, ia bersama suaminya menaiki helikopter, hanya berdua, dengan suaminya menjadi pilotnya.


Tak sampai satu jam, helikopter mendarat di helipad salah satu gedung pencakar langit, ada beberapa orang yang menyambut kedatangan suaminya juga dirinya,


Para lelaki tinggi besar dengan setelah hitam-hitam layaknya bodyguard yang pernah ia tonton di televisi.


Ayudia diajak turun melalui tangga hingga satu lantai, lalu memasuki lift mungkin sekitar tiga lantai dan saat pintu lift terbuka terlihat ruangan layaknya kantor, seperti dulu saat dia menjadi office girl di salah satu kantor di Jakarta, hanya saja ini berkali-kali lipat lebih mewah.


Lalu sampailah keduanya di pintu kayu besar, Benedict membukanya dan mempersilahkan istrinya untuk masuk, sementara bodyguard menunggunya di luar ruangan.


Terlihat ruangan yang begitu luas berdesain mewah, ada sofa panjang, meja kaca, rak dengan jejeran buku-buku, ada meja untuk meeting dan yang menarik perhatian Ayudia adalah meja dengan desain unik dengan papan nama tertulis nama suaminya.


"Apa ini ruang kerja kamu?"tanya Ayudia memastikan kebenaran apa yang dilihat serta dipikirkannya.


Benedict hanya berdehem lalu mempersilahkan istrinya untuk duduk di sofa panjang,


"Kamu bilang tadi ke tempat yang hanya ada kita dan aku bisa makan nasi sepuasnya, di kantor kamu? Maksud kamu mau pamer jabatan dan ruangan kerja kamu yang mewah begitu? Ngapain jauh-jauh ke sini sampai naik helikopter segala,"gerutu wanita itu sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


Benedict yang berniat menuju mejanya menghentikan langkahnya, "coba kamu lihat sekeliling kamu, kamu bisa lihat kan disini hanya ada aku dan kamu, tidak akan ada yang mengganggu kita disini, dan untuk nasi, tak jauh dari sini ada banyak gerai makanan yang menjual nasi,"ucapnya menjelaskan.


Mendengar kata makanan yang hampir seminggu tak dimakannya, membuat wanita itu berdiri lalu berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di meja,


"Benarkah? Ya udah ayo kita ke bawah lalu ke luar buat beli nasi, sekalian jalan-jalan,"ungkapnya antusias.


Benedict menaikan sebelah alisnya, "itu tidak akan kita lakukan istriku, aku hanya ingin berdua dengan kamu, dan aku akan pesan nasi yang kamu maksud, jadi nasi apa yang ingin kamu makan?"tanyanya.


"Kenapa kita nggak keluar jalan-jalan aja sih?"


"Aku hanya ingin berdua sama kamu, tidak ada yang mengganggu, jika kita keluar, akan banyak ada yang mengganggu kita, jadi lebih baik kamu diam sebentar, aku akan meminta orang mengirimkan nasi untuk kita makan, jadi sekarang aku tanya, apa yang ingin kamu makan?"


"Apa aja yang penting nasi, dan aku minta buat aku belikan dua porsi nasi dan lauknya, kalau ada es teh manis atau es jeruk,"


"Hanya itu?"


"Kalau ada satu kotak ayam goreng siap saji sama kola,"


"Ada lagi,"

__ADS_1


"Udah cukup, lagian kan kita cuman numpang makan disini kan?"


Benedict menghela nafas, ia tak ingin berbicara tentang rencananya beberapa hari ke depan, ia tau betul, istrinya pasti akan menolak mentah-mentah rencananya.


Lelaki itu mengirim pesan pada orang suruhannya, untuk memesankan semua makanan yang istrinya inginkan.


"Mas, boleh aku bertanya?"


Benedict hanya mengangguk menatap istrinya yang berdiri di seberang mejanya.


"Apa mantan tunangan kamu juga bekerja disini?"tanya wanita itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"tanya lelaki itu balik.


"Apa aku tidak boleh bertanya?"


"Iya, dulu dia kerja disini, tapi sejak aku memutuskan pertunangan dan aku mengeluarkan paksa ayahnya dari perusahaan, sejak itu dia tidak lagi kerja di perusahaan ini,"Benedict menjelaskan.


"Terus aku dengar, kalau di Amerika, orang kantor berpakaian tidak pakai seragam ya! Maksudnya pakaian bebas, berarti yang cewek-cewek bisa pakai baju seksi-seksi dong,"


"Kenapa kamu ingin tau?"


"Apa kamu mencurigai suamimu istriku?"


"Kan aku bilang cerita-cerita yang aku baca, aku nggak mencurigai kamu kok,"sangkalnya


Benedict berdiri lalu berjalan menuju istrinya, ia mengangkat dan mendudukkan istrinya di meja dan mengurungnya diantara kedua kaki dan tangannya.


"Sayang, aku jadi berpikir, apa kita perlu mencoba melakukannya disini, sepertinya akan berbeda sensasinya, apa kamu mau coba?"


"Kok jadi mikirnya kesana sih,"ujar wanita itu gugup.


Benedict mengelus rambut istrinya lalu menyisipkannya di belakang telinga wanita itu, "karena kamu secara nggak langsung sedang menuduh aku, jika aku sering berhubungan badan dengan wanita lain disini,"


"Jadi lebih baik kita yang mempraktekkannya, bukankah begitu istriku?"lanjutnya sambil memegang tengkuk wanita itu.


Ayudia menghindar, ia mendorong suaminya dan berjalan menjauhinya, ia memandang pemandangan kota menjelang sore.


"Jangan berpikir aneh-aneh mas, malu kalau sampai ketahuan bawahan kamu,"


Benedict menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang, "entah mengapa setiap aku dekat kamu, pikiranku selalu kesana, kamu buat aku ketagihan,"

__ADS_1


"Ya baguslah, seenggaknya kamu melakukannya hanya sama aku,"


"Aku selalu melakukan hal itu sama kamu sejak aku mengenal kamu, aku setia sayang, kamu bisa tanya Troy atau Richard, mereka yang selalu ada bersama aku jika aku disini,"


"Aku percaya sama kamu, jadi apa di kantor kamu ada banyak cewek-cewek berpakaian seksi?"


"Aku tidak tau sayang, karena satu lantai disini, pekerjanya hanya laki-laki dan aku jarang bertemu karyawan lainnya, hanya manajer atau asistennya, sebagian laki-laki, ada beberapa perempuan, tapi mereka berpakaian formal dan bekerja profesional,"


"Lalu foto-foto yang aku lihat di mesin pencarian, kayaknya kamu mesra banget sama wanita-wanita seksi itu,"


"Itu hanya untuk keperluan pekerjaaan, sebagian dari mereka menjadi brand ambassador perusahaan Wright,"


"Kenapa kamu nggak menikah dengan salah satu dari mereka, kamu lebih cocok dengan mereka loh,"


"Tapi aku nggak cinta sama mereka, dan mereka bukan tipe aku,"


"Memang tipe kamu yang kayak apa?"


"Kayak kamu,"


"Hah, kayaknya kamu mesti periksa mata kamu deh,"


"Kamu nggak percaya sama aku,"


"Bukannya nggak percaya sama kamu, aneh aja, model yang pernah berfoto mesra sama kamu, itu bodynya seksi, apalagi salah satu aktris itu, dada dan bokongnya wow, sementara istri kamu?" Ujarnya sambil melihat tubuhnya sendiri.


Benedict mencium rambut beraroma bunga kesukaannya, "sayang, dada dan bokong kamu lumayan loh untuk ukurannya juga asli kan? Dan yang utama, kamu itu perawan dan murni, yang paling aku suka kamu nggak umbar itu semua,"


"Ya kali aku umbar, harusnya aku pakai jilbab kayak Amara,"


"Aku setuju jika kamu berhijab, aku lebih senang sayang, itu artinya kamu hanya buat aku,"ungkapnya sambil mengeratkan pelukannya.


"Serius boleh?" Benedict mengangguk dibelakang istrinya, "wah aku boleh minta Amara buat kirim baju kesini ya!"


"Apapun untuk kamu sayang, asal kamu tetap di samping aku,"


Ayudia membalikan badannya, lalu mengecup bibir suaminya,


Tak membuang kesempatan, Benedict ******* bibir istrinya, sepertinya hal itu tidak akan berhenti hanya dengan ciuman.


Ruangan kantor itu menjadi saksi bisu dimana pengantin baru itu berbagi peluh di waktu senja.

__ADS_1


__ADS_2